
Pagi ini Arya bersiap siap untuk pergi ke kantor Daniel. Ia juga sudah membawa berkas yang dibutuhkan untuk balik nama serta surat waris dari mendiang mamanya sebagai pengust bukti untuk mengambil alih kembali aset atas nama mendiang mamanya.
”Lo yakin gamau gue temenin ketemu papi?” tanya Leon sambil berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya tepat di pintu kamar Arya yang terbuka.
”Gak usah, lo kan ada kelas. Lo kuliah aja yang bener, sekarang lo tanggung jawab gue jadi lo jangan bolos mulu.” ucap Arya sambil memakai jas sambil bercermin di depan kaca lemari.
”Siap bos. Ngomong ngomong lo udah ditelpon sama cewe lo?”
”Kenapa sih kepo banget.”
”Hahaha, kayaknya dia udah mulai lupain lo. Ya kalau gue jadi dia juga gue bakalan nyari bule disana.” ledek Leon.
”Bule mah kalah ganteng sama gue, jadi gue gak khawatir sama sekali.” Arya menjawab dengan percaya diri walaupun dalam hati kecilnya juga merasa sedikit cemas kalau Dari akan terpikat bule.
”Muka lo berkata sebaiknya tuh hahaha.”
”Sialan, sana lo pergi ke kampus aja. Ngerusak mood gue aja pagi pagi.” Arya menjawab dengan ketus lalu berjalan menuju pintu keluar.
”Lo gak sarapan dulu? lagian jam segini papi pasti belum ada di kantornya.” ucap Leon
”Gue mau ke CH group dulu baru ntar ke kantor papi.”
”Ngapain ke CH group?” Leon bertanya sebab ia memang belum mengetahui bahwa CH group sementara ini dikelola oleh Arya sebagai pengganti Sari hingga ia menyelesaikan pendidikannya.
”Udah ah gue jalan ntar kesiangan. Lo harus ngampus ya? awas kalo bolos lagi apalagi sampe di DO.” omel Arya lalu ia keluar rumah dan pergi dengan menyetir sendiri mobilnya.
”Kak Steven bener bener bawel, tapi gue suka karena sekarang dia gak cuek. Udah dari kecil gue menantikan punya kakak yang sesungguhnya seperti ini, selama ini dia sibuk menyendiri dan menganggap semua orang tidak ada. Gue bersyukur walaupun gue juga merasa bersalah atas kelakuan mami. Apa yang sebaiknya gue lakuin biar mami sadar dan bisa minta maaf dengan tulus pada kak Stevan ya?” gumam Leon.
...****************...
Arya sampai di kantor pusat CH group, ia masuk ruangan CEO dan memeriksa semua laporan terkait perusahaan, ia juga mengecek dan menandatangani dokumen yang mendesak. Tidak lupa juga ia mengabarkan pada sektetarisnya agar jadwalnya hari ini dikosongkan dan diganti ke hari lain karena hari ini ia punya keperluan lain dan kemungkinan tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini.
Setelah menyelesaikan semua urusan yang penting, Arya berniat untuk menemui Daniel sekarang juga ke kantornya. Namun baru beberapa langkah berjalan ternyata HPnya berdering, ia mengambil HP yang ada di saku jasnya dan memeriksa siapa yang menelponnya.
Melihat nama Sayangku yang ada di layar ponselnya membuat Arya tersenyum lebar. Ia sudah menantikan panggilan telpon dari kekasihnya itu.
Arya bergegas mengangkat video call dari kekasihnya itu.
[Hai sayang]
Arya tampak memasang wajah cemberut, ia sengaja berakting supaya Sari tahu bahwa ia sedikit kesal karena tidak juga dikabari, namun melihat Arya yang memanyunkan bibirnya justru malh membuat Sari menahan tawanya karena tingkah Arya begitu menggemaskan untuknya.
”Kenapa ketawa.”
[Kamu gemesin, sayang aja jauh kalau deket udah aku cubit itu bibir yang manyun begitu hihihi.]
”Masa di cubit, bukannya di cium.”
[Gak mau ah, abis cemberut terus jadi gak dikasih ciuman.]
”Ih masa gitu sih.”
[Aku bercanda sayang, udah ah jangan cemberut terus nanti gantengnya ilang loh.]
”Lagian tega banget baru ngehubungin sekarang.”
