Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
MALAM MENCEKAM


Setelah berada diluar kamar, begitu Feng Mo Tian dan Jiang Xia Yan mendongakkan kepala tiba – tiba ada pedang yang sudah mengarah kepada keduanya.


Keduanya sudah dikepung oleh pasukan pangeran Ming Qianfan yang sedang berjaga diluar kamar hingga tak bisa bergerak sementara waktu.


“ Sial !!!...aku lupa jika diluar ada para penjaga pangeran Ming Qianfan….”, batin Jiang Xia Yan waspada


Tak ingin membangunkan banyak orang, Jiang Xia Yan pun langsung menggiring para penjaga pangeran Ming Qianfan kedalam hutan bamboo disamping kamarnya.


Derasnya hujan yang mengguyur bumi malam ini membuat perkelahian dan suara adu pedang yang cukup ricuh tersamarkan.


Satu persatu pengawal pangeran Ming Qianfan berhasil dikalahkan oleh Jiang Xia Yan dan Feng Mo Tian yang bergerak lincah saling bantu.


Meski mereka tak pernah berlatih bersama, entah kenapa kedua terlihat sangat kompak hingga membuat musuh kalang kabut.


“ Aku tak menyangka gadis ini bisa menguasai ilmu pedang tingkat tinggi dalam waktu singkat….”, batin Feng Mo Tian kagum.


Berdasarkan laporan yang diberikan secara rutin oleh Tian Wan, Feng Mo Tian tahu jika Jiang Xia Yan baru mulai belajar ilmu pedang bersama salah satu pelayan pribadinya beberapa waktu yang lalu.


Dengan kemampuan yang terlihat saat ini, semua orang tak akan pernah menyangka jika gadis Jiang tersebut belum ada sebulan belajar ilmu pedang.


Jiang Xia Yan sedikit terkejut waktu ada sekelompok bayangan hitam mendekati mereka. Menyadari jika musuhnya bertambah, diapun bergerak lebih agresif.


“ Mereka orang – orang ku….”, ucap Feng Mo Tian disela – sela serangannya.


“ Oh…”, Jiang Xia Yan hanya merespon datar ucapan Feng Mo Tian dan kembali melayangkan serangan.


Pada saat musuh tinggal sedikit, Feng Mo Tian pun menyuruh Jiang Xia Yan untuk kembali kedalam kuil karena hujan semakin deras.


“ Kembalilah…sisanya biar aku urus….”, ucap Feng Mo Tian yang langsung mendorong tubuh Jiang Xia Yan menjauh dari pertempuran.


Merasa jika keberadaan dirinya sudah tak diperlukan lagi, Jiang Xia Yan pun bergegas kembali kedalam kuil untuk melanjutkan rencananya.


Hanya dengan satu putaran, baju dan badannya yang basah dan kotor sudah kering dan bersih kembali. Jiang Xia Yan terlihat mengagumi kekuatan yang dimilikinya dalam hati.


Seandainya di jaman modern tempatnya tinggal dulu bisa melakukan hal tersebut, tentunya akan sangat menghemat waktu karena dia tak perlu mandi dan berganti pakaian yang memerlukan waktu yang tidak sedikit itu.


“ Nona….”, ucap Lin lega waktu melihat nona mudanya sudah berada diaula doa bersamanya.


Setelah mengambil beberapa potong dupa, Jiang Xia Yan pun segera menyalakannya dan mulai beroda dengan khusuk.


Selain Jiang Xia Yan dan Lin ada beberapa biksu muda yang juga berdoa pada waktu tengah malam tersebut.


Biksu berusia paruh baya yang tadi sore mengantar Jiang Xia Yan ke paviliun utara sedikit terkejut waktu mendapati gadis itu bersama pelayannya berada di aula doa tengah malam seperti ini.


Meski penasaran, tapi melihat kekhusukan keduanya, biksu berusia paruh baya yang bernama Tao tersebut pada akhirnya tersenyum lembut.


Diapun segera menyalakan dupa dan duduk dideretan para biksu yang sedang melakukan doa dan mulai bergabung bersama mereka.


Dihutan bamboo, semua musuh yang telah terbunuh sudah dibereskan dan semua jejak telah dihilangkan sehingga tidak akan ada orang yang tahu jika malam ini terjadi pertarungan sengit disana.


