
Dalam kegelapan, Lin yang duduk diatas ranjang bersama nona mudanya terlihat sangat cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lin sangat paham kenapa nona mudanya bermain trik dengan Gui Momo seolah – olah dia menghabiskan makanan yang diberikan oleh wanita tua itu dan menyalakan dupa.
“ Pasti Gui Momo bersengkokol dengan nyonya kedua untuk menyelakai nona muda…tapi untungnya nona muda sekarang lebih tanggap sehingga bisa terhindar dari musibah itu….”, batin Lin lega.
Melihat wajah peyan pribadinya yang terlihat sangat cemas, Jiang Xia Yan pun berusaha untuk menenangkannya.
“ Tenanglah…malam ini, semua akan baik – baik saja….”, ucap Jiang Xia Yan lembut.
Mendengar jika nona mudanya yakin akan mengatasi semuanya, dalam hati Lin merasa sedikit lega karena nonanya telah keluar dari jebakan Gui Momo malam ini.
Melihat nona mudanya duduk bersandar sambil menutup mata, Lin yang memiliki banyak pertanyaan akhirnya tak tahan juga untuk tetap diam.
“ Lalu, apa yang akan nona muda lakukan sekarang ?....”, tanya Lin lirih.
“ Menunggu….”, ucap Jiang Xia Yang singkat masih dengan kedua mata terpejam.
“ Menunggu….”, guman Lin binggung.
“ Menunggu malam dibawah sinar rembulan yang ganas dimana para penjahat dan pembunuh beraksi…”, ucap Jiang Xia Yan santai.
Mendengar jawaban sang nona, tubuh Lin langsung menegang hebat. Meski dia tak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi, tapi dia merasa jika hal ini lebih berbahaya dari apa yang dia perkirakan sebelumnya.
Langit semakin gelap dan biksu yang bertugas membunyikan bel terakhir hari ini sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Bau tanah akibat hujan yang turun deras perlahan masuk melalui celah – celah jendela kamar. Membuat Jiang Xia Yan semakin menajamkan indera pendengarannya karena waktu yang ditunggu hampir tiba.
Sementara itu dipavilun selatan, setelah membaca bukunya Jiang Xialun segera beristirahat. Meski dia tak tahu apa yang bibi keduanya rencanakan mala mini, yang jelas dia tak mau terlibat dan memilih untuk tidur dengan tenang.
Sementara itu, Jiang Xiuying yang juga baru selesai meyiapkan baju dan perhiasan yang akan dia kenakan besok waktu menyalakan dupa juga akan beristirahat.
Begitu akan naik keatas ranjang, tak sengaja kedua matanya melihat ada sebuah beberapa dupa dengan bentuk unik dan baunya sangat harum diatas meja.
“ Nyalakan dupa itu….”, perintah Jiang Xiuying menunjuk kearah dupa yang tergeletak diatas meja.
Setelah beberapa saat, lampu dikamar nona muda tertua dan nona muda kedua Jiang sudah padam yang menandakan jika keduanya sudah terlelap masuk kedalam alam mimpi.
Malam ini suasana kuil Guandong sangat sunyi. Hanya suara serangga dan dentingan air hujan yang menghantam genteng yang terdengar.
Dalam ketenangan tersebut, terdengar suara langkah kaki mendekat kearah paviliun utara dimana Jiang Xia Yan berada.
Sementara itu, dalam kegelapan malam Jiang Xia Yan duduk di meja dekat dengan jendela tanpa mengeluarkan ekspresi apapun diwajahnya.
Seperti hewan pemburu yang akan menangkap mangsa yang berjalan mendekat kearahnya dengan kesadaran diri.
Lin yang duduk diujung ranjang terlihat sangat cemas waktu mendengar suara gemerisik diatas genteng kediaman yang mereka tempati.
Keduanya terlihat semakin waspada waktu langkah tersebut semakin mendekat dan begitu jendela terbuka ada sesosok bayangan hitam masuk.
“ Nona muda, ini Yinhang….”, ucap pemuda itu langsung mengepalkan kedua tangannya kedepan dengan sikap hormat.
Lin merasa sangat lega waktu melihat jika yang datang adalah Yinhang. Meski hanya diterangi sinar rembulan, tapi gadis itu tahu jika pemuda itu tidak datang sendiri, ada seseorang berada dalam gendongannya.
“ Kamu melakukan pekerjaan dengan sangat baik….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum puas.
Yinhang pun segera meletakkan tubuh nona muda tertua Jiang tersebut diranjang Jiang Xia Yan dan menyelimutinya.
Akibat dupa yang tadi dihirupnya, Jiang Xiuying sama sekali tak sadar dengan apa yang akan terjadi pada dirinya dan dia tetap tertidur lelap.
Meski terkejut, tapi Lin juga menyadari jika apa yang dilakukan oleh nona mudanya ini kemungkinan besar karena marah dan tidak puas terhadap perlakuan keluarga kedua kepadanya selama ini.
Sedangkan Yinhang yang sudah mengetahui rencana busuk nyonya kedua merasa lega waktu nona mudanya membalikkan keadaan seperti ini.
“ Senjata makan tuan…nyonya kedua pasti tak akan menyangka jika putrinya lah yang akan menjadi korban rencana busuknya itu….”, batin Yinhang geram.
Meski dia baru bersama Jiang Xia Yan, tapi dia sudah bisa merasakan beratnya penderitaan yang dialami gadis muda itu selama ini.
Dia selalu dikelilingi oleh orang – orang licik dan kejam dengan topeng keluarga. Bahkan, berniat untuk menghancurkan gadis itu hingga titik terendah.
Untung saja dia mengetahui rencana ini lebih cepat sehingga bisa membantu nona muda ketiga Jiang terlepas dari bencana yang mungkin akan menghancurkan masa depannya itu.
