Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
MENCARI DUKUNGAN


Setelah memasuki tubuh ini, dia bertekad untuk memperbaiki hubungannya Jiang Xia Yan dengan keluarga intinya, terutama dengan sang kakak.


“ Setelah satu tahun tak bertemu, bagaimana kabar kakak ?...”


“ Apakah kakak baik – baik saja ?....”, Jiang Xia Yan terlihat mulai mengangkat topik ringan untuk memulai percakapan.


“ Ah…itu….”, Jiang Chen sedikit gugup mendapatkan perhatian dari sang adik.


Karena biasanya Jiang Xia Yan akan bersikap dingin kepadanya. Hanya sepatah dua patah kata saja yang keluar dari bibirnya.


Dan melihat sang adik memberi sedikit perhatian seperti ini membuatnya binggung sekaligus senang karena pada akhirnya impiannya untuk dekat dengan Jiang Xia Yan terwujud


“ Aku baik – baik saja….”


“ Kamu tahu sendiri bagaimana tentara….”


“ Terluka pada saat berperang adalah hal biasa….”, ucap Jiang Chen sambil mengaruk tekuknya salah tingkah.


Jiang Chen yang seumur hidup tak pernah berinteraksi dengan wanita merasa sedikit kikuk waktu sang adik yang beranjak dewasa menatapnya.


Dapat Jiang Chen akui jika sang adik memiliki kecantikan seperti sang ibu dan memiliki tekad kuat seperti ayahnya, suatu perpaduan yang sempurna baginya.


“ Ayah dan ibu sedang menghadap kaisar…”


“ Mereka pasti akan mendapatkan anugrah dan hadiah…”


“ Nanti adik bisa memilihnya….”, ucap Jiang Chen mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak canggung.


Jiang Xia Yan hanya mengedipkan kedua matanya beberapa kali sebagai respon atas ucapan sang kakak tanpa bersuara.


Tentu saja tindakan Jiang Xia Yan membuat Jiang Chen semakin salah tingkah dibuatnya. Untuk menepis kegugupannya, pemuda itupun kembali bersuara.


“ Oh iya, selema berada diwilayah perbatasan Timur ayah telah membuat jubah dari kulit tikus mutasi dimana jubah tersebut kebal terhadap pisau, tombak dan tahan api serta air….”


“ Seandainya kemarin adik memakai jubah itu, kakak yakin adik tidak akan mengalami luka bakar seperti ini….”, ucap Jiang Chen sambil memandang lengan kiri sang adik dengan sedih.


Jantung Jiang Chen kembali dibuat berdetak tak karuan waktu tiba – tiba Jiang Xia Yan melingkarkan tangannya dilengah kokoh pemuda tersebut dan menyadarkan kepalanya di dada bidang sang kakak.


Meski badan Jiang Chen tidak terlalu besar tapi Jiag Xia Yan dapat merasakan jika tubuh kakaknya ini terbentuk dengan sempurna.


Bahkan roti sobeknya milik Jiang Chen terasa jelas dari balik bajunya pada saat Jiang Xia Yan tak sengaja menyentuh perut kakaknya itu.


Meski keduanya adalah saudara kandung sedarah, tapi keduanya bukan lagi anak kecil melainkan seorang pemuda dan gadis muda yang beranjak dewasa.


Ketika Jiang Xia Yan bergerak, dapat Jiang Chen rasakan dada lembut sang adik yang baru tumbuh beberapa kali mengesek lembut lengan kokohnya hingga menimbulkan gelenyar aneh ditubuhnya.


Jiang Xia Yan yang dalam kehidupannya terdahulu adalah gadis berhati dingin sama sekali tak menyangka jika perbuatannya membuat tubuh Jiang Chen menjadi panas dingin.


Justru dia merasa sangat nyaman, mendapatkan kehangatan dan perhatian seorang kakak lelaki yang sangat didambakannya dalam kehidupannya terdahulu.


Sebagai anak tunggal di kehidupannya terdahulu, Jiang Xia Yan selalu melakukan semuanya sendiri tanpa ada dukungan dari orang lain membuatnya menjadi pribadi yang egois dan mandiri.


