Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
RENCANA CERDIK


Chang Wu menatap Jiang Xia Yan masih dengan tatapan terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikkan.


Bagaimana bisa gadis muda Jiang hanya dengan melalui permainan kata yang dibuatnya, dia bisa dengan muda membuat koneksi dengan keluarga Dong yang terkenal sangat sombong itu.


Pemuda itu sama sekali tak tahu jika dalam kehidupannya yang terdahulu Jiang Xia Yan merupakan negosiator ulung.


Bahkan kemampuannya melobi sudah mendekati tingkat dewa. Berapa penting dan besarnya nilai tender, jika dia yang maju pasti akan dia dapatkan dengan mudah.


Itulah yang membuatnya menjadi wanita karir yang sukses diusia mudah, bahkan bisa masuk menjadi wanita berpengaruh nomor tiga didunia.


“ Tuan muda Chang….”


“ Untuk kesepakatan yang aku minta sepuluh hari yang lalu, apa sudah ada keputusan ?....”, tanya Jiang Xia Yan langsung.


Chang Wu terdiam sejenak, meski dia sudah mendapatkan jawaban atas permintaan tersebut namun pemuda itu ingin membuat Jiang Xia Yan menjadi penasaran.


Jiang Xia Yan melihat jika pemuda dihadapannya sengaja mengabaikannya, diapun tak memiliki kesabaran lebih untuk menunggu.


“ Jika tuan muda Chang tidak tertarik, maka aku pamit undur diri sekarang….”, ucap Jiang Xia Yan langsung bangkit dari tempat duduknya.


Melihat Jiang Xia Yan melangkah pergi, Chang Wu pun bergerak panik dan langsung menahan gadis itu agar tetap tinggal.


“ Nona….”


“ Anda sungguh tak sabaran….”


“ Aku belum memberikan jawaban apapun tapi anda sudah hendak pergi….”, ucap Chang Wu sedikit frustasi.


Melihat Jiang Xia Yan tak merespon ucapannya dan terus melangkah keluar halaman, Chang Wu pun berusaha untuk kembali membujuknya.


“ Aku sudah mendapatkan informasi mengenai Han Wu Ying….”


“ Dan, aku juga sudah menyetujui penawaranmu….”


“ Jadi, sekarang duduk serta jelaskan rencanamu….”, ucap Chang Wu sambil menggeser satu kursi agar Jiang Xia Yan duduk disana.


Mendengar ucapan Chang Wu, Jiang Xia Yan pun menghentikan langkahnya dan berbalik. Dengan wajah datar dan dingin diapun duduk ditempat yang pemuda itu siapkan untuknya.


Setelah Jiang Xia Yan duduk, Chang Wu yang tak ingin gadis muda dihadapannya kembali marah segera menuang teh kedalam cangkir dan mempersilahkannya untuk minum.


Jiang Xia Yan tampak menikmati secangkir teh yang ada dihadapannya sambil menghirup aroma dupa yang menenangkan sebelum mulai bersuara.


“ Kurasa sebagai pemimpin Zhentan She kamu pasti tahu kenapa keluarga kekaisaran begitu melindungi pangeran Ming Qianfan….”, ucap Jian Xia Yan secara perlahan.


Chang Wu pun mengangguk pelan, siapapun pasti mengetahui ke heroikan pangeran MIng Qianfan yang dianggap sangat berjasa bagi keluarga kekaisaran sepuluh tahun silam.


“ Lalu....” ,ucap Chang Wu penasaran.


“ Pada saat peristiwa pembunuhan mendiang kaisar terdahulu, pangeran Ming Qianfan menyelamatkan sang kakak dengan mengorbankan dirinya hingga wajahnya menjadi jelek seperti sekarang akibat kebakaran yang melahap hampir seluruh bagian istana….”, ucap Jiang Xia Yan tenang.


Diapun kembali menyesap teh yang ada ditangannya sambil tersenyum tipis melihat wajah penasaran Chang Wu yang menunggu ucapan selanjutnya.


“ Dan pembunuh tersebut berhasil lolos….”, ucap Jiang Xia Yan terenyum dengan tatapan menyelidik.


“ Benar sekali….”, ucap Chang Wu yakin.


Melihat jika Chang Wu sudah berhasil dia giring kedalam rencananya, Jiang Xia Yan pun tersenyum lembut.


“ Berita yang aku ingin sebarkan sangat sederhana….”


“ Baru – baru ini pangeran Ming Qianfan telah menempatkan satu pengawal pribadi baru dikediamannya….”


“ Dan wajah pengawal tersebut persis dengan pembunuh yang kabur sepuluh tahun yang lalu….”, ucap Jiang Xia Yan menjelaskan.


