
Didalam rumah tangga ketiga tampak Jiang Xialun menghancurkan beberapa baran yang ada didalam kamar setelah dia mendengar kabar jika pangeran kedua Ming Shin mengirim hadiah ke kediaman Jiang Xia Yan.
“ Kenapa ?....”
“ Kenapa harus dia ?....”
“ Bukankah selama ini akulah yang dekat dengan Yang Mulia….”, teriak Jiang Xialun penuh amarah.
Diapun kembali memecahkan beberapa barang yang bisa dia gapai untuk melampiaskan kemarahan yang saat ini berkobar didalam hatinya.
Ruo Xinxin yang mengetahui jika putrinya hilang kendali segera datang untuk menenangkannya sebelum sang suami pulang.
“ Xin’er….”
“ Tenanglah…..”, teriak Ruo Xinxin langsung memeluk tubuh putrinya agar tenang.
Jiang Xialun hanya bisa menangis sesenggukan didalam dekapan sang ibu, menumpahkan rasa kecewa dan amarah yang terus berkobar didalam hatinya.
“ Xin’er….”
“ Lihat ibu….”
“ Dinginkan kepalamu….”
“ Kita bisa berpikir dengan baik jika kepala kita dingin….”, ucap Ruo Xinxin menasehati.
Diapun menangkup wajah putrinya dengan kedua tangannya agar gadis itu menatap langsung kedua bola matanya dan menghentikan tindakan implusif yang baru saja dia lakukan.
Setelah merasa jika putrinya sudah mulai tenang, Ruo Xinxin pun segera membawanya duduk disamping ranjang dan membelai rambut panjangnya dengan lembut.
“ Jika kamu marah – marah seperti ini….”
“ Tidak akan menghasilkan apa – apa….”
“ Jadi, simpan tenagamu….”, ucap Ruo Xinxin lembut.
“ Tapi bu….”, Jiang Xialun yang hendak menginterupsi perkataan ibundanya terpaksa diam setelah wanita yang ada disampingnya itu menutup mulutnya dengan satu telunjuknya.
“ Sebagai wanita yang akan masuk kedalam istana, kamu harus bisa bersikap tenang dan bermain cantik….”, ucap Ruo Xinxin menasehati.
Mendengar perkataan sang ibu, Jiang Xialun pun mulai tersadar. Diapun mulai berpikir jika apa yang ibunya ucapkan itu adalah kebenaran.
Jika dia benar – benar menikah dengan pangeran kedua Ming Shin maka dia juga harus berlapang dada melihat suaminya membagi cintanya dengan wanita lain.
Meski ibundanya bisa mempertahankan agar hanya dirinyalah satu – satunya nyonya dalam rumah tangga ketiga tanpa adanya selir.
Tapi untuk pengeran kedua Ming Shin itu tak bisa dia wujudkan hal tersebut mengingat jika lelaki pujaan hatinya itu memerlukan dukungan besar dari beberapa pihak.
Jadi pernikahan politik pasti akan dilakukan demi kestabilan posisi yang nantinya akan dia dapatkan.
Meski cukup berat bagi Jiang Xialun untuk bisa menikah dengan pangeran kedua Ming Shin karena Jiang Yu tak setuju.
Tapi, untuk saat ini Ruo Xinxin tak mau menghancurkan harapan tersebut dan tetap memberikan putrinya semangat.
“ Sebelum perjodohan itu dilakukan maka Xin’er masih berpeluang untuk bisa mendapatkan hati pangeran kedua Ming Shin….”, batin Ruo Xinxin penuh tekad.
Bulan sabit bergantung diatas langit yang cerah, hanya ada keheningan didalam dan luar kediaman seolah semua makhluk malam enggan bersuara.
Wushhhh….
Sekelebat bayangan hitam terbang meninggalkan kediaman menuju hutan yang berada dibelakang kediaman Jiang.
Feng Mo Tian segera mengikuti gerak cepat gadisnya yang sudah hampir semalaman ini dia tunggu untuk keluar.
“ Jadi dia bisa membuka gerbang inti hutan….”, batin Feng Mo Tian tercenggang.
Melihat Jiang Xia Yan masuk kedalam celah yang terbuka, Feng Mo Tian yang hendak menyusul harus menelan kekecewaan setelah sinar tersebut menghilang seiring masuknya tubuh nona muda ketiga Jiang tersebut kedalamnya.
“ Sial !!!....”
“ Kurang sedikit lagi….”, guman Feng Mo Tian kesal.
Tak ada jalan lain bagi lelaki tersebut selain menunggu Jiang Xia Ya keluar dengan sendirinya karena dia tak bisa masuk kedalam inti hutan yang sangat misterius tersebut.
“ Pantas saja ilmunya bisa berkembang sepesat itu karena dia bisa masuk kedalam inti hutan….”, batin Feng Mo Tian bermonolog.
Hanya segelintir orang yang mengetahui apa itu inti hutan dan manfaat apa saja yang bisa mereka peroleh jika bisa masuk kedalamnya.
Sambil menunggu, Feng Mo Tian terlihat berdiskusi dengan anak buahnya didalam hutan tersebut.
Selain menyimpan banyak misteri, hutan yang berada dibelakang kediaman Jiang tersebut sering dipergunakan oleh Feng Mo Tian untuk berdiskusi dengan bawahannya karena kondisi hutan yang aman dan nyaman serta jauh dari kecurigaan dari banyak pihak jika melakukan pertemuan ditempat lain.
