Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
MASUK KEDALAM JEBAKAN


Seiring matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat, Jiang Xia Yan bersama Feng Mo Tian sudah berada disebuah rumah besar kuno kosong yang berada di sebelah utara ibukota untuk menjalankan aksinya.


Rumah besar tersebut merupakan salah satu property milik keluarga Feng yang sudah tak pernah dipakai sangat lama hingga terlihat rusak dan tak terurus.


Dengan kedua mata elangnya, Ru Tang terus mengamati pergerakan kedua orang tersebut seperti seekor harimau sedang mengintai mangsanya dan siap menerkam begitu mereka lengah.


Begitu  hendak memasuki kediaman kuno tersebut, Jiang Xia Yan sengaja mengeluarkan pedang miliknya yang dihiasai permata biru yang berasal dari hutan kematian.


“ Permata biru itu ?…”, ucap Ru Tang sambil mengeluarkan kilatan tajam dari kedua matanya.


Serigai licik langsung menghiasai wajahnya, membuatnya semakin bersemangat untuk segera melumpuhkan keduanya.


Bukan hanya Ru Tang yang terlihat bersemangat, Ming Ming yang mengikuti jejak kekasih ibundanya tersebut juga merasa bersemangat waktu merasakan aura permata biru berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


“ Apakah Feng Mo Tian yang mendapatkan permata biru itu ?.....”, batin Ming Ming curiga waktu melihat Ru Tang memasuki sebuah rumah kuno yang tak terawat.


Karena sepengetahuan Ming Ming saat ini Ru Tang sedang mengawasi dan mengikuti pergerakan Feng Mo Tian, jadi bisa dipastikan jika pemuda itulah yang memilikinya tanpa dia ketahui jika Jiang Xia Yan juga ada disana.


Jiang Xia Yan tersenyum lebar waktu merasakan ada aura hitam yang cukup pekat datang dari dua arah yang berbeda.


Dia sangat yakin jika itu adalah Ru Tang dan Ming Ming yang perlahan mulai masuk kedalam jebakan yang telah dia buat.


Karena fokus kepada permata biru yang ada dipangkal pedang yang dibawa oleh Jiang Xia Yan, maka Ru Tang dan Ming Ming tak menyadari jika mereka telah masuk kedalam lingkaran sihir yang telah dibuat.


Begitu sudah berada ditengah ruangan, Jiang Xia Yan segera menancapkan pedangnya dan tak lama kemudian sinar terang langsung membuat kedua orang tersebut terkunci didalamnya tak bisa bergerak.


“ Apa ini ?....”, guman Ru Tang dan Ming Ming panik.


Tak lama kemudian, sambil berpegangan tangan Jiang Xia Yan dan Feng Mo Tian mulai merapalkan mantra dan tubuh keduanya terasa seperti terbakar.


Keduanya pun berteriak dengan kencang merasa kesakitan sambil berusaha untuk melepaskan diri dari mantra yang membuat tubuh mereka tak bisa bergerak.


Ming Ming yang berada diujung ruangan kedua matanya mulai berwarna merah menyala, diapun mengerahkan seluruh kemampuan sihirnya agar bisa lepas dari sihir pengendali tersebut.


Begitu kedua kakinya terangkat, Ming Ming yang baru saja lepas dari lingkaran sihir bergegas melompat keluar.


Tapi naas, diluar rumah Yuyun dan kaisar Ru Xie Chang sudah menunggunya dan langsung menyerang Ming Ming agar tidak bisa melarikan diri.


Ming Ming yang tenaganya cukup terkuras habis untuk melepaskan diri dari sihir pengendali sedikit kewalahan menghadapi serangan kaisar Ru Xie Chang dan Yuyun yang diarahkan kepadanya secara bertubi – tubi.


Kaisar Ru Xie Chang langsung mengeluarkan bola sihir api biru dari kedua tangannya dan menghempaskan tubuh Ming Ming hingga menghantam tembok yang ada dibelakangnya hingga memuntahkan darah waktu dia hendak berteleportasi.


Melihat lawannya mulai melemah, kaisar Ru Xie Chang pun segera menghantam perut Ming Ming berusaha menghancurkan titik meridiannya sementara Yuyun mengunci pergerakan lelaki itu dengan sihirnya.


“ Achhhh !!!!.....”, Ming Ming berteriak sangat keras waktu meridiannya dihancurkan.


Dengan sisa kekuatan yang ada diapun memaksakan diri untuk berteleportasi, meski tak bisa jauh setidaknya dia bisa lepas dari Yuyun dan kaisar Ru Xie Chang.


“ Sial !!!....”


“ Kemana dia pergi !!!.....”, kaisar Ru Xie Cahng terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


“ Biar hamba kejar…”


“ Yang Mulia tetap disini untuk membantu nona dan tuan muda Feng….”, ucap Yuyun sebelum melesat pergi untuk mengejar Ming Ming.


Didalam rumah, kaisar Ru Xie Chang segera membantu mengeluarkan kekuatannya untuk membantu Jiang Xia Yan dan Feng Mo Tian waktu melihat pamannya sudah hampir melarikan diri.


“ Achhh !!!!.....”, teriak Ru Tang kesakitan waktu cahaya merah yang keluar dari kedua tangan kaisar Ru Xie Chang mengenai tubuhnya.


