Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
PERCAKAPAN TENGAH MALAM


Melihat jika dia diusir dengan kasar, Feng Mo Tian hanya bisa menyunggingkan senyumannya dengan tatapan menggoda.


“ Lama tidak bertemu ternyata kamu menjadi lebih kejam dari pada sebelumnya….”, ucap Feng Mo Tian sambil memiringkan kepalanya kesamping penuh minat.


“ Bagaimanapun, kamu tak pernah diterima disini jadi enyahlah secepatnya !!!!....”, ucap Jiang Xia Yan sambil mengertakkan giginya karena geram.


Jika ada seseorang yang melihat tuan muda Feng berada didalam kamarnya ini akan menimbulkan maslah baginya.


Belum juga tadi dia berusaha untuk menenangkan sang ibu yang terus mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan mengenai kaisar Ru Xie Chang.


Kini hadir lagi seseorang yang tak ingin dia temui bahkan jika bisa dia ingin menjauh dari Feng Mo Tian yang dianggapnya cukup berbahaya tersebut.


Entah itu kawan atau lawan, tapi melihat banyak rahasia dan gerak – geriknya yang cukup mencurigakan membuatnya terus memberi sikap waspada begitu dia dekat dengan lelaki tersebut.


“ Tadi aku sedang melewati tempat ini, jadi aku datang untuk melihatmu….”, ucap Feng Mo Tian santai.


Malam ini pemuda tersebut mengenakan jubah hitam dengan kerah putih yang membuatnya semakin terlihat gagah dan tampan.


Jika yang ada dihadapannya ini adalah gadis normal, mungkin mereka akan langsung pingsan.


Tapi berhubung hati Jiang Xia Yan lebih dingin dari cuaca malam ini membuat pesona Feng Mo Tian ini sama sekali tiada arti baginya.


“ Jika ada yang ingin kamu ucapkan…”


“ Katakanlah !!!....”, Jiang Xia Yan masih mempertahankan wajah datar dan nada dingin dalam suaranya.


“ Apakah Jiang Yong menjadi tangan kanan salah satu pangeran ?....”, tanya Feng Mo Tian to the point.


Mendengar hal tersebut, Jiang Xia Yan sedikit terkejut namun dia bisa mengendalikan raut wajahnya agar kembali normal.


“ Jiang Yong baru saja tiba di ibukota. Kurasa terlalu cepat menyimpulkan akan hal itu saat ini….”, ucap Jiang Xia Yan datar.


“ Aku baru saja mengitari halaman rumah tangga kedua….”


“ Tapi aku sama sekali tak bisa menemukan barang yang kucari….”


“ Maka dari itu, aku bertanya padamu….”, ucap Feng Mo Tian penuh selidik.


Jiang Xia Yan terlihat sedikit merenung mendengar penjelasan dari Feng Mo Tian.


Jikapun kakak keduanya itu berhubungan dengan pangeran, hanya ada satu jawaban yaitu pangeran kedua Ming Shin.


Hanya dialah yang cukup dekat dengan paman kedua serta paman ketiganya sehingga kemungkinan Jiang Yong menjadi tangan kanannya itu masuk akal.


“ Apakah barang yang kamu cari mirip dengan yang ada didalam ruang rahasia pangeran Ming Qianfan ?....”, tanya Jiang Xia Yan tepat sasaran.


Ketika kata – kata tersebut meluncur dengan lancar dari mulut Jiang Xia Yan tiba – tiba suasana menjadi sunyi dan udara didalam kamar menjadi lebih dingin daripada sebelumnya.


Jiang Xia Yan dapat merasakan ledakan aura kemarahan yang sangat besar dari Feng Mo Tian, meski hanya sesaat sebelum semburan api panas tersebut menjadi udara dingin yang mencekam.


Setelah berhasil mengendalikan diri, Feng Mo Tian tersenyum lebar. Tapi siapapun bisa melihat jika pancaran matanya menyembunyikan tusukan yang sangat tajam dan mematikan.


“ Akhir – akhir ini tampaknya kamu hidup dengan sangat baik….”, ucapnya ambigu.


“ Hanya saja, aku terlalu meremehakn kekejamanmu…..”, ucapnya kembali menambahkan.


“ Jika senggang….”


“ Tuan muda Feng bisa mencobanya….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


“ Sepertinya aku akan sangat sibuk beberapa hari kedepan….”, ucap Feng Mo Tian santai.


