Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
JEBAKAN


Dalam perjalanan kali ini, Jiang Xia Yan hanya ditemani oleh Lin yang membantunya mengurus semua keperluan pribadinya.


Dan Yinhang yang dia sisipkan diantara para pengawal yang ditugaskan untuk mengantar keluarga Jiang ke kuil Guandong.


“ Dupa apa ini ?....”, tanya Lin penasaran.


Diapun segera mengambil beberapa batang dupa yang berada diatas meja sambil menciumnya berkali – kali.


“ Kurasa kuil ini tidak terlalu buruk seperti yang kubayangkan sebelumnya. Tapi entah kenapa aku masih merasa ada sesuatu yang janggal ?....”, guman Lin sambil mengamati keadaan kamar nona mudanya itu.


Berusaha untuk mencari apa yang aneh sehingga membuatnya merasa sangat gelisah sejak dari tadi tiba disana.


Melihat dupa yang sedang dipegang oleh pelayan pribadinya tersebut, kening Jiang Xia Yan berkerut cukup dalam.


Diapun segera mengambil dupa yang dipegang oleh Lin dan menciumnya. Tubuh Jiang Xia Yan langsung menegang setelah mencium aroma dupa tersebut.


“ Ini….”, batinnya terkejut.


Jiang Xia Yan tentunya sangat tahu dupa apa yang dipegangya itu. Diapun mulai mengedarkan pandangan matanya keseluruh tempat.


Seperti dugaannya, dupa tersebut terlihat hampir berada diseluruh area kamar. Tiba – tiba sudut bibirnya terangkat dan diapun mulai terkekeh.


“ Ternyata mereka benar – benar telah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik….”, ucapnya dengan senyuman sinis diwajahnya.


Sejak awal Jiang Xia Yan sudah merasa jika ada yang salah dengan kuil Guandong ini. Semakin baik pelayanan disini dia merasa semakin tinggi bahaya yang mengintainya.


Jika saja Jiang Xia Yan tidak penasaran dengan aroma seperti ini waktu berada di toko obat, mungkin malam ini dia akan terjebak.


“ Nona muda, apakah ada yang salah dengan dupa ini ?....”, tanya Lin cemas.


“ Itu sama sekali bukan hal yang baik….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


Lin sangat terkejut waktu melihat nona mudanya itu mematahkan dupa yang ada ditangannya hingga menjadi kepingan kecil.


“ Apakah saya harus menyingkirkan semua dupa ini ?....”, ucap Lin dengan pandangan cemas.


“ Tidak perlu….kumpulkan saja. Akan ada waktunya kita bisa menggunakan semua itu…”, jawab Jiang Xia Yan tajam.


Jiang Xia Yan menatap semua yang dikumpulkan oleh Lin dengan sinis. Dia sama seklai tak menyangka jika bibi keduanya akan memikirkan semuanya dengan sangat detail seperti itu.


Bahkan dupa yang digunakan merupakan kualitas yang sangat bagus dan mahal. Jadi, Jiang Xia Yan tak boleh mensia – siakan semua pengorbanan yang dilakukan oleh bibi keduanya itu begitu saja.


Disebuah kamar tak jauh dari tempat Jiang Xia Yan berada, Qianyi duduk diatas sofa dan menghadap kearah seorang wanita tua yang sedang membungkuk diahadapannya.


“ Kamu tahu kan apa konsekuensi dari rencana ini. Jika berhasil, maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang snagat besar. Tapi, jika gagal…kamu tahu apa yang akan menantimu bukan….”, ucap Qianyi penuh intimidasi.


Tatapan tajam Qianyi terlihat sangat menakutkan bagi wanita tua yang ada dihadapannya tersebut. Diapun berusa sebaik mungkin untuk membuat nyonya kedua Jiang tersebt merasa puas.


“ Nonya kedua, yakinlah….”


“ Semua hal yang ditangani oleh wanita tua ini selalu sempurna tanpa ada kesalahan sedikitpun….”


“ Wanita tua ini sangat berharap semua rencana nyonya kedua bisa berjalan dengan sangat lancar malam ini….”, ucap Gui Momo menjilat.


Ekpresi Qianyi mulai melunak begitu mendengar kata manis yang keluar dari bibir Gui Momo yang selama beberapa waktu terakhir menjadi orangnya itu.


“ Aku akan mempercayaimu karena kedekatanmu dengan nona muda ketiga….”, ucap Qianyi senang.


Tapi, begitu Gui Momo mendapatkan sekantong uang rasa bersalah yang tadi sempat hinggap dihatinya langsung pudar dan senyum cerah merekah diwajahnya.


“ Wanita tua ini pasti akan membuat nyoya kedua merasa puas….”, ucap Gui Momo sebelum membungkuk hormat dan pergi.


