Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
BERTUKAR PIKIRAN


" Eummm…."


“ Lepaskan….”


“ Dasar mesum….”, ucap Jiang Xia Yan sambil melotot tajam.


Jiang Xia Yan pun merusaha untuk mendorong dada kaisar Ru Xie Chang agar menjauh, tapi usahanya sia – sia belaka karena lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.


“ Aku bukan seseorang yang sabaran….”, kaisar Ru Xie Chang menggeram marah.


Tok…tok….tok…


“ Nona, air mandinya telah siap….”, ucap Lin dari balik pintu.


“ Temui aku tiga puluh menit lagi….”


“ Awas jika anda mengintip….”, ancam Jiang Xia Yan sambil menunjuk kaisar Ru Xie Chang dengan kedua mata melotot tajam.


Sebelum pintu dibuka dan dua sosok pelayan pribadinya Lin dan Kiew masuk kedalam kamar, kaisar Ru Xie Chang sudah menghilang dari hadapan Jiang Xia Yan.


“ Siapkan makan malam….”


“ Aku sudah sangat lapar sekali….”, ucap Jiang Xia Yan sambil melangkah menuju kamar mandi.


Kiew menganggung patuh dan segera keluar untuk mengambil makanan dari dapur sedangkan Lin menyiapkan pakaian ganti untuk nona mudanya setelah selesai mandi.


“ Kenapa mereka selalu saja mengangguku….”, gerutu Jiang Xia Yan kesal.


Mengingat jika sebentar lagi Feng Mo Tian akan pergi ke medan pertempuran, salah satu skema pangeran kedua Ming Shin untuk menyingkirkan satu – satunya pewaris resmi keluarga Feng dan pengkhianatan Jiang Yong membuat Jiang Xia Yan pun mulai berpikir ulang untuk rencana yang telah dibuatnya.


“ Semua sudah sesuai dengan apa yang digambarkan dalam ingatan masa depan pemilik tubuh….”


“ Dan kaisar Ru Xie Chang….”


“ Kurasa dia variable tambahan yang bisa aku pergunakan dalam rencana baruku ini…”


“ Kekaisaran Ru tidak terlalu buruk….”, guman Jiang Xia Yan sambil memejamkan kedua matanya.


Jiang Xia Yan terlihat begitu menikmati air hangat dan aroma terapi yang dipakainya untuk berendam malam ini.


Selain bisa membuat tubuhnya rileks, dia juga bisa berpikir lebih jernih dalam menyelesaikan balas dendam dan satu persatu masalah yang akan timbul kedepannya.


Cicit cuit….cicit cuit….cicit cuit….


Tiba – tiba ada burung kenari putih hingga dipohon bamboo yang berada tak jauh dari tempatnya berendam saat ini.


“ Informasi apa yang kamu dapatkan ?....”, tanya Jiang Xia Yan tajam.


Burung kenari putih tersebut segera melaporkan semua hal yang dia dapatkan dari kediaman pangeran kedua Ming Shin beberapa hari terakhir.


“ Jadi, kakak perempuan kedua juga sudah mulai bergerak rupanya….”


“ Kurasa, aku harus cepat membereskan Jiang Yong dan menghancurkan keluarga kedua dalam waktu bersamaan….”


“ Ini akan sangat bagus….”


“ Sekali tepuk, dua hingga tiga nyamuk mati sekaligus…..”, guman Jiang Xia Yan puas.


Sejak mendapatkan seruling sakti milik Feng Mo Tian, Jiang Xia Yan yang sudah sampai pada tahap kultivasi tingkat surgawi awal mulai bisa berbicara dengan hewan.


Tentu saja kemampuannya itu bisa dia gunakan sebagai mata dan telingganya untuk ditempatkan dibeberapa posisi penting yang tak bisa dia jangkau, seperti kediaman pangeran kedua Ming Shin yang memiliki penjagaan lebih ketat daripada kaisar Ming Qin.


Begitu Jiang Xia Yan meraba bibirnya, tiba – tiba wajahnya memerah dan diapun mulai menggeram marah “ Ru Xie Chang !!!...beraninya dia kembali menodai kemurnian bibirku ini !!!....”.


Hachimmm….


“ Tampaknya ada seseorang yang sedang membicarakanku….”, gumannya pelan.


Kaisar Ru Xie Chang bersin beberapa kali di ruang pribadinya sambil menunggu waktu untuk kembali ketempat gadisnya berada.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Jiang Xia Yan yang kelaparan segera menyantap habis makan malam yang tersedia dan hanya menyisakan beberapa kue mochi kacang merah dan seteko cangkir teh panas di atas mejanya.


“ Aku tidak ingin diganggu….”


“ Kalian beristirahatlah lebih awal….”, ucap Jiang Xia Yan mengusir secara halus.


Keempat pelayannya segera undur diri setelah membersihkan meja makan dan membiarkan nona mudanya untuk beristirahat.


“ Jika Jiang Yong yang sekarang menggantikan posisi kakak untuk menikahi Wan Lu…”


“ Apakah garis ceritanya masih sama ?.....”


“ Jika seperti itu….”


“ Maka akan lebih mudah bagiku…..”,  guman Jiang Xia Yan sambil mengetuk – ngetukkan jarinya diatas meja.


Karena terlalu fokus memikirkan cara menyingkirkan Jiang Yong beserta keluarga keduanya, Jiang Xia Yan tak sadar jika kaisar Ru Xie Chang sudah duduk manis dihadapannya.


“ Kenapa dia sangat cantik begini sih….”


“ Kan aku jadi tidak sabar ingin menerkamnya sekarang juga….”, batin kaisar Ru Xie Chang gemas.


