
Kaisar Ming Qin duduk diruang kerjanya sambil menatap banyak berkas yang sudah menutupi meja kerjanya tersebut dengan wajah lelah.
Meski sangat lelah dengan semua hal yang terjadi akhir - akhir ini namun lelaki berusia tujuh puluh tiga tahun tersebut tampak masih bugar dan aumannya masih sangat kuat.
Sudah seharusnya kursi yang dia duduki mendapatkan pewaris. Tapi karena keegoisannya, dia sama sekali tak membiarkan kursi tersebut untuk diduduki oleh orang lain.
Bahkan gelar putra mahkota yang seharusnya dia sematkan untuk putra pertama yang dilahirkan oleh permaisuri nyatanya tak dia berikan karena takut suatu saat kursinya itu akan direbut sebelum kekuatannya benar – benar lemah.
Saat ini api kemarahan terlihat jelas dikedua matanya, membuat Gao Gongong (kepala kasim) yang berdiri disampingnya hanya bisa diam takut membuat singa tua tersebut marah.
“ Apakah adikku benar – benar membunuh seorang penjaga yang sangat mirip dengan pembunuh ayahku ?....”, tanya kaisar Ming Qin tajam.
“ Melapor Yang Mulia Kaisar….”
“ Salah satu pengawal pribadi kepercayaan pangeran Ming Qianfan yang kami tangkap mengatakan jika beberapa hari yang lalu ada penjaga bertopeng yang dibunuh oleh pangeran Ming Qianfan didalam istananya…”
“ Tapi tak seorang pun bisa menyentuh mayatnya karena pangeran Ming Qianfan sendiri yang melenyapkannya hingga menjadi debu….”
Dua lelaki berpakaian hitam – hitam yang merupakan pengawal bayangan milik Kaisar Ming Qin melaporkan dengan detail setelah menangkap pengawal pribadi pangeran Ming Qianfan begitu rumor mengenai pemberontakan adik kaisar Ming Qin tersebut berhembus didalam istana.
Kaisar Ming Qin terlihat menutup matanya dengan jejak penuh kemarahan diwajahnya. Tak lama kemudian, diapun mulai menghempaskan tangannya dengan kasar hingga berkas – berkas yang ada diatas meja berjatuhan.
“ Tampaknya Zhen ini terlalu meremehkan adik….hahahaha…..”, Kaisar Ming Qin tertawa dengan dingin.
Kaisar Ming Qin yang selalu merasa curiga terhadap orang lain setelah pembunuhan ayahandanya tepat didepan matanya membuatnya langsung mewaspadai dan bergerak cepat terhadap setiap rumor yang berusaha untuk mengoyahkan kekuasaannya.
Perasaan kekeluargaan kaisar Ming Qin sangatlah tipis. Dia bahkan rela menginjak semua mayat saudara lelakinya demi bisa duduk di kursi naga ini.
Dia hanya membiarkan pangeran Ming Qianfan untuk hidup karena merasa berutang nyawa setelah berhasil diselamatkan pada malam kebakaran di istana.
Wajah pangeran Ming Qianfan yang rusak akibat menolongnya dengan bermandikan darah, membuat rasa bersalah bersarang dihati kaisar Ming Qin.
Melihat betapa setianya sang adik hingga mengorbankan dirinya membuat kaisar Ming Qin selalu bersikap baik dan mendukung semua tindakan yang dilakukan oleh sang adik meski salah.
Kaisar Ming Qin yang selama ini tak mempercayai siapapun, bahkan dia selalu curiga kepada istri dan anak – anaknya, melihat jika saudara yang dilindunginya selama ini ternyata berani bermain dikelopak matanya membuatnya sangat geram.
Hahahaha…..
Kaisar Ming Qin tertawa dengan keras melihat lelucon yang ada didepan matanya. Rupanya adegan dramatis yang dilaluinya beberapa puluh tahun yang lalu telah diatur dengan sangat baik oleh adiknya itu hingga nyaris sempurna tanpa cela.
Bahkan sekarang, kaisar Ming Qin curiga bahwa luka bakar diwajah sang adik yang selalu membuatnya merasa bersalah adalah tindakan kesengajaan yang dirancang dengan sangat halus hingga tak menimbulkan kecurigaan sedikitpun.
Dikhianatai oleh orang yang sangat dipercayai, tidak hanya kepercayaan itu menjadi hilang tak bersisa, tapi keraguan dan kewaspadaan akan meningkat tajam.
Benih keraguan yang dimiliki oleh kaisar Ming Qin segera tumbuh menjadi pohon yang menjulang tinggi dan tak tergoyahkan dalam waktu semalam.
