Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Nasib Tragis Nenek dan Cucunya


Malam itu Bi Inah sudah menunggu pria bertopeng itu di tempat mereka biasanya bertemu.


Sedangkan Sari, Arya, dan Nathali memantau dari dalam rumah melalui kamera yang sudah di pasang dengan tersembunyi di sekitar area tempat pertemuan itu. Serta beberapa anak buah Nathali sudah tersebar di sekitar area agar bisa langsung menangkap pria bertopeng itu begitu dia datang.


Sudah sekitar sepuluh menit mereka menunggu hingga membuat Sari tampak cemas dan gusar.


”Bagaimana kalau pria itu tidak datang.” tanya Sari dengan ekspresi cemas yang tidak bisa dia sembunyikan.


”Dia pasti datang, kalaupun bukan dirinya yang langsung datang setidaknya dia pasti menyuruh orang lain menggantikannya. Kita masih bisa mencari tahu dari orang itu. Kamu jangan cemas, bagaimanapun caranya kita pasti yang akan menang dalam pertarungan ini.”


Arya menenangkan dan meyakinkan Sari bahwa mereka pasti bisa menang dalam pertarungan ini.


”Walaupun saya tidak menyukai pak Arya, tapi untuk kali ini saya setuju dengannya. Saya juga akan memastikan kemenangan untuk nona. Bagaimanapun caranya.” ucap Nathali.


Mendengar hal itu membuat Sari cukup tenang, dia bersyukur ada dua orang yang ada di pihaknya. Dia hanya berharap, mereka berdua akan selalu setia padanya. Karena Sari tidak akan tahu akan menjadi apa dirinya jika harus di khianati kembali oleh orang kepercayaannya.


Tiga puluh menit kemudian seseorang datang dengan menggunakan pakaian serba hitam, topi hitam dan juga topeng.


Sari merasa aneh karena postur orang itu tidak sama dengan postur orang yang tertangkap kamera CCTV tempo hari.


”Dia bukan orang bertopeng itu.” ucap Sari.


”Benar, posturnya seperti seorang wanita. Kemungkinan pria itu juga mencurigai Bi Inah, bisa jadi dia ada di sekitar area ini juga.” tambah Arya.


”Aku akan memerintahkan sebagian anak buahku untuk mencari pria itu di sekitar area.” ucap Nathali.


”Suruh hati hati jangan sampai pergerakan mereka ketahuan dan pria itu malah kabur.” Arya memberi peringatan kepada Nathali.


”Anda tenang saja, mereka mantan prajurit di medan perang. Kamuflase adalah salah satu keahlian mereka.” ucap Nathali.


”Baguslah.”


Nathali langsung mengomandoi menggunakan earpiece kepada anak buahnya agar sebagian mencari keberadaan pria yang tampak mencurigakan di sekitar area itu sedangkan sebagian lagi tetap di tempat dan bersiap menangkap orang bertopeng itu.


Orang yang memakai topeng itu berjalan mendekati Bi Inah lalu menyerahkan amplop coklat yang tebal.


Bi Inah langsung saja memegang erat tangan orang itu.


”Kau siapa? dimana pria itu? kenapa kau yang datang.”


Orang itu tetap diam saja dan mencoba melepaskan tangan Bi Inah yang mencengkram keras lengannya.


Karena merasakan sakit, orang itu tanpa sadar malah emosi dan membentak Bi Inah.


”Lepaskan wanita tua.” teriaknya.


Bi Inah terkejut mendengar suara itu. Ternyata orang itu adalah wanita,.


”Kau wanita? siapa kau?” tanya Bi Inah.


Orang itu makin panik karena menyadari bahwa dirinya sudah kelepasan bicara. Saat ini yang harus dia lakukan adalah kabur.


Setelah berhasil melepaskan cengkraman tangan Bi Inah, dia langsung mencoba kabur namun siapa sangka dari kejauhan ada sebuah peluru yang mengarah ke arah orang itu.


Doorrr


Seketika orang itu ambruk ketika peluru itu tepat mengenai perutnya. Orang itu masih bernafas dengan bersimbah darah di perutnya.


Melihat hal itu Bi Inah langsung terkejut dan refleks mendekati orang itu, begitupula Sari Arya dan Nathali yang bergegas berlari ke area itu.


