Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
KEPUTUSAN


Jiang Xia Yan yang selama beberapa hari ini mengalami dilemma dan kegelisahan hati pada akhirnya bisa tertidur dengan lelap setelah meminum ramuan (semacama obat tidur dijaman modern) yang dibuatnya sendiri sehingga malam ini dia bisa beristirahat dengan nyenyak.


Dalama tidurnya malam ini, Jiang Xia Yan bertemu dengan sang pemilik tubuh dan Wuzia yang menemuinya untuk mengucapkan terimakasih karena dendam mereka telah terbalaskan dan sekaligus ingin berpamitan sekarang karena keduanya sudah bisa naik keatas langit dengan tenang.


“ Terimakasih untuk semuanya Yan’er….”


“ Akhirnya jiwa kami bisa tenang dan akan segera berenkarnasi…”, ucap Wuzia tulus.


“ Sekarang, jalani kehidupanmu dengan baik…”


“ Raih kebahagiaanmu…”


“ Cobalah buka hatimu dan jangan ulangi kesalahan yang dulu….”


“ Ikuti apa kata hatimu….”


“ Kamu berhak bahagia….”, ucap sang pemilik tubuh menimpali.


Setelah mengucapkan hal tersebut, tubuh Wuzia dan Jiang Xia Yan asli berubah menjadi seberkas cahaya yang langsung melesat cepat menuju langit.


Wushhhh….


Clinggg……


Jiang Xia Yan terus menatap langit hingga cahaya yang merupakan wujud Wuzia dan pemilik tubuh asli menghilang tanpa bekas.


Dalam diam, Jiang Xia Yan mulai memikirkan semuanya. Dia memang harus segera mengambil keputusan penting untuk hidupnya.


Setelah misi membalaskan dendam telah selesai maka sekarang dia harus mulai memikirkan dirinya sendiri.


Apa yang ingin dia lakukan....


Apa yang ingin dia capai....


Membuat planning jangka panjang dan jangka pendek untuk kebahagiaan hidupnya yang selama ini masih dia abaikan demi keberhasilan misi yang diembannya.


Didunia ini, selain mendapatkan keluarga yang sangat mendukung dan menyayanginya,  Jiang Xia Yan juga dikelilingi oleh oarng – orang yang selalu mensupportnya dalam segala hal.


“ Benar….”


“ Aku berhak bahagia….”, gumannya optimis.


Sinar sang mentari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela mulai membelai kulit putih Jiang Xia Yan dengan lembut.


Kedua mata Jiang Xia Yan sedikit menyipit waktu sinar sang surya perlahan naik keatas kelopak matanya hingga membuat gadis itu perlahan terbangun dari tidur pulasnya.


Jiang Xia Yan terlihat mengerjapkan kedua matanya beberapa kali berusaha untuk menyesuaikan sinar yang masuk sambil mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya utuh.


Jiang Xia Yan perlahan duduk dan menyandarkan tubuhnya diujung ranjang, berkutat dengan pemikirannya sendiri hingga suara sapaan yang lembut membuyarkan lamunannya.


“ Pagi nona….”, sapa Lin ramah.


Melihat nona mudanya masih belum sepenuhnya terbangun, Lin pun bergegas menuju kamar mandi untuk menyiapkan semua keperluan Jiang Xia Yan pagi ini.


Jiang Xia Yan masuk kedalam bak mandinya sambil menutup kedua mata dan berguman pelan “ Aku tak bisa terus hidup seperti ini dan harus mengambil keputusan secepatnya….” .


Ya…kali ini Jiang Xia Yan akan memberi keputusan terhadap hatinya apa yang bisa membuatnya bahagia kepada kedua orang tuanya pagi ini.


Jiang Xia Yan juga akan memberi pengertian kepada kedua lelaki yang sangat mencintainya tersebut.


Meski keduanya sudah dia tolak, tapi dia tak ingin membuat kesalahan yang sama seperti kehidupannya terdahulumaka Jiang Xia Yan pun harus memberi pengertian agar tak menimbulkan sakit hati yang mendalam.


Semua ini dia lakukan demi mencapai kebahagiaan dalam hidupnya dikesempatan kedua ini. Mencapai sesuatu yang tak bisa dia raih dalam kehidupan sebelumnya.


“ Lin….”


“ Tuan besar, nyonya dan tuan muda pertama sedang berada dikediaman utama sekarang….”


“ Apakah nona ingin sarapan bersama mereka ?....”, tanya Lin antusias.


