Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
RUANG RAHASIA


Pagi harinya, begitu pendengar kabar mengenai pemusnaan rumah tangga pangeran Ming Qianfan membuat hati Jiang Xia Yan sangat bahagia.


“ Ternyata dua bersaudara Dong sangat bisa diandalkan….”, batin Jiang Xia Yan puas.


Dia senang karena tak perlu mengeluarkan banyak energy dan menggunakan tangannya untuk melenyapkan kediaman pangeran Ming Qianfan.


Bahkan sikap dingin yang ditunjukkan oleh kaisar Ming Qin terhadap kasus yang menimpah adik tirinya tersebut menjadi bukti jika Shentan She bekerja dengan sangat baik.


“ Jika seperti ini, aku akan sering menggunakan jasanya dimasa depan….”, ucap Jiang Xia yan bahagia.


Satu persatu rencana pembalasannya berjalan dengan mulus. Dan diapun tinggal melaksakan rencana selanjutnya.


Dalam kebahagiaann itu tiba – tiba Jiang Xia Yan teringat jika dikediaman pangeran Ming Qianfan ada sebuah ruang rahasia.


Karena penasaran, Jiang Xia Yan pun bermaksud untuk datang kesana dan memeriksanya sendiri.


Dalam perjalanannya kali ini dia sama sekali tak membawa pelayan pribadinya dan hanya akan membawa dua pengawal pribadinya Yinhang dan Chuntao.


Waktu hendak keluar, dia melihat kakaknya Jiang Chen sudah berada  diatas kudanya dan bersiap untuk pergi.


“ Pagi kak….”, sapa Jiang Xia Yan hangat.


Jiang Chen yang mendapat sapaan hangat dari adiknya pagi ini merasa sangat bahagia. Kedua alis Jiang Xia Yan menukik tajam waktu melihat kakaknya sudah berpakaian sangat rapi hari ini.


“ Apakah kakak mau keistana ?....”, tanya Jiang Xia Yan penasaran.


“ Tidak….”


“ Kakak akan pergi ke kediaman pangeran Ming Qianfan untuk menyelidiki kasus pemusnahan yang terjadi semalam..”


“ Kurasa, adik sudah mendengar beritanya juga kan….”, ucap Jiang Chen dengan tatapan penuh selidik.


Melihat ini adalah peluang bagus untuk ikut kesana tanpa membuat orang merasa curiga, maka Jiang Xia Yan pun berusaha untuk membujuk sang kakak agar mau membawanya turut serta.


“ Kak….aku boleh ikut ya….”, ucap Jiang Xia Yan merajuk.


Meski sedikit keberatan, tapi melihat wajah mengemaskan sang adik, Jiang Chen pun tak kuasa untuk menolaknya.


Jiang Xia Yan yang pada akhirnya bisa meluluhkan hati kakaknya terlihat tersenyum gembira.


Dan keduanya pun bergegas pergi menuju kediaman pangeran Ming Qianfan bersama rombongan.


Sesampaianya disana, dapat Jiang Xia Yan lihat bangunan mewah terebut  dikelilingi oleh pita putih dan banyak penjaga istana kekaisaran disana yang  tak membiarkan semua orang masuk kedalam demi penyelidikan yang sedang berlangsung.


Jiang Chen pun segera menunjukkan tanda pengenal kepada para  penjaga gerbang yang bertugas.


Setelah memeriksa, para penjaga segera membukakan pintu gerbang dan membiarkan jenderal muda Jiang Chen bersama rombongan untuk segera masuk.


“ Adik….”


“ Jika takut, sebaiknya adik tunggu disini saja….”, ucap Jiang Chen khawatir.


Melihat banyaknya kepala yang mengelinding dan beku diatas tanah, Jiang Chen pun memutuskan tak ingin mengajak sang adik masuk kedalam karena khawatir Jiang Xia Yan akan ketakutan setelah melihat lebih jauh kondisi yang ada.


Jiang Xia Yan yang memang memiliki tujuan tersendiri waktu hendak datang kesini pun langsung melaksakan rencananya.


Setelah menemukan tempat yang dia ingin tuju, diapun mulai berbicara kepada sang kakak.


“ Baiklah….”


“ Aku akan menunggu kakak dipaviliun teh yang ada disana hingga kakak selesai menginvestigasi….”,


ucap Jiang Xia Yan sambil menunjukkan banggunan kecil disamping kolam yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


“ Baiklah….”, ucap Jiang Chen meneruskan langkahnya.


Yinhang dan Chuntao terus membuntuti kemana Jiang Xia Yan pergi. Melihat jika nona mudanya terlihat sangat akrab dengan kondisi sekitarnya, keduanya pun merasa sedikit curiga.


“ Apakah nona pernah kemari sebelumnya ?....”, tanya Yinhang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


“ Semalam waktu pernikahan kakak tertua, aku sempat ingin kesini tapi tidak sempat….”, ucap Jiang Xia Yan berbohong.


Yinhang merasa sedikit ganjil, bagaimana bisa hanya dengan melihatnya saja tadi malam nona mudanya itu bisa langsung hafal jalan yang ada.


