Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
RASA SAKIT YANG DALAM


Qianyi perlahan bangkit dari tempat dudukya dan berjalan berlahan menuju kearah ranjang yang ada dihadapannya itu dengan hati berdebar.


Dengan setengah berlutut diapun menyentuh kepala gadis malang yang ada dihadapannya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Rambut hitam panjang gadis itu terlihat acak – acakan dan banyak rambut yang rontok dilantai akibat tercabut dengan paksa.


Qianyi mengulurkan tangan dengan tubuh gemetar dan isak tangis yang tertahan untuk membalikkan tubuh gadis malang itu.


Tiba – tiba suara gemuruh terdengar hebat dilangit, seolah itu menggambarkan suasana hati yang sedang Qianyi rasakan saat ini.


Sambil menutup mata dengan tangis yang tertahan, Qianyi memeluk tubuh polos Jiang Xiuying dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan.


Semakin dilihat dari dekat, semakin Qianyi merasakan rasa sakit yang teramat dalam. Pelecehan yang dialami oleh putrinya sama sekali tidak ringan.


Tidak ada area yang bersih tanpa lebam dan noda darah di sekujur tubuhnya. Bahkan salah satu tangan Jiang Xiuying terlihat agak aneh dan dapat Qianyi pastikan jika lengan kanan putrinya itu patah.


Pangeran Ming Qianfan sangat kejam dan tak berperikemanusiaan, tapi dia justru membenci Jiang Xia Yan karena masalah ini.


Seharusnya gadis itulah yang berada diposisi ini, bukan putri kesayangannya. Itulah yang terus ada dalam pikirannya saat ini.


Melihat kondisi putrinya seperti ini, Qianyi merasa sangat marah. Dia ingin membunuh Jiang Xia Yan sekarang juga.


Mencekik dan mematahkan leher gadis itu, meminum darah serta memakan dagingnya agar perasaan marahnya menghilang.


Saat ini masa depan putrinya telah hancur. Jika ada orang yang tahu, maka tidak akan ada satu lelaki pun yang bersedia untuk menikahinya.


Dengan suara bergetar menahan amarah dan kesedihan yang dalam Qianyi berkata kepada Duo, pelayan pribadinya


“ Pergi dan siapkan kereta kuda. Kita turun gunung sekarang !!!....”, perintah Qianyi tegas dengan nada dingin.


“ Tapi nyonya…diluar hujan sangat deras. Tak memungkinkan bagi kita untuk turun gunung sekarang ….”, ucap Duo ketakutan.


Kuil Guandong sangat jauh dan terpencil dengan jalan tanah yang bergelombang. Jika hujan deras seperti ini bisa dipastikan kereta kuda tidak akan bisa bergerak maju.


Jika tetap dipaksakan untuk turun maka bisa dipastikan akan terjebak dijalan atau lebih buruknya kereta kuda akan mengalami kecelakaan.


*Plakkk…..**Plakkk…..*


“ Lalu…bagaimana dengan Ying’er ku !!!....”, teriak Qianyi histeris.


Sementara itu, diluar kamar Jiang Xia Yan terlihat menatap hujan dengan tenang seolah air hujan telah menghapus semua jejak kejahatan dan menutupi rencana kotor yang ada.


Berkali – kali Qianyi menyalahkan dirinya sendiri dalam hati. Waktu mendengar suara tangis dan jeritan tadi malam  seharusnya sebagai seorang ibu dia bisa melihat dengan jelas jika itu adalah suara putrinya.


Seharusnya dia bisa menyelamatkannya dan mengeluarkan putrinya dari mimpi buruk yang telah disiapkannya untuk keponakannya.


Tapi dia tidak melakukan apapun dan malah berpangku tangan sepanjang malam. Menunggu hingga semuanya kembali tenang dan berharap esok pagi mendapatkan kabar mengembirakan.


Saat ini, dia ingin segera membawa putrinya kembali ke ibukota secepatnya agar bisa segera mendapatkan perawatan.


Tapi karena hujan turun dengan deras, mereka harus terjebak disini untuk sementara waktu. Namun, dia tak mau menyerah begitu saja melihat kondiosi mengenaskan sang putri.


“ Pergilah cari tabib sekarang juga !!!....”


“ Cari sampai dapat !!!....”


“ Jika tidak !!!.....”


“ Kamu akan mati disini !!!....”, perintah Qianyi penuh amarah.


Duo segera keluar dengan cepat untuk menemukan tabib yang bisa menyembuhkan nona mudanya jika tak ingin nyawanya melayang.


