Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
EKSEKUSI


Hari ini adalah hari yang ditunggu – tunggu oleh keluarga pertama yaitu berpindah rumah dan memutuskan hubungan apapun dengan keluarga Jiang.


Nyonya besar Jiang yang melihat kereta kuda yang membawa anak tiri beserta keluarganya berjalan menjauh meninggalkan kediaman langsung pingsan ditempat.


Semua orang panik melihat kejadian tersebut dan langsung membopong wanita tua itu masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


Akibat syok dan tekanan darahnya meningkat drastis, separuh bagian tubuh nyonya besar Jiang mati rasa dan sama sekali tak berfungsi atau di jaman modern disebut dengan terkena serangan stroke.


Belum juga keterkejutan semua orang hilang akibat kepergian Jiang Shing dan sakitnya nyonya besar Jiang, kediaman utama kembali dihebohkan dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Qianyi dirumah pengasingan tempatnya dikurung beberapa hari terakhir ini.


Jiang Quon yang merasa jika nasibnya benar – benar sial semakin syok waktu mendengar jika hari ini putra sulungnya Jiang Yong akan dipenggal karena telah membunuh dua orang pemuda yang disinyalir sebagai keponakan dari kepala biro hukum kekaisaran Ming.


Seolah hal buruk terus menimpahnya, Jiang Quon pun seketika linglung dan langsung ambruk ketanah begitu dekrit hukuman Jiang Yong dibacakan.


Xionglu dan Jiang Zu yang berada dibelakang Jiang Quon berusaha untuk menguatkan lelaki tersebut agar tak berputus asa.


“ Tuan, anda jangan bersedih lagi….”


“ Masih ada tuan muda ketiga sebagai penerus anda….”


“ Saya akan merawat tuan muda ketiga dengan baik seperti anak saya sendiri….”, ucap Xionglue lembut.


Mendengar ucapan selirnya itu, Jiang Quon pun kembali bersemangat “ Betul, aku masih memiliki Jiang Ho….”.


Melihat jika selirnya akan merawat anak bungsunya yang merupakan pewaris satu – satunya dikeluarga Jiang membuat semangat hidup Jiang Quaon tumbuh kembali.


Jika keluarga besar Jiang sedang diselimuti kabut kesedihan, lain halnya yang terjadi dengan keluarga pertama yang saat ini sudah mendiamai rumah baru mereka.


Pada hari Jiang Yong dieksekusi, tidak ada satupun keluarga Jiang yang datang untuk melihatnya terakhir kali membuat hati tuan muda kedua Jiang tersebut sakit.


Tapi dia juga tak bisa berbuat apa – apa karena paham betul jika semua keluarganya egois dan pastinya mereka malu dan justru bahagia orang yang memberi aib mati dipenggal.


Jiang Yong yang sudah tak memiliki harapan apapun hanya bisa pasrah waktu algojo mulai melayangkan pisau tajam  miliknya dan memenggal kepalanya.


Eksekusi berjalan lancar karena sama sekali tak banyak pengunjung yang menyaksikan eksekusi tersebut sehingga berpotensi menyebabkan kericuhan.


Pada waktu yang sama dengan eksekusi berlangsung, Jiang Xia Yan malah sibuk dengan pembukaan butiknya.


Seperti harapan, dalam waktu sekejam mata semua pakaian yang ada dibutik habis diborong oleh para bangsawan hingga butik terpaksa harus tutup sebelum siang hari.


“ Aku sama sekali tak menyangka jika responnya akan sebagus ini….”, ucap Han Wu Ying bahagia.


“ Tentu saja….ini semua berkat desain dan ketrampilanmu menjahit….”, ucap Jiang Xia Yan penuh pujian.


Han Wu Ying tersipu malu mendengar pujian yang diberikan oleh Jiang Xia Yan kepadanya dan dia bertekad tidak akan pernah mengecewakan gadis muda yang telah membantunya bangkit dan memiliki kepercayaan diri tinggi seperti sekarang.


Butik yang dirilis oleh Jiang Xia Yan menampilkan satu model dengan satu warna sehingga memiliki kesan limited edition dimana baju yang satu tidak akan sama dengan baju yang lain meski modelnya sama tapi memiliki warna dan aksen berbeda.


Bahkan dibutiknya ini Jiang Xia Yan juga mendesain khusus pakaian untuk wanita yang memiliki ukuran tubuh lebih besar.


