
Brakkkk….
Brakkkk….
Brakkkk….
Jendela kamar beberapa kali terbuka dan menutup dengan kencang, membuat Kiew pun langsung menutupnya dengan ketakutan karena angin yang berhembus disertai salju yang turun cukup kencang.
“ Ini benar – benar menakutkan….”, ucap Kiew sambil mengunci rapat jendela agar tak kembali terbuka.
“ Aku mendengar rumor, jika cuaca ektrim seperti ini berarti surga ingin menghukum para pendosa…”, ucap Jinying menjelaskan.
“ Dan tampaknya kali ini pelanggaran yang dilakukan oleh pendosa itu sangatlah besar karena badai salju sedasyat ini tak pernah terlihat selama bertahun – tahun….”, ucap Lin menambahkan.
Ketiganya terus berbicara mengenai badai salju yang terjadi malam ini. Sementara Chyou dan Jiang Xia Yan terlihat diam termenung, seperti memikirkan sesuatu.
Meski Chyou baru berada ditingkat langit kesatu, tapi dia bisa merasakan jika ada aura cukup kuat berkumpul disuatu tempat didalam ibukota meski dia tak tahu dimana itu.
Sementara Jiang Xia Yan yang sudah berada ditingkat langit kedelapan, saat ini bisa merasakan dengan jelas jika perlahan semua aura kuat tersebut menghilang dalam badai salju yang datang.
Hal itu menandakan jika pemusnahan kediaman pangeran Ming Qianfan telah selesai dilaksanakan. Dan dia pun tinggal menunggu kabar baik esok hari.
Setelah badai berlalu, saljupun mulai menumpuk disepanjang jalanan yang ada di ibukota kekaisaran Ming.
Petugas yang membunyikan gong tengah malam terlihat melakukan tugasnya dengan sangat buru – buru karena tak kuat dengan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Matahari belum terbit dan langit juga masih gelap diapun melangkahkan kakinya dengan tergesa melewati rumah - rumah penduduk yang masih tertutup rapat.
Namun langkahnya terhenti begitu melihat pintu utama kediaman pangeran Ming Qianfan sedikit terbuka, membuat rasa penasaran dalam hatinya mulai tumbuh.
Sang petugas penabuh jam malam melihat tak ada satupun penjaga didepan gerbang utama kediaman pangeran Ming Qianfan, diapun merasa sedikit aneh.
Orang – orang yang bekerja dikediaman pangeran Ming Qianfan sangat ganas dan jahat. Dia sering dimarahi ketika lewat didepan gerbang tersebut.
Tapi sekarang dia tak melihat satupun penjaga disana mulai berpikiran mungkin pangeran Ming Qianfan membuat para penjaganya mabuk akibat larut dalam kemeriahan pesta pernikahannya semalam.
Memikirkan masa depan nona muda yang menikah dikediaman pangeran Ming Qianfan, lelaki tua itu hanya bisa bersimpati atas nasib malang yang sedang menimpahnya saat ini.
Ketika lelaki tua penabuh jam malam tersebut hendak berbalik, tiba – tiba angin bertiup sangat kencang hingga pintu gerbang terbuka lebar.
Entah kenapa tiba – tiba saja lelaki tua itu memiliki perasaan aneh dalam hatinya sehingga dia sama sekali tak mengalihkan pandangannya dan tetap berdiri tegak didepan gerbang hingga suara sapaan membuyarkan lamunannya.
“ Hun tua !!!....”
“ Kenapa kamu berdiri linglung didepan pintu gerbang Yang Mulia !!!....”, teriak salah satu pedagang yang kebetulan lewat disana.
Hun tua tersebut segera melompat karena terkejut dan diapun tersenyum paksa hingga pedagang tersebut lewat sambil menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkah aneh lelaki tua itu.
Karena penasaran, Hun tua memberanikan diri melangkah kedepan untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi didalam sana.
Begitu melewati pintu gerbang, aroma anyir yang pekat mendera indera penciumannya hingga membuat tubuhnya limbung dan tanpa sadar kakinya menyentuh bongkahan es berwarna merah.
Sontak saja Hun tua langsung berteriak histeris, membuat orang – orang yang kebetulan lewat mulai penasaran dan berjalan mendekat.
Munculnya sang fajar pagi ini membuat bongkahan es menjadi jernih dan sekarang dapat dilihat dengan jelas aliran darah segar yang berhenti tepat didepan pintu gerbang.
