
Lima tahun telah berlalu, tepat hari ini adalah hari peringatan kematian Nathali. Sejak pagi Sari sudah bersiap untuk pergi ke makam Nathali seorang diri.
Setiap tahun memang Sari selalu datang sendiri dan berdiam lama di depan makam Nathali sembari bercerita kegiatannya sehari hari. Sari merasa bisa bertahan hidup karena melakukan hal itu, setiap dia bercerita seolah Nathali sedang memperhatikan disampingnya dengan ekspresi datarnya.
”Nat, apa kau tahu kalau seminggu lalu adalah hari terakhir pemeriksaan orangtuaku? dan syukurlah hasilnya mereka berdua sudah pulih sepenuhnya, meski begitu aku berniat untuk selalu menyuruh mereka periksa rutin. Kalau kau ada pasti kau yang paling senang, oh iya.. seperti permintaanmu, kakakku tidak tahu mengenai kepergianmu. Sejujurnya aku sedikit sulit membohonginya, namun aku lakukan ini demi kamu loh. Kamu bahagia kan disana? apa kau makan dengan nikmat diatas sana? oh iya, lusa adalah pernikahan kakakku dan Tania. Sejujurnya aku bahagia kakakku akan menikah, tapi entah mengapa kakakku tidak terlihat bahagia. Apa dia mengingatmu ya Nat? di kehidupan selanjutnya jadilah kakak iparku ya Nat?.”
Sari tampak bercerita sendiri sambil duduk disamping makam Nathali dan menatap langit dengan kedua tangan yang diletakkan di tangan untuk menyanggah tubuhnya agar tidak jatuh ke belakang.
Arya selalu mengikuti Sari ke pemakaman dan mengawasinya dari jauh. Arya sangat mengerti bahwa disaat seperti ini dirinya tidak boleh mengganggu. Meski sudah lama berlalu namun Arya sangat paham jika Sari masih merasa bersalah atas kematian Nathali, bahkan Arya ingat Sari sempat down karena perasaan bersalah. Harusnya Nathali jangan mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan nyawa Sari.
Tapi syukurlah semakin hari, dia sudah mulai menerima kenyataan, terlebih setelah memastikan sendiri kematian Doni. Orang yang sudah membuat Nathali meninggal.
Doni meninggal setelah mengalami kecelakaan mobil seminggu setelah kematian Nathali. Tentu saja itu bukan kebetulan.
Anak buah Sari memasukan obat obatan terlarang dan juga alkohol ke dalam minuman yang dibawa oleh seorang pelayan hotel tempat Doni bersembunyi.
Mereka memang sudah memantau Doni, setelah menyuruh seorang pelayan yang berpura pura membawa minuman ke semua penghuni hotel kemudian mereka mengirimkan pesan dari Mirna/ ibu angkat Doni dan meminta bertemu di tempat yang tidak diketahui orang lain. Mereka memang sudah mencuri handphone milik Mirna secara diam diam di rumahnya.
Oleh karena itu Doni yang tepat keluar kamar dan bertemu pelayan yang membawa minuman, dengan bodohnya Doni meminum itu sebelum mengendarai mobilnya.
Benar saja, dijalanan dia merasa pusing dan tiba tiba saja truk besar menghantam mobilnya hingga mobilnya ringsek dan tubuhnya terhimpit dan meninggal di tempat. Tentu saja supir truk besar itupun salah satu suruhan Sari.
Jenazahnya itu dibawa ke rumah sakit untuk di autopsi, dan ternyata ditemukan kandungan alkohol yang tinggi dan juga pemakaian narkotika, bahkan di dalam mobilnya ditemukan beberapa pil. Sedangkan supir truk itu hanya di denda dan langsung dibebaskan karena tidak ditemukan kelalaian dari supir truk, dia hanya tidak bisa menghindar karena mobil yang dikendarai Doni ugal ugalan.
Dengan kematian Doni, maka kasus kematian Nathali pun di tutup. Arya mati matian membuat kasus itu tidak terendus media agar Teguh tidak mengetahui kematian Nathali dan hanya mengiranya pergi kembali ke negaranya.
Kembali ke saat ini, hari sudah mulai gelap dan Sari berpamitan sebelum pergi dari makam Nathali itu. Dia berjalan menuju mobilnya namun tiba tiba saja dia melihat Arya yang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Akhirnya dia menghampiri Arya yang tidak tahu bahwa Sari mengetahui keberadaannya.
