Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
PEMBALASAN DENDAM DIUMULAI


Dihadapannya, saat ini Jiang Xia Yan tetap mempertahankan penampilan polosnya, seolah – olah tak terjadi apapun semalam.


“ Bagaimana cara mengungkap masalah ini ?....”, batin Qianyi berpikir keras.


Tiba – tiba Qianyi mendapatkan solusi waktu tak melihat Lin, pelayan pribadi keponakannya itu diantar kerumunan orang yang bersamanya pagi ini.


“ Dimana pelayan pribadi nona ketiga ?...kenapa pagi – pagi sekali dia sudah menghilang ?....”, ucap Qianyi memancing perhatian.


Benar saja atensi semua orang langsung tertuju untuk mencari sosok wanita muda yang selalu menempel disisi Jiang Xia Yan selama ini.


“ Lin sedang membantu membuat bubur untuk sarapan pagi ini didapur….”, ucap Jiang Xia Yan menjelaskan.


“ Bukankah dapur sangat jauh dari sini….”, ucap Qianyi binggung.


“ Seperti yang tadi aku bilang bibi. Semalam aku bermimpi buruk jika kedua orang tuaku terluka. Maka dari itu aku terbangun dan langsung berdoa di aula doa. Pagi tadi, begitu selesai berdoa karena lapar aku menyuruh Lin untuk membantu para biksu membuat bubur untuk sarapan didapur….”, ucap Jiang Xia yan menjelaskan.


Qianyi yang masih cemas berusaha untuk membantah fakta yang diucapkan keponakannya itu dan dengan santai berkata “ omong kosong apa yang kamu ucapkan kepada bibi….”.


Melihat Jiang Xia Yan tetap tenang dan tak ada jejak kebohongan dimatanya, Qianyi pun semakin merasa frustasi saat ini.


“ Jadi benar jika semalam nona muda ketiga tidak tinggal dipavilun utara ?....”, tanyanya sekali lagi untuk memastikan.


Melihat keponakannya itu menganggukan kepala sebagai jawaban, hati Qianyi semakin  tenggelam dalam ketakutan.


Tiba – tiba dari arah selatan tampak salah satu pelayan putrinya datang sambil berlari dengan wajah penuh kekhawatiran.


“ Nyonya kedua….”


“ Ini buruk….”


“ Nona muda tertua menghilang….”, ucapnya panik.


“ Apa katamu ? !!!....”, tanya Qianyi penuh emosi.


Jiang Xialun sedikit terkejut mengetahui jika kakak tertuanya menghilang. Diam – diam dia melirik kearah adik ketiganya untuk mencari jawaban, tapi ekspresi yang ditunjukkan oleh adik ketiganya itu biasa saja.


Seolah kabar yang dibawa oleh Anchi bukanlah sesuatu yang harus membuatnya terkejut atau pusing sehingga dia berekspresi biasa saja.


“ Bagaimana mungkin Ying’er menghilag ? !!!....”, teriak Qianyi penuh amarah.


Anchipun segera bersujud sambil kontow (membentur – benturkan kepalanya kelantai ) beberapa kali sebagai wujud penyesalannya karena telah membuat nona mudanya hilang.


“ Drama pagi ini sedikit membosankan....kurasa aku harus segera mengakhirinya…”, batin Jiang Xia Yan bosan.


Dalam  suasana panik yang mencekam  tiba – tiba Jiang Xia Yan terlihat menautkan alisnya sambil berbicara lantang membuat atensi semua orang mengarah kepadanya.


“ Apa kalian mendengar sesuatu ?....”


“ Bukankah itu seperti suara kakak tertua….”


“ Datangnya dari dalam kamar….”


“ Apa semalam kakak tertua tidur didalam kamarku ?....”


Jiang Xia Yan mengeluarkan beberapa kata dengan wajah kebinggungan sambil menatap kearah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.


Suara Jiang Xia Yan seringan bulu tapi cukup kuat menghantam hati Qianyi. Diapun mencengkeram hatinya dan mundur beberapa langkah.


Tubuhnya langsung lemas seketika, jika tidak dipegangi oleh pelayan pribadinya mungkin dia sudah terjatuh kelantai yang sangat dingin.


“ Berarti…wanita muda yang dipermainkan pangeran Ming Qianfan tadi malam adalah Ying ‘er !!!....”, teriak histeris Qianyi dalam hati.


“ Jadi….suara tangisan yang menyayat hati itu adalah suara putriku….”


“ Putriku sudah dinodai….”


“ Tidak….ini tidak mungkin….”


“ Tidak mungkin Ying’erku yang jadi korban….’


Hati Qianyi terasa sangat hancur saat dia menatap pintu kamar Jiang Xia Yan yang masih tertutup rapat itu.


Dia sama sekali tak berani untuk membukanya dan melihat tragedi buruk yang terjadi didalam yang diakibatkan oleh  ulahnya sendiri.


Qianyi yang masih tersadar pikirannya berusaha untuk membuat Jiang Xia Yan dan Jiang Xialun pergi agar keduanya tak melihat apa yang ada dalam ruangan tersebut.


