
Teguh bergegas mengendarai mobilnya menuju tempat dimana jasad Nathali beristirahat, sepanjang perjalanan dia tidak memikirkan apapun kecuali cepat sampai di tujuan.
Setelah melaju selama beberapa jam akhirnya Teguh sampai di tempat pemakaman itu, Beruntung meski dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi tidak ada hambatan yang berarti. Tentu itu semua karena anak buah Arya yang sudah mengatur agar jalan yang dilewati Teguh bebas dari kendaraan lain.
Hari sudah senja ketika Teguh sampai di kaki bukit dimana tempat Nathali di makamkan ada diatas bukit.
Meski sebentar lagi akan gelap namun Teguh sudah bertekad untuk naik ke bukit dan secepatnya menemui Nathali.
Tempat itu tidak sepenuhnya gelap gulita karena makam Nathali memang dirawat baik oleh orang suruhan Sari yang tinggal di vila bawah bukit, tentu vila itu sengaja di bangun Sari setelah memakamkan Nathali.
Jalan setapak menuju makam Nathali sudah di aspal dengan baik meski hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki, lalu di sepanjang jalannya sudah ditanami bunga yang indah begitu pula lampu taman yang terang.
Sari sengaja membuat makam Nathali itu indah dan nyaman dikunjungi olehnya kapanpun dia merindukan sosoknya.
Meski melihat pemandangan indah namun Teguh tidak merasakan takjub seperti orang kebanyakan, tentu saja karena dia sedang di puncak rasa frustasi dan sedih akan kehilangan.
Teguh menapaki jalan itu selangkah demi selangkah dengan perasaan yang campur aduk, bahkan airmatanya sudah terasa mengering seolah habis tak tersisa.
Lima menit perjalanan itu terasa setahun dilalui oleh Teguh, meski jalanannya mulus namun setiap langkah kakinya seperti ditusuk duri tajam hingga menancap ke kakinya. Rasanya sangat perih dan menyakitkan.
Ketika makam Nathali sudah terlihat oleh matanya, dia langsung berlari dan memeluk gundukan tanah itu, air mata yang terasa kering bahkan saat ini terasa seperti lautan. Dia menangis sambil memeluk gundukan tanah itu.
Entah berapa lama dia menangis dengan posisi itu hingga akhirnya dia mulai bisa mengontrol dirinya sendiri, dia duduk sambil memeluk nisan dengan nama Nathali.
” Apa ini arti dari ucapanmu itu? ”
Teguh ingat ketika terakhir kali bertemu Nathali, dia berpamitan dan mengatakan akan pergi jauh dan meninggalkannya selamanya.
” Apa segitu tidak inginnya kau disisiku? ”
” Aku tidak masalah jika tidak memilikimu seperti keinginanmu, tapi ku mohon jangan membuatku tidak bisa melihatmu.”
Teguh mulai menangis kembali begitu tersadar bahwa dirinya tidak akan melihat Nathali lagi selamanya.
Dia bahkan sudah tidak sanggup lagi berkata kata hingga dia tertidur dengan posisi duduk sambil memeluk gundukan tanah makam Nathali.
Teguh yang tertidur itu tiba tiba memimpikan Nathali, dia datang mengenakan gaun putih yang sangat cantik sambil mengelus kepalanya yang sedang tertidur di gundukan tanah.
Di mimpi itu Teguh terbangun karena sentuhan lembut itu, kemudian dia melihat Nathali dan langsung memeluknya. Dia pun mengatakan sangat merindukan Nathali.
Nathali membalas pelukan Teguh itu, lalu tak lama kemudian mereka duduk bersebelahan sambil menatap laut dari atas bukit itu.
” Apa kamu ingat pertama kali kita bertemu di bawah pohon maple, saat itu sedang musim gugur sehingga daunnya banyak berjatuhan.” ucap Nathali.
” Ya aku ingat. ”
” Maka dari itu disini ditanami banyak pohon maple, lihat ini ”
Nathali memberikan sebuah daun maple yang jatuh tepat dihadapannya kepada Teguh. Namun Teguh hanya diam sambil memegang daun itu.
