
“ Sial !!!....”, batin Jiang Xia Yan kesal.
Diapun segera mengambil saputangan dan menutup sebagian wajahnya agar tak dikenali musuh yang tiba – tiba menyerangnya.
“ Bawa ini pergi….”, ucap Feng Mo Tian sambil melempar tas kuning yang tadi dia pegang.
Gu Zou pun segera menangkap tas kuning tersebut dan berlari keluar. Sementara didalam ruang rahasia, Jiang Xia Yan sedang bertarung sengit dengan Feng Mo Tian.
Sathhhh….
Sethhh…
Bagggg.…
Buggg….
Keduanya saling serang tanpa memberikan kesempatan satu sama lain untuk kabur.
Keduanya terlihat seimbang, hal ini membuat Feng Mo Tian mengerutkan keningnya cukup dalam penasaran siapa wanita yang memiliki kekuatan hampir setara dengan dirinya itu.
Jiang Xia Yan terus melancarkan serangan dengan menggunakan belati kecil ditangganya secara membabi - buta.
Pada awalnya Feng Mo Tian bisa menghindari serangan itu dnegan mudah, hingga pada akhirnya serangan tersebut membuahkan hasil dan mengenai pakaian Feng Mo Tian, membuatnya robek dibeberapa bagian.
Melihat jika wanita yang ada didepannya bisa menyentuhnya, Feng Mo Tian pun tak lagi menyembunyikan kekuatannya.
Diapun mulai menyerang dengan kekuatan asli miliknya hingga membuat Jiang Xia Yan beberapa kali terpojok.
Tranggg….
Belati yang pegang oleh Jiang Xia Yan terlempar jauh sehingga sekarang dia hanya bisa mengandalkan ilmu beladirinya yang digabungkan dengan kekuatan kultivasi yang ada dalam tubuhnya saja.
“ Ternyata lelaki ini lebih kuat daripada perkiraannku….”, batin Jiang Xia Yan geram.
Diapun terus melayangkan pukulan dan tendangan, namun sayangnya semua serangannya ini masih bisa dihindari oleh lelaki yang ada dihadapannya itu.
Melihat wanita yang ada dihadapannya sedikit lengah, Feng Mo Tian pun langsung menyerangnya secara membabi buta.
Brukkkk….
Feng Mo Tian berhasil membuat tubuh wanita tersebut menempel ke tembok dan diapun segera mencekiknya.
“ Feng Mo Tian ?....”, batin Jiang Xia Yan terkejut.
Dia sama sekali tak menyangka jika pemuda yang ada dihadapannya itu adalah seseorang yang beberapa kali sempat dia temui.
“ Sial !!!....”
“ Pikirannya sama sekali tak bisa kubaca….”, batin Feng Mo Tian kesal.
Jiang Xia Yan yang tak bisa melepas cekikan tangan Feng Mo Tian dilehernya hanya bisa bergerak secara perlahan, mengambil jepit rambut dan langsung menancapkan dengan kuat ke lengan laki - laki itu.
" Awww....", teriak Feng Mo Tian kesakitan.
Begitu cekikan dilehernya terlepas, Jaing Xia Yan pun segera mendorong tubuh Feng Mo Tian dan langsung kabur dari ruangan tersebut secepatnya.
“ Aku benar – benar sial hari ini….”, gerutu Jiang Xia yan sambil mengusap lehernya yang memerah akibat cekikan Feng Mo Tian tadi.
Setelah menyimpan saputangan yang dipakainya, Jiang Xia Yan kembali menormalkan ekspresi wajahnya dan melangkah keluar.
“ Kakak sudah terlalu lama…”
“ Sebaiknya kita pergi menyusul….”, ucap Jiang Xia Yan datar begitu dia berada di teras paviliun.
Gu Zou yang melihat Feng Mo Tian keluar dengan lengan berdarah dan beberapa pakaiannya sobek segera membawanya pergi meninggalkan kediaman pangeran Ming Qianfan yang sudah menjadi kuburan tersebut.
“ Tindakan wanita itu sangat kejam….”, Gu Zou tertegun melihat cidera yang dialami oleh Feng Mo Tian hari ini.
Feng Mo Tian terlihat membuang jubah luarnya yang sudah hampir hancur terkena belati tajam yang menyerangnya tadi.
