Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Bersamamu


Dilain sisi Arya memarkirkan motornya di parkiran yang berada di bawah bukit yang tidak begitu tinggi.


”Kenapa berhenti disini? jangan bilang..” Sari yang turun dari motor Arya mencoba menebak alasan mereka datang kesitu, ia berpikir apa mungkin Arya mengajaknya naik ke bukit itu? Namun sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Arya langsung membenarkan tebakannya itu.


”Iya benar, kita akan naik keatas bukit ini. Aku mau menunjukan sesuatu ke kamu.”


Arya begitu bersemangat bahkan ia juga sudah membawa persiapannya sehingga membuat Sari yang sebenarnya enggan menjadi tidak tega untuk menolak. Ia terpaksa ikut menaiki bukit itu walaupun ia sebenarnya sedikit malas.


Baru setengah jalan, Sari sudah merasa kelelahan belakangan ini ia memang sudah jarang berolahraga karena sibuk.


Hah, aku harus mulai olahraga lagi. Masa baru naik segini aja udah capek banget.


Melihat Sari yang kelelahan kemudian ia mengambil air mineral yang sudah ia siapkan sebelumnya di dalam tas ransel yang ia bawa.


”Sini duduk dulu, diminum dulu, kamu capek banget ya?” ucap Arya memberikan air mineral di botol sambil mengelap keringat di wajah Sari menggunakan handuk kecil yang sudah ia bawa.


Sari hanya mengangguk lalu dudu di batang pohon yang tumbang sambil meminum air itu.


Setelah beberapa menit beristirahat tiba tiba Arya berdiri dan meletakkan tas ranselnya di depan tubuhnya lalu ia berjongkok di hadapan Sari sambil memunggunginya.


”Naik ke punggungku, aku akan menggendongmu.” ucap Arya.


Sari ragu karena ia takut Arya akan merasa berat dan kelelahan karena menggendongnya.


”Aku berat, nanti kamu lelah.”


”Udah naik aja.”


Akhirnya Sari bersedia digendong Arya karena ia sendiripun sudah merasa tidak sanggup berjalan lagi. Setelah Sari naik ke punggung Arya kemudian ia menggendong Sari dan melanjutkan perjalanan.


Tidak seperti yang dikhawatirkan Sari, saat ini Arya tidak merasa keberatan ataupun kelelahan. Ia malah berjalan dengan santai sambil tersenyum.


”Kamu gak cape?” Tanya Sari yang sedang berada di gendongan Arya sambil melingkarkan tangannya di leher Arya agar tidak jatuh.


”Enggak, kamu lihat kan aku masih bisa bernapas dengan lancar. Kamu itu gak berat, kamu seringan bulu.” ucap Arya sambil tersenyum.


”Kamu ini ya pinter banget bikin aku malu.”


Mereka hanya saling tersenyum sambil melanjutkan perjalanan. Akhirnya mereka sampai di puncak bukit, lalu Arya menurunkan Sari dengan lembut.


”Kita udah sampai.” ucap Arya.


Sari tidak bicara sepatah katapun karena ia hanya bisa terpana mengagumi pemandangan kota yang terlihat dari atas bukit itu, ia juga melihat danau yang ada di bawah lalu ia tersenyum penuh kebahagiaan. Arya yang melihat Sari bahagiapun menjadi puas, ternyata pilihannya membawa Sari kesini bukanlah kesalahan.


Sari berdiri sambil menikmati pemandangan lalu Arya merangkulnya dari samping sambil terus menatap wajah Sari yang begitu barainar karena senyum yang merekah.


”Indah banget ya?” tanya Sari


”Iya indah banget.” Arya menjawab sambil menatap Sari, baginya pemandangan di atas bukit itu masih kalah indah dibandingkan Sari. Sedangkan Sari yang ditatap hanya melihat pemandangan karena ia tidak sadar bahwa yang dimaksud indah olehnya dengan yang dimaksud indah oleh Arya adalah hal yang berbeda.


Cukup lama mereka menikmati pemandangan itu sambil mereka meminum segelas teh yang sudah di persiapkan Arya sebelumnya, hingga akhirnya Arya memulai pembicaraan.


”Hari ini aku seneng banget bisa menghabiskan waktu berdua sama kamu, dari dulu aku pengin melakukan hal sederhana seperti ini bersamamu.” Arya menatap wajah Sari sambil tersenyum hangat, begitupun Sari yang membalas tatapan hangat Arya dengan senyuman.


”Kalau kamu mau berterimakasih, kamu cukup kabulkan 1 pemintaanku.” ucap Arya.


”Apa permintaanmu?”


