
Di kediaman utama, nyonya besar Jiang dengan ekspresi muram melihat kearah Jiang Quon.
Sejak gagalnya rencana Qianyi untuk menjebak Jiang Xia Yan di kuil Guandong, kemalangan demi kemalangan terus mendekat kearah keluarga kedua.
“ Jadi sudah tidak ada cara untuk melepaskan nona muda tertua ?...”, ucap nyonya besar Jiang sengit.
“ Seluruh rumah tangga pangeran Ming Qianfan dimusnahkan dan hanya Ying’er yang selamat…”
“ Tidak perduli apapun yang akan kita lakukan….”
“ Tidak ada jalan keluar dan kasus ini harus ditindak lanjuti….”, ucap Jiang Quon murung.
“ Dengan masalah sebesar ini….”
“ Kurasa Yang Mulia juga akan menyalahkan keluarga Jiang…”
“ Ada apa dengan Ying’er ?....”
“ Apakah masalah ini benar – benar tak ada hubungannya dengan dia ?....”, nyonya besar Jiang pun berusaha untuk menjadikan cucunya itu kambing hitam.
Jika nanti keluarga Jiang dilibatkan, maka dia akan secara otomatis lepas tangan dan melimpahkan semuanya kepada Jiang Xiuying.
Amarah Qianyi langsung meledak begitu mendengar ucapan mertuanya tersebut dan mulai berteriak histeris
“ Nyonya besar….”
“ Kamu telah melihat sendiri bagaimana Ying’er tumbuh dan besar….”
“ Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu ?...”
“ Selain itu, kemampuan macam apa yang dimilki Ying’er sehingga bisa memiliki koneksi dengan orang – orang kuat seperti itu ?...”
“ Jelas ini semua adalah perbuatan musuh pangeran Ming Qianfan sendiri….”
“ Ying’er sungguh beruntung bisa melarikan diri dan hidup….”
“ Maka dari itu, kita tak boleh mengecewakannya dan meninggalkannya begitu saja….”, teriak Qianyi frustasi.
Melihat Qianyi meneriakinya dengan lantang, ekspresi wajah nyonya besar Jiang yang sudah keruh semakin menggelap dan diapun mulai melampiaskan kekesalannya.
“ Istri putra kedua….”
“ Kata – katamu sungguh aneh….”
“ Bagaimana kita bisa mengecewakan nona muda tertua ?....”
“ Apa aku yang memaksanya untuk memiliki hubungan terlarang dengan pangeran Ming Qianfan ?....”
“ Apakah aku juga yang memaksanya untuk hamil ?....”
“ Perbuatan buruk ini sama sekali tak pernah aku ajarkan !!!....”, ucap nyonya besar Jiang penuh amarah.
Nyonya besar Jiang memiliki karakter egois dan dia akan meninggalkan siapapun yang tak menguntungkan baginya dan membuatnya kehilangan muka, termasuk Jiang Xiuying yang merupakan nona muda terfavorit dikediaman Jiang sebelumnya.
Melihat tubuh ibunya mulai luruh kelantai, Jiang Yong pun langsung menopangnya dan membantunya untuk duduk sebelum melihat kearah nyonya besar Jiang yang wajahnya sangat masam sekarang.
“ Nenek tidak perlu cemas….”
“ Masalahnya belum mencapai keadaan mengerikan sekarang…”
“ Saat ini adik hanya dicurigai dan tidak ada pelanggaran didalamnya…”
“ Adik perempuan tidak ada hubungannya dengan masalah ini…”
“ Setelah beberapa waktu, aku yakin kebenaran akan terungkap….”
“ Aku akan menyelidiki masalah ini dan tak akan membiarkan adik dituduh tanpa alasan….”, ucap Jiang Yong tegas.
Ketika nyonya besar Jiang mendengar ucapan cucu kesayanganya, hatinya mulai menghangat. Begitu juga dengan Qianyi yang mulai ada secercah harapan untuk putrinya.
Sebenarnya Jiang Yong sendiri tak merasa yakin bisa mengupas kasus ini dengan mudah mengingat kaisar sendiri bersikap dingin dan acuh akan masalah ini.
Saat ini kecurigaan besarnya dia tujukan kepada adik ketiganya karena hanya gadis itulah yang memiliki dendam terdalam kepada Jiang Xiuying.
Tapi sekarang yang menjadi pertanyaan dalam benak Jiang Yong adalah bagaimana bisa Jiang Xia Yan memiliki koneksi dengan para pembunuh bayaran yang sangat hebat itu.
Sementara dari pengamatannya selama beberapa hari berada dikediaman, adik ketiganya itu tak pernah berinteraksi dengan orang luar.
Adik ketiganya itu hanya sibuk didalam kediamanannya dan sekali – kali pergi kepasar bersama pelayan pribadinya.
Itupun tak sering, hanya sesekali saja dan tak ada hal yang mencurigakan dia lakukan selama berada diluar kediaman.
Beberapa orang mungkin memiliki keberuntungan , tapi bisa jadi tidak ada lagi jalan keluar dari permasalahan ini.
Pada hari kedua penyelidikan, Jiang Yong merasa jika jalan keluar dari permasalahan yang menimpah adiknya telah tertutup rapat dan berubah menjadi jalan buntu.
Desas – desus yang bergulir diibukota semakin panas,tumbuh seperti bola salju yang menggelinding dan semakin membesar.
Ringkasan rumor yang beredar menyebutkan jika pemusnahan rumah tangga pangeran Ming Qianfan berasal dari kediaman keluarga Jiang.
