
Ferdy melangkahkan kakinya menuju ruangan Zayn, dirinya berniat melaporkan hasil penyelidikan terhadap Nita sesuai perintah dari Zayn.
Setelah tiga kali mengetuk pintu, Ferdy masuk ke ruangan Zayn dan mulai melaporkan hasil penyelidikannya kepada Zayn yang sedang duduk santai di kursi pijatnya.
”Pak, saya mau melaporkan hasil penyelidikan tentang Nita.”
Zayn hanya mengatakan teruskan sambil menikmati pijatan dari kursi pijat itu seraya memejamkan matanya.
”Nita ternyata adalah putri dari guntur, anaknya Bi Inah. Dia tidak memiliki apapun yang bisa di manfaatkan kecuali dirinya yang bisa kita gunakan untuk mengancam Bi Inah agar dia tidak mengkhianati kita.”
”Apa Bi Inah menurutmu Inah itu ada kemungkinan mengkhianati kita?” tanya Zayn.
”Iya Pak, belakangan ini saya tidak mengetahui keberadaan Inah dan saya juga tidak bisa menghubunginya. Padahal saya berniat membereskannya agar tidak ada saksi mengenai keterlibatan kita, saya khawatir dia akan muncul dan mengancam kita. Dia akan merepotkan bagi kita nantinya, namun jika kita punya kelemahannya yaitu cucunya itu. Maka dia tidak akan berani mengkhianati kita.”
Zayn tertawa mendengar penjelasan Ferdy, bukan karena mengolok oloknya tapi karena Ferdy sangat bisa diandalkan sehingga dirinya tidak perlu mengurus hal hal yang merepotkan seperti itu.
”Baiklah, undang Nita makan malam. Aku yang akan menemuinya.” ucap Zayn.
Setelah diberi perintah oleh bosnya, Ferdy keluar dari ruangan Zayn kemudian dia menghubungi Nita.
...----------------...
Sari yang sedang bersama Arya di ruang privat Sari yang berada di dalam kediaman Jayadiningrat meminta Nathali untuk membawa Bi Inah menghadapnya, tak lama kemudian Bi Inah sudah berada di hadapannya dengan duduk di lantai.
Sari melemparkan surat pernyataan dari kepolisian yang menyatakan kematian Guntur karena di bunuh begal, begal itupun telah ditangkap dan masih menjalani hukuman hingga sekarang.
Tidak hanya itu, dia juga memberikan bukti transfer Ilyas kepada Sarah sebagai biaya hidup dan pendidikan Nita.
Sari juga memperlihatkan rekaman CCTV pada saat kejadian begal itu yang susah payah dia dapatkan karena kejadian itu sudah lama terjadi.
Melihat itu semua Bi Inah hanya bisa menangis histeris, hatinya begitu sakit dan terluka.
Dia tidak menyangka menyakiti orang yang tidak bersalah, tidak hanya sekedar menyakiti secara fisik namun juga menyakiti hati mereka yang sudah begitu mempercayainya.
Dia tidak menyangka akan merasakan penyesalan sebesar ini, dia merasa sangat berdosa hingga merasa tidak pantas untuk disebut manusia.
Sari yang melihat Bi Inah menangis seperti itu pun juga merasakan sakit yang begitu mendalam di lubuk hatinya, dia bahkan sesekali nyaris kehilangan kendali dan hampir menangis.
Untunglah ada Arya di sampingnya yang terus menguatkannya dan sesekali menggenggam tangan Sari ketika Sari mulai terlihat hampir menangis.
”No nn.. Baa gaimana kee aa daan Tuan dan Nyonya saat ini?”
Bi inah memberanikan diri untuk bertanya meski dengan suara serak dan terbata bata, karena dirinya merasa sangat bersalah sudah menyakiti mereka tanpa tahu kebenarannya.
”Bibi gak pantas menanyakan keadaan orang yang hendak bibi bunuh.”
Sari masih begitu marah pada Bi Inah meski Bi Inah melakukan itu karena ketidaktahuannya namun tetap saja faktanya kedua orangtuanya saat ini harus berjuang hidup akibat apa yang telah diperbuat Bi Inah.
”Non bee nar, Bii bi memang tidak pantas bertanya. Bibi bahkan tidak pantas hidup untuk sekarang, tolong lenyapkan bibi non.”