Untuk mengenyahkan pikiran kotor yang mulai muncul dalam kepalanya, Jiang Chen pun buru – buru bertanya untuk mengalihkan apa yang ada dalam benaknya.


“ Adik….”


“ Apakah ada seseorang yang menganggumu ?....”


“ Jika ada….”


“ Kamu harus memberitahu kakak….”


“ Kakak akan memukulinya sampai mati….”, ucap Jiang Chen dengan sungguh – sungguh.


Jiang Xia Yan tersenyum lembut mendapat perhatian seperti itu dari sang kakak. Perlahan dia mulai mengendurkan tangannya dan menatap Jiang Chen dengan hangat.


“ Adik…”


“ Kenapa menatapku seperti itu ?...”


“ Apakah ada noda diwajahku ?....”, ucap Jiang Chen sedikit gugup.


Jiang Chen  mencoba untuk tersenyum, berusaha menekan detak jantungnya yang mulai berdebar tak menentu.


Jiang Xia Yan tak menjawab pertanyaan kakaknya, tapi dia malah balik bertanya “ Kenapa kakak tidak ikut keistana bersama ayah dan ibu….” dengan wajah penasaran.


“ Yang Mulia hanya memanggil ayah dan ibu…tentu saja aku tidak ikut…”, ucapnya sambil tersenyum lembut.


“ Oya, adik belum memberitahu kakak…


“ Kenapa adik bisa terkunci didalam aula leluhur ?....”


“ Dan, kenapa tiba - tiba aula leluhur bisa terbakar ?....”, tanya Jiang Chen dengan tatapan penuh selidik.


Semalaman Jiang Chen memikirkan masalah tersebut hingga tak bisa tidur dengan nyenyak.


Meski dia memiliki jawaban sendiri, tapi dia masih ingin menguatkan jawaban yang dimilikinya dengan mendengar langsung dari mulut adiknya sendiri.


Setelah menimbang beberapa saat, Jiang Xia Yan pun mulai menjawab pertanyaan sang kakak dengan wajah serius.


“ Akankah kakak mempercayai ucapanku….”


“ Karena jika tidak….”


“ Tentu saja aku percaya….”


“ Kamu adalah adikku….”, ucap Jiang Chen tegas.


Melihat jika Jiang Chen benar – benar yakin kepadanya, Jiang Xia Yan pun mulai mengajukan syarat jika kedua orang tuanya tak boleh mengetahui semua masalah yang menimpahnya ini.


“ Kenapa ayah dan ibu tak boleh tahu ?....”


“ Apa masalah ini berkaitan dengan pangeran kedua Ming Shin ? …..”, tanya Jiang Chen menebak.


“ Hah….”, Jiang Xia Yan langsung terkekeh menyadari jika sang kakak tampaknya telah sangka terhadapnya.


Tapi tak bisa disalahkan jika kakaknya akan berpikir begitu karena dalam kehidupan sebelumnya gadis bodoh itu memang  benar – benar mencintai pangeran kedua Ming Shin dengan segenap jiwa dan raganya.


Masih dengan tertawa kecil, Jiang Xia Yan berkata “ Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan pangeran kedua Ming Shin….”


Mendengar ucapan sang adik, Jiang Chen merasa sangat lega karena dia tak mau sang adik berada dalam bahaya karena berada didalam perebutan kekuasaan yang terjadi di istana.


“ Ini semua murni tentang kebusukan keluarga kedua….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


Diapun muali menceritakan mengenai kejadian di kuil Guandaong, diaman bibi keduanya bersama Gui Momo berusaha menjebaknya agar kehilangan kemurniannya.


Tapi karena bermimpi tentang kedua orang tuanya, Jiang Xia Yan pun bisa lolos dan pada akhirnya kakak tertualah yang masuk dalam jebakan yang dibuat oleh bibinya setelah berpindah kedalam kamar yang sengaja diberikan untuknya.


Kakak tertua yang sudah kehilangan kemurniannya sekarang jiwanya terguncang karena pelecehan yang direncanakan oleh ibunya sendiri untuk menjebak Jiang Xia Yan.