“ Ya….”


“ Mari kita kesana….”, ucap Jiang Xia Yan langsung melangkahkan kakinya menuju kediaman utama untuk sarapan bersama keluarganya.


Ketiga orang yang sedang duduk dimeja makan sambil menikmati sarapan pagi ini terlihat tersenyum lebar waktu melihat kedatangan Jiang Xia Yan dan langsung menyuruhnya duduk untuk sarapan bersama mereka.


“ Bagaimana kabarmu Yan’er ?....”, tanya Xiao Mei sambil meletakkan udang goreng diatas mangkuk putrinya.


“ Seperti yang ibu lihat….”


“”Aku baik – baik saja….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum lembut.


Semua orang terlihat bahagia pagi ini melihat rona kemerahan diwajah sang putri yang tandanya jika JiangXia Yan semalam tidur dengan nyenyak.


Xiao Mei sedikit khawatir waktu mendengar jika beberapa hari terakhir putri bungsunya itu sering terjaga sepanjang malam.


Dan keesokan harinya dia akan terlihat sibuk dirumah produksi untuk mengerjakan desain baru untuk menunjang butiknya membuat wanita tersebut sangat cemas.


Tapi hari ini, melihat wajah putrinya kembali cerah tentunya semua orang merasa sedikit tenang dan lega secara bersamaan.


“ Apakah ayah, ibu dan kakak akan kembali keperbatasan dalam waktu cepat ?....”, tanya Jiang Xia Yan setelah menyelesaikan sarapannya.


“ Ada apa Yan’er ?....”


“ Apa Yan’er masih ingin kami tinggal lebih lama di ibukota ?....”, tanya Jiang Shing penasaran.


“ Ah, bukan begitu….”


“ Jika kalian akan kembali ke perbatasan seperti kesepakatan diawal, aku akan ikut serta….”, ucap Jiang Xia Yan 'mengungkapkan maksud hatinya.


Meski merasa senang jika putri bungsunya itu ikut serta, tapi mengingat jika saat ini usia Jiang Xia Yan beberapa lagi sudah memasuki usia pernikahan mereka takutnya hal itu akan menghambat putrinya untuk menemukan jodoh yang tepat.


Apalagi putrinya tersebut sudah menolak kaisar Ru Xie Chang dan Feng Mo Tian yang melamarnya beberapa waktu yang lalu.


“ Apa Yan’er tidak nyaman berada dalam kediaman saat ini ?....”, tanya Xiao Mei memastikan keputusan putrinya yang ingin ikut bersama dengan mereka.


Jika saat ini mereka masih berada dikediaman keluarga besar Jiang maka Xiao Mei tak akan menanyakan hal ini.


Tapi sekarang, mereka sudah memiliki tempat tinggal sendiri yang aman dan keluarga besar Jiang juga sudah hancur sehingga tak mungkin bagi mereka untuk kembali mengusik dan menyakiti putrinya membuat Xiao Mei penasaran akan alasan dibalik keputusan Jiang Xia Yan saat ini.


“ Aku hanya ingin berkelana dan menemukan hal baru diluar sana….”


“ Selain untuk lebih mengasah kemampuanku aku juga ingin bisa lebih dekat dengan keluargaku….”, Jiang Xia Yan berkata tulus hingga membuat ketiga orang yang ada dihadapannya menatapnya dengan haru.


“ Baiklah jika itu yang Yan’er inginkan….”, ucap Jiang Shing sambil membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.


“ Kakak senang dengan keputusanmu ini dek….”


“ Kakak akan menemanimu berpetualang diluar sana….”, ucap Jiang Chen bersemangat.


Keempat orang yang masih berada dimeja makan tersebut pada akhirnya berbincang mengenai banyak hal diluar sana yang nantinya bisa Jiang Xia Yan dapatkan selama mereka menempuh perjalanan menuju perbatasan Timur.


Sesuatu hal yang selama ini mungkin tidak bisa Jiang Xia Yan bayangkan sebelumnya akan bisa dia dapatkan dalam kehidupannya terdahulu.


Dan keputusan Jiang Xia Yan ini dianggapnya paling tepat demi mengejar kebahagiaannya. Untuk urusan hati, tentunya langit sudah menentukan siapa itu jika waktunya sudah tepat.


Siapapun itu, jika sudah waktunya maka Jiang Xia Yan akan menerimanya dengan tangan terbuka dan hati lapang.