Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
RISAU


Malam hari ini suasana diluar sangat sepi dan tenang. Bukan hanya suara binatang malam yang tak ada, bahkan suara jangkrik pun tak terdengar dihalaman.


Keadaan tenang seperti ini tentunya membuat orang semakin merasa waspada karena biasanya ada hal buruk tak terduga datang..


Seperti dugaan, Jiang Xia Yan bisa merasakan jika ada beberapa serangga yang berusaha menembus pelindung sihirnya berulang kali namun gagal.


Jiang Xia Yan hanya bisa mendengus pelan dan berjalan menuju kearah jendela dan membukanya lebar – lebar.


Angin musim semi yang manis dari luar tertiup masuk kedalam kamar membawa kesejukan. Bayangan pohon diluar masuk kedalam kamar yang hanya minim penerangan tersebut.


Hembusan angin dari luar jendela menerbangkan beberapa helai rambut Jiang Xia Yan dan menerpa kulit wajahnya yang seputih salju.


Tatapan Jiang Xia Yan terus mengarah keluar, dia hanya menghembuskan nafas secara perlahan waktu merasakan jika serangga penganggu tersebut perlahan mulai menghilang.


Ini sudah kesekian kalinya ada orang yang berusaha untuk menembus masuk kedalam kediamanan keluarga  pertama Jiang.


Jika bukan adanya pelindung sihir yang dibuatnya, mungkin setiap hari Jiang Xia Yan tak akan bisa tertidur nyenyak menghadapi para serangga yang berhasil menerobos masuk kediaman.


Entah itu hanya sekedar untuk mematai – matainya atau malah berniat buruk dan ingin mengambil nyawanya.


Jiang Xia Yan yang duduk didekat jendela kembali mengingat percakapannya dengan Feng Mo Tian beberapa saat tadi.


Akibat percakapan tersebut saat ini hati Jiang Xia Yan merasa sedikit gelisah. Apalagi malam ini dia juga mendapatkan fakta yang mencengangkan mengenai pangeran kedua Ming Shin dan sihir kuno terlarang.


" Kurasa, inilah keingginan terdalam Wuzia waktu menurunkan ilmunya kepadaku...."


" Untung saja segel yang ada dalam tubuhku sudah terbuka dan aku juga sudah mengalami peningkatan kultivasi sehingga mampu menyerap dengan baik berbagai ilmu asing yang kupelajari....", batin Jiang Xia Yan bermonolog.


Meski dia sudah merubah banyak alur dalam cerita ini, tapi keberadaan masa lalu Wuzia yang sama sekali tak dia sangka masuk kedalam cerita membuat Jiang Xia Yan mulai kepikiran  dan terpaksa harus mengatur ulang rencana yang telah dibuatnya.


Apalagi ada beberapa fakta mengejutkan yang dia jumpai selama perjalanan balas dendamnya ini  yang sama sekali tak ada dalam ingatan sang pemilik tubuh.


Untungnya Jiang Xia Yan sudah lebih kuat daripada sebelumnya sehingga dia bisa melindungi dirinya dan menggunakan kekuatannya untuk mencapai hasil yang dia inginkan.


Jiang Xia Yan terus saja berkutat dengan pikirannya sambil menatap jauh kedepan hingga tak terasa sang mentari mulai menampakkan wajahnya.


Bahkan kehadiran Lin seakan tak bisa menghancurkan lamunan Jiang Xia Yan yang masih berkutat dengan pemikirannya yang paling dalam.


Melihat nona mudanya duduk disamping jendela dengan posisi tegak tanpa berkedip, Lin menduga jika semalaman Jiang Xia Yan tak bisa tertidur hingga dia memilih untuk menatap keluar jendela semalaman.


“ Sebaiknya sekarang nona sarapan dan langsung beristirahat….”


“ Kebetulan hari ini pekerjaan di rumah produksi tak terlalu banyak…”


“ Kiew bisa menghandelnya sendiri….”, ucap Lin penuh perhatian.


Mendengar ucapan pelayan pribadinya, Jiang Xia Yan pun mulai bangkit dari tempat duduknya dan segera naik keatas ranjangnya.


“ Aku akan beristirahat sebentar….”


“ Jangan ada yang mengangguku….”


