Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Saling menerima


Keesokan harinya Ilyas mengajak Istrinya pergi kerumah Tania, dia juga berencana mengajak Teguh ikut karena ingin membicarakan masalah pernikahan yang kemarin batal.


Sejujurnya Rita enggan ke rumah calon besannya itu karena dia masih kesal setelah dipermalukan seperti kemarin. Padahal mereka mengundang banyak kolega dan pengusaha penting, belum lagi Rita mengundang teman teman arisan sosialitanya. Dengan kejadian kemarin pastilah mereka semua bergosip yang tidak tidak, Rita bahkan sampai mematikan HP karena enggan mendapat telepon dari teman temannya itu.


Ilyas pun merasa malu pada rekan bisnisnya namun dia lebih memikirkan perasaan putranya, dia tidak tahu masalah apa yang terjadi. Apalagi Teguh tidak keluar dari kamarnya seharian.


”Mah, ayo kita ke rumah calon besan kita. Kita harus mencari tahu masalah yang terjadi.” ucap Ilyas kepada istrinya.


”Mereka udah membuat malu kita pah, biarkan saja pernikahan ini batal.”


”Mah, jangan begitu. Kasian anak kita mah, bagaimana kalau dia depresi. Dia bahkan mengurung diri terus di kamarnya. Apa mamah gak kasian sama anak kita? kalau masalah malu, papah juga sama malunya. Apalagi banyak juga rekan bisnis papah yang datang. Tapi kita gak boleh egois mah, kita harus pikirin perasaan Teguh.”


Rita terdiam, apa yang diucapkan suaminya memang benar. Yang terpenting saat ini adalah perasaan Teguh bukan reputasi mereka. Akhirnya Rita setuju dengan usulan suaminya itu.


Mereka mengajak Teguh menemui Tania dan keluarganya namun dia hanya diam. Ilyas dan Rita merasa putranya itu mungkin terlalu shock sampai sampai tidak bereaksi apapun.


Awalnya Teguh menolak pergi ke rumah Tania karena dia merasa mungkin Tania butuh waktu dulu dan lebih baik menunggu sampai dia tenang, namun Rita meyakinkan putranya itu bahwa masalah tidak akan selesai jika dibiarkan begitu saja.


Teguh berfikir mungkin yang diucapkan ayahnya memang benar, padahal dia sendiri tidak begitu memikirkan tentang pernikahan ini namun di satu sisi dia juga khawatir kalau kalau ada sesuatu yang terjadi pada Tania.


Mungkin aku terlalu tidak peka kalau Tania punya masalah, aku jadi merasa bersalah padanya. Entah mengapa aku tidak bisa fokus pada orang orang di sekitarku.


Akhirnya mereka bertiga pergi ke rumah Tania. Sari tidak ikut karena dia ada meeting penting, namun Sari berjanji akan pulang cepat hari ini karena dia pun merasa tidak akan bisa fokus bekerja karena memikirkan kakaknya.


...----------------...


Setelah sampai di rumah Tania, mereka bertiga disambut oleh Melissa dan suaminya Tian. Mereka bertiga dipersilahkan duduk kemudian disuguhi teh dan juga beberapa cemilan, namun tidak ada satupun yang meminum. Tian sebagai kepala keluarga membuka obrolan dengan meminta maaf.


”Saya meminta maaf atas peristiwa yang terjadi kemarin, sejujurnya hingga detik ini kami tidak tahu apa yang terjadi karena putri kami belum mau mengatakan apapun.” ucap Tian.


”Apa kami boleh bertemu dengan Tania?”


Ilyas bertenya tanpa menjawab permintaan maaf tersebut. Baginya mengetahui masalah intinya adalah yang terbaik.


”Saya akan coba panggilkan Tania.”


Melisa langsung menuju kamar Tania dan mengetuk pintu. Dia mencoba membuat Tania keluar dari kamar dan mengobrol bersama tentang masalah yang sedang di hadapi.


Beruntung Tania mau keluar meski wajahnya terlihat pucat dan matanya sedikit bengkak karena menangis. Mereka berdua akhirnya pergi ke ruang tamu.


Rita yang melihat Tania keluar benar benar merasa kesal, dia ingin sekali melabrak Tania namun dia enggan melakukannya karena menghargai perasaan putranya itu.


Rasanya ingin ku jambak rambutnya, bisa bisanya dia mencampakkan putraku. Membuat malu keluargaku, lihat saja jika alasannya tidak masuk akal maka aku tidak akan pernah memaafkannya.