Tentu saja mereka yang awalnya mencurigai Jiang Xiuying sebagai satu – satunya orang yang selamat dalam kejadian tragis tersebut namun lambat laun mulai menyeret nama jenderal besar Jiang Shing.
Tentu saja orang – orang yang tidak senang dengan Jiang Shing semakin menambah bara api kedalam rumor panas yang beredar.
Jiang Yong yang melihat jika rumor mulai mengarah kepada kediaman keluarga pertama tersenyum licik dan diapun segera bangkit bergegas menuju halaman rumah tangga pertama untuk menemui Jiang Xia Yan.
Dia berencana menggunakan rumor tersebut guna menekan Jiang Xia Yan agar mau mengakui kesalahanya dan menggantikan posisi sang adik di dalam penjara.
Melihat Jiang Xia Yan duduk diteras kamarnya sambil menyesap teh yang ada ditangannya, Jiang Yong pun langsung datang dan duduk didepannya tanpa diminta.
Melihat sikap kasar kakak sepupunya tersebut, Jiang Xia yan hanya memberikan tatapan datar bahkan seolah acuh atas kedatangan pemuda tersebut di kediamanannya.
“ Apa adik ketiga tidak takut akan melibatkan keluarga Jiang untuk masalah yang adik buat ?...”
“ Seperti saat ini, seluruh keluarga termasuk keluarga paman tertua terkena dampaknya….”, ucap Jiang Yong langsung menyerang dengan ganas.
Jiang Xia Yan seperti mendengar lelucon dan hanya bisa terkekeh melihat sikap agresif Jiang Yong saat ini yang dia rasa salah sasaran.
“ Apa yang telah aku lakukan ?....”
“ Aku tidak melakukan apapun….”
“ Kata – kata kakak kedua terlalu aneh….”
“ Bahkan jika masalah ini melibatkan keluarga Jiang…”
“ Apa hubungannya dengan keluargaku ?...”,
Jiang Xia Yan mengucapkan semua perkataannya dengan santai tanpa beban.
“ Kedua orang tuaku serta kakak tertua sepanjang tahun berada diwilayah perbatasan Timur…”
“ Sedangkan aku….”
“ Aku hanyalah gadis kecil biasa….”
“ Bagaimana aku bisa mampu melakukan hal sebesar itu….”
“ Bahkan jika keluarga Jiang benar – benar terlibat…”
“ Keluarga pertama pasti akan dinilai tidak bersalah….”,
Jiang Xia Yan kembali menjelaskan dengan santai apa yang sebenarnya terjadi agar Jiang Yong bisa berpikir sendiri.
Mendengar semua ucapan adik ketiganya, Jiang Yong seperti menghirup segumpal udara dingin. Kata – katanya begitu tepat dan mengena langsung dihati.
“ Jadi, kamu sudah merencanakan ini sejak lama….”
“ Sepertinya, keluarga pertamamu sudah siap mengambil tindakan antisiapsi akan hal ini…”, ucap Jiang Yong mencibir.
Melihat aura intimidasi yang dikeluarkan oleh kakak keduanya, Jiang Xia Yan tetap menanggapinya dengan tenang dan kepala dingin.
“ Kami tidak memiliki waktu santai untuk mengkhawatirkan masalah orang lain….”
“ Seharusnya, paman kedua dan paman ketiga yang memberikan penjelasan kepada pihak istana dengan baik….”
“ Bagaimanapun keduanya memiliki posisi penting dipengadilan….”
“ Sebenarnya yang paling aku khawatirkan adalah kamu kakak….”
“ Kakak kedua baru saja kembali ke ibukota untuk menjabat….”
“ Tapi ada masalah besar seperti ini…”
“ Jika masalah ini terus berlanjut, aku rasa masa depan kakak kedua akan sangat suram….”, ucap Jiang Xia Yan dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Mendengar semua perkataan yang keluar santai dari mulut adik ketiganya membuat Jiang Yong marah hingga dia tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih.
Melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Jiang Yong, Jiang Xia Yan tersenyum penuh kemenangan dalam hati.
Sambil membenarkan syal bulu dilehernya, Jiang Xia Yan pun kembali bersuara “ Tapi mengingat kita adalah keluarga, aku memiliki saran yang bagus untuk kakak meski aku sangat yakin jika kakak kedua sudah memikirkan solusinya….”
“ Solusi yang diberikan oleh adik ketiga, aku tak berani menggunakannya….”
“ Jika tidak berhati – hati, nyawa akan melayang tanpa disadari….”, ucap Jiang Yong dengan tatapan sinis.
Hahahahaaaa….
Jiang Xia Yan tertawa dengan keras sambil berkata “ Aku tak menyangka jika kakak kedua memiliki selera humor yang tinggi….”
Meski tertawa dengan riang tapi siapapun bisa merasakan jika dalam tawa tadi mengandung kekejaman hingga tanpa disadari membuat tubuh Jiang Yong bergetar
“ Aku hanya menawarkan….”
“ Jika kakak kedua tidak berkenan, juga tak menjadi masalah….”, ucap Jiang Xia Yan santai.
Setelah itu, Jiang Yong pergi dari halaman keluarga pertama dengan penuh kemarahan. Jiang Chen yang melihat hal tersebut hanya bisa menautkan kedua alisnya heran.
“ Apa yang sebenarnya adik katakan hingga bisa membuat Jiang Yong semarah itu….”, batin Jiang Chen penasaran.