“ Cepat enyahlah dari sini….”, ucap Jiang Xia Yan sambil melambaikan satu tangannya.


Feng Mo Tian yang tak siap, tubuhnya langsung terpental jauh keluar jendela.


Tian Wu yang duduk diatas pohon hanya bisa mengernyit seperti ikut merasakan sakit yang dialami majikannya.


Sambil menepuk – nepuk jubahnya, Feng Mo Tian berdiri dan berjalan menuju arah jendela dan berkata “ Kamu terlihat semakin cantik jika marah seperti itu….”.


Melihat jika Jiang Xia Yan hendak kembali melempar tubuhnya, Feng Mo Tian pun segera melesat naik keatas pohon dan langsung duduk disebelah Tian Wu.


Chyou yang mendengar suara keributan didalam segera masuk untuk melihat kondisi nona mudanya tersebut.


“ Ada apa nona ?.....”, tanya Chyou sambil mengedarkan pandangannya keseluruh area kamar.


“ Tidak apa – apa….”


“ Hanya seekor kucing liar….”, ucap Jiang Xia Yan sambil menutup jendela kamarnya dengan rapat.


“ Kucing liar ?....”


“ Sangat jarang ada kucing liar berkeliaran di cuaca sedingin ini….”


“ Saya akan segera menyuruh penjaga untuk mengusirnya agar tidur nona tidak terganggu malam ini….”, ucap Chyou tegas.


“ Lebih baik beri makan arsenic agar lebih bersih saat mati….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


Meski merasa aneh dengan ucapan nona mudanya tersebut, Chyou pun tetap melaksanakan sesuai perintah dan berharap jika kucing liar tersebut tak lagi menganggu waktu istirahat nona mudanya.


Sementara Feng Mo Tian yang berada diatas pohon dan masih bisa mendengar dengan jelas semua kata yang diucapkan oleh Jiang Xia Yan hanya bisa terkekeh.


“ Gadis kecil itu benar – benar sangat kejam….”, gumannya terkekeh waktu menyadari jika Jiang Xia Yan ingin meracuninya sampai mati.


Sementara itu dikekaisaran Ru, saat ini ada seorang lelaki tampan mulai memancarkan aura dingin yang sangat kuat hingga membuat penjaga yang ada didepan kamarnya mengigil ketakutam.


Kaisar Ru Xie Chang sangat geram waktu mengetahui ada seorang lelaki muda yang mengusik gadisnya ditengah malam seperti ini.


“ Tampaknya banyak kucing liar ingin mendekati gadisku…”


“ Dan kucing liar ini tak biasa….”


“ Aku harus bisa menyingkirkannya secepatnya….”,guman kaisar Ru Xie Chang penuh amarah.


Selama dia berada dikekasiaran Ru, waktu lelaki itu mengajarinya ilmu sihir,  Jiang Xia Yan tak menyadari jika didalam tubunya sudah ditanam alat pelacak yang tak bisa terdeteksi dengan mudah sehingga kaisar Ru Xie Chang bisa memantau dan melihat kekasihnya itu dari jauh.


Bukannya lancang dan tak sopan, tapi semua itu dia lakukan demi menjaga keselamatan gadisnya yang kemungkinan besar akan menjadi sasaran musuh – musuhnya karena telah berhasil menyembuhkan penyakit yang tengah dideritanya.


Alih – alih melindungi, tujuan sebenarnya adalah agar dia bisa menatap gadisnya itu dari jauh untuk meringankan rasa rindu yang mulai mendera hatinya.


Kaisar Ru Xie Chang yang selama ini tak pernah percaya dengan adanya cinta ternyata bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Meski lamarannya sudah ditolak mentah – mentah namun hal tersebut tampaknya sama sekali tak mematahkan harapannya untuk bisa mendapatkan wanita yang mulai dicintainya itu.


“ Kau adalah milikku….”


“ Dan selamanya akan menjadi milikku….”, guman kaisar Ru Xie Yan penuh penekanan.


Jiang Xia Yan tak menyadari jika lagi – lagi dia menolak dengan kasar lelaki yang berusaha mendekatinya.


Semoga dijaman kuno ini nasib buruk tak kembali menimpahnya seperti kehidupannya terdahulu dimana pada akhirnya dia harus meregang nyawa ditangan para lelaki yang sangat mencintai dan terobsesi dengan dirinya.