Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
JALAN MASING - MASING


Musim semi telah berlalu dan bunga – bunga sudah mulai terbang berguguran tertiup angin, menyebarkan aroma wangi disetiap tempat yang dilewatinya.


Tak terasa, setengah tahun telah berlalu dengan sangat cepat seakan baru kemarin banyak hal luar biasa terjadi di negara Ming yang kini telah berganti nama menjadi kerajaan Ruxie setelah ditakhlukkan kekaisaran Ru.


Kondisi kerajaan Ruxie semakin stabil dari hari kehari, begitu juga dengan kehidupan masyarakatnya yang semakin sejahtera seiring perekonomian negara yang tumbuh dengan pesat.


Berbagai macam perubahan ini juga berpengaruh terhadap hubungan antara ketiga anak manusia yang terlibat dalam cinta segitiga.


Setelah berdiskusi dengan keluarga pada akhirnya Jiang Xia Yan pun mulai menemui Feng Mo Tian dan kaisar Ru Xie Chang mengenai keputusan yang akan diambil sebagai langkah kedepannya.


Jiang Xia Yan tak ingin kedua lelaki yang menyayanginya tersebut terus menunggunya dan menyia – nyiakan hidupnya.


Meski keputusan Jiang Xia Yan tak bisa diterima dengan mudah, namun keduanya masih menghormati gadis tersebut dan mendukung penuh atas keputusan yang telah dia ambil.


Akibat keputusan Jiang Xia Yan yang ingin mengikuti keluarganya keluar dari ibukota membuat kaisar Ru Xie Chang pun menjatuhkan pilihan kepada Feng Mo Tian untuk di nobatkan sebagai Raja kerajaan Ruxie.


Meski pada awalnya sempat menolak, tapi setelah ketiga klan tertua dinegara tersebut mendukungnya secara penuh Feng Mo Tian pun pada akhirnya setuju untuk menjadi raja dari kerajaan Ruxie.


Berbeda dengan pemimpin negara Ming sebelumnya, meski Feng Mo Tian terkenal acuh seakan tak perduli namun setiap tindakan dan keputusan yang diambilnya cukup membuat banyak orang tercenggang.


Semua orang menganggap Feng Mo Tian lebih berbahaya daripada kaisar Ming Qin karena pemuda tersebut tak akan melepaskan mangsa yang telah menjadi targetnya, sekeras apapun mereka berusaha.


Semakin tampak acuh tak acuh sikap Feng Mo Tian maka akan semakin membuat jantung para pejabat berdetak tak beraturan.


Bukan hanya tegas, Feng Mo Tian juga tak akan segan untuk melakukan hukuman penggal jika memang para pejabat terbukti melakukan kecurangan dalam kinerjanya.


Sikap keras Raja Feng dipengadilan tersebut berbanding terbalik dengan sikap yang diambilnya untuk menertibkan masyarakat kerajaan Ruxie hingga membuat semua orang melewati setengah tahun ini dengan penuh kegembiraan.


Rakyat menganggap jika Raja Feng sangatlah murah hati kepada rakyat jelata karena beberapa peraturan yang dibuat oleh orang nomor satu di kerajaan Ruxie itu membuat  hati rakyat menjadi tenang.


Peraturan yang dibuatnya tidak berat sebelah dan lebih mengutamakan kesejahteraan rakyat daripada kemakmuran para bangsawan.


Tentu saja tindakannya tersebut membuat masyarakat semakin menghormati dan menyanjungnya karena sikapnya yang bijaksana.


Dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki serta pendukung dari ketiga klan tertua dinegara tersebut serta dukungan rakyat membuat  Feng Mo Tian berdiri kokoh menduduki posisinya.


Sementara dilain tempat, kaisar Ru Xie Chang yang sudah kembali kekaisaran Ru mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa.


Meskipun selama dia tinggal sudah ada sang ayah yang menghandle semua tugasnya didalam istana namun hal tersebut nyatanya tak bisa mewujudkan beberapa keputusan yang mutlak membutuhkan kehadirannya.


Bahkan beberapa konflik yang ada juga memerlukan campur tangannya sebagai penguasa kekaisaran Ru  karena hanya lelaki tersebutlah yang bisa mengambil kelutusan mutlak tersebut.


Disana, Jiang Xia Yan tak hanya akan berdiam diri tapi dia akan berkelana bersama sang kakak untuk mengontrol wilyah perbatasan sekaligus untuk mengasah kemampuannya.


Sedangkan untuk masalah jodoh dan percintaan semua diserahkan pada takdir yang ada. Dia tak ingin terlalu membebani diri sendiri dan membebaskan hidupnya untuk mengejar kebahagiaannya sendiri.


" Bagaimana perasaanmu ?....", tanya Jiang Chen penasaran.


" Aku belum pernah merasa sebebas ini....", ucap Jiang Xia Yan dengan kedua mata berbinar.


Jiang Chen mengacak rambut adiknya dengan rasa sayang. Dia sama sekali tak menyangka jika Jiang Xia Yan akan merasa seperti itu.


Padahal saat ini mereka sedang beristirahat di padang rumput yang gersang sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


Xiao Mei dan Jiang Shing tersenyum bahagia melihat sang putri menikmati setiap moment yang ada selama perjalanan.


Bahkan tak segan - segan gadis itu menunjukkan kekagumannya dengan kedua mata berbinar setiap melihat hal yang menarik.


Jiang Xia Yan yang dalam kehidupan sebelumnya selalu berkutat dengan berkas tentu saja sangat menikmati perjalanan yang menyajikan banyak pemandangan alam yang belum pernah dia temui sebelumnya.


Bertemu dengan beberapa orang baru bahkan para bandit selama perjalanan membuat gadis itu merasa senang karena bisa mengasah kekuatan yang dimilikinya.


Jadi bisa dianggap hal tersebut sebagai latihan gratis untuk mengasah kemampuannya dalam bertarung dan seni menggunakan pedang.


Malam harinya, sambil menikmati langit cerah penuh bintang Jiang Xia Yan merebahkan tubuhnya diatas sebuah batu hitam besar tak jauh dari tendanya sambil memikirkan semua hal yang terjadi dalam hidupnya.


Mulai dari kecelakaan yang membunuhnya hingga perpindahan jiwanya ke masa lampau dan memasuki tubuh seorang gadis untuk membantunya membalaskan dendam yang dimiliki oleh Jiang Xia Yan asli sang pemilik tubuh.


" Pada akhirnya aku berada di titik ini...."


" Aku sama sekali tak menyesal telah datang dan memasuki raga Yan'er...."


" Meski aku masih belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk orang lain setidaknya disini aku bsia mendapatkan kehangatan dari sebuah keluarga yang selama ini tak pernah kudapatkan....", guman Jiang Xia Yan bermonolog.


Jiang Xia Yan segera bangkit dari tempatnya begitu teriakan sang kakak menggema digendang telingganya meneriaki namanya agar segera bergabung untuk makan malam karena daging rusa bakar telah matang.


Sesungguhnya, kebahagiaan adalah milik kita pribadi dan hanya kita sendirilah yang bisa mengupayakannya.


Setiap orang berhak bahagia dengan caranya sendiri.


.......................................................................END...........................................................................................