“ Kemana kita akan pergi ?....”, tanya Lin binggung.
Belum juga Jiang Xia Yan menjawab, tiba – tiba ada sosok masuk kedalam kamar melalui jendela dan menyerang Yinhang.
Keduanya bertempur dengan sengit hingga pedang yang dibawa lelaki tersebut sudah berada dileher Yinhang.
“ Siapa dia ?...”
“ Apa ada orang lain yang mentargetkan nona muda ?...”
Batin Yinhang penuh tanda tanya karena dia tahu jika semua pengawal yang dibawa ke kuil Guandong ini tak ada yang memiliki kemampuan diatasnya, jadi ada seseorang yang bsia mengalahkannya dia merasa sangat penasaran.
“ Tuan muda Feng, lepaskan pengawalku….”, ucap Jiang Xia Yan datar.
Mendengar jika identitasnya terbongkar, Feng Mo Tian hanya tersenyum samar. Lin dan Yinhang sangat terkejut jika tuan muda Feng lah yang menerobos masuk dan menyerang mereka.
“ Kemampuan nona muda ketiga sangat hebat…tanpa bisa melihat wajahku kamu sudah bisa menebak dengan benar….”, ucap Fen Mo Tian terkekeh.
Melihat jika kali ini Feng Mo Tian tak akan membiarkannya pergi begitu saja maka dari itu Jiang Xia Yan menyuruh Lin dan Yinhang untuk keluar.
“ Tunggu aku diaula doa….”, perintah Jiang Xia Yan tegas.
Meski sedikt ragu meninggalkan nona mudanya sendiri bersama dengan tuan muda Feng, tapi mereka juga tak bisa membantah dan langsung melesat keluar.
Jiang Xia Yan segera menyalakan dupa didalam kamar, begitu akan keluar Feng Mo Tian segera menariknya hingga pinggangnya menempel erat ditubuh pemuda tampan itu.
“ Apa yang kamu lakukan ?!!!....”, guman Jiang Xia Yan marah.
“ Sttt…..”, ucap Feng Mo Tian menempelkan telunjuknya dibibir Jiang Xia Yan dan membawa gadis itu ke ujung ruangan.
Langkah kaki terdengar masuk kedalam ruangan, membuat tubuh Jiang Xia Yan menegang. Dia sama sekali tak pernah membayangkan jika pangeran Ming Qianfan akan datang secepat ini.
Untunglah lelaki paruh baya itu tak menyalakan lilin sehingga dia merasa sangat aman sekarang karena kemungkinan untuk ketahuan sangatlah tipis.
“ Yang Mulia, semua sudah diatur dengan benar….”, ucap seorang lelaki dari luar kamar.
“ Kalian bisa mundur dan berjaga diluar. Jangan ganggu kesenangan pangeran malam ini….”, perintahnya dengan suara serak dan tegas.
“ Jiang Shing…Jiang Shing….pengeran ini akan mencoba apa perbedaan antara putrimu dengan wanita muda lain diluaran sana….”, ucapnya dengan rasa puas.
Tanpa sadar, Jiang Xia Yan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat mendengar nada penghinaaan yang dilontarkan oleh pangeran Ming Qianfan kepada ayahnya.
Dalam hati Jiang Xia Yan bertekad akan membunuh lelaki paruh baya itu dengan sangat keji dan menyakitkan.
Feng Mo Tian yang melihat gejolak emosi dalam tubuh Jiang Xia Yan langsung memeluknya dari belakang dengan erat agar gadis itu tak lepas kontrol.
Suara kaki terdengar mendekat kearah ranjang dan tak lama kemudian suara pakaian dirobek dengan kasar terdengar jelas dikeheningan malam yang ada.
Dan tak lama kemudian permainan ganas dan liar pangeran Ming Qianfan mulai terdengar nyaring dikeheningan malam.
Banyak bahasa dan umpatan kotor keluar dari mulut adik kaisar Ming Qin tersebut. Jiang Xiuying yang baru saja tersadar berusaha melawan, tapi tenaganya tak sebesar pangeran Ming Qianfan sehingga dia hanya bisa menangis dan pasrah akan nasibnya malam ini.
Udara dipenuhi dengan suasana yang membuat detak jantung meningkat dengan sangat cepat. Aroma dupa semakin membuat kedua orang yang sedang menikmati malam panas ini semakin bergairah.
Untung saja Jiang Xia Yan sudah memakan penawar racun asmara ini sehingga dia sama sekali tak terpengaruh dengan aroma dupa.
Tapi lain halnya dengan Feng Mo Tian, tubuh lelaki muda ini terasa sangat panas dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Merasa jika ada hal berbeda dengan tubuhnya , Feng Mo Tianpun merasa sedikit gelisah karena aroma tubuh Jiang Xia Yan semakin membuat dirinya menggila.
Feng Mo Tian menarik nafas dalam – dalam sambil berusaha mengenyahkan semua pikiran kotor yang ada dalam otaknya saat ini.
Sejak lahir sampai sekarang, Feng Mo Tian merasa ini adalah pertama kalinya dia berada didalam situasi yang sangat sulit.
Dia melihat kearah ranjang besar yang berdecit dan bergetar tanpa henti. Kamar ini pun sudah penuh dengan suara ******* yang membuat siapa yang mendengarnya akan tersipu malu.
Setelah menahan semua gejolak yang ada selama hampir dua jam pada akhirnya ranjang tersebut berhenti bergerak dan suasana kembali tenang.
Tubuh Jiang Xia Yang membeku ketika tangan kekar dibelakangnya membawanya berguling dengan cepat dan langsung meloncat keluar jendela sebelum lelaki yang berada diatas ranjang tersebut menyadari keberadaan mereka.