“ Setelah bangun, baru kamu siapkan makanan….”, ucap Jiang Xia Yan datar.


Setelah menutup jendela kamar dan mematikan lilin, Lin pun berjalan keluar kamar dan membiarkan nona mudanya untuk beristirahat sejenak.


“ Apa adik kurang enak badan ?....”


“ Cepat panggil tabib sekarang juga….”, ucap Jiang Chen cemas.


Melihat jika sang adik sesiang ini belum bangun membuat perasaan Jiang Chen sedikit khawatir, takut sang adik jatuh sakit karena kelelahan karena banyaknya pesanan yang masuk kedalam butiknya sehingga Jiang Xia Yan kurang beristirahat.


Jiang Chen sering memergoki sang adik pulang ke kediaman larut malam. Bahkan sudah hampir satu minggu lebih Jiang Xia Yan sudah tak lagi pernah makan malam dirumah bersama keluarganya karena terlalu sibuk di rumah produksi.


“ Nona tidak tidur semalaman dan pagi ini baru bisa beristirahat….”, ucap Lin sambil menunduk hormat.


Jiang Chen tak dapat menyembunyikan keterkejutannya waktu mengetahui jika semalam adiknya tak bisa tertidur.


“ Apa ada sesuatu hal berat yang menganggu pikirannya ?....”, batin Jiang Chen gelisah.


Sejak berpisah dengan keluarga besar Jiang, adiknya itu terlihat lebih ceria dan bersemangat daripada sebelumnya.


Tentu saja hal itu membuat Jiang Chen dan kedua orang tuanya merasa sangat senang dan tenang karena pada akhirnya adiknya itu bisa bahagia.


Apalagi waktu Jiang Chen melihat butik yang didirikan oleh adiknya berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu butik paling laris dan terkenal di ibukota, Jiang Xia Yan terlihat sangat bahagia.


Dan sekarang, adiknya tak bisa tertidur nyenyak, tentu saja hal tersebut membuat hati Jiang Chen merasa gelisah.


Dia takut Jiang Xia Yan menyembunyikan hal besar dan berusaha untuk terlihat baik – baik saja seperti sebelumnya pada saat dirinya masih bersama keluarga besar Jiang.


“ Kurasa aku harus berbicara dengannya ketika dia bangun nanti….”, batin Jiang Chen penuh tekad.


Diapun segera melangkahkan kakinya menuju lapangan untuk berlatih bersama pasukannya sambil menunggu Jiang Xia Yan bangun.


Jiang Xia Yan bangun dengan keringat dingin mengucur deras dalam tubuhnya. Setelah mengatur nafas dan mengumpulkan nyawanya, diapun segera berjalan menuju kamar mandi.


“ Mimpi itu terasa sangat nyata….”, guman Jiang Xia Yan sambil menutup kedua matanya.


Dia berusaha untuk merilekskan tubuhnya dalam rendaman air hangat sambil menghirup aroma terapi yang menguar melalui dupa yang dipasangnya dibeberapa sisi ruangan.


“ Kurasa aku harus mengatur pertemuan dengan kembaran pangeran kedua Ming Shin agar bisa menentukan langkah selanjutnya….”, guman Jiang Xia Yan pelan.


Tak lama kemudian burung kenari putih hinggap disamping bak mandi dan mulai mengabarkan berita yang dikirim oleh Han Shan Yang untuknya.


Mendapat kabar tersebut, Jiang Xia Yan pun bergegas menuju ke tempat dimana Han Shan Yang ingin menemuinya.


“ Baiklah….”


“ Kita bertemu besok malam ditepi danau Minguanxi….”, ucap Jiang Xia Yan datar.


Setelah mendapatkan kesepakatan, Jiang Xia Yan pun segera melesat pergi dengan menggunakan cadar bersama Yuyun menuju dimana kereta kudanya berada.


“ Cukup bagus….”


“ Mari kita pergi….”, ucap pangeran kedua Ming Shin tersenyum puas dalam hati.


pangeran kedua Ming Shin sangat berharap Ming Ming saudara kembarnya bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik setelah bertemu dengan Jing Xia Yan karena pengangkatan posisi sebagai putra mahkota sudah berada didepan mata.