Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
HEBOH


Sinar mentari pagi pertama setelah selesainya musim dingin membawa kesegaran tersendiri bagi sebagian orang.


Mereka terlihat bersantai diteras depan rumah sambil menikmati secangkir teh panas dengan pemandangan berbagai macam bunga yang kembali hadir setelah beberapa waktu tertutupi salju.


Namun ketenangan tersebut tak berlaku di kediaman  jenderal nesar Jiang Shing terutama halaman tempat tinggal Jiang Xia Yan.


Pagi – pagi buta Jianying sudah membuat kehebohan didalam kamar waktu melihat leher dan sebagian dada nona mudanya penuh dengan bercak berwarna kemerahan ketika hendak membantu Jiang Xia Yan berganti pakaian.


“ Nona apa yang terjadi ?...”


“ Apa nona habis digigit serangga ?....”


“ Tapi kenapa sebanyak itu bekasnya ?....”, ucap Jinying panik.


Setelah memanggil ketiga temannya dan semuanya menyaksikan apa yang terjadi dengan nona mudanya tersebut, keempatnya pun segera membersihkan kamar Jiang Xia Yan di setiap sisi ruangan tanpa meninggalkan satu celahpun disana.


Ketika yang lainnya sibuk membersihkan ruangan, Jinying terlihat sedang mengolesi leher dan area dada nona mudanya itu dengan salep agar rasa gatal serta bekasnya bisa cepat hilang.


Tak ingin membuat keempat pelayannya merasa khawatir, Jiang Xia Yan pun hanya bisa pasrah dan diam waktu Jinying mengobatinya dengan memberikan obat herbal karena selain menduga nona mudanya itu digigit serangga dia juga ingin mengantisipasi jika nonanya keracunan makanan.


Jiang Xia Yan yang sebenarnya mengetahui apa yang telah terjadi hanya bisa memaki – maki orang yang melakukan tindakan mesum ini dalam hati.


Untung saja keempat pelayan pribadinya termasuk gadis yang polos sehingga mengira jika bercak kemerahan disepanjang leher dan dadanya adalah gigitan serangga dan keracunan makanan


“ Awas saja !!!...”


“ Aku akan memberinya pelajaran jika dia kesini lagi !!!....”, batin Jiang Xia Yan penuh amarah.


Sementara itu, kaisar Ru Xie Chang yang merupakan pelaku perbuatan tersebut hanya bisa bergidik ngeri waktu  melihat jika gadisnya marah atas kekhilafan yang dilakukannya itu.


Pada awalnya kaisar Ru Xie Chang tak ada niat apapun terhadap Jiang Xia Yan setelah membuat gadis itu tertidur lelap dengan ilmu sihirnya.


Bahkan diapun juga ikut tertidur disamping Jiang Xia Yan sambil memeluk erat gadis tersebut hingga dini hari.


Tapi, begitu akan kembali ke kerajaannya tanpa sadar bagian atas baju Jiang Xia Yan tersibak dan memperlihatkan sebagian dadanya membuat kaisar Ru Xie Chang bertindak implusif.


Apalagi dibawah alam sadarnya gadis itu beberapa kali mendesah membuat kaisar Ru Xie Chang semakin menggila hingga suara langkah mendekat kearah kamar tidur Jiang Xia Yan membuat kesadarannya pulih dan diapun bergegas pergi.


Dan sekarang, dia harus bersiap mendapatkan amarah dari gadisnya karena dianggap telah melecehkannya sewaktu dia tertidur.


Tampaknya kehebohan di kediaman baru keluarga pertama tak berhenti sampai disitu saja.


Setelah drama pagi yang membuat semua orang panik sehingga ruangan dan makanan yang akan dikonsumsi oleh Jiang Xia Yan benar – benar dijaga kebersihannya tiba – tiba datang beberapa paket hadiah dari istana.


" Apa ini ?...."


“ Dari pangeran kedua Ming Shin ?....”, ucap Xiao Mei sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam merasa heran.


Selama ini dia sudah mendapatkan informasi jika putra kedua kaisar MIng Qin tersebut sama sekali tak pernah melihat putrinya.


Namun sekarang, setelah putrinya sudah tak lagi memiliki perasaan terhadapya lelaki tersebut mengirimkan sebuah hadiah yang bisa membuat banyak orang salah paham akan hal tersebut.


" Apa sebenarnya tujuan pangeran kedua Ming Shin melakukan ini ?....", batin Xiao Mei curiga.


Bukan hanya Xiao Mei saja yang merasa curiga jika ada maksud lain dari pangeran kedua Ming Shin mengirimkan hadiah tersebut ke kediaman mereka.


Jiang Shing dan Jiang Chen yang sama sekali tak mengira jika pangeran kedua Ming Shin akan memberikan hadiah secara terang – terangan seperti ini ke kediamanannya disaat kaisar Ming Qin semakin ketat  mengawasi setiap gerak - gerik setiap pangeran beberapa waktu terakhir ini.


Jiang Xia Yan yang mendapatkan kabar tersebut segera pergi kehalaman utama dan langsung menemui utusan pangeran kedua Ming Shin yang ditugaskan untuk membawa hadiah tersebut.


“ Sebelumnya, saya ucapkan banyak terimakasih atas perhatian Yang Mulia pangeran kedua Ming Shin….”


“ Tapi tolong sampaikan kepada Yang Mulia, saya minta maaf karena tidak bisa menerima hadiah ini….”


“ Jadi tolong kembalikan semua hadiah ini ke pemilik asalnya….”, ucap Jiang Xia Yan datar.


Setelah memberikan satu kantong tael perak kepada pelayan yang membawa hadiah tersebut, Jiang Xia Yan pun segera meninggalkan halaman kediaman utama.