Bibi kedua pun mulai menyalahkannya karena dianggap yang seharusnya mengalami semua itu adalah dirinya hingga membuatnya dihukum oleh nyonya besar Jiang dan dikurung didalam aula leluhur untuk menyalin kitab Budha hingga kakak tertua sembuh.


Mendengar cerita sang adik, Jiang Chen kedua tangannya terkepal erat menahan api amarah yang mulai berkobar dalam hatinya.


Dia sama sekali tak menyangka jika bibi keduanya bisa berbuat senekat itu untuk menghancurkan masa depan Jiang Xia Yan dan merusak kepolosannya.


“ Ini jelas memutar balikkan fakta yang ada….”


“ Bagaimana bisa nyonya besar Jiang menghukummu atas kesalahan yang sama sekali tak kamu perbuat….”


“ Justru adik adalah korban disini….”, ucap Jiang Chen geram.


Meski sejak awal Jiang Chen tak terlalu menyukai keluarga kedua, tapi demi menghormati sang ayah dia tetap berusaha baik kepada mereka.


Tapi setelah mendengar semua cerita Jiang Xia Yan, Jiang Chen tak mungkin akan bisa bersikap sama dimasa depan.


Jiang Xia Yan pun melanjutkan ceritanya tentang masalah dua lamaran yang datang dimana lamaran dari keluarga Huang yang datang kepadanya hendak ditukar dengan milik Jiang Xiuying yang pada saat yang sama dilamar keluarga Ciu karena Huang Yi adalah pemuda berbakat dari keluarga wakil perdana menteri.


Sedangkan lamaran yang datang kepada kakak tertuanya dari Ciu Lang dianggap tak layak untuk nona muda tertua Jiang tersebut.


Selain keluarga Ciu hanya berada di peringkat keempat dalam status social, Ciu Lang juga dirumorkan sebagai seorang Gay jadi bibi kedua ingin menukar pernikahan tersebut agar kemalangan tersebut menimpah dirinya.


“ Lamaran pernikahan ?....”


“ Berani sekali mereka menerimanya tanpa berdiskusi dengan ayah dan ibu…”


“ Bahkan hendak menukarnya….”, ucap Jiang Chen semakin geram dengan kelakuan bibi keduanya itu.


“ Bukan hanya itu saja….”


“ Alasan mereka mengurungku di aula leluhur selain masalah yang menimpah kakak tertua di kuil juga agar aku tak melarikan diri dari kediaman Jiang karena menolak untuk menikah….”, ucap Jiang Xia Yan menjelaskan semua hal yang terjadi pada dirinya.


Ekpresi Jiang Chen terlihat berubah – ubah sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Jiang Xia Yan kepada pemuda itu.


Brakkk….


Jiang Chen meninju meja dengan keras hingga hampir terbelah menjadi dua jika saja material meja tak berkualitas bagus.


“ Adik, apakah semua yang kamu ucapkan itu adalah benar ?....”, tanya Jiang Chen berusaha memantapkan hatinya.


“ Aku tidak berbohong kakak….”


“ Dan untuk masalah kebakaran….”


“ Aku juga tidak tahu apa pemicunya…”


“ Aku hanya curiga ini ada kaitannya dengan pertukaran pernikahan…”


“ Jika aku mati, maka pertukaran pernikahan akan dibenarkan karena keluarga Huang memiliki status lebih tinggi daripada keluarag Ciu….”


“ Mengacu pada hal tersebut, semua orang pasti akan memakluminya….”, ucap Jiang Xia Yan sengaja menuang bensin dalam kobaran api dalam hati Jiang Chen.


“ Adik jangan takut….”


“ Kakak akan selalu mendukungmu sepenuhnya….”, ucap Jiang Chen berapi – api.


Dalam hati Jiang Xia Yan tersenyum puas. Dengan adanya dukungan dari sang kakak, maka rencana kedepan yang telah dia susun bisa berjalan dengan lancar.


Sekarang dia tinggal mencari dukungan dari ayah dan ibunya. Bahkan jika perlu, dia akan mempengaruhi sang ayah agar memisahkan diri dari keluarga besar Jiang.


“ Lihat saja !!!...”


“ Kali ini, aku akan benar – benar menghancurkan keluarga kedua sampai ke akar – akarnya….”, batin Jiang Xia Yan penuh dendam.