
Pranggg…..
Semua barang yang bisa digapai oleh tangan Qianyi jatuh berserakan diatas lantai. Wanita itu benar – benar meluapkan amarahnya setelah mendengar dari anak buahnya jika Gui Momo mengkhianatinya.
“ Sudah kuduga dari awal jika pelayan tua itulah yang mengkhianatiku !!!....”
“ Karena tak mungkin bagi gadis bodoh itu bisa bertindak sejauh itu sendirian !!!....”
“ Aku akan membuat pelayan tua merasakan sakit yang lebih daripada apa yang dirasakan oleh Ying’er…. ”
Qianyi terus berucap dengan penuh amarah, dia ingin menguliti Gui Momo dengan tangannya sendiri saat ini juga.
“ Bawa cambuk dan perlengkapanku kegudang sekarang !!!....”, perintah Qianyi tegas.
Diapun bergegas pergi kegudang untuk membuat perhitungan dengan Gui Momo beserta para pelayannya.
Sementara itu, Jiang Xia Yan yang sudah masuk kembali kedalam aula leluhurnya untuk kembali menjalankan hukumannya setelah berhasil kabur diam - diam merasa sangat senang.
“ Kurasa, bibi kedua pasti sudah berada di gudang untuk menyiksa Gui Momo sampai mati sekarang….”, guman Jiang Xia Yan puas setelah mengetahui jika rencananya telah berhasil.
Malam itu, suara teriakan dan jeritan kesakitan terus menggema sepanjang malam dari dalam gudang tanpa henti.
Qianyi terus melampiaskan kemarahannya hingga akhirnya pelayan tua tersebut tak sadarkan diri akibat rasa sakit yang tak bisa tertahankan lagi.
“ Begitu bangun, siksa lagi. Lakukan terus hingga dia mati….”, ucap Qianyi tajam.
Setelah melempar cambuk yang penuh dengan darah, Qianyi pun pergi meninggalkan gudang bersama para pelayannya.
Sementara para pengawal yang ditugaskan untuk menyiksa Gui Momo tetap berada digudang, menunggu wanita tua itu bangun dan menyiksanya kembali hingga mati sesuai perintah majikannya.
Pagi harinya, hujan deras yang semalam mengguyur bumi pagi ini sudah reda dan meninggalkan bau tanah yang basah dan kesegaran.
Semuanya tampak kembali normal seperti semula seperti tidak pernah ada sesuatu peristiwa besar terjadi disana. Tapi, hal tersebut tak berlaku didalam kediaman keluarga kedua.
Meski kewarasan Jiang Xiayung perlahan mulai pulih tapi Qianyi masih terus mengawasi putrinya tersebut dengan intens dan tak mengijinkannya untuk keluar kediaman.
Qianyi masih sangat takut jika Jiang Xiuying sampai mendengar sesuatu yang berhubungan dengan malam naas tersebut.
Selain takut mentalnya kembali tergangggu, Qianyi juga sangat takut jika putrinya tersebut hilang kendali dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Dan setelah melalui siksaan yang kejam dan tak manusiawi setiap harinya, akhirnya pada hari ketiga pengurungan, Gui Momo menghembuskan nafas terakhirnya.
Kematian Gui Momo ini tidak terlalu dipermasalahkan karena bagi pelayan yang berkhianat dan menyakiti anggota keluarga Jiang maka hukuman mati adalah yang setimpal, bagaimanapun caranya.
Pelayan tua itu mati dalam kondisi yang menyedihkan dimana empat anggota tubuhnya patah pada saat dia masih bernafas.
Tidak ada satupun tulang yang layak tersisa di seluruh tubuhnya. Selain itu, ke tujuh lubang dari tubuhnya terus menerus mengeluarkan darah segar membuat siapa saja yang menatpnya akan merasa ngeri dan ketakutan.
Bahkan para pelayan yang membawa jenazah tersebut dari gudang tak berani membuka kain yang menutupi tubuh Gui Momo.
Karena pelayan yang merawatnya telah mati, nyonya besar Jiang memperbolehkan Jiang Xia Yan keluar dan memberinya waktu sehari untuk berduka.
“ Nyonya besar mengatakan bahwa meski Gui Momo dihukum mati karena melakukan pelanggaran, bagaimanapun juga dia adalah pelayan nona muda ketiga jadi sudah sepatutnya mayat Gui Momo ditempatkan dihalaman keluarga pertama. Silahkan nona muda ketiga pergi dan melihatnya….”, ucap Duo mewakili nyonya besar Jiang dan nyonya kedua mengantar Jiang Xia Yan melihat jenazah Gui Momo.
Pada saat ini semua pelayan dan pengawal yang bertugas dikediaman keluarga pertama sudah berkumpul dihalaman menyambut kedatangan Jiang Xia Yan.
Mereka semua sangat berharap melihat ekpresi panik dan sedih dari Jiang Xia Yan karena kehilangan Gui Momo, sosok yang sangat dekat dengannya.
Semua orang masih beranggapan bahwa kematian Gui Momo ini pasti akan membawa kesedihan bagi Jiang Xia Yan sehingga membuatnya depresi.
Itulah harapan semua orang, termasuk Qianyi yang ingin melihat Jiang Xia Yan menderita sehingga dia bisa merasakan lega dihatinya.