Meski hanya satu cidera yang dideritanya, namun tusukan jepit rambut tersebut sangat dalam hingga tulangnya sampai terlihat.
Untung saja jepit rambut tersebut tak mengandung racun, jika tidak mungkin Feng Mo Tian dalam kondisi kritis sekarang.
Gu Zou terlihat mulai mengoleskan obat dan membalut luka serius yang diderita sahabatnya itu dengan kasa agar lukanya tertutup rapat.
Sementara orang yang menderita luka terlihat sedang asyik memainkan jepit rambut yang telah melukainya sedalam ini dengan santai.
Jepit rambut yang ada ditangannya itu hanyalah jepit rambut perak biasa.
Tapi bagian runcing jepit rambut itu dibuat sangt tajam sehingga jika dibandingakan dengan jarum perak, senjata itu lebih mematikan.
Jika seseorang ditusuk dengan jepit rambut itu maka sudah bisa dipastikan sebagian besar dagingnya akan robek dan meninggalkan luka yang sangat dalam.
“ Kamu tahu siapa wnaita yang menyerangmu tadi ?....”, tanya Gu Zou penasaran.
“ Nona muda ketiga Jiang….”
“ Jiang Xia Yan….”, ucap Feng Mo Tian tersenyum tipis sambil memainkan jepit rambut tersebut ditangannya.
“ Ahhh.....Kurasa kamu cukup bahagia mendapat luka yang sangat dalam dari gadis itu….”, batin Gu Zou mencibir.
Mendengar apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu, Feng Mo Tian hanya bisa terkekeh.
Pada awalnya dia sama sekali tak menyangka jika wanita yang bertarung dengannya adalah Jiang Xia Yan hingga dia berhasil mencekiknya.
Aroma tubuhnya yang khas dan pikiran yang tak bisa dia baca membuatnya memiliki kesimpulan jika wanita muda yang ada dihadapannya itu adalah nona muda ketiga Jiang.
Apalagi didalam kediaman pangeran Ming Qianfan tadi dia sempat melihat ada pasukan milik jenderal muda Jiang Chen, menambah keyakinan jika wanita yang menyerangnya itu adalah Jiang Xia Yan.
Setelah beberapa kali gadis itu memberinya kejutan, Feng Mo Tian pun tak akan terkejut jika Jiang Xia Yan mengetahui mengenai ruang rahasia itu.
“ Tapi, apa yang gadis itu cari ?....”
“ Apakah sama dengan barang yang sedang dia cari….”,
pertanyaan itulah yang terus berada dalam benak Feng Mo Tian saat ini.
Sementara itu didalam ruangannya, Jiang Xia Yan terus memikirkan perjuampaannya denga Feng Mo Tian tadi.
Bahkan dia juga melihat Gu Zou ketika keluar dari ruang rahasia. Selama ini dia tak terlalu mengenal tabib istana itu karena dalam slide memorinya tak ada hal yang menjelaskan siapa lelaki muda itu.
“ Kurasa, nanti malam aku akan coba kesana sendiri mencarinya....”, batin Jiang Xia Yan penuh tekad.
Ruang rahasia itu pada awalnya ditemukan oleh pangeran kedua Ming Shin dimasa depan ketika anak kedua kaisar Ming Qin tersebut telah resmi menjabat sebagai kaisar Ming menggantikan sang ayah.
Dan percakapan antara Han Shan Yang yang waktu itu menjabat sebagai penasehat kaisar sempat didengar oleh Jiang Xia Yan yang sudah menjadi permaisuri Ming.
Mengenai apa sebenarnya benda itu,Jiang Xia Yan sendiri juga tak tahu secara pasti karena dia hanya mendengar hal tersebut sekilas dari mencuri dengar percakapan antara suaminya dengan penasehatnya.
Tapi jika melihat nada yang diucapkan oleh Han Shan Yang pada saat itu, Jiang Xia Yan sangat yakin jika benda itu sangat penting artinya bagi pangeran kedua Ming Shin.
Maka dari itu, Jiang Xia Yan pun bertekad keras agar benda itu tak sampai jatuh ketangan pangeran kedua Ming Shin yang membuatnya semakin tak tergoyahkan dikursi tahta.
Jika dia sudah mendapatkan benda itu, entah akan dia simpan atau dia lenyapakan, tentunya akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Jiang Xia Yan dalam menghadapi pangeran kedua Ming Shin dimasa depan.