Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Rencana Awal


Pagi itu Sari sudah berada di kantornya karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang mendesak, beberapa hari ini dirinya memang hanya memantau perusahaan dari rumah karena sibuk mengurus masalah yang berkaitan orangtuanya.


Sari yang sedang memeriksa setumpuk dokumen di ruangannya kemudian memanggil sekretarisnya melalui telepon kantor.


”Sekretaris kim, tolong ke ruangan saya sekarang ya.”


[Baik.]


Tidak lama kemudian sekretaris kimmy mengetuk pintu ruangan Sari dan langsung masuk begitu Sari menyuruhnya masuk.


”Ibu memanggil saya?” tanya Sekretaris kimmy.


”Iya, apa kamu bisa mengatur ulang jadwal saya kembali? seharian besok saya mau tidak ada satu pekerjaan pun yang menggangguku. Jadi kalau ada pekerjaan yang mendesak, kamu bisa sampaikan sekarang ataupun lusa.”


”Kebetulan jadwal ibu besok tidak ada yang mendesak jadi bisa diganti lusa.”


”Baiklah terimakasih. Oh ya, Pak Arya bilang akan kesini. Kalau dia datang, suruh dia langsung masuk saja ya? dan saya juga minta tolong bikinkan kopi untuknya nanti ya?”


”Baik bu, apa ada lagi bu?”


”Sudah cukup, kamu bisa kembali bekerja lagi.”


”Kalau begitu saya permisi dulu bu.”


Sekretaris kim keluar kemudian Sari melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama setelah itu, Arya datang dan langsung masuk saja seperti yang sudah Sari minta.


”Hai sayang.” sapa Arya sambil berjalan mendekati Sari yang sedang duduk di kurainya sambil mengecek beberapa dokumen kemudian mencium kepala Sari.


”Hai, tunggu sebentar ya? aku menyelesaikan ini dulu sebentar, sedikit lagi selesai.”


Arya mengangguk sambil berdiri di samping Sari yang sedang sibuk.


”Apa kamu perlu bantuan? ” tanya Arya sambil fokus menatap Sari.


”Tidak perlu kok, ini dokumen terakhir yang mendesak. Kamu duduk saja dulu, kalau berdiri disini terus nanti capek loh.” ucap Sari masih fokus dengan dokumen yang sedang dia periksa.


Arya pun menunggu Sari sambil duduk di sofa, tidak lama kemudian sekretaris kim datang membawa kopi untuk Arya.


Sari yang melihat sekretaris kim langsung meminta tolong agar Nathali yang sedang menunggu di luar ruangan untuk masuk ke ruangannya sekarang.


Setelah menganggukan kepalanya Sekretaris kim segera keluar ruangan dan memanggil kan Nathali.


Nathali mengetuk pintu dan langsung masuk begitu dipersilahkan masuk.


”Nona memanggil saya?” tanya Nathali.


”Iya, duduk dulu. Kita akan membicarakan rencana menyerang Zayn. Tapi tunggu sebentar ya? saya selesaikan pekerjaan sebentar.” ucap Sari.


Nathali duduk berhadapan dengan Arya, dia menatap tajam Arya karena sejujurnya dia tidak menyukai Arya.


Arya pun sama dengan Nathali, jadilah mereka saling perang tatapan tanpa sepatah katapun.


Sari yang sudah menyelesaikan pekerjaannya langsung menyadari bahwa lagi lagi mereka bertengkar.


”Kalian kenapa?” tanya Sari sambil duduk di samping Arya.


”Tidak” Arya dan Nathali menjawab dengan kompak dan langsung menghentikan perang mata itu.


Sari hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.


Setiap ada kesempatan pasti mereka selalu saja bertengkar.


Sari memilih tidak membahas pertengkaran mereka dulu untuk saat ini karena ada hal yang lebih penting dari pada itu.


”Apa yang kamu temukan Arya?” tanya Sari.


”Aku sudah menemukan semua tentang ZA chemical dan ternyata benar mereka mengelola limbah kimia tidak sesuai SOP.” ucap Arya.


