
Pertikaian antara Jiang Shing dengan keluarga besarnya dalam pesta ulang tahun nyonya besar Jiang telah menjadi berita panas di ibukota pagi ini.
Karena banyaknya mulut yang menyampaikan, berita yang berkembang pun semakin liar dan tak terkendali.
Banyak bumbu yang mewarnai berita panas tersebut membuat para musuh yang bersembunyi tersenyum puas karena bisa dipastikan dimasa depan keluarga Jiang tidak akan damai.
Jiang Shing dan Xiao Mei yang dipanggil kaisar pagi ini, sebelum pergi mereka telah menempatkan banyak tentara dikediamannya untuk berjaga.
Kondisi ini secara praktis digunakan agar keluarga besar Jiang bisa melihat dengan jelas bahwa kedua orang tua Jiang Xia Yan telah membela dan mendukungnya dengan penuh gadis itu dari semua tipu muslihat dan kekejaman keluarganya.
Sementara itu, gadis yang membuat kehebohan semalam dengan membakar aula leluhurnya pagi ini bangun dengan badan dan wajah yang segar, seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.
“ Apakah nona muda merasa lebih baik sekarang ?....”, tanya Lin cemas.
Lin dan Kiew bergantian melihat luka bakar yang cukup lebar dilengan kiri Jiang Xia Yan. Meski sudah dibalut kain kasa, tapi rembesan darah masih terlihat dengan jelas.
Jiang Xia Yan sudah mengobati luka tersebut dari dalam, jadi meski darah terlihat merembes tapi itu sudah tidak terasa sakit lagi baginya.
Sedangkan untuk luka luarnya memang disengaja terlihat seperti itu agar kesan dramatis dari apa yang dia lakukan bisa membuat kedua orang tuanya iba sehingga mereka tak akan mudah untuk memaafkan perbuatan keluarganya.
“ Luka ini bukan apa – apa bagiku….”
“ Kamu akan melihat lebih dari ini dimasa depan jadi persiapkan dirimu…”, ucap Jiang Xia Yan santai.
Lin langsung membulatkan kedua matanya waktu nona mudanya mengatakan jika dirinya akan melihat luka lebih dari luka bakar ini.
“ Apakah nona akan melakukan hal berbahaya lagi ?....”, batin Lin semakin cemas.
Baginya, tindakan nona mudanya kali ini sudah melewati batas. Meski ingin menunjukkan kekejaman tentang perlakuan keluarga Jiang kepadanya.
Tapi tak seharusnya gadis itu berbuat nekat hingga hampir kehilangan nyawanya. Jiang Xia Yan yang melihat raut penuh kekhawatira diwajah pelayan pribadinya mulai tersenyum hangat.
“ Terimakasih….”
“ Jika bukan karena dedikasimu kepadaku….”
“ Rencanaku pasti tidak akan berjalan sesempurna ini….”, ucap Jiang Xia Yan tulus.
“ Apapun yang nona muda katakan, pelayan ini akan melaksanakan sesuai perintah nona tanpa ada bantahan sedikitpun….”, ucap Lin tegas.
Jiang Xia Yan tersenyum lebar akan kesetiaan yang diperlihatkan oleh Lin kepadanya. Di masa depan, dia berjanji tidak akan pernah membiarkan hal buruk menimpah pelayan pribadinya itu.
Dia harus membiasakan keempat pelayan pribadinya ini dengan semua hal buruk yang akan terjadi karena apa yang terjadi dimasa depan akan lebih berbahaya daripada apa yang terjadi hari ini karena musuh mereka langsung keluarga kekaisaran Ming.
Atensi keduanya teralihkan waktu ada sapaan hangat masuk kedalam gendang telinga mereka membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
“ Adik….”, sapa Jiang Chen hangat.
Pemuda tersebut segera melepaskan baju besi yang dia gunakan untuk berlatih pagi ini dan menyisakan jubah biru laut yang teduh membuat ketampanannya terlihat sangat jelas.
Dengan kulit kuning kecoklatan dan lesung pipi yang muncul ketika dia tersenyum membuat wajahnya yang tampan terlihat sangat mengemaskan.
Meski Jiang Xia Yan tidak terlalu menyukai anak kecil, dia tanpa sadar berjalan dan langsung mencubit kedua pipi sang kakak dengan gemas.
Jiang Chen langsung membulatkan mata melihat kelakuan sang adik. Meski sangat terkejut tapi dia tetap membiarkan Jiang Xia Yan mencubit dan menguyel – uyel pipinya dengan gemas.