“ Semua sudah beres. Mari pergi….”, ucap Feng Mo Tian tajam.


“ Tuan muda terluka ?....”, ucap lelaki tua disamping Feng Mo Tian penasaran.


Feng Mo Tian menundukkan kepala dan melihat luka pisau yang tak terlalu panjang namun dalam dilengannya sambil tersenyum sinis.


Luka itu dia sendiri yang membuatnya agar efek dupa yang tadi dia hirup tak menjadikannya binatang buas dan menerkam Jiang Xia Yan di tempat.


Apalagi tadi dia melihat dan mendengar dengan jelas suara nyanyian malam yang membuat kinerja racun asmara dalam dupa bekerja semakin efektif.


Meski rasionalitasnya diatas manusia normal, tapi dia bukanlah orang suci yang tak akan lepas kendali apalagi dia adalah lelaki normal dewasa.


Dia sangat takut akan menimbulkan kecelakaan yang berakibat fatal sehingga dia melukai dirinya agar otaknya tetap waras.


“ Kita sebaiknya cepat pergi dari sini sekarang….”, ucap Feng Mo Tian tegas.


Lelaki tua tersebut terpaksa menelan lagi pertanyaannya dan melesat pergi mengikuti gerakan tuan mudanya beserta beberapa orang yang mereka bawa malam ini.


Sementara itu didalam kamarnya Qianyi masih terjaga dan duduk didepan meja sambil menyalakan api lilin kecil yang terlihat berkibar cepat seperti detak jantungnya saat ini.


Pelayan pribadinya kembali mengingatkan untuk kesekian kalinya agar nyonya kedua Jiang itu segera beristirahat karena waktu sudah memasuki sepertiga malam dan sebentar lagi pagi menjelang.


“ Tidak bisa tidur….”, ucap Qianyi sambil menggelengkan kepala beberapa kali.


Qianyi sendiri tak tahu alasannya kenapa malam ini dia tak bisa tidur padahal Gui Momo sudah mengatakan jika semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana.


Bahkan tadi, meski hujan mengguyur bumi dengan derasnya tapi dia juga masih bisa mendengar suara nyanyian melodi malam yang cukup panas.


Bahkan jeritan perjuangan dan tangisan seorang wanita yang begitu menyayat hati terdengar jelas digendang telinganya.


Meski dia sangat tahu siapa yang berteriak dan menjerit serta menangis kesakitan tersebut adalah gadis yang masuk dalam jebakan rencananya nyatanya hal itu tak bisa menghilangkan rasa takut didalam hatinya.


Rumor yang menyatakan jika pangeran Ming Qianfan sangat brutal dan mengerikan ketika bermain bersama wanita ternyata benar adanya waktu dia mendengar dengan jelas suara kesedihan dan teraniaya dari wanita yang menjadi korbannya malam ini.


Qianyi berpikir bahwa Jiang Xia Yan pasti telah mengalami penyiksaan yang sadis malam ini membuat rasa takut yang tadinya hinggap dalam hatinya diliputi kebahagiaan yang tiada terkira.


Rasa dengki dan iri hati yang begitu dalam untuk menghancurkan keponakannya itu akhirnya malam ini tercapai dengan sempurna.


Dan sekarang putrinya Jiang Xiuying akan menjadi yang utama dikeluarag besar Jiang karena sudah tak ada lagi penghambat.


Dengan adanya   pemikiran seperti itu, hati Qianyi menjadi sedikit tenang. Diapun menatap kearah langit sambil tersenyum lebar sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya menuju kearah ranjang.


“ Aku akan beristirahat sekarang…..”, ucap Qianyi tersenyum lembut.


Pelayan pribadinya segera menutup jendela kamar dan meniup lilin yang masih menyala kemudian beranjak untuk beristirahat.


“ Nyonya kedua harus beristirahat dengan tenang karena besok pagi akan disambut oleh banyak kegembiraan yang menanti….”, ucapnya sambil menyelimuti seluruh tubuh majikannya dengan selimut agar hangat.


“ Kamu benar….”


“ Aku harus beristirahat dengan baik sekarang karena akan ada banyak kegembiraan besok pagi….”


Ucap Qianyi sebelum akhirnya kedua matanya tertutup rapat dan dirinya mulai masuk kedalam alam mimpi.