
Qianyi yang melihat kedatangan putra pertamanya langsung menyambutnya dengan isak tangis yang sangat memilukan.
Akhir – akhir ini dia merasa sendirian dalam ketakutan dan merasa sangat tak berdaya. Sekarang ada putra yang akan mendukung dan melindunginya tentu Qianyi sangat senang.
Bahkan Jiang Xiuying yang semula seperti mayat hidup akhirnya memiliki secercah harapan, dengan kedua mata berkaca – kaca diapun memeluk kakaknya dengan erat.
Jiang Yong berusaha untuk menghibur ibu dan adiknya yang terlihat snagat sedih dan putus asa tersebut dengan sentuhan lembut dikepala Jiang Xiuying.
“ Kakak kedua…kenapa kamu tidak kembali lebih awal….”, ucap Jiang Xiuying sesenggukan.
Untuk sesaat, kamar tersebut bergetar karena suara tangis yang begitu menyayat hati terdengar setelah ibu dan anak tersebut menumpahkan semua kesedihan yang menyesakkan dada.
Kilatan kabut muncul dimata Jiang Yong. Dia dibesarkan oleh nyonya besar Jiang dihalaman utama kediaman Jiang jadi dia sudah terbiasa diprioritaskan dan dipuji.
Diapun selama ini melihat jika keluarga keduanya sangat mulia dibandingkan dengan keluarga yang lain karena besarnya dukungan yang diberikan nyonya besar Jiang terhadap mereka selama ini.
Dan sekarang, keluarga pertama yang dianggap bodoh dan tak berguna itu benar – benar memaksa ibu dan adiknya sampai ke titik terendah ini.
Hal ini tentu saja memprovokasi Jiang Yong yang tak ingin keluarga kedua terjatuh dan dipandang sebelah mata oleh orang lain.
Qianyi sebelumnya telah menjelaskan hal – hal yang telah terjadi dengan sejelas – jelasnya kepada anak pertamanya itu sehingga Jiang Yong cukup terkejut mengetahui jika Jiang Xia Yan bisa lolos dari jebakan ibunya yang sempurna dan membuat adiknya menderita.
“ Ibu tidak boleh menangis…”
“ Menangis tidak ada gunanya….”, ucap Jiang Yong sambil mengusap air mata yang jatuh dipipi Qianyi.
“ Kamu adalah orang terpintar didalam keluarga kedua….”
“ Kamu pasti bisa menyelamatkan adikmu kan….”, ucap Qianyi sambil mencengkeram kedua lengan putranya dengan erat.
Melihat apa yang dilakukan oleh ibunya, Jiang Xiuying pun mulai tergerak dan berjalan maju kearah sang kakak dengan wajah mengiba.
“ Kakak kedua….”
“ Aku mohon padamu….”
“ Bantu aku….”
“ Aku tak ingin menikah dengan orang itu….”
“ Seharusnya bukan aku….”
“ Bukan aku yang seharusnya menikah dengan orang itu…..”, ucap Jiang Xiuying mengadu dengan suara mengenaskan.
Meski Jiang Xiuying cukup membenci kakak kandungnya itu karena terlalu menonjol dan selalu menjadi kebanggaan ayah serta neneknya.
Tapi, saat ini hanya pemuda itulah yang bisa menyelamatkan hidupnya. Maka secara alami dia akan mengenggamnya dengan sangat erat.
“ Tidak mungkin….”
“ Masalah pernikahan ini tidak memungkinkan untuk diubah saat ini… ”, ucap Jiang Yong dengan nada dingin.
Mendengar ucapan datar dan dingin dari kakaknya, tubuh Jiang Xiuying luruh kelantai dan diapun mulai menjerit histeris.
Dia terus menangis dan berteriak putus asa hingga menghancurkan riasan yang ada diwajahnya.
Bukan hanya riasan saja yang hancur, bahkan pakaian pengantin yang dikenakannya pun sudah tak berbentuk lagi karena dicengkeram dan dicabik - cabik kasar dengan tangannya.
“ Apakah benar – benar tidak ada cara lain lagi ?....”, guman Qianyi lemah.
“ Meskipun tidak ada jalan keluar, tapi adik tak boleh putus asa seperti itu karena aku akan membuat perhitungan….”, ucap Jiang Yong tajam.
“ Aku sama sekali tidak percaya ada orang yang bisa berubah hanya dalam waktu semalam….”
“ Jika dia ada yang membimbingnya dibelakang layar, itu akan lebih baik…”
“ Tapi jika selama ini adik ketiga hanya berpura – pura bodoh selama sepuluh tahun, itu akan sangat menakutkan….”, ucap Jiang Yong dengan tatapan tajam menerawang jauh kedepan.
" Aku tak bisa membiarkan masalah ini berlalu begitu saja….”, ucap Qianyi dengan suara bergetar.
“ Tentu saja tidak ibu….”
“ Aku akan membuat orang yang selama ini melindungi adik ketiga jatuh….”
“ Pada saat tak ada yang melindungi maka aku akan bergerak….”, ucap Jiang Yong tersenyum licik.