”Aku mau kamu selalu tersenyum seperti ini, bagiku senyuman kamu adalah hal paling indah yang pernah aku lihat.”


Mendengar itu Sari menjadi tersipu malu, Pria dihadapannya ini memang selalu saja bisa membuat ia bahagia. Ia menjawab permintaan Arya dengan anggukan dan sebuah ciuman di pipi Arya.


Mendapat ciuman yang tiba tiba membuat jantung Arya berdebar sangat kencang, ia tidak tahu kenapa hal hal kecil yang dilakukan Sari selalu saja membuatnya terus berdebar, semakin hari ia hanya bisa semakin jatuh cinta pada Sari.


Arya tersenyum melihat Sari yang membalikkan wajahnya setelah mencium pipinya, lalu Arya memegang kedua pipi Sari agar menghadap ke wajahnya.


”Kenapa buang muka?” tanya Arya dengan lembut sambil tangannya masih berada di kedua pipi Sari.


”Aku malu.” Sari menjawab dengan pelan dan tatapan matanya mengarah ke arah lain karena ia malu menatap langsung mata Arya.


Arya semakin gemas melihat sisi Sari yang tidak diketahui orang lain ini, Kenapa kamu begitu menggemaskan sih.


Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Sari, lalu ia menatap dalam mata Sari yang kali ini tidak bisa dihindari lagi oleh Sari karena mereka sudah begitu dekat.


Jantung Sari berdebar dengan sangat cepat, lalu ia menutup kedua matanya sambil sedikit membuka mulutnya. Arya yang melihatnya menjadi terseyum dan berbisik lembut ”Setiap hari aku semakin mencintaimu.”


Setelah membisikan satu kalimat yang begitu lembut itu, Arya langsung menempelkan bibirnya di bibir Sari lalu ia memejamkan matanya dan menciumnya semakin dalam sambil tetap memegang kedua pipinya, sementara Sari menikmati ciuman itu sambil memeluk pinggang Arya.


Hari itu mereka menikmati ciuman mereka disaksikan oleh pemandangan bukit yang indah dengan matahari yang mulai terbenam. Siluet mereka begitu indah terlihat dari kejauhan.


...----------------...


Di perjalanan mengantar pulang Sari, mereka mampir ke sebuah tenda kaki lima di pinggir jalan untuk mengisi perut mereka yang lapar.


Mereka berhenti di depan tenda pecel ayam, untunglah Sari bukan anak orang kaya yang anti makan di warung kaki lima seperti ini, sehingga mereka tidak perlu mencari restaurant untuk sekedar makan.


”Kamu mau makan apa sayang?” ucap Arya dengan sengaja memanggik sayang di depan banyak pembeli lain, sebenarnya ia ingin sekali mengumumkan bahwa Sari adalah miliknya jadi jangan coba coba melirik nya tapi apa daya jika ia melakukan itu pasti Sari akan kesal kepadanya.


Sari justru menahan tawanya mendengar Arya yang memanggilnya dengan kata sayang, namun sebenarnya ia juga tidak bodoh. Disitu banyak pembeli pria jadi mungkin ia tidak ingin dirinya diganggu pria lain.


”Pecel ayam aja yang paha terus sama air mineral aja.” jawab Sari setelah daritadi berusaha menahan tawa.


”Okey, mas pecel ayam yang paha 2 pake nasi ya? sama air mineralnya 2.” Arya memesan lalu ia mencariksn tempat duduk yang agak jauh dari para pembeli pria yang ada di warung itu.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang dan mereka langsung memakannya setelah mencuci tangan mereka. Maklum, makan di warung kaki lima begini memang lebih mantap jika menggunakan tangan.


Setelah selesai makan, Arya membayar dan kemudian mereka berjalan menuju motor yang di parkir kan di depan tenda itu.


Arya membantu memakaikan Sari helm dan mereka saling tersenyum, hari itu yang ada di wjah mereka hanyalah senyuman. Mereka sangat bahagia sampai sampai merasa berat untuk berpisah. Kemudian Arya mengantar Sari pulang dengan berboncengan mesra.


Siapa sangka dari kejauhan Nita tidak sengaja melihat Sari di depan tenda warung pecel ayam itu, ia sedang tersenyum bahagia dengan pria yang entah siapa dia tidak mengenalnya. Melihat itu Nita sangat marah.


Bisa bisanya elo bahagia begitu setelah menghancurkan kehidupan gue. Gue gak akan biarin elo bahagia, saat ini nikmati aja sepuasnya kebahagiaan lo, setelah ini gak akan sedetikpun gue biarin elo bahagia. tunggu aja gue akan bales.


...****************...