Tania duduk di antara kedua orangtuanya, dia terus menunduk karena bingung harus memulai pembicaraan darimana. Namun dia sudah bertekad akan membicarakan ini secara baik baik maka dengan berani dia memulai dengan permintaan maaf.


Tania bersujud dengan kedua lututnya menyentuh lantai, kedua tangannya dibiarkan menggantung. Melisa dan Tian langsung memegang kedua bahu putrinya dan berusaha mengangkat tubuh putrinya agar kembali duduk di sofa namun putrinya itu enggan, jadikan mereka bertiga dalam posisi berlutut.


Ilyas dan Teguh langsung memegang bahu mereka dan meminta mereka kembali duduk, sedangkan Rita hanya mentap tajam mereka. Sejujurnya berlutut saja masih belum cukup untuk Rita maka dari itu dia hanya membiarkannya.


”Om, Tante, Tania tolong kalian duduk lagi. Kita bisa bicarakan masalah ini dengan duduk. Kalian tidak perlu berlutut.” ucap Teguh.


”Benar, tolong kalian duduk kembali.” tambah Ilyas.


Akhirnya mereka bertiga bersedia kembali duduk setelah beberapa kali di bujuk oleh Teguh.


”Mungkin kalian tidak percaya, namun sejujurnya saya membatalkan pernikahan agar kita semua bahagia.” ucap Tania.


”Bahagia dengkulmu, kau pikir reputasi kami yang hancur membuat kami bahagia.” bentak Rita.


”Bu, tolong anda jangan bicara kasar pada putri saya ya. Dengarkan saja dulu ucapan putri saya.”


Melisa ikut tersulut emosi mendengar putrinya itu di bentak Rita. Ilyas dan Tian masing masing meminta istri mereka untuk Tenang. Biarkan anak anak yang bicara.


”Maafkan saya tante karena sudah membuat reputasi kalian buruk. Teguh adalah pria yang sempurna, dia tampan baik dan juga pengertian. Namun entah mengapa saya selalu kesepian meski Teguh ada di sisi saya. Saat itulah saya sadar bahwa Teguh tidak mencintai saya. Saya ingin menikah dengan pria yang mencintai saya. Saya tidak ingin pernikahan ini menyakiti kita berdua.” jelas Tania.


Mendengar hal itu Teguh terkejut, ternyata Tania menyadari bahwa dirinya tidak mencintai Tania. Meski dia sudah berbuat segala hal namun Tania masih merasakan bahwa dirinya tidak dicintai.


Tania meneteskan air mata, hal itu membuat Melisa memeluk putrinya itu sedangkan Rita masih terkejut. Dia tidak percaya apa yang dikatakan Tania, namun saat dia menatap putranya sendiri, dia sadar bahwa perkataan Tania mungkin benar melihat reaksi Teguh yang diam dan tidak menyangkal.


Teguh berlutut di kaki Tania yang sedang menangis di pelukan ibunya itu, dia meminta maaf karena sudah membuat Tania kesepian.


”Maafkan aku karena membuatmu merasa kesepian, kau benar. Aku berharap kau akan mendapatkan pria yang mencintaimu. Maafkan saya juga om dan tante karena sudah menyakiti hati putri anda.”


Tian mengangkat bahu Teguh kemudian memeluknya sambil menepuk pelan bahunya itu.


”Tidak apa apa nak, cinta memang tidak bisa dipaksakan.”


Setelah memeluk Teguh, kemudian Tian memeluk istri dan anaknya. Rita Ilyas dan Teguh hanya merasa bersalah sampai mereka bertiga selesai berpelukan.


Rita merasa bersalah, dia berjalan kearah Tania kemudian memeluknya dengan hangat.


”Maafkan tante ya sayang, maafkan putra tante juga. Kamu benar benar anak yang baik. Tante sungguh merasa bersalah sudah menuduhmu. Tante harap kamu selalu bahagia selamanya.”


Tania hanya menangis di pelukan Rita, setelah memeluk Tania, tak lupa Rita memegang kedua tangan Melisa. Dia menangis dan meminta maaf pada mantan calon besannya itu.


”Saya minta maaf karena putra saya sudah membuat keluarga kalian menangis. Saya juga minta maaf sudah berkata kasar.”


Melisa memeluk Rita dan mengucapkan bahwa tidak apa apa, kita semua tidak bisa melawan takdir. Jalani saja semua yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk kita.


...****************...