Setelah merapalkan sebuah mantra, Jiang Xia Yan segera mencabut pedangnya dari lantai dan langsung mengarahkan tepat di jantung Ru Tang hingga laki – laki tersebut berteriak kesakitan.


Pedang biru yang langsung menembus jantung hingga sampai kepunggung Ru Tang, begitu dicabut maka tubuh tersebut mulai hancur menjadi abu.


Dan saat asap hitam keluar dari dalam tubuh yang sudah hancur, dengan tatapan tajam dan tanpa ampun Jiang Xia Yan langsung menghancurkannya seketika membuat jiwa tersebut tak bisa lagi masuk kedalam tubuh baru ataupun berenkarnasi.


Dalam pelariannya, Ming Ming yang melihat kuda pangeran kedua Ming Shin segera naik keatasnya dan langsung kabur secepat mungkin dari tempat tersebut.


“ Ru Tang sudah mati, hancur berkeping - keping….”, guman Ming Ming sambil memejamkan mata menahan rasa sakit yang terus menderanya.


Pangeran kedua Ming Shin yang mendengar gumanan saudara kembarnya tersebut hanya bisa mengeraskan rahangnya dengan penuh amarah.


Hiyatttt…..


Dengan kedua tangan terkepal, pangeran kedua Ming Shin segera memacu kudanya dengan cepat menuju tempat persembunyian mereka.


Yuyun yang kehilangan jejak Ming Ming merasa sangat kesal karena lelaki itu masih bisa menggunakan kekuatannya untuk berteleportasi meski tak terlalu jauh.


Karena gagal mendapatkan Ming Ming, Yuyun pun kembali kerumah kuno tersebut untuk membantu semuanya.


Jiang Xia Yan yang telah mengeluarkan seluruh kekuatannya merasa jika pandangan matanya kabur dan tak lama kemudain dia jatuh pingsan.


Untungnya kaisar Ru Xie Chang bisa menangkap tubuh gadis itu hingga tak sampai jatuh kelantai dan langsung membawanya kembali kedalam kediaman keluarga pertama Jiang.


Jiang Chen yang baru saja pulang dari tugas langsung turun dari atas kudanya dengan panik waktu melihat kaisar Ru Xie Chang mengendong tubuh adiknya yang sudah tak sadarkan diri.


“ Ada apa dengan adik ?....”, tanya Jiang Chen cemas.


“ Nanti aku jelaskan….”, ucap kaisar Ru Xie Chang yang bergegas membawa masuk Jiang Xia Yan kedalam kediaman diikuti Yuyun dan Jiang Chen.


Feng Mo Tian yang hendak masuk terpaksa menghentikan langkahnya waktu melihat Jiang Shing dan istrinya mendekat kearah kaisar Ru Xie Chang.


“ Sekarang bukan saatnya…. ”, guman Feng Mo Tian dengan berat hati meninggalkan kediaman keluarga pertama Jiang.


Meski dia ingin sekali berada disisi Jiang Xia Yan, namun dengan kondisi yang ada saat ini tentunya dia hanya bisa menahan diri agar tak membuat kekacauan disana.


Semua orang masuk kedalam kamar waktu kaisar Ru Xia Chang meletakkan tubuh Jiang Xia Yan diatas ranjang, sementara Lin sudah pergi untuk memanggil tabib.


“ Apa yang sebenarnya terjadi ?....”, tanya Jiang Shing tajam.


“ Mari duduk jenderal….”


“ Saya akan menjelaskan semuanya….”, ucap kaisar Ru Xie Chang tenang.


Kaisar Ru Xie Chang pun mulai menjelaskan semua hal yang telah terjadi tanpa ada sedikitpun yang ditutup – tutupi karena Jiang Shing dan seluruh keluarganya berhak tahu agar bisa lebih berhati – hati lagi kedepannya.


Mengingat jika Ming Ming berhasil kabur dan bisa menembus perlindungan sihir yang dibuat Jiang Xia Yan maka bukan tidak mungkin jika lelaki itu akan bisa masuk kedalam kediaman keluarga pertama Jiang dan melukai mereka.


Meski terkejut, namun Jiang Shing sudah menduga jika dibalik pengejaran pangeran kedua Ming Shin dan pembuangan selir Hien ke istana dingin serta hukuman kepada para pejabat bukanlah masalah yang sederhana.


Dan kali ini, putrinya terlibat langsung dalam masalah tersebut. Meski kaisar belum mengetahui hal itu, tapi dia juga harus berhati – hati agar keluarganya tetap aman.


“ Apakah saya bisa tinggal dikediaman ini untuk sementara waktu hingga Ming Ming bisa dihancurkan ?....”, ucap kaisar Ru Xia Chang penuh harap.


Jiang Shing terlihat menoleh kearah istrinya untuk meminta pendapat, dan ketika melihat istrinya menganggukkan kepala maka diapun langsung bersuara “ Yang Mulia bisa tinggal disini hingga Yan’er sembuh. Lagipula masih banyak yang harus kita bicarakan esok hari jadi sekarang yang Mulia bisa beristirahat….”.


“ Jinying…siapkan kamar tamu untuk Yang Mulia….”, perintah Jiang Shing tegas.