
Didalam gudang tua yang suram dan menakutkan, terdengar suara tikus yang sesekali berjalan sambil memakan sebuah kayu membuat hati Gui Momo menjadi dingin.
Wanita tua itu hanya bisa meringkuk disudut ruangan tanpa bisa bersuara, menunggu nasib buruk apa yang akan menimpah dirinya.
Selama dia hidup dikeluarga Jiang, Gui Momo tak pernah merasa terhina seperti ini karena keluarga pertama selalu memanjakannya.
Sebagai orang yang telah merawat Jiang Xia yan mulai bayi hingga menjadi gadis belia seperti sekarang, Jiang Shing dan Xiao Mei telah memperlakukan wanita tua itu seperti anggota keluarga sendiri.
Hal itu tentu saja membuatnya menjadi sangat angkuh dan serakah. Dia merasa jika semua anggota keluarga pertama sudah berada dalam genggamannya sehingga menjadi tak tahu diri.
Apalagi selama bertahun – tahun dia berhasil memanipulasi pikiran nona mudanya sehingga menjadikannya nyonya dikediaman pertama selama kedua orang tua Jiang Xia Yan tak berada di ibukota.
Gui Momo tak terbiasa dengan penderitaan, jadi dikirim dan dikurung didalam gudang seperti pelayan kelas bawah membuat harga dirinya terluka.
Pakaian tipis yang dia kenakan sekarang tak mampu menyaingi hawa dingin yang ada didalam hatinya saat ini.
Hati Gui Momo ketakutan saat dia memikirkan tentang empat pelayan yang sudah mendapatkan hukuman dari nyonya kedua Jiang.
Metode yang digunakan oleh Qianyi memang benar – benar kejam dan Gui Momo berpikir jika nyonya kedua Jiang itu tak akan membiarkannya hidup dengan mudah.
Apalagi hanya dia yang memainkan penting dalam rencana yang disusun oleh nyonya kedua Jiang itu hingga menimbulkan malapetaka kepada Jiang Xiuying.
Saat dia berkutat dengan pikirannya, tiba – tiba suara langkah kaki berjalan mendekat terdengar sangat jelas dikesunyian malam.
Tubuh Gui Momo menegang seketika hingga keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Dengan wajah ketakutan, dia menatap kearah pintu yang tak terlihat jelas karena kegelapan malam.
“ Apakah itu orang yang dikirim oleh nyonya kedua untuk membungkamku ?....”
“ Atau itu adalah orang yang akan menyelamatkanku ?....”, berbagai spekulasi muncul dalam benak Gui Momo saat ini.
Meski sangat kecil kemungkinannya, tapi dia masih berharap ada orang baik yang akan menyelamatkannya dari sini sehingga dia memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan terhindar dari kematian yang tragis.
Kriettt….
Pintu kayu tersebut dibuka secara perlahan, ada lentera kecil dengan penerangan redup mulai masuk kedalam indera penglihatan Gui Momo.
Gui Momo mendogak dengan tubuh gemetar dan berusaha untuk melihat sosok dibalik jubah hitam yang ada dihadapannya itu.
Melihat orang tersebut menutup pintu secara perlahan dan mulai berjalan menuju kearahanya, Gui Momo tertegun sejenak dan langsung berucap begitu mengetahui siapa sosok dibalik jubah hitam tersebut.
“ Nona muda ketiga ?....”, ucap Gui Momo dengan suara parau.
Jiang Xia Yan mulai berjongkok dan meletakkan lentera kecil yang dibawahnya disamping tubuhnya sambil bertanya “ Apa Gui Momo baik – baik saja ?....”
Mendengar jika nona mudanya mengkhawatirkannya ada jejak harapan dimata Gui Momo yang langsung tersenyum lembut kearah Jiang Xia Yan.
“ Nona muda ketiga !!!...”
" Akhirnya kamu datang !!!!....”
“ Pelayan tua ini sangat tahu jika nona muda akan menyelamatkan hidup hamba….”
“ Nona muda memiliki hati yang baik dan tentunya tak akan duduk diam melihat pelayan tua ini terkurung didalam gudang tua sendirian….”, ucap Gui Momo terus mengucapkan pujian untuk nona mudanya itu.
“ Sepertinya Gui Momo telah banyak menderita disini….”, ucap Jiang Xia Yan datar.
Gui Momo senang atas perhatian yang diberikan oleh Jiang Xia Yan kepadanya. Tapi entah kenapa kata yang diucapkan secara datar tersebut malah membuat bulu kudunya berdiri seakan seperti ucapan malaikat maut kepadanya.
Dengan segera dia menyingkirkan pikiran negative itu dari kepalanya. Saat ini ada Jiang Xia Yan dihadapannya, dan hanya gadis inilah yang bisa menolongknya sekarang.
Meski dia sangat menghendaki gadis itu hancur, tapi saat ini hanya nona muda ketiganya itu yang bisa menyelamatkan hidupnya.
Mata Gui Momo berbinar saat di telah menemukan ide yang sangat bagus dan langsung menatap Jiang Xia Yan dengan tatapan penuh harapan.