“ Tunggu….aku ingin bicara denganmu sebentar….”, ucap Feng Mo Tian langsung menghadang pergerakan Jiang Xia Yan.
“ Apa yang kau inginkan ?....”, tanya Jiang Xia Yan datar.
“ Katakan padaku, apa yang direncanakan oleh pangeran kedua Ming Shin hingga mentargetkanku….”, ucap Feng Mo Tian meminta penjelasan.
“ Apa maksudmu ?....”
“ Aku tak mengerti…..”, ucap Jiang Xia Yan sedikit binggung.
Feng Mo Tian menatap intens kedua mata Jiang Xia Yan berharap melihat kebohongan dan kepura – puraan disana.
Nyatanya, gadis itu memang tak mengerti mengenai arah pembicaraan yang dilontarkan oleh Feng Mo Tian kepadanya.
“ Aku sudah menyingkirkan mata – mata dalam pasukanku seperti saranmu…”
“ Selain mata – mata…..”
“ Kurasa kamu mengetahui hal yang lebih dari itu….”, ucap Feng Mo Tian dengan tatapan menyelidik.
Tiba – tiba sekelebat bayangan tentang Feng Mo Tian yang mati dimedan pertempuran kembali terlihat jelas didalam benak Jiang Xia Yan.
“ Apa ini yang ingin dia ketahui….”, batin Jiang Xia Yan sedikit ragu.
Melihat jika Jiang Xia Yan sedikit ragu untuk memberikan penjelasan kepadanya, Feng Mo Tian pun berusaha untuk menenangkannya dan menghilangkan kecemasan yang sempat terlihat diwajah cantik gadis yang ada dihadapannya itu.
“ Katakanlah….”
“ Seburuk apapun situasinya, aku bisa mengatasinya….”, ucap Feng Mo Tian menyakinkan.
Jiang Xia Yan terlihat sedikit binggung untuk sesaat, namun dia kemuadian mulai merangkai beberapa kata untuk diuatarakan kepada Feng Mo Tian agar dia mengerti.
“ Aku tak tahu apa yang terjadi….”
“ Hanya saja, jika mereka berani memasukkan mata – mata didalam pasukan keluarga Jiang bukan tidak mungkin mereka juga melakukan hal yang sama dengan pasukan keluarga Feng…”
“ Dan mengenai rencana pangeran kedua Ming Shin….”
“ Aku sama sekali tidak tahu….”
“ Hanya saja, mengingat sudah sempat ada mata – mata maka sebaiknya kamu mengubah seluruh taktik yang akan kamu gunakan dalam medan pertempuran nantinya…”
“ Dan saranku….”
“ Taktik baru itu hanya kamu dan beberapa bawahan kepercayaanmu saja yang mengetahui dimana semuanya bisa kamu realisasikan langsung dimedan pertempuran…”
“ Dan kurasa itu akan lebih efektif nantinya….”, Jiang Xia Yan terlihat memberikan beberapa nasehat untuk Feng Mo Tian.
Meski keduanya tak terlalu dekat tapi Jiang Xia Yan masih memerlukan keluarga Feng sebagai salah satu bidak catur dalam rencananya.
Feng Mo Tian terlihat berpikir keras setelah mendengar saran yang keluar dari mulut Jiang Xia Yan.
Dia memang sudah membasmi serangga yang menyusup tapi tak menutup kemungkinan masih ada serangga lain yang lolos.
Dan ucapan Jiang Xia Yan membuatnya semakin memberikan kewaspadaan lebih terhadap semua taktik perang yang akan dia gunakan.
Melihat jika Feng Mo Tian tampaknya mengerti semua hal yang dia ucapkan, Jiang Xia Yan pun hendak kembali ke kediamanannya.
“ Tunggu….”
“ Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu ?....”, ucap Feng Mo Tian cepat.
Mendengar hal itu, Jiang Xia Yan pun mehentikan langkah kakinya dan membalikkan badan “ Apa lagi yang ingin kamu tanyakan ?....”
“ Apa hubunganmu dengan kaisar Ru Xie Chang ?.....”, tanya Feng Mo Tian dengan nada cemburu.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Feng Mo Tian, Jiang Xia Yan yang merasa jika keduanya tak terlalu dekat hingga harus berbagi privasi tak menjawab dan malah menasehatinya.
“ Sebaiknya kamu urusi saja pasukanmu dan jangan memikirkan hal yang tidak penting…..”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
Sebelum pergi, Jiang Xia Yan kembali memberi pesan singkat kepada Feng Mo Tian “ Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan pelindung dadamu selama berada dimedan pertempuran….”.
Mendengar ucapan Jiang Xia Yan, ujung sudut bibir Feng Mo Tian sedikit terangkat dan hatinya menghangat.
“ Aku tak menyangka jika dia cukup perhatian kepadaku….”, guman Feng Mo Tian bahagia.
Untuk sementara, Feng Mo Tian sedikit melupakan masalah kaisar Ru Xie Chang dan menepis rasa cemburu yang mendera dalam hatinya.
Saat ini dia akan fokus pada peperangan yang akan dihadapinya kedepan dan memastikan dia pulang dengan membawa kemenangan.