“ Kirim orang untuk menjaga istana kediaman pangeran Ming Qinfan….”
“ Zhen ingin melihat trik apa yang akan dia mainkan dibalik lengannya… ”, perintah kaisar Ming Qin tegas
Kedua pasukan bayangan yang ada dihadapannya tersebut langsung menghilang tanpa jejak begitu mendapatkan perintah.
Gao Gonggong (kepala kasim ) yang ada didekat kaisar Ming Qin hanya bisa terdiam sambil menatap jari kakinya dengan tenang seolah dia sama sekali tak mendengar kemarahan kaisar.
“ Masa – masa sulit akan segera datang….”, batin Gao Gonggong resah.
Sementara itu di lain tempat masih didalam istana kekaisaran Ming terlihat pangeran kempat Ming Jun sedang berjalan disepanjang taman bersama pangeran ketiga Ming Xue.
“ Adik keempat, akhir – akhir ini aku mendengar jika ayahanda kaisar memperlakukan paman kekaisaran dengan sangat dingin….”, pangeran ketiga Ming Xue terlihat mulai mengangkat topik panas yang ada didalam istana akhir – akhir ini.
“ Kakak ketiga juga telah mendengarnya ternyata….”, ucap pangeran keempat Ming Jun sambil tersenyum.
“ Awalnya aku sangat terkejut karena ayahanda tak pernah berlaku seperti itu selama ini…”
“ Selama ini, ayahanda selalu menghormati paman kekaisaran….”
“ Tapi, beberapa hari terakhir kunjungan paman kekaisaran ditolak oleh ayahanda dengan alasan sibuk mengerjakan urusan negara…”
“ Dari sikap yang ditunjukkan oleh ayahanda ini….”
“ Semua orang sudah bisa menebak jika ayahanda sedang berusaha untuk menghindari paman kekaisaran….”, ucap pangeran ketiga Ming Xue bersemangat.
Pangeran ketika Ming Jun terlihat santai mendengarkan cerita sang kakak yang disampaikan dengan menggebu – nggebu tersebut.
“ Apakah adik keempat tidak penasaran kenapa sikap ayahanda berubah seperti itu ?....”
“ Apa yang telah dilakukan oleh paman kekaisaran hingga sampai memprovokasi ayahanda ?... ”
“ Selama bertahun – tahun, tidak perduli seberapa buruk perbuatan yang dilakukan oleh paman kekaisaran ayahanda tak pernah menyalahkannya sama sekali…”
“ Bukankah ini sesuatu yang aneh ?.....”,
Pangeran ketiga Ming Xue terlihat penasaran dengan pendapat adik keempatnya yang sedari tadi hanya diam menyimak perkataannya itu.
Melihat sang kakak memandanginya dengan wajah penasaran, pangeran keempat Ming Jun pun mulai membuka mulut “ Lalu, apa yang paman kekaisaran inginkan dari ayahanda ?....”.
Melihat adik keempatnya mulai merespon semua ceritanya, pangeran ketiga Ming Xue pun kembali berbicara dengan berapi – api.
“ Aku mendengar bahwa paman kekaisaran ingin bertemu dengan ayahanda untuk mengajukan keluhan mengenai keluarga Jiang….”, pangeran ketiga Ming Xue kembali berkata dengan semangat.
“ Keluarga Jiang ?....”, ucap pangeran keempat Ming Jun sedikit terkejut.
“ Apakah mungkin paman kekaisaran membuat marah ayahanda karena masalah keluarga Jiang ?....”
“ Paman kekaisaran dua minggu lagi akan menikah dengan nona muda keluarga kedua Jiang…”
“ Dan ayahanda sudah memberikan anugerah pernikahan untuk keduanya…”
“ Kenapa ayahanda harus marah ?...”,
Pangeran keempat Ming Jun terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam karena masalah yang ada tampaknya tak sesederhana yang terlihat dipermukaan.
Saat ini dalam benak pangeran keempat Ming Jun hanya ada satu jawaban pasti yaitu masalah yang berhubungan dengan Jiang Xia Yan.
Sebelum perjamuan berlangsung, paman kekaisaran sudah membocorkan kepada keponakannya jika dia akan meminta pernikahan dengan nona muda ketiga Jiang tersebut.
Tapi kenyataannya, dalam perjamuan ternyata nona muda tertua Jianglah yang menerima anugerah pernikahan.
Entah ini salah strategi atau ada kecelakaan dalam rencana yang telah dibuat oleh paman kekaisarannya itu.
Yang jelas, perselisihan ini akan membawa keuntungan tersendiri bagi pangeran keempat Ming Jun untuk memuluskan langkahnya menjadi putra mahkota karena saingan terberatnya telah berhasil dipukul mundur.