Dengan cepat Nathali mengkonfirmasi bahwa itu bukan tembakan dari pihaknya. Sepertinya pria itu yang menembak orang bertopeng itu karena orang itu sudah ketahuan palsu.


Nathali menyuruh anak buahnya mencari pelaku yang kabur itu karena dia yakin pelaku itu belum jauh dari area itu. Serta sebagian lagi mencari bukti apapun yang ada di area itu.


Setelah Sari, Arya dan Nathali sampai di area itu. Mereka melihat Bi Inah tampak sudah mendekati orang yang sedang sekarat itu.


Dengan segera Sari menyuruh Bi Inah untuk menghentikan langkahnya.


”Bi stop, biar Nathali yang mengecek keadaan orang itu.”


Mendengar perintah Sari, seketika itu pula Bi Inah menghentikan langkah kakinya. Sebenarnya dia sangat penasaran siapa wanita itu, tapi dia sendiri juga tidak ingin membantah keinginan Sari.


”Nat, cek keadaan orang itu. Jangan lupa pakai sarung tangan agar sidik jarimu tidak tertinggal.” perintah Sari.


Nathali menganggukan kepala lalu mendekati orang itu, dia membuka topeng orang itu dan tampak wajah Nita yang sedang merintih kesakitan karena sudah sekarat.


Melihat orang itu adalah Nita cucunya yang ingin sekali dia temui, membuat Bi Inah mendekat dan menangis meraung raung.


”Tii daaaakkk, Nita cucuku.” teriak Bi Inah sambil memegang perut Nita yang bersimbah darah.


Nita yang sedang sekarat hanya bisa menatap getir Bi Inah, dia tidak bisa mengatakan sepatah katapun meski dirinya bingung kenapa Bi Inah memanggilnya cucu.


”Tidak, cucuku.. Kenapa kau jadi seperti ini?”


Tangis Bi Inah tidak berhenti, dia tidak menyangka Nita ada hubungannya dengan penjahat. Bahkan Nita harus mengalami hal memilukan seperti ini karena perbuatannya sendiri.


Padahal Bi Inah belum sempat memberikan kasih sayang pada cucunya itu, dia sangat menyesal. Seandainya saja ketika dia mengetahui identitas cucunya, dirinya langsung menemuinya dan bukannya berusaha membalas dendam pada orang yang bahkan tak bersalah. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


Bi Inah yakin, mungkin saja Nita sama seperti dirinya. Berbuat jahat kepada keluarga Jayadiningrat karena menganggap mereka sebagai penyebab dari meninggalnya Guntur.


Padahal yang sebenarnya lebih daripada itu, sifat Nita memang keturunan dari ibunya. Sifat Iri terhadap Sari yang lebih besar dibandingkan dendam kematian ayahnya.


Bi Inah terus meraung menangis sambil memangku Nita yang sudah mulai mendekati ajalnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun Nita langsung mati dengan keadaan bersimbah darah dan mata yang terbuka serta Nita harus mati tanpa mengetahui bahwa Bi Inah adalah nenek kandungnya.


Sari sungguh shock melihat kejadian yang ada di depan matanya, dia tidak menyangka Nita harus mati seperti itu.


Meski Sari berharap Nita mati mengenaskan namun saat melihat itu terjadi perasaannya tidak begitu senang.


Mungkin karena Sari berharap Nita mati ditangannya sehingga perasaannya saat ini menjadi tidak karuan.


Mengetahui cucunya mati mengenaskan membuat Bi Inah tidak mempunyai gairah hidup lagi.


Bi inah yang melihat pistol di saku celana Nathali, langsung saja merebut pistol itu.


Sari, Arya dan Nathali menjadi panik. Mereka berpikir Bi Inah akan nekat menembak Sari karena menganggap cucunya mati karena Sari.


Arya langsung memasang badan dan membuat Sari bersembunyi di belakang tubuhnya.


”Bi, tolong letakkan pistol itu.” bujuk Arya.


Bi Inah hanya menggelengkan kepalanya sembari terus menangis. Dia juga memegang pistol itu dengan erat dengan kedua tangannya.


Nathali mencoba mendekati Bi Inah diam diam untuk merebut pistol itu, namun Bi Inah menyadarinya dan langsung berteriak.


”Kalian semua diam di tempat, jangan ada yang mendekat.”


...****************...