Apalagi dia melihat banyaknya kucing liar yang sedang mengincar Jiang Xia Yan membuat kaisar Ru Xie Chang ingin segera meminang gadis itu secara resmi sebagai istrinya.


“ Apapun yang sedang kamu pikirkan sekarang….”


“ Lupakanlah….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


Meski dia tak bisa membaca pikiran kaisar Ru Xie Chang, tapi melihat senyum mereka diwajah tampannya Jiang Xia Yan sudah bisa menebak apa yang ingin lelaki itu lakukan.


“ Kenapa ?....”


“ Bukankah itu berita yang sangat menggembirakan…..”, ucap kaisar Ru Xie Chang tersenyum lebar.


“ Jika hal itu yang ingin Yang Mulai bahas, sebaiknya Yang Mulai segera angkat kaki dari sini….”, usir Jiang Xia Yan kasar.


Melihat jika gadisnya merajuk, kaisar Ru Xie Chang pun menarik salah satu tangan Jiang Xia Yan waktu gadis itu beranjak dari tempat duduknya.


“ Tunggu…”


“ Ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu….”, ucap kaisar Ru Xie Chang merubah wajahnya menjadi serius.


Melihat jika kaisar Ru Xie Chang tak lagi menggodanya, Jiang Xia Yan pun kembali duduk dan mendengarkan semua hal yang diucapkan oleh lelaki yang ada dihadapannya itu sekarang.


Jiang Xia Yan sama sekali tak  terkejut waktu mendengar semua cerita kaisar Ru Xie Chang karena dia sudah tahu akan hal itu sebelumnya.


“ Jadi, kamu sudah tahu siapa pelakunya ?....”, tanya kaisar Ru Xie Chang dengan tatapan penuh selidik.


“ Seperti apa Yang Mulia pikirkan….”


“ Itu adalah dalangnya….”, ucap Jiang Xia Yan santai.


“ Tapi….”, kaisar Ru Xie Cahng menghembuskan nafas kasar beberapa kali masih tak percaya dengan fakta yang dia temukan.


“ Ada pepatah mengatakan jika orang terdekat adalah orang yang paling berbahaya….”


“ Kurasa itu cocok dengan kondisi anda sekarang….”, ucap Jiang Xia Yan gamblang.


“ Jangan berbicara formal jika sedang berduaan denganku, Yan’er….”


“ Kamu bisa memanggilku Xie Xie….”, ucapnya dengan wajah merona karena malu.


“ Xie Xie ?....”, ucap Jiang Xia Yan sambil menaikkan satu alisnya.


Mendengar nama kecilnya disebut, seketika hati kaisar Ru Xie Chang penuh dengan bungga yang baru saja bermekaran.


Membuat lapisan es yang semula masih tersisa telah mencair sepenuhnya dan berganti hangatnya sinar mentari yang mulai menerangi lubuk hatinya yang terdalam.


“ Coba panggil lagi….”, pinta kaisar Rui Xie Chang penuh harap.


“ Xie Xie….”, Jiang Xia Yan kembali memanggil dengan suara lembutnya.


Melihat jika kaisar Rui Xie Chang sudah melenceng dari pembicaraan yang ada, Jiang Xia Yan pun berusaha untuk meluruskan.


“ Kita lanjutkan pembahasan tadi….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


Keduanya pun melanjutkan pembahasan serius mengenai paman kekaisaran Ru yang disinyalir telah bekerja sama dengan penyihir hitam.


Jiang Xia Yan pun memberikan beberapa bukti yang dia temukan selama membantu proses pengobatan kaisar Ru Xie Chang didalam istana.


“ Aku masih tak percaya dia mengkhianatiku sedalam ini…..”, ucap kaisar Ru Xie chang penuh kekecewaan.


“ Lalu, apa tindakanmu sekarang ?....”, tanya Jiang Xia Yan to the point.


“ Tentu saja, basmi hingga ke akar – akarnya….”, ucap kaisar Ru Xie Chang tajam.


“ Jangan tinggalkan satu hal pun jika tak ingin dia tumbuh kembali….”, ucap Jiang Xia Yan mengingatkan.


Untuk pemikiran yang satu ini, keduanya memiliki pemikiran yang sama yaitu siapapun mereka, meski memiliki hubungan darah seoarng pengkhianat harus dimusnahkan jika tidak ingin kembali mengerogoti kita.


“ Kurasa, kamu juga harus mulai lebih mendisplinkan para menterimu sebelum semuanya terlambat…”, ucap Jiang Xia Yan mengingatkan.


“ Satu tahun tak memegang permasalahan istana tampaknya membuat mereka sedikit santai….”, ucap kaisar Ru Xie Chang sinis.


Meski ayahnya kejam, tapi lelaki tua itu masih bisa diajak kompromi sehingga membuat para menterinya yang nakal mengambil celah tersebut untuk melakukan hal diluar batas.


Dan sekarang dirinya sudah sehat dan kembali memimpin, dia tak akan memberikan lagi para menterinya toleransi untuk membuat kesalahan.


Setelah berbicara dan bertukar pikiran dengan Jiang Xia Yan, kaisar Ru Xie Chang merasa lebih tenang dan bisa berpikiran lebih jernih dalam menyelesaikan beberapa persoalan yang ada.


“ Yan’er….”


“ Jika kamu ada permasalahan, bisa cari aku….”


“ Dua kepala akan jauh lebih baik….”


“ Dan ingatlah satu hal….”


“ Apapun yang kamu lakukan, aku akan mendukung penuh semua langkahmu….”, ucap kaisar Ru Xie Chang sambil mengenggam kedua tangan Jiang Xia Yan dengan tatapan hangat.