”Daun maple juga berarti kesetiaan.” ucap Nathali.
Melihat Teguh yang hanya diam, kemudian membuat Nathali memegang kedua tangan Teguh dengan erat.
” Maksudku adalah aku akan setia menunggumu disini, datanglah perlahan setelah kau menjalani hidupmu dengan baik. ”
Teguh menatap mata Nathali sambil bertanya,
” Iya, kalau kau melawan takdir dan menjalani hidupmu dengan berantakan maka kita tidak akan bertemu selamanya baik di kehidupan ini dan selanjutnya. ”
Teguh mengangguk dan bertekad bahwa dia akan menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi agar bisa bertemu Nathali lagi dan bersama dengannya.
”Aku akan hidup dengan baik, kamu bersenang senanglah sambil menungguku. Aku akan sering mengunjungimu kemari. ”
”Datanglah setahun sekali saja, tidak perlu sering sering. Dan satu lagi, kalau datang kemari bawakan aku bunga. Kenapa kau hanya datang dengan tangan kosong.” ucap Nathali sambil tersenyum.
Teguh mengangguk dan berjanji akan membawakan Nathali bunga yang indah setiap tahunnya.
Nathali tersenyum lalu dia mencium kening Teguh, setelah itu dia menghilang. Bersama dengan menghilangnya Nathali maka Teguh pun bangun dari tidurnya.
Ketika bangun, dia terkejut karena berada diatas ranjang yang empuk dan hangat dan disebuah kamar yang tidak dia kenal.
Dia keluar dari kamar itu dan menemukan seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk bersama dua lelaki muda.
”Kalian siapa? ”
Mendengar suara Teguh, mereka bertiga langsung menengok dan lelaki paruh baya itu mengajak Teguh ikut duduk lalu membuatkan segelas kopi hangat untuknya.
Selama kopi dibuat salah satu pria muda itu menjelaskan bahwa mereka berdua anak buah Arya yang ditugaskan mengikuti Teguh karena bosnya dan kekasihnya sangat mengkhawatirkan Teguh.
Lalu pria tua itu mengenalkan dirinya sendiri sambil membawakan segelas kopi yang baru saja selesai dia buat.
Dia mengatakan bahwa namanya mang ujang, dan dia ditugaskan mengurus vila dan makam Nathali oleh Sari.
Anak buah Arya bercerita bahwa mereka yang memindahkan Teguh karena dia tertidur diatas makam.
Mereka melaporkan hal itu pada bosnya dan bosnya menyuruh mereka memindahkan Teguh ke vila agar lebih nyaman.
Setelah mendengar penjelasan itu Teguh menjadi mengerti bahwa banyak orang yang mengkhawatirkan dirinya.
Dia sendiri jadi merasa malu karena kehilangan akal sehatnya setelah mendengar kabar yang menyayat hatinya.
Sejujurnya dia sendiri mungkin juga tidak akan sadar atas tindakannya itu jika tadi tidak bermimpi bertemu Nathali.
Berkat itu pula dia jadi bisa hidup kembali dan berjanji akan menjalani hidup dengan baik.
Setelah mengobrol dengan anak buah Arya dan juga mang ujang, Teguh meminta mereka semua istirahat karena dia pun akan istirahat setelah menghirup udara di luar sebentar.
Teguh duduk di bangku panjang yang ada di teras vila sambil menatap bintang di langit, dan tiba tiba saja handphone di sakunya berdering.
Ketika dia mengeluarkan handphone dari saku celananya, ada sebuah daun maple yang jatuh dari kantongnya.
Dia memungutnya dan tersenyum, dia teringat bahwa daun ini pemberian dari Nathali di mimpinya.
Dia menjadi semakin yakin untuk memenuhi permintaan Nathali yang memintanya hidup lebih baik agar bisa bertemu lagi.
Seperti Nathali yang setia menunggunya, diapun akan setia menjalani hidup sambil mengenang Nathali.
Teguh menyimpan daun itu di balik case handponenya yang berwarna bening itu, sehingga dia akan selalu melihat daun itu setiap membalikkan handponenya.
...****************...