
Dentingan suara gelas beradu dan aroma farhum serta keindahan musim semi yang terlihat dalam rancangan gaun yang dikenakan oleh semua orang dalam aula utama istana membawa kesegaran tersendiri.
Seperti prediksi semua orang, setelah dekrit pengangkatan pangeran pertama Ming Zheting sebagai putra mahkota kekaisaran Ming dikeluarkan dalam pengadilan tadi pagi, malam harinya langsung diselenggarakan pesta untuk merayakan kebahagiaan tersebut.
Permaisuri Yihua dan putra mahkota Ming Zheting yang menjadi bintang utama malam ini terlihat dikelilingi oleh para pejabat dan bangsawan yang bermaksud menjilat keduanya.
Para pendukung putra mahkota Ming Zheting pun terlihat tersenyum puas karena sebentar lagi mereka akan mendapatkan manfaat lebih atas terpilihnya kandidat mereka sebagai penerus kaisar dimasa depan.
Jiang Shing dan seluruh keluarganya yang telah hadir tampak menatap awas kesegala sisi, memastikan bahwa tak ada satupun hal mencurigakan didalam aula.
Meski mereka sudah mempersiapkan semuanya, namun keamanan dalam aula pesta juga mesti mereka jaga dengan baik.
Feng Mo Tian juga demikian, dia yang tak ikut dalam pesta malam ini mendapatkan bagian untuk berjaga diluar istana sedangkan kaisar Ru Xie Chan beserta pasukannya tampak berada di luar benteng ibukota demi memastikan kedatangan pasukan mayat yang dipimpin oleh jiwa Bai Sheng.
Malam semakin larut dan semua orang terlihat semakin larut dalam kemeriahan pesta yang tengah berlangsung tak menyadari jika nyawa mereka sedang dalam bahaya.
Jiang Chen yang melihat ada seseorang yang berjalan mendekat kearah putra mahkota Ming Zheting langsung melompat untuk melindungi calon kaisar dimasa depan tersebut begitu lelaki tersebut mengeluarkan pisau.
“ Awas Yang Mulia….”, teriak Jiang Chen yang langsung mendorong tubuh putra mahkota Ming Zheting ke arah samping.
Meski pisau lelaki tersebut berhasil dihempaskan dan pelaku dibekuk, namun lengan putra mahkota Ming Zheting berhasil dilukai.
“ Cepat panggil tabib istana, pisaunya mengandung racun !!!!....”, teriak Jiang Chen lantang.
Penjahat yang berhasil dibekuk tersebut langsung melakukan aksi bunuh diri hingga membuatnya tak bisa diinterogasi dan pada akhirnya hanya bisa dihempaskan dengan kasar oleh Jiang Chen ke lantai.
Setelah aksi penyerangan tersebut suasana pesta menjadi ricuh, semua orang terlihat ketakutan namun mereka sama sekali tak bisa berbuat apapun karen apara penjaga sudah berhasil dibekukan oleh para pemberontak.
Jiang Shing yang hendak menyelamatkan kaisar Ming Qin sedikit terlambat waktu Jenderal Lee sudah menodongkan pisau ke leher kaisar.
“ Jenderal Lee….”
“ Aku akan membunuh seluruh keluarga dan keturunanmu jika kamu tak melepaskanku….”, ucap kaisar Ming Qin mengancam
Bukannya menjawab, jenderal Lee malah tertawa terbahak – bahak seiring munculnya pangeran kedua Ming Shin dari balik tirai dibelakang kaisar.
Prokkkk….prokkkk…prokkkk…
“ Pertunjukan yang menarik….”
“ sayangnya, aku harus mengakhirinya malam ini….”, ucap pangeran kedua Ming Shin dengan seringai licik.
“ Kau !!!!....”, ucap kaisar Ming Qin penuh amarah.
“ ck ck ck…..”
“ Aku tak tahu jika ayah begitu bodoh hingga tak menyadari jika mayat itu bukanlah aku….”, ucap pangeran kedua Ming Shin mencemoh.
Dengan angkuhnya pangeran kedua Ming Shin berjalan mendekat kearah putra mahkota Ming Zheting dan langsung menancapkan pedang yang diambilnya dari pengawal yang berada disamping kakak pertamanya tersebut hingga menembus jantung.
“ Taruh pedangmu sekarang juga !!!....”, ucap Jiang Shing yang sudah menaruh pedangnya dileher pangeran kedua Ming Shing.
