
Saat berada di mobil tiba tiba Nita tersadar dari pingsannya tentu saja itu pun hanya akting yang ia buat, disaat itulah Arya baru sadar bahwa wanita yang ia tolong adalah Nita.
Sialan kenapa aku gak cek dulu siapa yang aku tolong.
”Sekarang kamu turun.” ketus Arya pada Nita yang masih berakting ketakutan dan menangis.
”Jangan tinggalkan aku disini kak.”
Seandainya itu bukan Nita mungkin saja ia akan tetap menolongnya, namun mengingat apa yang dialami Sari gara gara dia membuat Arya kesal dan jijik.
Arya langsung turun dari mobilnya lalu membuka pintu mobil dimana Nita duduk, ia memaksa Nita untuk keluar dari mobilnya.
”Ambil uang ini, kau bisa urus dirimu sendiri kan?” ketus Arya sambil memberikan beberapa uang seratus ribuan dari dompetnya.
”Apa maksud kakak, kakak harus mengantarku. Aku takut.”
”Aku sudah berikan kamu uang jadi kamu bisa pulang sendiri naik taxi dan juga ambil saja jas itu untuk menutupi tubuhmu itu.”
Arya hendak masuk kedalam mobil namun Nita menghalanginya, ia sengaja menangis dengan keras sambil memohon di kaki Arya bahkan ia sengaja melemparkan jas yang menutupi baju robeknya ke tanah agar orang orang memperhatikan mereka.
Dan benar saja orang orang langsung mengerumuni mereka dan mulai bertanya apa yang terjadi.
”Apa yang udah kau lakukan pada wanita ini?” ucap salah seorang warga.
”Ya benar, kenapa bajunya robek robek juga ada luka.”
”Jangan jangan kau sudah melecehkannya ya?”
”Sepertinya iya dia udah melecehkan wanita ini, tadi saja juga lihat pria ini memberikan uang, liat itu uangnya bahkan masih ditangan wanita itu.”
”Dasar bajingan, bisa bisanya melecehkan wanita dan dibuang begitu saja di jalanan begini.”
”Benar ayo kita hajar saja dia.”
Salah satu warga hampir saja memberikan bogem mentah ke wajah Arya namun langsung di tepis oleh Arya.
”Ini salah paham, saya sama sekali tidak melecehkan dia.”
Warga yang kesal karena Arya mengelak hampir saja berbuat anarkis namun Nita langsung berpura pura menghalangi para warga.
”Jangan sakiti suam saya bapak bapak.” teriak Nita sambil memeluk Arya.
Arya kesal karena tindakan Nita itu hingga ia langsung mendorong tubuh Nita agar menjauh darinya. Warga yang melihat itu menjadi marah kembali.
”Lihat tuh, bahkan dia mendorong wanita yang hendak menolongnya. Benar benar bajingan.”
”Iya, ayo kita hajar dia saja.”
”Kalian jangan anarkis ya? saya bisa laporkan anda semua ke polisi.” ancam Arya.
”Yang ada kamu yang kami laporkan polisi karena sudah melakukan pelecehan bahkan kekerasan di muka umum begini.” ucap salah seorang warga.
”Sudah saya bilang kejadiannya tidak seperti itu, kenapa kalian menyimpulkan seenaknya sih.”
”Udahlah ayo kita hajar aja, banyak alasan sekali padahal didepan mata kita juga dia berani melakukan kekerasan fisik pada wanita ini.”
Para warga benar benar tidak mau mendengar penjelasan Arya dan nyaris saja Arya dihajar masa namun lagi lagi Nita menghalangi.
”Saya mohon pak, dia suami saya. Kami hanya sedang salah paham, benar kan sayang?” ucap Nita sambil menengok ke arah Arya sambil sedikit mengangkat bibirnya.
Terpaksa saat ini aku iyain dulu perkataannya daripada urusannya panjang. Sial banget aku hari ini.
”I yaa benaar.” ucap Arya dengan wajah terpaksa.
”Benar kan pak, jadi tolong kalian bubar ya? kami akan selesaikan masalah ini sendiri. Tolong ya pak.”
”Benar nona tidak apa apa kami tinggalkan bersama pria ini.” tanya seorang warga memastikan kembali.
”Iya tidak apa apa, dia kan suami saya.”
”Baiklah kalau memang begitu ayo kita bubar semuanya.”
Para warga bubar sedangkan Arya langsung masuk kedalam mobil disusul Nita yang duduk di sebelahnya. Arya benar benar kesal saat itu sedangkan Nita merasa puas dan menang.
