Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
RITUAL


Diluar keadaan sangat gelap dan berangin, diujung perbatasan kota terlihat sebuah rumah lama yang telah bobrok berwarna putih kusam yang sangat kotor dan banyak semak belukar tumbuh dihalaman.


Sekilas rumah munggil yang beberapa gentengnya sudah hilang tersebut lebih seperti tempat jin beranak daripada sebuah hunian.


Perlahan, pintu gerbang yang berkarat tersebut mulai terbuka, debu tebal menyelimuti ambang pintu seolah sudah sangat lama tak tersentuh oleh siapapun.


Kriettttt…..


Derit mencekam waktu pintu pagar dibuka seketika  membuat siapa saja yang mendengarnya akan langsung merinding.


Dari luar aura suram sangat jelas terasa, ketika masuk ranting – ranting pepohonan berserakan dihalaman dan ada sebuah tangki air pecah disamping rumah menambah kacau suasana yang ada.


Pada saat ubin kayu diketuk, pintu slading rumah tersebut bergeser dan satu persatu lelaki berjubah hitam mulai masuk kedalam rumah bobrok tersebut.


“ Apa semua sudah berkumpul ?….”, tanya seorang lelaki yang berdiri paling ujung dengan tatapan tajam.


“ Sudah tetua….”, ucap salah satu lelaki yang berbadan gemuk menjawab.


“ Baguslah….”


“ Kita mulai ritual malam ini….”, ucap lelaki yang dipanggil tetua tersebut lantang.


Tiba – tiba ditengah ruangan muncul panci besi besar dan masing – masing anggota segera menuang darah segar yang telah mereka bawa dari rumah.


Setelah lelaki yang dipanggil tetua tersebut memasukkan beberapa bahan dan membaca mantra tiba –tiba panci tersebut mulai bergejolak.


Semua orang berdiri dengan kedua mata tertutup sambil berkomat – kamit. Jiang Xia Yan yang masuk dengan  menggunakan sihir penghilang raga hanya bisa menatap kelompok aliran sesat tersebut secara intens.


“ Sepertinya mereka membaca mantra….”


“ Tapi apa yang mereka baca ?....”, batin Jiang Xia Yan penasaran.


Jiang Xia Yan terlihat menatap satu persatu orang yang hadir secara intens selama ritual berlangsung dengan tajam, seolah - olah menandainya satu persatu.


Setelah selesai melakukan ritual, masing – masing orang mengambil satu buah gelas dan mengisinya dengan darah yang berisi ramuan dalam panci dan meminumnya.


Melihat hal tersebut, Jiag Xia Yan merasa sedikit mual. Meski dia biasa melihat darah tapi untuk meminumnya itu hal lain lagi.


Dia lebih senang melihat orang tersiksa dan berteriak kesakitan dengan penuh darah daripada melihat mereka meminumnya seperti ini.


Jiang Xia Yan pun langsung menutup hidunganya dan berusaha menenangkan perutnya yang muali bergejolak.


Setelah semua orang yang berjumlah delapan orang tersebut meminum darah segar, kedua mata mereka tiba – tiba berubah warna menjadi merah dan menyala terang seperti seorang monster yang baru saja hidup.


Namun hal tersebut tak berlangsung lama dan semua orang mulai kembali normal seperti sedia kala seolah peristiwa barusan tak pernah terjadi.


Selanjutnya kedelapan orang tersebut mulai mendiskusikan beberapa hal penting terkait permasalahan yang terjadi didalam istana termasuk rencana pangeran kedua Ming Shin yang ingin segera memantapkan posisinya sebagai putra mahkota.


“ Aku tak akan membiarkan pangeran kedua Ming Shin menduduki kursi putra mahkota….”


“ Aku harus memikirkan cara yang tepat untuk menggagalkan rencana ini….”, batin Jiang Xia Yan penuh penekanan.


Dalam otak kecil Jiang Xia Yan sudah banyak rencana licik yang akan dia lancarkan terhadap pangeran kedua Ming Shin agar kursi putra mahkota tak jatuh ketangan lelaki tersebut.


Begitu pembahasan selesai semua orang segera berjalan keluar beriringan, tak lupa Jiang Xia Yan iku menyelinap keluar bersama mereka.


Begitu Jiang Xia Yan lewat didepannya, Ru Tang sedikit memercingkan hidungnya, mengendus sesuatu sebelum akhirnya dia melangkah keluar rumah.


“ Mungkin aku yang terlalu banyak berpikir….”, batin Ru Tang menyingkirkan kecurigaannya jika ada sosok tak terlihat terlibat dalam diskusi dan ritual yang telah mereka jalankan tadi.