Sementara Xiao Mei sudah bergerak untuk mengamakan permaisuri Yihua yang sudah berderai air mata melihat anaknya mati agar tidak ada yang bisa melukainya.
“ Jenderal besar Jiang Shing….”
“ Jika kamu berani memotong kepalaku maka aku pastikan kepala ayahanda lebih dulu terpisah dari tubuhnya….”, ucap pangeran kedua Ming Shing tenang.
“ Dasar anak k*****t !!!!....”
“ Seharusnya aku tak membesarkan anak durhaka sepertimu !!!!....”, teriak kaisar Ming Qin penuh amarah.
Hahahahaaaaa…..
Tanpa disadari semua orang, diam – diam Jiang Xia Yan mulai bergerak menuju kearah Jenderal Lee berada.
Pergerakan Jiang Xia Yan ini diikuti oleh para pasukan Feng Mo Tian yang diam – diam masuk kedalam istana dan mendekati para pemberontak yang berada dibelakang penjaga istana.
Setthhhh….
Crashhhh…..
Klontanggg…..
“ Ahhh !!!.....”, teriak Jenderal Lee lantang waktu lengannya yang digunakan untuk memegang pisau dileher kaisar Ming Qin dipotong dengan pedang biru milik Jiang Xia Yan.
“ Selamatkan kaisar….”, teriak Jiang Xia Yan yang langsung mendorong tubuh kaisar Ming Qin kearah sang kakak yang segera membawanya pergi keluar aula lewat jalan rahasia.
Jiang Xia Yan pun langsung mengejar Jenderal Lee waktu lelaki itu berusaha untuk kabur sementara itu wajah pangeran kedua Ming Shin sudah terlihat gelap waktu melihat kaisar Ming Qin berhasil selamat meski lehernya tergores pisau.
Wajah pangeran kedua Ming Shin semakin menggelap waktu mengetahui jika para pasukan miliknya berhasil dilumpuhkan oleh pasukan milik keluarga Feng.
Crashhhh….
Crashhhh….
Crashhhh….
Para pasukan pemberontak yang berhasil melumpuhkan penjaga istana langsung digorok dengan pedang hingga tak bernyawa.
Sementara itu, pangeran kedua Ming Shin terlihat sedang bertarung dengan Jiang Shing sementara semua orang mulai dievakuasi.
Begitu Jenderal Lee berada diluar dia pun segera memimpin pasukannya untuk maju menyerang pasukan milik keluarga Feng dan Jiang yang sudah mengepung mereka..
Meski lengannya hilang satu dan darah mengucur deras di tubuhnya, lelaki paruh baya itu tak menyerah dan terus memimpin serangan dengan beringas.
Melihat jika rencana didalam gagal, Ming Ming pun segera mengaktivkan pasukan mayat miliknya untuk masuk kedalam istana.
Penjaga gerbang ibukota dibuat kuwalahan menghadapi pasukan mayat yang tak kunjung mati tersebut meski dibantu oleh ratusan pasukan kekaisaran Ru yang memiliki ilmu sihir.
“ Sial !!!....”
“ Mereka benar – benar tak bisa dilumpuhkan tanpa api suci….”, guman kaisar Ru Xie Chang emosi.
Setelah pasukan keluarga Jiang dan keluarga Feng bersatu, Jiang Xia Yan pun segera melesat menuju gerbang ibukota untuk mengeluarkan monster api yang bisa menyemburkan api biru.
Dia menempatkan monster tersebut di bagian tengah atas gerbang ibukota agar bisa leluasa untuk menyerang pasukan mayat yang jumlahnya ratusan ribu itu.
Dengan bantuan sihir Jiang Xia Yan, api biru yang dikeluarkan oleh monster biru berhasil menyebar cepat keseluruah area.
Banggg…..
Banggg…..
Banggg…..
Api biru yang berhasil mengenai tubuh para pasukan mayat membuat mereka langsung tumbang seketika hingga membuat mereka kocar – kacir.
Ming Ming yang melihat pasukan mayat miliknya bisa dilumpuhkan menggunakan api biru terlihat sangat marah dan mulai menyerang monster api yang ada diatas pintu gerbang.
Tapi sayangnya usahanya terus gagal karena monster tersebut diberi pelindung sihir yang sangat kuat sehingga tak bisa ditembus.
“ Brengsek !!!....”
“ Jika begini terus maka usahaku akan sia – sia….”, batinnya penuh amarah.