Dengan desain yang ada dijaman modern, para wanita bangsawan yang memiliki tubuh besar bisa memakai gaun dengan warna cerah tanpa terlihat besar dengan beberapa aksen yang menyamarkan bagian – bagian tubuh berlemak mereka.


Selain memiliki bakat, Han Wu Ying juga cekatan dalam bekerja. Selain mendapatkan penjahit utama lima orang, wanita muda itu juga sudah memiliki karyawan tiga puluh orang untuk membantu produksinya setiap hari.


Sehingga pada saat stock pakaian didalam butik habis mereka tidak akan kebingungan karena masih memiliki stock baru didalam gudang.


Semua hal dia rencanakan dengan sangat matang bersama Jiang Xia Yan agar bisnis ini bisa berkembang dengan pesat.


Sementara itu, akibat perpindahan kediaman selain pangeran kedua Ming Shin, Feng Mo Tian juga merasa sangat geram karena tak bisa menembus pertahanan kediaman baru Jiang Shing akibat pelindung sihir yang gadis itu pasang disekitar kediaman baru mereka.


“ Ilmu sihir ?....”


“ Apakah Jiang Shing memilikinya ?....”, ucap pangeran kedua Ming Shin penasaran.


“ Bukan jenderal besar Jiang Shing yang memilikinya, tetapi nona muda ketiga Jiang….”, ucap Yu Jie tajam.


“ Apa ?!!!....”


“ Gadis itu !!!...”, teriak pangeran kedua Ming Shin tak percaya.


“ Benar Yang Mulia, saya rasa hanya dia yang bisa melakukannya mengingat perubahan aneh yang terjadi pada nona muda ketiga Jiang setelah kecelakaan pada waktu itu….”, ucap Yu Jie menjelaskan.


Diatas kursinya, pangeran kedua Ming Shin mulai berpikir apakah dia harus menarik Jiang Xia Yan kedalam perahunya atau menghancurkannya.


Tapi mengingat jika dia bisa menguasai ilmu sihir, tentu saja hal itu tak akan mudah untuk dilakukan. Apalagi dia sangat tahu dari mana ilmu sihir tersebut berasal.


“ Kekaisaran Ru….”, guman pangeran kedua Ming Shin sambil menatap tajam kedepan.


Jika putri bungsu Jiang Shing tersebut memiliki hubungan dekat dengan kekaisaran Ru tentunya tak akan mudah untuk menyingkirkannya.


Tapi untuk menariknya, itu juga sulit mengingat jika Jiang Xia Yan bukanlah gadis bodoh yang mengejar cintanya seperti dahulu.


“ Bagaimana jika Yang Mulia mencoba untuk mendekati nona muda ketiga Jiang secara pribadi….”


“ Bukankah dulu sempat beredar rumor jika nona muda ketiga Jiang begitu tergila – gila dengan Yang Mulia…”


“ Meski sekarang sudah berbeda, tapi jika Yang Mulia bisa kembali mendapatkan hatinya bukankah itu akan lebih menguntungkan dibandingkan memikirkan cara untuk menyingkirkannya….”, ucap Yi Jie memberi saran.


Pangeran kedua Ming Shin melihat jika saran yang diberikan oleh Yi Jie tidaklah buruk. Tapi dia juga harus hati – hati karena kaisar Ming Qin terus mengawasi gerak – gerik para pangeran.


“ Mungkin, Yang Mulia bisa meminta bantuan ibunda selir Hien sebagai perantara….”


“ Saya dengar, butik yang baru dibuka di ibukota adalah miliki nona muda ketiga Jiang….”, Yi Jie kembali memberi penjelasan kepada junjungannya agar bisa segera melangkah sebelum keduluan yang lainnya.


Mengingat jika permaisuri Yihua tampaknya juga tertarik untuk menjadikan Jiang Xia Yan pendamping pangeran pertama Ming Zheting membuat pangeran kedua Ming Shin harus cepat bergerak jika tak ingin terlambat.


“ Benar…”


“ Aku harus mendiskusikan hal ini dengan ibunda….”, ucap pangeran kedua Ming Shin bersemangat.


Diapun segera melangkah keluar kediaman untuk menemui ibundanya. Dia sangat yakin wanita yang melahirkannya itu pasti memiliki rencana yang bagus akan keingginannya saat ini.