Jiang Xia Yan yang hampir saja ketahuan akhirnya bisa menghirup udara sebanyak – banyaknya setelah kedelapan sosok berjubah hitam tersebut menghilang dikegelapan malam.


Sementara itu, Yuyun yang menunggu Jiang Xia Yan diatas pohon terlihat sedikit cemas waktu sosok gadis cantik itu tak kunjung terlihat padahal semua orang bertudung hitam telah lenyap dari tempat tersebut.


“ Nona…”


“ Nona….”


“ Anda dimana ?....”, ucap Yuyun dengan suara lirih sambil berjalan mengelilingi rumah bobrok tersebut.


“ Aku ada disini….”, ucap Jiang Xia Yan masih dengan nafas tak beraturan.


“ Anda dimana nona ?....”


“ Saya masih belum bisa melihat anda….”, ucap Yuyun panik sambil menoleh kekanan dan kekiri mencari sosok Jiang Xia Yan yang hanya terdengar suaranya saja.


Setelah merapalkan mantra, wujud Jiang Xia Yan pun langsung terlihat. Hal itu tentu saja membuat Yuyun akhirnya bisa bernafas dengan lega.


“ Syukurlah nona tidak apa – apa….”, guman Yuyun sangat lega waktu mendapati jika nona mudanya itu tak mengalami luka sedikit pun.


“ Mari pulang….”


“ Aku perlu beristirahat sekarang….”, ucap Jiang Xia Yan lemah.


Melihat nona mudanya kelelahan, Yuyun pun segera mengandeng tangan Jiang Xia Yan dan membawanya berteleportasi kedalam kamarnya.


“ Saya akan menyiapkan air hangat agar nona bisa membersihkan diri sebelum istirahat….”, ucap Yuyun sopan.


Yuyun pun segera menuju kamar mandi dan dengan ilmu sihirnya dia memenuhi bak dengan air hangat yang telah diberi ramuan untuk meningkatkan stamina tubuh.


“ Aku tak menyangka jika sihir penghilang raga sangat menguras tenaga seperti ini….”, guman Jiang Xia Yan sambil merebahkan kepalanya diujung bak yang telah dialasi handuk kecil.


Dia memejamkan kedua matanya sejenak sambil menunggu ramuan sihir peningkat stamina masuk kedalam tubuhnya.


Bayangannya kembali pada ucapan kedelapan orang yang disinyalir sebagai pendukung pangeran kedua Ming Shin untuk menjadikan lelaki tersebut sebagai putra mahkota yang pada waktunya nanti akan mengantikan posisi kaisar Ming Qin sebagai penguasa negeri Ming dimasa depan.


Ketika Jiang Xia Yan menengadahkan wajahnya tanpa sadar dia menatap kearah langit yang terlihat sangat gelap tanpa adanya bintang disana dari balik jendela.


Bulan sabit yang bersinar malam ini sebagian tertutupi awan mendung hingga membuat aura sekitar kediaman sedikit mencekam.


“ Situasi dikekaisaran Ming akan segera berubah….”


“ Dan kupastikan semua akan berjalan sesuai dengan apa yang telah kurencanakan….”, batin Jiang Xia Yan menyeringai licik.


Setelah tubuhnya segar dan rileks, Jiang Xia Yan segera memakai pakaian tidurnya dan naik keatas ranjang untuk beristirahat.


Sudah tengah malam saat Jiang Xia Yan kembali ke kediamanannya. Suasana temaram langsung terlihat karena banyak lampu didalam kediaman sudah dimatikan dan hanya penjaga yang bertugas malam hari saja yang masih terlihat berlalu lalang disana.


Malam yang sunyi dan tenang ini tentunya membuat semua orang bisa tertidur dengan nyenyak diatas peraduannya.


Tapi hal tersebut tidak berlaku pada pangeran kedua Ming Shin yang masih terjaga dengan kedua mata yang masih terlihat segar.


Han Shan Yang yang berada disampingnya juga masih terlihat setia mendampingi meski wajahnya sudah terlihat sangat lelah.


“ Menurutmu, apa aku harus menemuinya secara langsung ?.....”, tanya pangeran kedua Ming Shin sambil menatap langit malam yang gelap.


“ Karena banyak pasang mata yang mengawasi, saya akan mengaturnya untuk Yang Mulia secepatnya…”, ucap Han Shan Yang tenang.


Pangeran kedua Ming Shin terlihat sangat puas atas jawaban yang diberikan oleh Han Shan Yang kepadanya.