Setela riasan Jiang Xiuying dirapikan, pengantin perempuan itupun berjalan menuju aula utama kediaman Jiang.
Semua prosesi pernikahan yang seharusnya meriah kini hanya dilakukan secara sembarang karena seluruh keluarga malu akan hal itu.
Bahkan pangeran Ming Qianfan tidak menjemput sang pengantin dan hanya mengirim utusan rumah tangga untuk mewakilinya.
Sepanjang perjalanan menuju istana kediaman pangeran Ming Qianfan, banyak caci maki dan cemooh yang diberikan oleh rakyat.
Meski permaisuri memberikan pernikahan mewah, tapi karena tindakan Jiang Xiuying yang hamil duluan membuat rakyat merasa geram karena kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi di kekaisaran Ming.
Setelah tandu pernikahan melewati lebih dari setengah ibukota, pada akhirnya tandu tersebut masuk kedalam istana kediaman pangeran Ming Qianfan.
Sudah ada sejumlah tamu didalam kediaman pangeran Ming Qianfan. Meskipun banyak yang tidak suka, tapi karena lelaki paruh baya buruk rupa tersebut masih ada darah kekaisaran maka para menteri dan pejabat menyempatkan diri untuk hadir.
Sementara kaisar Ming Qin sendiri beserta istri dan para pangeran belum juga menunjukkan batang hidungnya, hanya hadiah saja yang sudah datang ke kediaman pangeran Ming Qianfan.
Didalam ruangan para tamu terlihat saling memuji antara yang satu dengan yang lain dengan senyum palsu yang terus mengembang dibibir.
Pesta seperti ini selalu dimanfaatkan untuk memperkuat koneksi yang ada sehingga karir mereka ke depannya akan bersinar.
Dalam sekejap mata, sudah waktunya untuk upacara pernikahan antara Jiang Xiuying dengan pangeran Ming Qianfan.
Setelah selesai membungkuk ke langit dan leluhur, tiba waktunya untuk memberi sikap hormat kepada kedua orang tua.
Pangeran Ming Qianfan hanya berdiri dengan senyum mengejek kearah Jiang Quon. Dan tak lama kemudian, pelayan pribadi pangeran Ming Qianfan pun angkat suara.
“ Yang Mulia Pangeran Ming Qianfan merasa tidak nyaman akan hal ini jadi upacara ini akan dilewatkan…”, ucap sang pelayan dengan sikap sombong.
Ketika kata – kata tersebut keluar dari mulut sang pelayan, tiba – tiba saja aula menjadi sunyi. Qianyi mengertakkan giginya hingga otot pipinya bergetar.
Membungkuk ke langit dan leluhur sudah selesai dilakukan, tapi pada saat membungkuk kepada kedua orang tua pangeran Ming Qianfan tiba – tiba merasa tidak nyaman.
Ini sama artinya dengan pangeran Ming Qianfan tidak mengakui kedua orang tua Jiang Xiuying dan dengan sengaja membuat keduanya malu.
Meskipun Jiang Quon sangat marah tapi dia adalah tipikal orang yang senang menindas yang lemah dan takut terhadap yang kuat jadi diapun memakluminya.
“ Karena Yang Mulia merasa tidak nyaman, maka dari itu kami maafkan….”, ucap Jiang Quon yang tak ingin mendapat masalah kedepannya.
Para tamu tentu saja tidak bisa menahan tawa dan mereka tak lagi menutupinya. Perbuatan memalukan Jiang Quon tentu saja membuat Qianyi sangat geram dan ingin menyerang mereka sekarang juga.
Gelagat Qianyi ini diketahui oleh Jiang Yong yang langsung memegang lengan sang ibu sambil menggeleng pelan.
Tak baik bagi mereka membuat keributan disaat seperti ini. Apalagi pernikahan yang terjadi, seolah mengatakan jika Jiang Xiuying sengaja merangkak keatas ranjang pangeran Ming Qianfan hingga hamil demi mendapatkan status sebagai keluarga kekaisaran.
Seluruh keluarga Jiang merasa malu akan sikap yang ditunjukkan oleh Jiang Quon yang dianggap sangat bodoh dan konyol.
Setelah pangeran Ming Qianfan mempermalukan Jiang Quon, dia merasa sangat puas melihat semua orang melayangkan tatapan penuh penghinaan kepada keluarga Jiang.
Bahkan prosesi untuk kamar pengantin pun dilewatkan dengan alasan takut terjadi kecelakaan pada kehamilan Jiang Xiuying.
Pangeran Ming Qianfan terus menatap Jiang Xia Yan dengan tajam selama dia menjamu para tamu yang mengucapkan selamat dan ingin bersulang kepadanya.
Bahkan dia juga sempat membuat gerakan mesum dengan menjilat bibirnya secara perlahan dengan tatapan menggoda kearah Jiang Xia Yan.
“ Sungguh menjijikkan….”, batin Jiang Xia Yan terasa inginmuntah.
Meski dia merasa sangat jijik, tapi ekspresi luar yang ditampilkannya tetap datar dan tenang. Hal ini tentu saja membuat pangeran Ming Qianfan tak senang karena sama sekali tak mendapatkan reaksi seperti yang diharapkan.