Tapi semua itu hanya harapan dan angan semu belaka. Kenyataannya, Jiang Xia Yan melangkah dengan tenang kearah jenazah Gui Momo tanpa memberikan ekpresi apapun.
Bahkan ketika dia mengangkat kain putih untuk melihat kondisi jenazah Gui Momo, wajah gadis itu tetap datar tanpa ekpresi apapun membuat semua orang sangat terkejut dibuatnya.
“ Gui Momo telah bertingkah seperti seorang tiran di halaman keluarga pertama selama ini….”
“ Pelayan seperti ini….”
“ Halaman keluarga pertama juga tak akan mau menerimanya…”, ucap Jiang Xia Yan tenang.
Kemudian dia segera membuka kain penutup tubuh Gui Momo membuat banyak pelayan wanita menjerit ketakutan, bahkan ada beberapa yang langsung pingsan ditempat.
“ Kalian semua perhatikan baik – baik….”
“ Jika dimasa depan ada yang bertindak seperti Gui Momo….”
“ Berani mengkhianati keluarga pertama….”
“ Inilah hasilnya…..”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
Semua orang terlihat ketakutan dan sedikit kesulitan menelan ludah mendengar ancaman yang diberikan langsung oleh Jiang Xia Yan kepada mereka.
Karena hampir sebagian besar pelayan yang ada dihalaman keluarga pertama adalah mata – mata, tentunya mereka sangat takut jika sampai nona muda ketiga tahu tentang hal tersebut dan menghukum mereka sekejam itu.
Duo, pelayan pribadi Qianyi bahkan tak bisa lagi berkata apa – apa. Niat hatinya ingin menakuti – nakuti Jiang Xia Yan dengan jenazah Gui Momo yang mati tragis tapi siapa sangka jika gadis itu malah menggunakan jenazah tersebut untuk menunjukkan kekuatannya.
Jiang Xia Yan tersenyum sinis waktu melihat Duo lari terbirit – birit meninggalkan halaman keluarga pertama untuk melaporkan semuanya kepada Qianyi.
“ Brengsek !!!!....”
“ Aku telah dibodohi j****g kecil itu !!!...”
“ Beraninya dia menggunakan tanganku untuk menyingkirkan Gui Momo !!!....”, teriak Qianyi murka.
Dia sama sekali tak menyangka jika Jiang Xia Yan memang sudah lama ingin menyingkirkan Gui Momo dari halaman keluarga pertama.
Dan begitu ada kesempatan, dia menggunakan tangan keluarga kedua untuk mengakhiri hidup pelayan tua tersebut.
“ Sekarang bahkan dia berani menunjukkan kekuatannya dihalam keluarga pertama !!!....”
“ Ini sangat tidak bagus !!!.....”, geram Qianyi penuh amarah.
Qianyi tidak bodoh hanya saja dia sempat kehilangan ketenangannya karena masalah yang dihadapi oleh Jiang Xiuying.
Dia sempat mengira jika Jiang Xia Yan akan sangat menderita setelah kehilangan Gui Momo sebagai orang kepercayaannya.
Melihat Jiang Xia Yan berhasil menyelinap dari hukumannya diaula leluhur membuat Qianyi sangat yakin jika hubungan keduanya sangat dekat.
Bahkan orang suruhannya juga mendengar dengan jelas jika kedua orang tersebut memiliki ikatan batin dan emosiaonal yang sangat kuat.
Tak menyangka jika semua itu hanyalah sandiwara untuk menjebaknya masuk dan terseret oleh kesedihan dan amarah tak berujung ini.
Qianyi sangat marah waktu menyadari tipu muslihat yang dibuat oleh Jiang Xia Yan. Dan dengan bodohnya dia ikut masuk kedalam permainan gadis itu.
“ Nona muda ketiga benar – benar memberi pertunjukan yang baik dengan membunuh orang menggunakan pisau dari tangan orang lain….”, batin Duo terkejut.
Duo sangat paham kenapa nyonya kedua Jiang sangat murka setelah mendengar kabar yang dibawahnya tersebut.
Selama ini, nyonya kedua selalu menang dalam pertarungan dihalaman dalam dengan semua orang, bahkan nyonya besar Jiang juga tunduk kepadanya.
Tapi sekarang, beberapa kali dia bisa dikalahkan oleh gadis kecil yang belum dewasa yang sebelumnya sangat bodoh dan naïf.
Setelah perasaannya sedikit tenang, Qianyi pun kembali bersuara dan bertanya kepada Duo “ Apa surat untuk pangeran Ming Qianfan sudah dikirim ?....”
“ Sudah nyonya…tapi, jika tuan besar kedua tahu, apakah beliau tak akan marah ?....”, ucap Duo sangat hati – hati.
Qianyi menghela nafas panjang untuk sesaat. Dia sangat tahu jika Jiang Quon ingin merahasiakan masalah ini dari pengeran Ming Qianfan.
Tapi dirinya bersikeras untuk memberitahunya karena dia beransumsi bahwa pangeran Ming Qianfan tak akan melepaskan siapapun yang berusaha untuk memainkan trik dibawah kelopak matanya.
Dan dia sangat berharap bahwa Jiang Xia Yan mati secara mengenaskan ditangan pangeran Ming Qianfan karena berhasil mengelabuinya.
“ Aku ingin Jiang Xia Yan mati tanpa kuburan…..”, guman Qianyi sambil mengatupkan giginya wkatu berbicara.