Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
PENYAMARAN


Disebuah ruangan yang elegan dilantai enam pagoda yang berada didalam rumah Dangpu terlihat seseorang sedang membuka tirai dan masuk menemui dua orang yang sudah berada disana sebelumnya.


“ Kakak Feng….”


“ Kamu datang disaat yang tepat….”


“ Ada berita mengenai pergerakan pangeran kedua Ming Shin….”, ucap Chang Wu bersemangat.


Bukannya mendengarkan apa yang Chang Wu ucapkan, kedua sahabat yang ada dihadapannya malah sibuk melihat keluar jendela, lebih tepatnya ke halaman Wudao Jia yang memang tempatnya berada tepat dibelakang pagoda.


“ Kali ini ada yang berbeda….”, ucap Gu Zou tercenggang.


“ Apanya yang berbeda ?....”, tanya Feng Mo Tian penasaran.


Diapun segera menatap kemana arah mata Gu Zou tertuju. Dapat Feng Mo Tian lihat disana sudah ada Yinhang dan lima orang lelaki muda seusianya memasuki halaman Wudao Jia.


Chang Wu yang penasaran dengan apa yang dilihat oleh dua sahabatnya itupun ikut menjulurkan lehernya untuk melihat apa yang menarik perhatian dua laki – laki muda dihadapannya itu.


“ Aku tak menyangka jika nona muda ketiga Jiang sangat murah hati….”


“ Ketika para pengawalnya melakukan tugas dengan baik, dia akan memberinya uang yang sangat banyak sehingga bisa pergi ke Wudao Jia…..”, ucap Chang Wu kagum.


Keduanya kembali acuh terhadap semua kata yang Chang Wu ucapkan sehingga membuat pemuda itu mengerucutkan bibirnya kedepan kesal karena diabaikan.


“ Tapi, kenapa aku merasa jika orang – orang ini tak asing….”, guman Gu Zou sangat pelan.


Feng Mo Tian yang sedang menatap Gu Zou spontan menyemburkan teh yang baru saja masuk kedalam mulutnya waktu mendengar isi pikiran sahabatnya itu.


“ Kakak Feng !!!....”


“ Apa yang kau lakukan !!!!....”, teriak Chang Wu marah.


Untung saja dia tadi langsung melompat kebelakang, jika tidak pasti pakaiannya sekarang ini sudah basah oleh semburan teh dari mulut Feng Mo Tian.


“ Aku tak menyangka jika dia bisa nekat datang kesini siang hari seperti ini….”, guman Feng Mo Tian tajam.


Gu Zou yang sudah tahu siapa yang sedang dibicarakan oleh Feng Mo Tian seketika terbelalak sambil kembali melihat wajah pemuda yang terlihat sangat cantik itu.


“ Apakah itu nona muda ketiga Jiang ?....”, batin Gu Zou tercenggang.


Jika saja Feng Mo Tian tak memberinya petunjuk, mungkin Gu Zou tak akan mengenali Jiang Xia Yan yang berubah menjadi pemuda tampan tersebut.


Sementara itu, Jiang Xia Yan bersama Yinhang dan keempat pelayannya terlihat mulai memasuki sebuah kamar yang mereka duga adalah kamar Han Wu Ying.


Pengelola Wudao Jia merasa jika mereka berenam akan langsung bermain karena sebelumnya Jiang Xia Yan memberinya uang yang sangat banyak dan itu setara jika mereka akan mengambil Han Wu Ying sebagai penghangat ranjang.


Namun siapapun tahu jika tujuan Jiang Xia Yan bukan itu. Dia hanya ingin tempat yang lebih privasi untuk membahas semuanya.


Didepan sebuah meja rias terlihat seorang wanita muda duduk manis sambil menyisir rambutnya yang hitam tergerai dengan pakaian longgar namun sangat tipis sehingga semua lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas.


“ Kamu datang pagi – pagi sekali hari ini….”, ucap Han Wu Ying menyindir.


Keempat pelayan pribadi Jiang Xia Yan menatap aneh Yinhang karena mereka tidak tahu jika pemuda itu mendapatkan tugas kesini seminggu tiga kali selama nona mudanya tersebut berada dikekakisaran Ru.


“ Aku sama sekali tak menyangka jika Yinhang memiliki hobi seperti ini….”, itulah yang ada dipikiran mereka saat ini.


