
Kenyamanan tak selamanya bisa menghangatkan hati dan menyembuhkan luka jika masih ada ketidak percayaan didalam suatu hubungan.
Berulang kali terkhianati dalam beberapa episode kehidupannya setelah mengalami reinkarnasi tak akan membuat seorang wanita membuka pintu hatinya dengan mudah.
Hati yang terluka dan membeku tak akan mudah mencair dan luka yang ditinggalkan sembuh seketika meski telah mengering karena jejaknya masih tertinggal dengan jelas.
Melihat kaisar Ru Xie Chang masuk kedalam ruangan dengan penuh amarah, Jiang Xia Yan tak menanggapinya dan tetap tenang sambil memakan camilan yang ada di ruang kerjanya itu.
“ *Apa yang kamu bahas dengan kucing liar itu hingga membuat pelindung kedap suara*?....”, kaisar Ru Xie Chang menatap tajam Jiang Xia Yan menuntut penjelasan.
“ Hal ini tak ada kaitannya denganmu….”
“ Jadi kenapa kamu begitu marah…..”, ucap Jiang Xia Yan tenang.
Mendengar ucapan Jiang Xia Yan, kaisar Ru Xie Chang hampir memuntahkan seteguk darah melihat wajah tanpa dosa yang diberikan oleh gadis yang ada dihadapannya itu.
Kaisar Ru Xie Chang terlihat menatap Jiang Xia Yan tajam dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat, tapi hal itu sama sekali tak berpengaruh pada gadis yang duduk didepannya itu yang masih tetap bersikap tenang sambil menyesap teh yang ada ditangannya.
“ Apakah kamu masih akan terus menjalankan rencanamu itu meski aku larang ?....”, tanya kaisar Ru Xie Chang dengan tatapan tajam.
Jiang Xia Yan tak terkejut jika kaisar Ru Xie Chang mengetahui rencana pertemuannya dengan pangeran kedua Ming Shin nanti malam karena ada Yuyun bersamanya.
Selama ini dia membiarkan Yuyun mendampinginya karena permasalahan ini berkaitan dengan kekaisaran Ru untuk memberantas para penganut sihir kuno terlarang dimana hanya mereka yang bisa memberantasnya.
Tapi Jiang Xia Yan juga tak akan membiarkan dengan mudah lelaki itu menghancurkan rencana yang telah dia susun sejak lama demi aksi balas dendamnya.
“ Aku tak akan membiarkan siapapun merusak rencana yang telah aku susun….”
“ Termasuk kamu….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
Mendengar ucapan Jiang Xia Yan, kaisar Ru Xie Chang yang sedari tadi sudah terbakar api cemburu tak bisa lagi mengontrol emosinya dan langsung berteriak “ Kamu !!!!....”.
“ Apa !!!....”
“ Apa kamu ingin membunuhku karena tak mematuhi ucapanmu !!!...”, ucap Jiang Xia Yan dengan tatapan nyalang.
Perlahan aura membunuh yang sempat menguar kuat diudara mulai menghilang seiring meredanya emosi kaisar Ru Xie Chang.
“ Bukan begitu Yan’er….”
“ Hanya saja…..”, kaisar Ru Xie Chang terlihat kehabisan kata – kata.
Entah kenapa dia bisa begitu lemah dihadapan gadis yang sangat dicintainya itu. Emosinya yang tadi meluap – luap seakan menguap dengan cepat begitu Jiang Xia Yan balik menantangnya.
“ Jika tak ada hal lain, sebaiknya kamu segera keluar karena aku masih banyak pekerjaan….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
“ Yan’er….”, kaisar Ru Xia Chang pun langsung memeluk erat Jiang Xia Yan dari belakang begitu gadis itu hendak melangkah kemeja kerjanya.
“ Maaf….”
“ Aku tak berniat menghalangi rencanamu, hanya saja….”
“ Aku merasa cemburu…..”, bisik kaisar Ru Xie Chang denagn nada lemah dan frustasi.
Mendengar ucapan penuh penyesalah dari kaisar Ru Xie Chang, Jiang Xia Yan hanya bisa menarik nafas dalam beberapa kali dan menghembuskannya secara perlahan.
Dia sama sekali tak menyangka jika kaisar keji dan tak berperasaan itu sekarang sudah seperti seekor kucing lemah yang haus kasih sayang.
“ Xie Xie….”
“ Kamu tahu kan ini adalah kesempatan emas bagiku….”
“ Jika tidak menemuinya secara langsung….”
“ Bagaimana aku bisa memastikannya….”, Jiang Xia Yan pun berusaha memberi pengertian.
Kaisar Ru Xie Chang semakin mengeratkan pelukannya, seolah tak ingin melepaskan Jiang Xia Yan barang sedetik saja.
“ Apakah aku boleh ikut ?....”, tanya kaisar Ru Xie Chang penuh harap.
“ Baiklah, jika itu bisa membuatmu tenang….”
“ Kamu bisa memantauku dari kejauhan agar tak menimbulkan kecurigaan…..”, ucap Jiang Xia Yan pasrah.