Ternyata Nita sudah menyuruh salah satu orang untuk merekam kejadian yang baru saja terjadi termasuk pengakuan Arya.
”Berani sekali kau menjebakku ya.”
”Siapa yang menjebak kakak, aku gak punya pilihan lain selain bilang bahwa kakak suami aku biar kakak gak dihajar massa. Harusnya kakak berterimakasih padaku dong.”
”Bahkan yang membuat warga berkumpul juga karena kau, tapi bisa bisanya kau menyuruhku berterimakasih.” ketus Arya.
”Daritadi berani sekali kau memanggilku kakak, aku bukan kakakmu.”
”Terus mau di panggil apa? sayang?”
”Sialan, jangan berani muncul di hadapanku lagi mengerti!” ancam Arya.
”Kakak ini galak banget sih, padahal tadi kakak bantuin aku. Kalau membantu itu jangan setengah setengah dong.”
”Kalau aku tahu yang aku bantu wanita sepertimu, lebih baik tadi aku biarkan saja. Aku juga menyesal.”
”Kakak jahat banget sih ngomong begitu.” Nita pura pura sedih lalu memeluk Arya dari samping.
”Lepas, jangan berani menyentuh tubuhku ya. Sekali lagi kau lakukan itu, saat itu juga aku tendang kau ke jalanan.”
”Ya baiklah.”
Dia benar benar wanita ular, mana ada wanita baru di lecehkan tapi malah peluk peluk pria. Yang ada wanita itu harusnya takut bersentuhan dengan pria. Jangan jangan pelecehan itu juga pura pura. Aku yakin dia pasti sudah tahu siapa aku lalu membuat rencana ini dari awal. Sial, gara gara sibuk mengurus gak waris dan jual perusahaan, instingku jadi melemah. Aku akan ikuti permainanmu dan lihat saja nanti siapa yang akan kalah.
Mereka sampai di depan panti asuhan. Lalu Arya menyuruh Nita untuk turun.
”Turun kau, dan inget jangan berani muncul dihadapanku. Aku akan menghajarmu tidak perduli kalau kau wanita. Mengerti.”
”Kakak tahu darimana aku tinggal disini.” Nita mulai mencurigai Arya.
Sial, aku lupa pasti dia menyangka aku tidak mengenalnya. Kalau dia tahu bahwa aku bahkan tahu semua tentangnya pasti dia akan waspada dan mencurigai ku dan Sari.
”Tadi kau yang bilang, dasar pelupa ya.” Arya mencoba meyakinkan Nita dengan berbohong.
”Aku gak pernah bilang.”
”Terus menurutmu aku ini dukun bisa tahu dimana kau tinggal tanpa diberitahu?”
”Benar juga.”
”Jelas benar lah, udah sana turun.”
Arya memaksa Nita turun namun Nita menolaknya.
”Aku gak mau pulang sekarang, gak mungkin aku pulang dalam keadaan begini.”
”Ah sial, maumu apa?”
”Aku mau kerumah kakak, aku harus ganti baju dulu sebelum pulang.”
”Kenapa harus kerumahku? dirumahku tidak ada baju wanita.”
”Aku gak masalah pake baju kakak dulu.”
”Gak bisa, aku akan antar kamu ke butik dan kau boleh membeli satu stel baju dan kau bisa langsung ganti pakaian disitu.”
”Yang benar aja kak, mana mungkin masuk butik dengan pakaian seperti ini.”
Arya kesal karena merasa terjebak oleh Nita.
”Sialan, apa rencanamu hah?”
”Aku gak punya rencana apapun kak, kan sudah aku bilang aku gak bisa pulang atau keluar pakai baju begini kan? berarti mau gak mau kakak harus membawaku ke rumah kakak.”
”Gak bisa.”
”Kalau begitu aku akan turun dan masuk ke panti dengan pakaian begini, lalu aku akan menuduh kakak.”
”Dasar licik.”
”Aku terpaksa begini kak, biar kakak mau menolong aku.”
”Aku akan belikan kau baju di butik lalu kau ganti di mobil saja, aku akan tunggu diluar.”
”Dimobil sulit kak buat ganti baju.”
”Kalau begitu aku akan menurunkan di hutan dimana tidak ada orang, mau kau?”
Susah banget si ini orang buat digoda, padahal Doni dengan mudah tergoda olehku. Sial, kalau begitu hari ini lebih baik aku cukup sampai sini saja. Setidaknya aku punya rekaman video tadi, jadi jika aku tidak berhasil menggodanya, aku bisa menghancurkan hubungan mereka dengan kesalahpahaman.
”Yaudah aku setuju.”
...****************...