Gui Momo pun langsung membuka kembali lembar demi lembar jasa apa yang telah dia lakukan selama mengabdikan dirinya dikeluarga pertama serta seberapa besar ikatan dirinya dengan Jiang Xia Yan yang telah dia asuh sedari bayi.
Dia sangat berharap Jiang Xia Yan akan luluh dengan semua ucapannya tersebut dan bersedia memohon kepada nyonya besar Jiang untuk melepaskannya.
“ Jadi, momo memintaku memohon kepada nyonya besar Jiang atas nama ayah ?....”
“ Atas dasar apa aku harus melakukan itu hanya untuk menyelamatkan pelayan rendah yang menusukku dari belakang ?....”, ucapan Jiang Xia Yan terlihat sangat menusuk disertai ejekan didalamnya.
“ Momo tidak perlu menunjukkan ekspresi terkejut seperti itu….”
“ Pada awal aku mengetahui jika momo berkhianat….”
“ Aku bahkan seribu kali terkejut dibandingkan momo saat ini…..”, ucap Jiang Xia Yan tertawa lebar.
“ Nona muda…”
“ Pasti ada seseorang yang telah memfitna hamba sehingga menciptakan hubungan tidak harmonis seperti ini….”
“ Bagaimana mungkin pelayan tua ini mengkhianati nona ?....”
“ Nona muda harus percaya pada hamba ini….”, ucap Gui Momo sambil bersujud dibawah kaki Jiang Xia Yan.
“ Bagaimana aku bisa percaya jika kamu sengaja memasukkan obat tidur didalam makananku saat berada didalam kuil dan memberiku dupa dengan racun asmara didalamnya….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
“ Nona….”, Gui Momo terlihat semakin gugup waktu menyadari jika Jiang Xia Yan mengetahui semua rencana busuknya bersama nyonya kedua.
Masih dengan posisi bersujud, Gui Momo mulai kontow hingga dahinya berdarah sambil memohon ampun atas semua kesalahannya.
Tapi, Jiang Xia Yan sama sekali tak tergerak hatinya dan hanya diam memandang wanita tua tersebut kesakitan sebelum pada akhirnya dia kembali berkata dengan tajam.
“ Cara bibi kedua dalam menyelesaikan masalah sangtlah brutal….”
“ Pada awalnya mungkin momo sangat dihargai….”
“ Tapi begitu gagal….”
“ Momo pasti tidak akan memiliki masa depan cerah….”
“ Sayang sekali….”
" Aku rasa, anak dan cucu momo juga tidak akan memiliki akhir yang baik....",ucap Jiang Xia Yan dengan nada sedih.
Melihat nada suara nona muda ketiganya mulai melunak, Gui Momo mulai mengangkat kepalanya dan memandang Jiang Xia Yan penuh harap.
“ Nona muda….”
“ Pelayan tua ini selalu berada disisi nona muda ketiga dari awal sampai akhir….”
“ Hanya nona muda ketiga yang menjadi tuan hamba, tak ada yang lainnya….”
“ Pelayan tua ini pasti akan setia selamanya kepada nona muda ketiga dan keluarga pertama….”, ucap Gui Momo bersungguh – sungguh.
Gubrakkk….
Suara keras seseorang menabrak suatu benda terdengar sangat jelas membuat Gui Momo langsung beringsut ketakutan.
“ Bisakah nona muda mengeluarkan hamba dari tempat ini. Pelayan tua ini sangat takut….”, ucap Gui Momo memohon.
“ Momo tak perlu merasa takut dan tersiksa lagi karena sebentar lagi momo akan meninggalkan dunia yang kejam ini….”, ucap Jiang Xia Yan denagn nada dingin.
“ Apa…apa maksud dari perkataan nona ?....”, ucap Gui Momo binggung.
“ Baru saja orang yang dikirim oleh bibi kedua pergi setelah mengetahui jika aku mengunjungi Momo….”
“ Dengan mengetahui hal ini, apa Momo yakin jika bibi kedua akan membiarkan Momo hidup ?....”, ucap Jiang Xia Yan sambil tersenyum puas.
Tapi senyuman itu tak bisa dilihat oleh Gui Momo karena terlalu gelap meski ada lentera kecil yang meneranginya.
Gui Momo mulai memikirkan apa yang salah dari ucapannya hingga tiba – tiba dia mulai tersadar dengan sendirinya.
Pada awalnya kata tersebut dia ucapkan untuk membujuk Jiang Xia Yan. Tapi jika keluarga kedua yang mendengar ucapannya, itu bisa diartikan jika Gui Momo berkhianat kepada Qianyi demi melindungi nona muda ketiganya.
Menyadari fakta tersebut, wajah Gui Momo langsung pucat pasi. Seperti kata pepatah, mulutmu harimaumu.
Dan tampaknya hari ini dia dapat dengan jelas mengerti arti pepatah tersebut. Dan kali ini dia benar – benar tak bisa diselamatkan lagi.
“ Selamat jalan Momo…semoga kamu menyukai hadiah terakhirku untukmu…..”, ucap Jiang Xia Yan sebelum melangkah pergi meninggalkan gudang.