“ Aku hanya ingin tuan muda Chang memastikan bahwa berita ini didengar oleh kaisar Ming Qin…. ”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum lembut karena tujuannya telah tercapai.


“ Apakah berita ini benar adanya ?....”, ucap Chang Wu terkejut.


“ Benar atau tidaknya berita ini,  tergantung bagaimana tuan muda Chang mengolahnya….”, ucap Jiang Xia Yan santai.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jiang Xia Yan, Chang Wu tak bisa untuk tak bergidik ngeri membayangkan jika gadis yang ada dihadapannya itu bukanlah manusia melainkan monster cantik yang kejam.


Tak ingin membuang waktu lagi, Jiang Xia Yan yang merasa jika keduanya telah sepakat pada akhirnya segera pamit undur diri sambil membawa berkas informasi mengenai Han Wu Ying.


“ Akhirnya, aku bisa menempatkan Han Shan Yang disisiku sekarang…..”, batin Jiang Xia Yan puas.


Sementara itu diruang rahasia yang ada dibalik tirai, Gu Zou terlihat terdiam cukup lama. Mencermati setiap kata yang tadi dia dengar dari mulut nona muda ketiga Jiang.


“ Tidak buruk juga menggunakan tangan keluarga Jiang untuk anjing tua pangerang Ming Qianfan….”, ucap Feng Mo Tian tersenyum lebar.


Gu Zou terlihat menatap Feng Mo Tian dengan tatapan tak terbaca karena pemuda yang ada dihadapannya itu selalu tersenyum misterius setiap kali membahas mengenai keluarag Jiang, terutama nona muda ketiga Jiang.


“ Hentikan pemikiran liarmu itu….”, ucap Feng Mo Tian tajam.


“ Cih…mentang – menatng bisa membaca pikiran orang lain jadi seenaknya dia…”, batin Gu Zou kesal.


Feng Mo Tian  hanya terkekeh melihat sahabatnya itu kesal akan tingkah lakunya. Dan dengan mencibir Gu Zou pun kembali bersuara.


“ Mungkin suatu hari nanti keluarga Jiang akan memperlakukanmu sama seperti apa yang dia lakukan kepada pangeran Ming Qianfan….”, ucap Gu Zou mencemoh.


“ Jika mereka berani….”


“ Aku tak keberatan memotong ilalalng dan menghilangkan akarnya…”, ucap Feng Mo Tian dengan kedua mata berbinar.


Ucapan Feng Mo Tian hanya ditanggapi cibiran oleh Gu Zou hingga keduanya terdiam kembali dalam waktu beberapa saat.


“ Pada  hari pemusnaan, aku secara pribadi akan melakukan perjalanan kesana….”


“ Aku tak yakin jika benda itu bisa terbang begitu saja tanpa jejak….”, ucap Feng Mo Tian sambil memainkan giok yang ada ditangannya.


“ Apa kamu yakin jika rencana pemusnaan yang dilakukan oleh nona muda ketiga Jiang itu akan berhasil ?....”


“ Biasanya akan ada kecelakaan dalam setiap rencana…..”, ucap Gu Zou sedikit ragu.


“ Kecelakaan ?....”, ucap Feng Mo Tian terkekeh.


Meski bibirnya tersenyum lebar namun sorot matanya yang tajam seakan seperti piasau yang siap membela siapa saja yang lewat didepannya.


“ Sejak pertama kali aku bertemu dengannya….”


“ Tidak pernah ada kecelakaan dalam rencananya….”


“ Bahkan dia sudah siap dengan berbagai macam alternative yang tak pernah bisa kita tebak….”, guman Feng Mo Tian sambil menatap giok ditelapak tangannya itu dengan tajam.


Pemuda itu kembali mengingat pertemuan pertama kalinya dengan nona muda Jiang yang dianggap sangat implusif dan ceroboh.


Semakin mengawasi dia semakin kagum karena semua rencana yang dibuat dan dijalankan benar – benar matang.


Seolah tak ada celah sedikitpun ada kesalahan untuk merusaknya. Bahkan hari ini, di depan kedua matanya dia bisa melihat bagaimana pandainya dia bermain kata sehingga kedua saudara Dong yang terkenal sangat keras kepala dan sombong dapat dengan mudah dia tundukkan.


Bukan hanya otaknya yang cerdas tapi semua tindakannya sangat bersih. Dia selalu meminjam tangan orang lain untuk membereskan musuh – musuhnya.


Tapi sayangnya, Feng Mo Tian sama sekali tak bisa membaca pikirannya sehingga dia hanya bisa menebak dari ucapan yang gadis itu lontarkan karena untuk ekspresi, gadis itu sangat manipulative, sama seperti dirinya.


Membayangkan semua hal tersebut, dalam hati Feng Mo Tian tertawa lebar karena merasa jika ada seseorang yang mirip dengannya.