[Maafin aku ya, pas sampe aku langsung urus pendaftaran ulang kuliah aku terus ini baru sempet beberes jadi baru nemuin HP yang keselip entah di dalam koper.]
”Aku pikir kamu udah tergoda dengan bule.”
[Hahaha kamu gemesin banget sih, kamu tenang aja ya? gak ada pria lain yang aku cintai selain kamu. Lagian orang yang pertama aku telpon itu kamu loh ini, bahkan aku belum nelpon orangtuaku.]
”Benarkah? Ya ampun, aku jadi merasa bersalah udah menyambut telpon kamu dengan cemberut tadi.”
[Gapapa, kamu tetap menggemaskan walaupun cemberut.]
”Kalau kamu selalu cantik.”
”Aku serius.”
[Kamu tuh bikin aku malu deh.]
”Kamu malupun tetap cantik.”
[Udah ya cukup, kalau dipuji terus nanti aku terbang.]
”Walau kamu terbang aku pasti bisa menangkapmu kembali, jadi tenang aja.”
[Kamu ini ya emang gak ada lawan.]
”Hehehe, aku seneng bisa liat wajah kamu lagi walaupun cuma lewat video call. Gimana tempat tinggal kamu nyaman gak disana?”
[Iya sangat nyaman, kamu jangan khawatir ya? aku akan belajar dengan giat dan lulus secepat mungkin.]
”Iya, aku akan selalu menunggumu.”
[Kalau gitu aku mau menghubungi orangtuaku dulu ya? kalau ada apa apa jangan ragu telpon aku ya?]
”Iya sayang, kamu tenang aja. Aku akan menjaga milikmu disini dan akan membereskan masalah apapun yang muncul. Jadi kamu belajar aja dengan giat ya?”
[Iya, makasih ya? aku sungguh beruntung bertemu denganmu bahkan memilikimu.]
”Aku yang lebih beruntung.”
[Yaudah bye sayang muuuaacchh]
Mereka saling menempelkan bibir mereka di HP lalu kemudian mematikannya.
Aku sungguh selalu merindukan Sari, namun aku harus bertahan. Banyak yang harus aku lakukan untuk melindunginya. Lebih baik sekarang aku berangkat ke kantornya.
Setelah selesai menelpon, Arya berjalan keluar dari kantornya dan menuju mobilnya yang sudah terparkir di tersebut kantor karena sudah di persiapkan sebelumnya oleh satpam yang ia hubungi saat hendak menuju lantai dasar.
Arya menaiki mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju kantor pengacara Daniel.
Sebenarnya ia ragu apakah beliau akan memberikan haknya yang awalnya tidak ia perdulikan sama sekali. Namun Arya sudah mempersiapkan hati untuk melawan papanya itu meski harus menempuh jalur hukum.
Disepanjang jalan yang ada di pikiran Arya hanya bagaimana agar ia bisa tenang saat melihat papanya itu. Walau ia adalah ayah kandungnya tetapi ia juga orang pertama yang sangat tidak ingin ia lihat wajahnya.
Selama ini ia sudah berusaha keras untuk menghindarinya, namun hari ini ia harus menemuinya demi mendiang mamanya dan juga demi meringankan hati adik tirinya.
Setelah menempuh waktu 15menit akhirnya ia sampai di parkiran kantor Daniel. Ia memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kantor menuju meja resepsionis.
”Saya mau bertemu Bapak Daniel Prayoga.” ucap Arya pada seorang resepsionis yang berdandan rapi dan cantik.
”Maaf dengan bapak siapa? apa sudah membuat janji sebelumnya?”
”Saya belum buat janji, tapi coba saja tanyakan bahwa Arya ingin bertemu dengannya.”
”Baiklah, mohon ditunggu sebentar ya pak. Saya akan menghubungi beliau dahulu.”
Arya menunggu resepsionis itu menelpon untuk bertanya apakah dirinya akan diijinkan masuk atau di suruh membuat janji terlebih dahulu.
”Baik Pak, silahkan bapak naik lift ke lantai paling atas di lantai 10. Ruangan beliau ada dilantai itu.” ucap resepsionis itu sambil menunjuk ke arah lift dengan kelima jarinya.
”Baik, makasih.”
Arya menaiki lif menuju lantai 10. Dilantai itu hanya ada 1 ruangan besar dengan pintu dua yang besar juga. Ia mengetuk pintu itu dan kemudian membukanya.
”Selamat siang, saya ingin bicara hal penting dengan anda.”
...****************...