Melihat apa yang dilakukan oleh putri bungsunya itu, Jiang Shing merasa sangat bangga.


Jujur saja dia tak ingin Jiang Xia Yan terlibat dan masuk kedalam perebutan kursi kekuasaan yang terjadi didalam istana.


Pangeran kedua Ming Shin yang sudah menduga jika hal ini akan terjadi hanya tersenyum masam waktu mendengar jika hadiah pemberiannya langsung dikembalikan tanpa sedikitpun dilihat oleh Jiang Xia Yan.


“ Kurasa nona muda ketiga ini memang tak sesederhana yang terlihat dipermukaan….”, ucapnya semakin berminat.


Jadi, jika nantinya dia tak bisa mendapatkan dukungan dari Jiang Shing setidaknya dia bisa menghancurkannya melalui ayahanda kaisar yang selalu mencurigai setiap pejabat yang dekat dengan para pangeran.


“ Shin’er….”


“ Caramu ini terlalu kasar dan itu tak akan berhasil untuk nona muda ketiga Jiang….”, ucap selir Hien menegur.


" Ibu tenang saja......"


“ Ananda hanya mencoba karena ingin memastikan sesuatu hal…..”, ucap pangeran kedua Ming Shin tersenyum penuh makna.


Setelah mengetahui jika cara ini tak berhasil maka pangeran kedua Ming Shin pun mulai mengubah strateginya.


“ Kurasa hanya memberikan penawaran yang layak agar bisa membuat hatinya luluh….”, guman pangeran kedua Ming Shin yang mulai bisa melihat celah yang ada.


Dilain tempat, lebih tepatnya di pagoda lantai enam bukan hanya Gu Zou dan Chang Wu saja yang sedang minum teh disana, tapi ada Chi Ang Bei juga.


Keempat pemuda tampan tersebut berkumpul bersama untuk membahas mengenai keberangkatan Feng Mo Tian ke medan pertempuran memimpin pasukan milik keluarag Feng.


“ Bagaimana persiapanmu kak ?.....”, tanya Chang Wu serius.


“ Sudah beres, tinggal berangkat….”, ucap Feng Mo Tian santai.


Setelah mengatakan hal tersebut, Feng Mo Tian mulai menatap Chi Ang Bei yang fokus menatap keluar jendela.


“ Selama aku pergi sebaiknya kamu tetap berada dirumah, jangan kembali lagi ke istana….”, Feng Mo Tian berpesan kepada Chi Ang Bei.


Mendengar ucapan sahabatnya, Chia Ang Bei pun mulai mengalihkan atensinya dan mentapa Feng Mo Tian tajam.


“ Setelah kejadian itu ayah menyuruhku sementara waktu menjauh dari struktur pemerintahan…”


“ Kau tau….”


“ Pergerakan pengeran kedua Ming Shin lebih mengerikan akhir – akhir ini….”


“ Dan sepertinya sekarang dia mulai mendekati Jiang Shing….”, ucap Chi Ang Bei dengan raut wajah serius.


Feng Mo Tian hanya terdiam sambil memainkan cangkir teh yang ada dihadapannya sambil tersenyum sinis.


“ Apa kakak tak akan berpamitan dengan kakak ipar sebelum berangkat ?....”, tanya Chang Wu dengan senyum menggoda.


Mendengar nama kakak ipar, Chi Ang Bei yang memang jarang berkumpul dengan ketiga sahabatnya hanya bisa mengerutkan kening mencoba berpikir siapa wanita muda yang pada akhirnya bisa meluluhkan hati sahabatnya itu.


“ Kakak ipar ?.....”, tanya Chi Ang Bei binggung.


“ Benar….”


“ Dia adalah nona muda ketiga Jiang….”, ucap Chang Wu bersemangat.


“ Dia…”


“ Bagaimana bisa ?....”, tanya Chi Ang Bei terbelalak.


Baru saja Chi Ang Bei mengetahui identitas dari dewi penolongnya itu dan diapun berencana untuk mengucapkan terimakasih sekalian melakukan pendekatan.


Tapi sepertinya sekarang, setelah mengetahui jika Feng Mo Tian juga menyukai gadis itu sepertinya dia harus mundur secara perlahan dan mengubur dalam – dalam perasaan yang sempat tumbuh tersebut.


Melihat Chi Ang Bei terdiam, Chang Wu yang menyadari gelagat tersebut segera berdiri menghampiri sambil menepuk pundak sahabatnya itu beberapa kali.


“ Kamu tak akan menang melawan kakak jadi sebaiknya buang perasaan itu…. ”, Chang Wu berusaha menghibur sahabatnya yang dia rasa sedang patah hati saat ini.


Tapi Chi Ang Bei yang terkenal paling pendiam diantara mereka berempat berusaha untuk tetap bersikap tenang seperti biasanya.


“ Kurasa identitas nona muda ketiga Jiang ini sangatlah tak biasa….”


“ Bisa berhubungan baik dengan kaisar Ru Xie Chang….”


“ Itu suatu hal yang istimewa….”, ucap Chi Ang Bei mengingat kembali percakapan ayahnya bersama asisten pribadinya tadi malam.


Semua orang terdiam cukup lama setelah Chi Ang Bei mengatakan hal tersebut termasuk Feng Mo Tian yang sekarang ekpresinya semakin datar dan dingin.


“ Jadi, lelaki yang dimaksud oleh Tian Wan apakah mungkin kaisar Ru Xie Chang  ?....”, batin Feng Mo Tian penasaran.


Lelaki itupun memutuskan untuk menemui Jiang Xia Yan sebelum berangkat ke medan pertempuran dan menayakan perihal hubungannya denga n kaisar Ru Xie Chang agar hatinya bisa sedikit tenang.