Lin dan Kiew yang melihat tingkah nona mudanya yang tak biasa tersebut hanya bisa terbelalak dengan mulut terbuka lebar.
“ Bagaimana nona bisa melakukan hal itu dengan wajah datar….”, batin keduanya tercengang.
Tiba – tiba Jiang Xia Yan menutup kedua matanya dan satu persatu kenangan tentang kakaknya dalam slide ingatannya mulai bermunculan.
Meski dia memperlakukan pemuda tersebut sangat buruk akibat hasutan Gui Momo dan kedua kakaknya, tapi Jiang Chen sama sekali tak merasa sakit hati atas perlakukan adiknya itu.
Tapi siapa sangka jika nasib kakaknya itu akan begitu malang setelah masuknya keponakan Gui Momo dalam kediaman yang menjebaknya sehingga dengan terpaksa sang kakak menikahinya.
Namun, dalam kehidupan kali ini Gui Momo sudah bisa disingkirkan sehingga nasib buruk tersebut tak akan kembali terjadi.
Tapi mengingat jika dia adalah tuan muda pertama Jiang sekaligus anak pertama Jiang Shing yang sangat berbakat, bukan tidak mungkin banyak orang yang akan mengincarnya.
Bukan hanya untuk memanjat naik keatas tapi juga membawanya jatuh kedalam jurang penderitaan yang sangat dalam.
Dan Jiang Xia Yan kali ini bertugas untuk menjaga agar kakaknya tidak meninggal akibat kospirasi yang dilakukan oleh keluarga kekaisaran Ming terhadap keluarganya.
Melihat jika yang melukai kakaknya dimasa depan adalah pangeran kedua Ming Shin, entah kenapa tiba – tiba saja dada Jiang Xia Yan merasa sangat sesak sehingga dia kesulitan untuk bernafas.
“ Apa ini reaksi alami sang pemilik tubuh….”, batin Jiang Xia Yan menerka.
Ternyata, trauma yang ditimbulkan oleh kekejaman pangeran kedua Ming Shin terhadap keluarganya cukup dalam bagi Jiang Xia Yan asli hingga tubuhnya memberikan reaksi seperti ini waktu mengingat semua kejadian pedih yang pernah dia alami dalam kehidupannya terdahulu.
Melihat Jiang Xia Yan membungkuk sambil memegangi dadanya dan menarik nafas panjang tentu saja membuat Jiang Chen dan kedua pelayan pribadinya panik.
“ Adik !!!....”, teriak Jiang Chen spontan.
Dia pun segera menopang tubuh sang adik sebelum jatuh kelantai yang dingin sambil berteriak dengan wajah panik.
“ Lin….”
“ Panggil tabib sekarang juga !!!...”
“ Kesehatan adik kembali memburuk !!!....”, teriak Jiang Chen tegas.
Jiang Chen pun segera membopong tubuh Jing Xia Yan yang lemah dan membaringkannya diatas ranjang.
Sementara gadis itu, masih terlihat memejamkan kedua matanya sambil berusaha menetralkan emosinya kembali agar bisa bernafas dengan lega.
Belum juga Lin dan Kiew keluar dari pintu kamar, suara datar Jiang Xia Yan membuat langkah keduanya terhenti seketika.
“ Tidak perlu…., aku baik – baik saja….”, ucap Jiang Xia Yan datar.
“ Kesehatan adik belum pulih benar…”
“ Jadi kita memerlukan tabib untuk memeriksa….”, ucap Jiang Chen penuh kekhawatiran.
“ Aku tidak apa – apa kak…”
“ Jangan terlalu cemas….”
“ Aku sangat tahu bagaimana kondisi tubuhku….’’, ucap Jiang Xia Yan mencoba tersenyum agar kakaknya tidak terlalu khawatir kepadanya.
Melihat Jiang Xia yang sangat yakin jika dia baik – baik saja, Jiang Chen pun berusaha untuk memahami keingginan gadis itu.
“ Peristiwa berat apa yang telah dilaluinya hingga membuatnya menjadi dewasa seperti ini….”, batin Jiang Chen nanar.
Melihat adiknya berusaha untuk tetap tegar dihadapannya membuat hati Jiang Chen semakin sedih. Dia pun bertekad tidak akan pernah lagi membiarkan adiknya sedih dan terluka.
Bahkan dia berencana untuk membujuk kedua orang tuanya agar membawa serta sang adik ke medan pertempuran jika pada akhirnya mereka harus pergi lagi.
Setidaknya disana sang adik akan lebih aman dibandingkan sendirian disarang para serigala berbulu domba yang siap memangsa gadis itu kapan saja dia lengah.