Pada saat kaki melangkah, dapat mereka lihat banyak kepala menggelinding tanpa badan yang sudah berubah menjadi bongkahan es akibat badai salju semalam.
Salah seorang yang melihat kejadian tersebut segera melaporkan peristiwa mengerikan tersebut kepada pihak istana.
Seluruh rumah tangga pangeran Ming Qianfan di ibukota kekaisaran Ming telah dimusnahkan pada hari dia membawa wangfei barunya kedalam kediaman.
Dari depan hingga belakang kediaman, selir hingga pelayan, anak kecil hingga orang tua, bahkan semua binatang yang ada dikediaman semua mati pada malam badai salju tersebut.
Seolah – olah orang yang melakukan pemusnahan tersebut memiliki dendam dan kebencian yang sangat besar terhadap keluarga kediaman pangeran Ming Qianfan hingga membantainya sampai tak bersisa.
Semuanya dilakukan dengan bersih dan rapi dalam satu pukulan. Tak ada emas atau barang berharga yang hilang, seolah orang yang datang membantai tersebut hanya mentargetkan nyawa, bukan uang.
Karena kelakuan pangeran Ming Qian yang sangat buruk, jadi tidak ada yang tahu siapa yang melakukan semuanya dengan keji dan terencana seperti itu.
Tapi, orang yang mengambil tindakan ini sangatlah berani karena dengan melawan kediaman pangeran Ming Qianfan maka sama saja dengan melawan keluarga kekaisaran Ming.
Mengingat jika selama ini kaisar Ming Qin sangat menyayangi dan melindungi pangeran Ming Qianfan, melihatnya diam tak memberi perintah untuk menangkap pelaku kejahatan tentu saja membuat banyak orang mulai merasa binggung.
Kaisar Ming Qin hanya menginstruksikan para pejabat untuk menyelidiki dan menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada badan hukum ibukota.
Tidak ada masalah jika badan hukum di ibukota menangani kasus – kasus lain, tapi untuk masalah penyelidikan, mereka hanya akan menjadi media saja.
Orang – orang pintar bisa melihat maksud tersembunyi dari perintah kaisar tersebut bahwa dirinya tak ingin membuang waktu dan energy untuk menanggani kasus pemusnahan seluruh rumah tangga pangeran Ming Qianfan ini.
Semua orang pun mulai berpikir jika pangeran Ming Qianfan telah membuat kesalah yang sangat fatal sehingga kaisar Ming Qin bersikap dingin seperti ini.
Dalam kasus pemusnahan rumah tangga pangeran Ming Qianfan ini hanya ada satu orang yang selamat yaitu Jiang Xiuying, wangfei baru yang menikah dengan pangeran Ming Qianfan semalam.
Bagi Jiang Xiuying tidak ikut terbunuh pada malam pembantaian tersebut merupakan hal yang sangat baik.
Tapi faktanya, hal itu sebenarnya merupakan sesuatu yang lebih buruk daripada kematian.
Karena semua orang melihat jika nona muda tertua Jiang tersebut pingsan didepan kamar sambil bergelimangan emas dan perak ditangannya sewaktu ditemukan maka semua orang berspekulasi jika dia hendak melarikan diri.
Apalagi melihat jika mayat pangeran Ming Qianfan yang tertusuk pisau didadanya dan ada luka tusuk jepit wanita dilehernya serta dua pelayan wanita yang mati didalam kamar memperkuat spekulasi jika Jiang Xiuying terlibat dalam insiden ini.
Jika tidak, kenapa hanya dia yang bisa selamat sedangkan semua orang yang ada dalam kediaman bahkan hewan peliharaan pun mati mengenaskan.
Dengan banyaknya bukti yang ada ditempat kejadian membuat Jiang Xiuying menjadi yang tertuduh sekaligus sasaran kritik semua orang.
Bahkan jika dia memiliki seribu mulut pun hal itu tak akan bisa membersihkan namanya karena banyaknya saksi yang melihat dengan jelas kondisi yang ada diloaksi pasca pembantaian masal tersebut.
Saat ini tidak ada jalan maju ataupun mundur bagi Jiang Xiuying setelah seluruh anggota rumah tangga pangeran Ming Qianfan mati mengenaskan pada malam pernikahannya itu.