Yinhang yang mengerti arti tatapan keempat temannya itu terbatuk dua kali sambil berkata “ Hari ini aku tidak datang sendiri…”.


Tentu saja ucapan Yinhang membuat Han Wu Ying spontan menghentikan aktivitasnya untuk menyisir rambutnya yang sangat panjang itu.


Meski dia pernah melayani lebih dari satu pelanggan dalam semalam, itupun tak sebanyak ini paling banyak dua lawan satu.


“ Ini….”


“ Enam lawan satu…..”, batin  Han Wu Ying geram.


Meski marah, tapi dia juga harus tetap professional dalam menjalankan pekerjaannya. Dengan senyum penuh cibiran diapun menatap Yinhang sambil berkata


“ Jika seperti ini, kamu harus membayarku tiga sampai empat kali lipat tergantung betapa sulit permainan yang kamu inginkan….”.


Bukan hanya keempat pelayan pribadi Jiang Xia Yan yang kembali dibuat terkejut atas ucapan lugas Han Wu Ying, tapi juga dirinya.


Kelima orang tersebut langsung menatap aneh Yihang yang hanya bisa mengaruk kepalanya yang tak gatal karena binggung.


Saat ini Yinhang merasa sedikit tertekan karena dia sama sekali tidak tahu apa yang membuat nona Han Wu Yin marah kepadanya.


Bukan hanya itu, pandangan tajam kelima orang yang berada disampingnya juga membuatnya kesulitan untuk menelan ludah.


“ Pasti semua orang berpikir jika aku sering melakukan hal diluar batas bersama nona Han Wu Ying…”, batin Yinhang gelisah.


Jiang Xia Yan yang mulai menyadari situasi yang ada pada akhirnya membuang nafas dengan kasar sambil berjalan maju selangkah.


“ Nona muda Han Wu Ying, saya adalah tuan dari Yinhang….”


“ Dan kami kesini bukan untuk bermain….”, ucap Jiang Xia Yan penuh penekanan.


Han Wu Ying langsung mengalihkan pandangannya yang sebelumnya kearah Yinhang sekarang menuju Jiang Xia Yan dengan tatapan menyelidik.


Lin pun segera mengambilkan sebuah kursi dan meletakkan disamping Han Wu Ying agar nona mudanya itu bisa leluasa berbicara.


“ Jadi, kamulah yang menyuruh Yinhang datang mengunjungiku ?....”, tanya Han Wu Ying lembut.


Han Wu Ying menggunakan kedua tangannya untuk menopang dagunya dan tiba – tiba dia berbicara dengan tatapan menggoda.


“ Nona muda ini tidak mengerti apa arti tindakan tuan….”


“ Mungkinkah tuan muda benar – benar mencintai hamba….”, ucapnya lembut dengan suara menggoda.


Kelima orang yang berada di belakang Jiang Xia Yan hanya bisa benggong. Bagaimanapun juga Han Wu Ying adalah wanita penghibur di rumah Wudao Jia.


Jadi ketika dia berbicara lembut dengan tatapan menggoda, tentunya hal itu terlihat sangat sempurna untuk merayu seorang lelaki dan memancing hasrat mereka dalam sekejap.


“ Apa yang dipikirkan oleh nona muda Han Wu Ying….”, ucap Jiang Xia Yan datar.


Melihat ekpresi Jiang Xia Yan, Han Wu Ying pun tertawa kecil sambil berkata “ Nona muda sangat lihai memainkan peran ini dan sangat cocok sebagai pemain opera….”.


Sebagai seseorang yang sudah menjalani profesi ini cukup lama, Han Wu Ying bisa langsung menebak dengan satu kali tatapan jika pemuda tampan yang ada dihadapannya itu adalah seorang gadis muda yang sedang menyamar.


Meski penyamaran Jiang Xia Yan sangat sempurna, tapi hal itu tak bisa mengelabui kedua mata Han Wu Ying yang jeli.


Ini jugalah salah satu keunggulan Han Wu Ying yang sangat Jiang Xia Yan butuhkan dalam menjalankan misinya dimasa depan.


Tanpa basa – basi, Jiang Xia Yan pun langsung menyapaikan tujuannya datang menemui Han Wu Ying siang ini.


“ Aku ingin menebusmu….”, ucap Jiang Xia Yan to the point.