Malam harinya, langit terlihat sangat gelap daripada biasanya dan gerimis kecilpun mulai turun untuk membasahi bumi.


Jiang Xia Yan menyadari jika hujan turun sepanjang malam maka dia tidak yakin jika besok mereka bisa kembali ke ibukota mengingat jalanan pasti sangat berlumpur dan sulit untuk dilalui oleh kereta kuda.


Dan kemungkinan besar, mereka akan menginap satu malam lagi didalam kuil Guandong ini hingga kondisi jalan membaik dan bisa dilalui oleh kereta kuda.


Jiang Xia Yan terlihat duduk memainkan papan catur yang ada dihadapannya. Berdasarkan ingatan dan kemampuan sang pemilik tubuh, catur yang dia mainkan adalah catur perang.


Dia sering memainkan catur ini untuk membuat strategi, dengan meletakkan lawan – lawan yang akan disingkirkannya kedalam bidak -  bidak catur yang ada ditangannya.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan sosok wanita tua masuk kedalam sambil membawa nampan berisi makanan untuknya.


“ Nona muda ketiga, pelayan tua ini membawakan anda masakan kuil. Meski masakan vegetarian, tapi ini sangat enak. Bahkan nona muda tertua dan nona muda kedua juga memujinya….”, ucap Gui Momo manis.


“ Letakkan saja disitu….”, ucap Jiang Xia Yan dengan nada datar dan dingin.


“ Akan lebih baik jika dimakan selagi panas. Jika sudah dingin, makanan ini akan menjadi tidak enak….”, ucap Gui Momo sedikit memaksa.


“ Kenapa momo terlihat sangat cemas. Nona muda berkata akan memakannya nanti, jadi jangan terus memaksanya….”, ucap Lin menegur.


Gui Momo merasa sangat kesal dengan ucapan Lin kepadanya. Tapi melihat jika nona mudanya tak lagi membelanya seperti dahulu, wanita tua itu hanya bisa menelan amarah dan kekecewaannya.


“ Nona muda ketiga, malam semakin gelap dan cuaca juga semakin dingin . Alangkah baiknya, sebelum tidur nanti nona muda ketiga menyalakan dupa agar bisa tidur dengan nyenyak sehingga besok pagi bisa berdoa untuk tuan dan nyonya dengan khusu’….”, ucap Gui Momo peuh perhatian.


“ Terimakasih banyak…momo bisa pergi sekarang….”, ucap Jiang Xia Yan masih dengan nada datar tanpa mengalihkan pandangannya dari papan catur yang sedang dimainkannya.


Sebenarnya, Gui Momo masih ingin tinggal dan memastikan bahwa Jiang Xia Yan memakan makanan yang dibawanya tadi.


Tapi melihat nona mudanya sangat dingin, diapun segera berjalan mundur dan keluar dari dalam kamar, tapi dia tidak pergi malah mendekatkan telinga di tepi jendela.


Jiang Xia Yan yang menyadari hal tersebut segera main mata dengan Lin untuk berakting. Untung saja pelayan pribadinya tersebut cukup peka dan berakting bersamanya.


“ Nona muda, makanannya sudah mulai dingin….”, ucap Lin sambil membawakan mangkuk makanan yang tadi dibawa oleh Gui Momo untuk Jiang Xia Yan.


“ Siapkan meja….”, perintah Jiang Xia Yan datar.


Tak lama kemudian terdengar suara sumpit beradu dengan mangkuk mulai terdengar, membuat Gui Momo tersenyum puas.


“ Apakah menurut nona makanan ini enak ?....”, tanya Lin mela'njutkan aktingnya.


“ Tidak buruk….”, ucap Jiang Xia Yan sambil terus memainkan sumpit di dalam mangkok.


Pada saat mendengar alat makan dibersihkan, Gui Momo merasa sangat lega. Setidaknya tugasnya malam ini bisa dia selesaikan dengan lancar tanpa hambatan apapun.


“ Aku sudah lelah dan mau beristirahat sekarang. Tolong nyalakan dupanya….”, perintah Jiang Xia Yan sebelum lilin kamar mulai dimatikan.


Melihat kamar Jiang Xia Yan mulai gelap, Gui Momo pun melangkah pergi dan dalam hati dia merasa sangat puas.


“ Nona muda tidak boleh menyalahkan pelayan tua ini karena bersikap kejam. Nyonya kedua ingin berurusan denganmu, dan tidak aka nada satupun orang yang bisa menghentikannya….”, batin Gui Momo membesarkan hati.


Gui Momo tak menyadari jika sedari tadi semua gerak – geriknya telah diawasi oleh sepasang mata yang sangat marah dengan tindakannya itu.