”Sudah selesai mengintipnya?” tanya Sari yang sudah berada di belakang tubuh Arya.
”Iya sudah.” Tanpa pikir panjang Arya menjawab pertanyaan itu, sampai akhirnya dia sadar bahwa dirinya hanya sendirian mengawasi Sari, lalu siapa yang bertanya?
Perlahan lahan Arya membalikkan tubuhnya dan melihat Sari yang berdiri dengan tatapan tajam sembari menyilangkan kedua tangannya di depan perutnya. Sontak hal itu mengejutkan Arya, hingga tubuh Arya refleks sedikit mundur sambil memegang dadanya karena terkejut.
”Eehh saa- yang.” Arya meringis setelah melihat kekasihnya memergoki dirinya.
”Sayang sayang dengkulmu.” omel Sari.
”Kan sudah aku bilang, gak usah ikutin aku. Aku cuma ke makam Nathali kok.” tambah Sari.
”Iya maaf, aku cuma khawatir karena kamu pergi sendirian kesini. Sehari hari aku merasa sedikit tenang karena ada Wisnu yang menjadi supirmu. Tapi setiap hari peringatan kematian Nathali pasti kamu ingin pergi sendiri, aku terus mencemaskanmu.”
”Maaf sudah membuatmu khawatir, namun aku hanya melakukannya dihari seperti ini. Aku hanya ingin berbagi cerita berdua dengan Nathali, maafkan aku karena kurang peka padamu ya?”
Arya membalas pelukan Sari sambil mengatakan tidak apa apa, dia hanya terlalu khawatir sehingga tidak ingin membiarkan kekasihnya pergi sendirian.
”Kalau begitu ayo kita pulang, aku yang menyetir.” ucap Arya.
”Lalu mobilmu?”
”Nanti anak buahku yang akan mengambilnya.”
Sari hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia bersyukur memiliki Arya disisinya, dia juga menerima keputusan Sari yang belum mau menikah sebelum kakaknya menikah.
...----------------...
Besok adalah hari pernikahan Teguh dan Tania, sejujurnya semua sudah menantikan hari ini kecuali Teguh. Hari ini Teguh tampak duduk murung di pinggiran kolam renang, Sari yang melihatnya pun menghampiri kakaknya itu.
”Kakak kenapa murung?” tanya Sari sambil duduk di samping kakaknya.
”Ah kamu dek. Kakak tidak apa apa kok.”
Sari tahu bahwa kakaknya berbohong, memang sifat kakaknya ini berubah setelah Nathali memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Meski kakaknya tidak pernah bercerita dan terlihat tersenyum namun dia tahu bahwa kakaknya ini terus memikirkan Nathali.
Walaupun dia tampak lebih pendiam dari pada dulu namun dia tetap baik pada Tania, dia juga terlihat menyayangi Tania hanya saja Sari sendiri tidak tahu apakah kakaknya menyayangi Tania sebagai wanita atau tidak.
Padahal dulu kakaknya sudah mulai melupakan Nathali setelah bertahun tahun tidak bertemu namun gara gara dirinya membawa Nathali ke hadapannya maka kakaknya itu kembali mengingat cinta pertamanya. Biar bagaimanapun wanita seperti Nathali memang sulit untuk dilupakan. Sari berharap setelah kakaknya menikah nanti maka kakaknya akan melupakan Nathali, biar Sari saja yang akan mengenang Nathali seumur hidupnya. Dia juga memiliki harapan yang sama dengan Nathali yaitu kebahagiaan Teguh. Oleh karena itu Sari rela menyembunyikan kematian Nathali meski dia ingin mengatakannya.
”Akhirnya setelah sekian lama kakak akan menikah dengan Tania besok.” ucap Sari.
”Iya.” jawaban Teguh amat singkat, dia hanya menatap air kolam yang tampak tenang itu.
”Pasti kakak gugup ya? makanya kakak bengong disini. Tapi kak lebih baik kakak masuk, kalau kakak sampai sakit karena angin malam bagaimana? besok kan hari bahagia buat kita semua.”
Teguh hanya mengangguk lalu berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah, dia juga mengajak adiknya itu namun adiknya ingin diluar dulu sebentar. Akhirnya Teguh masuk sendirian dan membiarkan adiknya diluar sebntar lagi.
”Ku harap kakakku bisa bahagia, kau juga berharap begitu kan Nat?” gumam Sari sambil menatap langit malam.
...****************...