Mendengar jika gadisnya mengijinkannya ikut, sudut bibir kaisar Ru Xie Chang pun mulai terangkat dan sebuah senyum manis terbit diwajah tampannya.
“ Terimakasih Yan’er….”
“ Aku berjanji tak akan merusak rencanamu….”, ucap kaisar Ru Xie Chang bersemangat.
Feng Mo Tian yang sudah cukup lama berada diluar menunggu lelaki yang dicurigai sebagai kaisar Ru Xie Chang tak kunjung keluar membuat hatinya sedikit kesal.
“ Sudahlah kak….”
“ Sebaiknya kita pergi saja dan kembali lagi nanti malam….”
“ Kurasa pertemuan pangeran kedua Ming Shin dengan nona muda Jiang nanti malam lebih menarik daripada menunggu seperti ini….”, ucap Chang Wu menawarkan solusi.
Meski hatinya dipenuhi kecemburuan, tapi dia pada akhirnya menyerah dan beranjak pergi bersama Chang Wu untuk menyelesaikan beberapa urusan sebelum nanti malam memantau pertemuan antara Jiang Xia Yan dengan pangeran kedua Ming Shin.
Dalam kegelapan malam, danau Mingguanxi terlihat sangat sepi karena udara cukup dingin sehingga membuat semua orang enggan untuk keluar rumah.
Apalagi hari ini bukanlah akhir pekan atau hari khusus sehingga tak banyak orang dan penjual yang belalu lalang disana.
Dibalik hutan bamboo yang ada disamping danau, terlihat seseorang memakai jubah putih dengan sulaman benang emas disepanjang sisinya.
Wajahnya yang sehalus dan seputih giok dengan kedua alis tajam yang membingkai wajahnya membuat ketampanan lelaki itu terlihat sempurna.
Kedua matanya yang berwarna hitam pekat terlihat seperti sumur yang sangat dalam membuat siapapun yang menatapnya akan masuk dalam pusaran air tenang namun mematikan.
“ Dia bukan pangeran kedua Ming Shin, tapi kembarannya…..”, batin Feng Mo Tian menatap tajam kedepan.
Meski sekilas tampak sama, namun aura yang keluar dari tubuh lelaki itu berbeda dengan pangeran kedua Ming Shin yang biasa Feng Mo Tian temui.
Aura ini terlihat sangat gelap dan mematikan. Bahkan jika seseorang tak memiliki ilmu tinggi bisa sesak nafas menghadapi aura intimidasi yang kuat tersebut.
“ Maaf jika saya terlambat datang Yang Mulia….”, ucap Jiang Xia Yan sopan.
“ Tak masalah, aku juga baru datang….”, ucap pangeran kedua Ming Shin datar dengan aura dingin yang mencekam.
Melihat jika gadis yang ada dihadapannya seakan tak terpengaruh dengan aura intimidasi yang dikeluarkannya, Ming Ming yang merupakan kembaran pangeran kedua Ming Shin tersenyum puas dalam hati.
“ Sesuai dugaan….”, batin Ming Ming puas.
Meski tak bisa mengetahui tingkat kultivasi dan tingkat ilmu sihir yang dimiliki oleh Jiang Xia Yan tapi melihat jika gadis itu sama sekali tak terpengaruh dengan aura menekan yang dikeluarkannya membuatnya sangat yakin jika tingkatan kekuatan gadis itu sangat tinggi.
Selama berbincang dengan Jiang Xia Yan, Ming Ming merasakan perasaan familier. Bahkan sorot mata nona muda ketiga Jiang tersebut membuat jantung lelaki itu berdegup dengan kencang.
“ Wuzia….”, guman Ming Ming tanpa sadar.
“ Apa yang anda ucapkan Yang Mulia ?...”, tanya Jiang Xia Yan dengan tatapan menyelidik.
Meski dia bisa mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki yang ada dihadapannya itu, tapi Jiang Xia Yan masih berusaha untuk memperjelas bahwa dia tak salah dengar.
“ Apa benar dia tadi menyebut nama Wuzia….”
“ Bagaimana dia bisa tahu mengenai Wuzia….”, batin Jiang Xia Yan penuh tanda tanya.
Ming Ming yang mendapatkan pertanyaan tiba - tiba berusaha untuk mengontrol hati dan perasaannya yang sudah tak menentu sekarang.
Bahkan tatapannnya yang dingin dan membunuh berubah menjadi hangat, seolah gadis yang ada dihadapannya adalah kekasih masa lalu yang sangat dicintainya.
Dalam kegelapan malam, tak jauh dari tempat keduanya berdiri ada dua pasang mata yang mengeluarkan tapapan tajam seperti laser yang bisa membunuh siapa saja yang ada dihadapannya dengan kedua tangan terkepal marah
Ming Ming yang larut dalam pemikirannya tak menyadari kehadiran pihak lain disana malam ini karena fokusnya ada pada JIang Xia Yan saat ini.
" Apakah dia reinkarnasi dari Wuzia...."
" Jika benar, maka aku bisa menebus kesalahanku padanya....", batin Ming Ming penuh penyesalan.