
Dikuil Guandong, patung Budha emas menjulang tinggi menghadap orang – orang yang sedang khusuk berdoa disana.
Didepan rumput tikar, Jiang Xia Yan terlihat kembali berlutut di lantai yang dingin sambil memegang dupa dan memejamkan kedua matanya.
Semua orang pasti mengira jika gadis tersebut sedang serius berdoa kepada sanga Budha. Tapi siapa sangka sejak semalam, justru Jiang Xia Yan sedang berada dialam bawah sadarnya.
Dia bukanlah berdoa melainkan bermeditasi untuk menyerap energy yin murni yang sangat kuat disekitar kuil Guandong.
Energy yin murni yang dikumpulkanya ini mampu meningkatkan kekuatan yang ada dalam tubuhnya serta menambah daya tahan tubuhnya.
Lin yang melihat nona mudanya berdoa sepanjang malam merasa sedikit khawatir karena sangat tahu jika fisik Jiang Xia Yan sangat lemah.
“ Nona, sebaiknya anda bangun dan beristirahat dulu. Tidak ada gunanya melukai tubuh dengan banyak berlutut. Budha pasti telah melihat ketulusanmu dan permintaan nona pasti akan dikabulkan….”, ucap Lin dengan nada cemas.
Mendengar ucapan Lin, Jiag Xia Yan tersenyum sinis dalam hati. Dia bukanlah sosok wanita yang beriman dalam kehidupan sebelumnya dan dalam kehidupan saat ini.
Dia sama sekali tak mempercayai keajaiban. Jika itu memang ada, kenapa sang pemilik tubuh kehilangan segalanya padahal gadis tersebut rajin berdoa.
“ Jiang Xia Yan !!!....”, teriak Qianyi lantang memecah kesunyian.
Jiang Xia Yan mengusap lututnya dan berusaha untuk berdiri sambil menoleh kearah Qianyi sambil tersenyum manis.
“ Bibi kedua, ada apa ?....”, tanya Jiang Xia Yan dengan suara lembut.
Melihat senyuman diwajah Jiang Xia Yan hati Qianyi merasa sangat kesal. Diapun mulai mengangkat satu tangannya berusaha untuk menampar wajah keponakannya itu.
Lin yang melihat hal tersebut berusaha untuk menghentikan, tapi sebelum suara tamparan terdengar Jiang Xia Yan berhasil menahan tangan Qianyi agar tidak sampai melukai wajahnya.
“ Aku tidak tahu kenapa bibi kedua bertindak implusif saat ini…”
“ Meski kedua orang tuaku tidak ada disini saat ini…”
“ Ini bukan berarti bibi kedua bisa memukulku begitu saja tanpa alasan yang jelas….”
Ucap Jiang Xia Yan dengan nada tegas dan dingin.
Qianyi terbelalak dengan wajah memerah menahan amarah yang meluap dalam hatinya. Dia sama sekali tak menyangka jika Jiang Xia Yan akan menghentikan tamparannya.
Bahkan tangannya yang dicekal erat terasa sangat sakit. Dia tidak tahu mulai kapan keponakannya itu bisa menjadi kuat dan seberani kepadanya.
“ Jiang Xia Ya !!!...berhentilah berpura – pura…kamu kan yang mencelakai Ying’er ku !!!....”, teriak Qianyi penuh amarah.
Kali ini dia benar – benar tak akan melepaskan Jiang Xia Yan dengan mudah karena telah menghancurkan masa depan Jiang Xiuying.
“ Aku tahu bibi kedua sedih karena nasib buruk yang menimpah kakak tertua. Tapi kenapa bibi kedua menuduhku tanpa bukti ?....”, ucap Jiang Xia Yan lantang.
Pertengkaran yang terjadi diantara keduanya di aula doa tentu saja menarik perhatian semua orang, terutama para biksu yang sangat terkejut jika ternyata sifat asli Qianyi seperti itu.
Bahkan Jiang Xialun sedari tadi terus mencengkeram erat ujung gaunnya, sama sekali tak menyangka jika bibi keduanya yang biasanya ramah dan tenang menjadi semenakutkan itu.
“ Aku juga tidak tahu bagaimana kakak tertua bisa sampai kedalam kamarku ?...”
“ Semalaman aku berada dia aula untuk berdoa…”
“ Jika bibi kedua tidak percaya, banyak biksu yang melihat jika semalaman aku berada disini berdoa bersama Lin…”
“ Atas dasar apa bibi terus menuduhku seperti itu….”
“ Seolah – olah bibi kedua menghendaki akulah yang seharusnya mendapatkan karma buruk itu… ”
Ucap Jiang Xia Yan berapi – api.