Dia sama sekali tak menyangka jika rencana sempurna yang telah disusun oleh nyonya keduanya bisa gagal seperti ini.


Dia sangat tahu jika Jiang Xia Yan lah yang seharusnya berada diposisi ini, bukanlah nona mudanya. Ketika pintu ditutup, bagian dalam dan luar saat ini seperti dua dunia yang berbeda.


Menjelang tengah hari, hujan akhirnya reda. Duo telah menempuh perjalanan hampir  keseluruh penjuru gunung tapi dia sama sekali tak bisa menemukan tabib untuk menyembuhkan luka nona mudanya.


Didalam kuil Guandong, selain para biksu dan pengunjung kuil tak ada satupun orang yang akan datang ketempat terpencil ini.


Jika para biksu sakit, mereka hanya mengambil beberapa tanaman obat yang tumbuh liar digunung untuk direbus dan dijadikan obat.


Dengan nafas tersenggal – senggal, Duo segera melangkahkan kaki menuju dalam kuil untuk bertemu dengan biksu kepala meminta obat penenang dan obat luka luar untuk diberikan kepada nona mudanya.


Saat ini, kamar yang ditempati oleh Jiang Xiuying telah penuh dengan bau obat – obatan serta bau darah yang masih terasa kuat disana meski sudah dibersihkan beberapa kali.


Para pelayan diruangan tersebut bahkan tidak berani bernafas keras karena takut kemarahan Qianyi akan kembali meledak setelah permasalahan besar itu terjadi.


Begitu ada gerakan diatas ranjang, Qianyi langsung berjalan cepat sambil memanggil nama sang putri “ Ying’er….”


Jiang Xiuying membuka sekilas matanya, kemudian teriakan ketakutan pun mulai menggema diseluruh ruangan.


“ Lepaskan aku !!!....”


“ Pergi !!!....”


“ Tolong !!!....”


Melihat putrinya mengamuk sambil berteriak histeris, hati Qianyi merasa sangat sedih. Diapun berusaha untuk menyadarkan Jiang Xiuying dnegan menguncang – nguncang tubuhnya beberapa kali.


“ Ying’er….ini ibu nak….”


“ Lihat….aku ibumu !!!…”, teriak Qianyi histeris.


Air matanya keluar dengan deras membasahi pipi. Hatinya terasa seperti teriris – iris melihat Jiang Xiuying seperti itu.


Jiang Xiuying terus berteriak histeris sambil merontah – rontah menyebabkan obat yang dioleskan ke tubuhnya jatuh kelantai.


Gadis itu terus mengamuk tanpa bisa mengenali siapapun. Tampaknya pelecehan yang terjadi pada dirinya membuatnya mengalami trauma yang sangat dalam.


Dia sudah seperti orang gila sekarang, mengamuk tiada henti sambil  berteriak histeris dan memukul siapa saja yang berusaha menghentikannya.


“ Nyonya….”, ucap kedua pelayan yang memegangi Jiang Xiuying ketakutan.


Qianyi selam ini dikenal sebagai orang yang tegas. Tidak perduli seberapa besar permasalahan yang dia alami dia pasti akan menghadapinya dengan tenang.


Namun, kali dia merasa dititik terendah dalam hidupnya yang membuatnya tak bisa berpikir jernih lagi untuk mengontrol emosinya.


Mengetahui hal tersebut, dua pelayan yang selama ini telah mengikutinya bertahun – tahun merasa sangat terkejut melihat nyonya keduanya itu bisa semenyedihkan ini.


Selama ini angin dan badai yang datang semuanya menuju kearahnya, maka dia masih bisa kuat menghadapinya dengan kepala dingin.


Tapi disaat sang buah hati yang tersakiti, entah kenapa jiwanya yang biasanya sekuat baja menjadi lemah selentur jelly hingga seakan tak bisa menopang tubuhnya untuk tetap berdiri.


Setelah Jiang Xiuying kelelahan dan mulai tenang, Qianyi langsung teringat jika dia harus membereskan sesuatu diluar sana.


“ Dimana nona ketiga sekarang ?....”, tanyanya tajam.


“ Nona sedang berada di aula doa nyonya….”, ucap Duo dengan sangat hati – hati.


“ Kalian jaga Ying’er baik – baik. Jika dia mengalami kecelakaan lagi maka kalian tak akan kubiarkan hidup….”, ucap Qianyi penuh dengan ancaman.