”Harusnya bibi tebus dulu dosa dosa bibi, baru membicarakan kematian. Apa bibi tidak malu jika di akhirat bertemu putra bibi? apa yang dilakukan bibi sama sekali tidak mencerminkan ibu yang baik.” bentak Sari.
Bi Inah hanya menangis dan sangat setuju dengan apa yang dikatakan Sari, bahkan untuk matipun dirinya merasa tidak pantas. Entah mengapa Bi Inah jadi merasa tidak pantas untuk hidup maupun mati.
”Bii bi akan menebus dosa bibi bagaimanapun caranya, katakan pada bibi non. Bibi akan lakukan apapun.”
Sari masih merasa tidak karuan, perasaannya saat ini campur aduk antara marah, benci, kasian, kecewa. Bahkan sesekali dirinya nyaris mengeluarkan air mata karena perasaan kecewanya yang memuncak.
Disaat bersamaan Arya menyadari emosi Sari yang sedang tidak stabil, akhirnya Arya yang turun tangan bicara agar Sari tidak meliapkan semua perasaannya di hadapan Bi Inah, yang dimana dia sendiri tahu bahwa Sari tidak ingin terlihat meneteskan air mata di depan Bi Inah.
”Bi, yang pertama harus bibi lakukan adalah jujur. Darimana bibi mendapatkan botol berisi air limbah itu.” tanya Arya dengan tegas.
”Bibi mendapatkannya dari seorang pria yang juga memberitahu bahwa Guntur dibunuh oleh Ilyas.” jawab Bi Inah dengan suara serak akibat terus menangis tanpa henti.
”Siapa pria itu?” tanya Arya kembali.
”Bibi juga tidak tahu, dari awal pria itu menggunakan topeng setiap menemui bibi.”
Sari yang mendengar hal itu langsung menampar Bi Inah karena beranggapan bahwa Bi Inah masih saja berbohong meski tahu bahwa dirinya berdosa.
Plaakk
Pipi Bi Inah sampai memerah karena tamparan itu begitu kuat, bahkan tubuhnya saja sampai ikut tergeletak di lantai karena kepalanya yang tidak sanggup menahan tamparan itu.
”Bibi masih saja berbohong, apa tangisan bibi tadi hanya agar bisa lolos dariku?” teriak Sari.
Arya langsung menenangkan Sari dan memeluknya agar Sari tidak terus menerus terbawa emosi, sedangkan Bi Inah hanya bisa kembali duduk dengan perlahan sambil menahan rasa sakit di pipinya.
”Tenang sayang, biar aku yang bertanya padanya ya? tolong jangan kotori tanganmu dengan menampar orang seprtinya.” ucap Arya dengan lembut.
Bi Inah sangat mengerti jika Sari marah padanya dan menganggap dirinya berbohong, karena hatinya pasti sakit akibat di khianati oleh orang yang sudah dianggap keluarga olehnya. Sejujurnya dia pun merasa sakit, karena tidak menyangka kebodohannya sendiri menempatkan dirinya pada situasi saat ini.
”Bi, sebaiknya bibi jujur. Bibi tahu kan? situasi bibi saat ini tidak menguntungkan untuk bibi.” ancam Arya.
”Bibi jujur, terakhir bibi bertemu dengannya adalah seminggu sebelum pesta pertunangan, tempatnya di pembuangan sampah di belakang rumah.”
Bi inah mencoba meyakinkan Sari dan Arya bahwa dirinya tidak berbohong, Bi inah juga mencoba mengingat pertemuan yang terakhir dengan pria bertopeng itu.
”Ah iya, kalian bisa bertanya pada si Joko. Dia bertemu dengan bibi saat bibi baru hendak masuk ke halaman rumah.”
Arya meminta tolong kepada Nathalai untuk memeriksa rekaman CCTV seminggu sebelum pesta pertunangan terutama bagian belakang rumah.
Sebenarnya Nathali enggan melakukan perintah Arya, hanya saja apa yang diperintahkan Arya memang berhubungan dengan kepentingan Sari, dan melihat kondisi Sari yang sedang emosional sehingga tidak bisa berpikir secara rasional akhirnya Nathali menuruti perintah Arya tanpa protes.
...****************...