”Saya juga sudah menemukan bukti tentang tambak ikan itu nona, ternyata mereka memang mengelola limbah yang berasal dari ZA chemical. penanggung jawab tambak itu adalah mantan peneliti di ZA chemical, hanya saja dia sudah mengundurkan diri beberapa tahun yang lalu. Namun ternyata dia tidak mengundurkan diri, dia hanya di pindahkan saja ke tambak itu yang tampak tidak ada hubungannya dengan ZA chemical.” tambah Nathali.


”Dasar bedebah ini, bahkan dia mengorbankan masyarakat demi kepentingan nya sendiri.” ucap Sari.


”Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Arya.


”Seberapa banyak media yang bisa kita kumpulkan?” tanya Sari.


”Sebanyak yang kamu mau.” jawab Arya.


”Baiklah besok kumpulkan media di aula gedung ini. Kebetulan besok ada pertemuan antar pengusaha di sini. Kita bisa menyiarkan pertemuan itu secara live dan langsung membongkar kebusukan bajingan itu di depan masyarakat.”


”Lalu apa kau akan memanggil polisi?”


”Tidak perlu, jika ini sudah menjadi bahan perbincangan publik pasti dengan sendirinya polisi mau tidak mau menyelidikinya. Karena kita tidak tahu polisi yang tidak memihak Zayn itu yang mana maka kita tidak bisa mengambil resiko kebocoran rencana kita ini.” jelas Sari.


Arya dan Nathali mengangguk


”Oh iya apa buku besar tambak itu sudah ada pada kita?” ucap Sari.


”Sudah nona, dan mereka mendapatkan transfer dari ZA chemical melalui perusahaan cangkang yang di daftarkan berasal dari Tiongkok. ” jawab Nathali.


”Bagus, kau benar benar bisa diandalkan Nat. Tolong kau dan anak buahmu terus waspada ya?”


”Baik nona, tapi saya ingin minta maaf karena saya gagal menemukan pria bertopeng itu.” ucap Nathali.


”Tidak masalah, lagipula kematian Nita dan Bi Inah tidak diketahui siapapun jadi kita tidak perlu repot mencari pelakunya. Lagipula kita sudah tahu pria bertopeng itu pasti anak buah Zayn.”


Nathali mengangguk dan memohon pamit untuk kembali berjaga di luar. Sedangkan Arya hanya diam cemberut tanpa mengatakan sepatah katapun.


Melihat hal itu lagi lagi membuat Sari merasa gemas. Dia sangat tahu pasti Arya iri karena dirinya hanya memuji Nathali.


Tapi Sari sengaja membiarkan Arya yang sedang mengambek dan memilih menikmati kopi yang sudah dingin karena tidak diminum dari tadi.


Arya menjadi bertanya tanya kenapa Sari tidak bertanya apapun padahal dirinya sudah menunjukkan gestur ngambek demi mendapat perhatian dari Sari.


”Kamu kenapa tega sih.” omel Arya.


”Kenapa memang?”


Sari sengaja ingin meledek Arya dengan pura pura tidak peka, dia sangat senang melihat Arya ngambek karena hanya dirinya yang bisa melihat sisi menggemaskan itu.


”Aku ngambek tau..”


”Oh.”


Arya dibuat kesal karena jawaban singkat Sari itu, kemudian dia jadi mengomel sambil memalingkan wajahnya.


”Apa apaan udah tahu pacarnya ngambek tapi jawabannya cuma oh. Tega sekali sekarang kamu tuh.”


Sari yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Arya yang menggemaskan itu langsung saja membalikan wajah Arya dengan kedua tangannya kemudian Sari mencium lembut bibir Arya.


Mata Arya terbelalak karena terkejut dengan apa yang dilakukan Sari, tak lama kemudian Sari melepaskan ciumannya itu kemudian berbisik pelan di telinga Arya.


”Aku sengaja tidak memberikan pujian padamu karena aku mau langsung memberikan hadiah seperti tadi.”


Sari tersenyum sedangkan wajah Arya langsung memerah karena dia merasa selalu kalah oleh pesona Sari itu.


”Kamu lebih memilih yang mana?” tanya Sari menggoda.


Arya menjawab pertanyaan Sari dengan mendaratkan bibirnya ke bibir Sari yang masih basah karena bekas ciuman mereka sebelumnya.


”Aku memilih hadiah.”


...****************...