Mendengar kebenaran yang diucapkan oleh keponakannya itu tiba - tiba saja Qianyi merasa kepalanya sangat sakit.
Jika saja rencananya berjalan dengan sempurna maka dia tak akan merasa sesakit ini dan tentunya sekarang sedang merayakan kemalangan yang menimpah keponakannya tersebut.
“ Kamulah yang seharusnya mendapatkan musibah buruk itu !!!...bukan Ying’er !!!....”, Qianyi kembali berteriak dengan histeris.
“ Jadi, maksudnya bibi kedua sudah merencanakan jika harus aku yang mendapatkan kemalangan itu….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
Semua orang sangat terkejut ternyata maksud nyonya kedua Jiang ini menempatkan nona muda ketiga Jiang di paviliun utara hanya untuk mencelakainya.
“ Namun sayangnya Budha masih menyayanginya sehingga menyelamatkan gadis itu dari musibah buruk yang direncanakan oleh bibinya itu….”
“ Kita sama sekali tak menyangka jika nyonya kedua Jiang ternyata berhati busuk….”
“ Semoga saja dia bisa segera bertobat dan mendapat ampunan….”
Itulah yang ada dalam benak para biksu yang ada disana, menyaksikan pertengkaran tersebut.
Melihat wajah Qinayi yang sudah merah padam, Jiang Xia Yan pun kembali berkata tajam seperti menuang bensin kedalam kobaran api.
“ Bibi kedua tidak seharusnya berkata seperti itu…. ”
“ Masih ada kehadiran Budha disini….”
“ Setiap perbuatan buruk akan mendapat karmanya…”
“ Aku bersyukur Budha masih melindungiku dengan menghadirkan kedua orang tuaku dalam mimpi sehingga aku ingat untuk mendoakan mereka dan terhindar dari hal buruk yang hendak menimpahku…”, ucap Jiang Xia Yan tenang.
Para biksu yang mendengar ucapan Jiang Xia Yan merasa kagum karena ada gadis yang memiliki pemikiran dalam seperti itu.
Bahkan kata – kata yang diucapkan dan sikap yang ditunjukkan lebih bijak dibandingkan bibinya yang usianya jauh lebih tua yang seharusnya menjadi contoh untuknya.
Qianyin hampir mati karena marah mendengar setiap kata yang keponakannya itu ucapkan kepadanya dengan lantang tanpa takut sedikitpun kepadanya.
“ Kamu benar – benar pandai berbicara. Akulah yang terlalu meremehkanmu selama ini….”, ucap Qianyi mencibir.
Melihat gadis muda dihadapannya masih bersikap tenang dan tersenyum acuh membuat darah Qianyi semakin mendidih.
Taktik yang selama ini dia mainkan dihalaman dalam selama bertahun – tahun telah gagal total dan dibalikkan dengan karma yang menyakitkan.
“ Jiang Xia Yan…karena kamu sekarang merasa pintar maka aku akan memberi tahumu dengan jujur…”
“ Menurutmu, apa masalah ini akan selesai hanya dengan seperti ini….”
“ Nyonya besar tidak akan melepaskanmu dengan mudah….”
“ Paman keduamu juga tidak akan membiarkanmu pergi….”
“ Orang itu….juga tak akan pernah melepaskanmu….”
“ Nasibmu pasti akan berpuluh – puluh kali lipat lebih tragis daripada Ying’er….”
“ Kamu pasti akan ditunggangi oleh banyak orang dan selamanya akan menjadi p*****r !!!....”
Qianyi terus berucap tanpa sadar telah membongkar semua kejahatannya sendiri, membuat senyum puas tersungging di bibir gadis itu.
“ Aku tak menyangka bibi kedua dengan mudahnya mengakui semuanya….”
“ Baiklah, jika bibi kedua ingin masalah ini diselidiki aku akan memintanya begitu sampai di ibukota….”
“ Dan masalah nyonya besar….”
“ Apakah dia masih akan memihakmu begitu seluruh ibukota mengetahui apa yang menimpah kakak tertua….”
“ Apakah masih ada pemuda baik yang siap untuk menikahinya dengan kondisinya seperti itu….”
“ Aku harap kali ini bibi kedua bisa berpikir panjang sebelum bertindak….”
“ Karena yang akan menyesal bukan aku….”
“ Tapi seluruh keluarga kedua, terutama bibi….”
Ucap Jiang Xia Yan penuh penekanan dan beberapa nada ancaman membuat Qianyi tak bisa lagi untuk menahan diri dan langsung pergi dengan penuh amarah.