Dia sangat takut jika berita mengenai putrinya yang sudah tidak murni lagi tersebar. Sekuat mungkin dia berusaha tersenyum meski hasilnya terlihat lebih jelek daripada saat dia menangis.


“ Kalian pergilah untuk sarapan dulu. Sepertinya Ying’er masih ingin tidur. Biarkan aku sendiri yang menunggunya disini…”, ucap Qianyi berusaha tersenyum lebar, menutupi luka dalam hatinya.


Jiang Xia Yan yang tak ingin melepaskan kesempatan bagus ini begitu saja kembali berbicara sambil tersenyum sinis.


“ Aku tak tahu jika bibi kedua sangat lucu…”


“ Bukankah bibi kedua juga tak tahu tentang keberadaan kakak tertua ?...”


“ Jika bibi tahu…kenapa marah dan membiarkan Anchi kontow hingga dahinya berdarah….”


Ucapan Jiang Xia Yan tentu saja serasa menampar wajah Qianyi. Dia sama sekali tak menyangka jika keponakannya yang bodoh dan polos itu mampu membalikkan semua kata – katanya seperti ini.


“ Apakah kakak tertua sedang menyembunyikan sesuatu ?...”, ucap Jiang Xia Yan provokatif.


“ Tidak !!!....”, teriak Qianyi spontan.


Sangkalan yang diberikan oleh Qianyi tentu saja membuat semua orang yang berada disana semakin merasa curiga dengan apa yang ada dibalik pintu kamar Jiang Xia Yan, terutama Jiang Xialun.


Melihat Gui Momo berada dekat dengan pintu kamarnya, dengan senyum licik Jiang Xia Yan pun kembali berkata “ Momo…maaf merepotkanmu. Bisakah kamu membantu bibi kedua untuk membuka pintu kamarku…”


Gui Momo yang baru saja datang dan tak tahu apa – apa langsung saja menuruti perintah nona muda ketiganya dengan patuh tanpa berpikir lagi.


Ceklekkk….


Begitu pintu terbuka, bau amis dan anyir langsung menyebar keluar membuat jiwa penasaran semua orang mulai terbangun.


Karena ruangan tersebut sangat luas dengan ranjang besar ditengahnya dan tak ada penutup layar yang memblokirnya, semua orang bisa melihat apa yang ada didalamnya dengan jelas.


Begitu masuk, Jiang Xialun adalah orang pertama yang menjerit ketakutan. Dia melihat pakaian robek berserakan dilantai.


Selimut terbuang begitu saja dibawah. Semua buku diatas meja tersapu kelantai dan perabotan teh hancur berkeping – keping seolah – olah baru saja terjadi malapetaka didalam kamar tersebut.


Tapi bukan hal itu yang membuat Jiang Xialun dan semua orang merasa ngeri dan ketakutan, tapi sosok gadis yang ada diatas ranjang dengan kondisi mengenaskan tanpa sehelai kainpun menutupi tubuhnya.


Gadis itu terbaring dibagian pinggir ranjang dengan punggung menghadap keluar. Ada banyak gigitan merah dan noda darah yang sudah mengering disana.


Memar yang ada ditubuh gadis itu membuat semua orang merasa sangat ngeri. Apalagi waktu mata semua orang melihat ada sebuah cambuk berlumuran darah dibawah tempat tidur yang sudah terbelah menjadi dua.


Melihat kembali jejak luka dan darah yang ada ditubuh gadis itu bisa dipastikan jika cambuk berlumuran darah tersebut pasti digunakan untuk mencambuk tubuh gadis malang itu.


Sambil berjalan mundur dengan mulut terbuka, Jiang Xialun berkata ketakutan “ Itu…itu bukan kakak tertua kan bibi….”.


“ Astaga !!!....”, Jiang Xialun kembali berkata sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua mata melotot sempurna.


Meskipun Jiang Xialun adalah seorang wanita muda yang masih belum menikah tapi melihat pemandangan yang ada dihadapannya sekarang, dia sangat yakin jika itu merupakan jejak seorang wanita yang sudah ternoda.


Gui Momo sama sekali tak menyangka jika nona muda tertua lah yang berada dalam kamar tersebut. Jika saja dia tahu, mungkin dia tak akan menuruti perintah Jiang Xia Yan untuk membuka pintu kamar.


“ Bibi kedua, jangan biarkan seseorang masuk dan melihat semua ini….bagi yang sudah terlanjur melihat, sebaiknya segera bungkam agar tidak mempermalukan keluarga besar Jiang….”, ucap Jiang Xia Yan penuh perhatian.


Kata – kata yang diucapkan oleh Jiang Xia Yan yang tenang terasa seperti belati tajam yang menancap tepat dijantung Qianyi.


Tentu saja dia tak akan sebodoh itu untuk membuat putrinya merusak reputasi keluarga besar Jiang jika tidak ingin diusir dari kediaman dengan tidak hormat.


Hanya dengan satu gerakan tangan, Duo sudah mengetahui apa yang harus dilakukan dalam situasi genting seperti ini.


“ Ini baru permulaan…aku akan membalas semua perbuatan jahat kalian berkali – kali lipat dari yang pemilik tubuh ini rasakan dulu….”, batin Jiang Xia Yan penuh dendam.