Bahkan batu bata yang hampir roboh serta jalan berlubang bisa dia hindari, membuat pemuda tersebut hanya bisa mengkerutkan kening cukup dalam.


Yinhang dan Chuntao pun segera masuk kedalam untuk memastikan bahwa kondisi disana aman agar nona mudanya tak mendaptkan masalah.


“ Kami akan berjaga diluar jika nona membutuhkan….”, ucap Yinhang sopan.


Setelah Jiang Xia Yan mengangguk, keduanya pun segera keluar dan membiarkan nona mudanya itu bersantai sambil menunggu tuan muda pertama Jiang selesai melaksanakan tugasnya.


Dapat Jiang Xia Yan lihat, ditengah ruangan ada meja kecil dengan seperangkat alat teh dari porselen mahal dan disampingnya terdapat kotak berisi aneka macam daun teh pilihan.


Suasana yang ada diruang minum teh tersebut juga sangat tenang sehingga cocok dijadikan tempat untuk bersantai sambil menatap keluar jendela yang langsung menuju kearah kolam ikan.


Meski Jiang Xia Yan tak terlalu ingat dengan detail, entah perasaan akrab apa yang membuatnya begitu nyaman berada didalam ruangan ini.


Setelah melewati layar lipat diapun berada didalam ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam aneka  lukisan.


Jika dilihat dengan cermat semua lukisan yang menempel di dinding adalah milik pelukis terkenal diera tersebut.


Jiang Xia Yan terlihat sangat mengagumi lukisan yang menempel didinding tersebut terus berjalan sambil mentap satu oersatu lukisan yang ada dengan intens.


Tiba – tiba saja langkahnya terhenti pada sebuah lukisan yang mengambarkan perjamuan pejabat pada era dynasty sebelumnya.


Dengan sedikit ragu, Jiang Xia Yan pun menyentuh lukisan yang tampak sangat hidup tersebut dan tak lama kemudian ada bunyi “ Srettt….” dan sebuah pintu terbuka tepat dihadapannya.


“ Jadi ini kunci masuknya….”, batin Jiang Xia Yan tersenyum senang.


Perlahan diapun masuk dan menyusuri lorong yang minim penerangan tersebut hingga tiba – tiba tubuhnya menegang waktu merasa ada orang didalam ruang rahasia itu.


Perlahan, dia berjalan menuruni tangga sambil mengenggam belati kecil dari balik lengan bajunya. Meski tak bisa melihat dengan jelas, tapi dia  bisa merasakan aura orang tersebut sangatlah kuat


Jiang Xia Yan menggunakan ilmu peringan tubunnya agar gerakannya tak terdeteksi.


Semakin masuk kedalam dia bisa melihat jika sudah ada beberapa peti yang terbuka dan tak jauh dari sana ada dua orang lelaki berdiri disalah satu peti.


Lelaki berpakaian putih terlihat sedang membuka sebuah peti kecil yang ada dihadapannya sementara temannya lelaki berpakaian unggu terlihat memegang tas kuning yang terlihat cukup berat.


“ Apakah mereka pencuri ?....”


“ Tapi, barang apa yang mereka cari ?....”, batin Jiang Xia Yan penasaran.


Setelah berada dibawah, dia bisa melihat jika beberapa peti yang terbuka berisi perhiasan dan beberapa artefak kuno dan antic.


“ Tampaknya bukan harta yang mereka cari ?....”


“ Tapi apa ?....”, Jiang Xia Yan semakin penasaran dibuatnya.


Tak ingin membuat kesalahan, Jiang Xia Yan pun bersembunyi dibalik almari berkas yang ada didalam ruang rahasia tersebut.


“ Pageran Ming Qianfan benar – benar meletakkan barang itu disini….”


“ Jika bukan karena pembantaian semalam, kita tak akan pernah bisa masuk kedalam sini….”


“ Periksa apakah ada sesuatu lagi disini yang bisa menjadi petunjuk….”, ucapnya dengan nada geram.


Lelaki berbaju putih pun segera kembali membuka beberap peti yang masih terkunci sambil memeriksa isi yang ada didalamnya.


“ A****g tua itu bahkan tak menempatkan satu penjagapun disini….”


“ Kurasa tak ada orang lain yang mengetahui ruang rahasia ini….”, ucap lelaki berbaju putih sambil terus mencari.


“ Seperti yang kau tahu….”


“ Siapapun yang tahu tempat ini\, pasti a****g tua itu akan langsung menghabisinya….”


“ Hanya orang mati yang bisa menjaga rahasia….”,


Ucap lelaki berbaju unggu sambil berkekliling mencari, sekali – kali tangannya membuka kain yang menutupi beberapa barang yang ada dalam ruangan.


Jiang Xia Yan terlihat  mengkerutkan keningnya cukup dalam waktu merasa familiar dengan suara kedua lelaki tersebut.


Tranggg….


Tiba – tiba kaki Jiang Xia Yan tak sengaja menyenggol guci yang terbuat dari emas sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring didalam kesunyian.


“ Siapa itu ?....”, tanya lelaki berbaju unggu tajam.