
Sepulang sekolah Sari pergi mengunjungi kantor Arya, disana ia melihat Leon masih tidur di sofa sedangkan Arya duduk di depan laptopnya. Saking fokusnya ia tidak menyadari bahwa Sari sudah sampai.
Eekkhhmmm
Mendengar suara berdekhem Arya langsung menoleh dan ia melihat Sari sudah berada di depannya.
”Lho udah sampe aja, aku sampe gak sadar.” Arya menghampiri Sari dan memeluknya.
Sari yang ada dalam pelukan Arya hanya tersenyum dengan membenamkan wajahnya.
”Oia, aku mau ngomongin sesuatu yang penting.” Ujar Arya sambil melepas pelukannya.
”Iya aku tau, aku akan jelasin tahu dari kapan tentang keluargamu.” wajah Sari tampak di tekuk karena takut Arya kecewa padanya.
”Aduh aku bukan mau ngmong masalah itu, aku gak mempermasalahkan itu. Kamu gak usah mikirin aku ya? itu bukan hal penting sekarang.”
”Terus mau ngomong apa?”
”Entah ini informasi penting atau enggak tapi apa kita tunggu ni bocah bangun dan pergi dulu baru kita bicarain?”
”Tentang wanita itu.”
Sari langsung paham apa yang dimaksud oleh Arya, dan ia menengok ke arah Leon yang sedang tertidur pulas.
”Sepertinya dia tidur pulas, apa dia belum bangun dari semalam? jangan jangan kalian belum makan ya?”
”Sayang, kenapa perduliin bocah itu sih segala nanyain makan segala.” Arya menggerutu sambil duduk di kursi depan laptopnya.
Sari menghampiri Arya dan duduk diatas pangkuannya sambil berbisik ”Kamu lucu deh kalo lagi cemburu, jadi tambah imut.”
Mendengar itu Arya langsung menenggelamkan wajahnya ke pelukan Sari.
”Kamu licik, selalu menyerang kelemahanku. Mana bisa aku marah kalau kamu menggemaskan begini coba.” gerutunya.
Sari tertawa lirih karena merasa bahwa yang menggemaskan itu justru adalah pria bertubuh keras yang ada di pelukannya itu.
Arya langsung menunjukan sesuatu tentang wanita yang tadi mereka bicarakan, Arya membuka laptopnya dan sedangkan Sari masih duduk di pangkuannya.
”Liat nih, ternyata mantan supir kamu ada main sama wanita itu. Aku punya banyak foto mesranya, bahkan mereka juga tinggal bareng di villamu. Menurut informanku, ternyata dia adik ipar wanita itu. Mereka sudah lama ada hubungan semenjak suami wanita itu yang juga kakaknya masih hidup.”
”Hah, udah kuduga mereka ternyata yang merencanakan semuanya. Berani sekali mereka menghabisiku dan keluargaku.” gumam Sari.
Karena jarak mereka yang dekat, maka tidak sulit untuk Arya mendengar jelas apa yang diucapkan Sari walau suaranya sangat pelan, hanya saja Arya masih tidak mengerti apa yang dimaksud Sari dengan 'menghabisiku'. Ia ingin sekali bertanya tentang apa yang Sari alami, tapi ia merasa bukan waktu yang tepat ia bertanya. Menurutnya Ia hanya bisa menunggu hingga Sari bercerita sendiri, karena diapun melakukan hal yang sama walau tahu tentang keluargaku, dia tidak pernah menanyakan apapun dan menunggu aku yang bercerita, namun hingga detik ini dia belum menceritakan apapun. Ia merasa dirinya memang pecundang.
”Ah iya hampir lupa, ada satu lagi ini lihat” Arya menunjukkan foto Sarah yang selama seminggu ini selalu datang ke kantor pak Ilyas.
Mata Sari terbelalak melihat foto itu, ia tampak kaget dan diam mematung.
”Ini semua foto dari Wisnu, katanya dia menghubungimu tapi kamu gak pernah mengangkatnya.”
Sari mengingat sesuatu bahwa beberapa hari ini memang ada nomor yang selalu menghubunginya hanya saja ia tidak menanggapi karena melihat nomor itu tidak ia kenal, terlebih belakangan ini ia lebih sering memikirkan Arya dari pada tujuan utamanya.
”Ah benar juga, aku lupa gak simpen nomor Wisnu makanya aku gak angkat telpon dia karena nomornya tidak ku kenal. Aku udah mulai ceroboh, aku gak bisa begini, aku gak boleh lengah begini.” ucap Sari dengan panik.
Arya mencoba menenangkan Sari dengan menyuruhnya tarik napas dan bernapas dengan benar. Setelah melihat Sari yang mulai tenang, ia mengusap lembut pundak Sari.
”Kamu jangan panik dan bernapas lah dengan benar, lagipula kamu tenang aja karena aku ada disisimu. Saat kamu lengah, aku yang akan jadi tamengmu, aku gak akan biarin kamu terluka, aku juga selalu fokus pada hal ini daripada urusan yang lain. Kamu pasti begini karena mikirin masalahku ya?”
Sari hanya diam dengan raut wajah suram.
”Kamu jangan mikirin masalahku, karena bagiku itu bukan masalah. aku sudah membuangnya jadi itu semua gak ada hubungannya denganku, mulai sekarang kita fokus pada tujuan awakmu ya?” ucap Arya dengan lembut agar Sari yang mendengarnya jadi merasa lebih tenang.
”Ya, untung ada kamu di pihakku.”
”Iya, kamu percaya aku kan? foto foto wanita ini dengan mantan supirmu itu bisa kamu jadiin senjata jika situasi terburuk terjadi, tapi aku akan mencegah agar situasi seperti itu tidak akan muncul.” ucap Arya.
”Ya aku juga akan mencegah rencana wanita jahat itu, aku tidak akan membiarkannya menghancurkan keluargaku untuk yang kedua kalinya. Aku bersumpah.” Sari tampak bertekad dengan sorot mata tajam penuh dengan ambisi.
Leon yang sedari tadi dianggap tidur sebenarnya mendengar percakapan mereka. Saat di pertengahan percakapan mereka, ia terbangun hanya saja ia tidak menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu mereka bahwa ia sudah bangun. Leon pun berfikir, sepertinya masalah yang sedang dihadapi Sari serius, karena dia tidak pernah melihat Sari yang gemetaran saat melihat foto wanita itu yang entah siapa yang di maksud. Leon memutuskan untuk tidak bertanya karena merasa itu hal yang tidak bisa dengan mudahnya di ceritakan. Akhirnya Leon pura pura baru terbangun dari tidurnya.
”Loh, Sari ada disini sejak kapan?” tanya Leon sambil memegang sebelah kepalanya dengan tangan kanannya.
Sari yang sedang duduk dipangku oleh Arya langsung bangun berdiri dan duduk di bangku yang lain.
”Oh, belum lama. Kepala lo udah baikan?”
Leon mengangguk dan menatap Sari yang tampak canggung dengan situasi saat ini.
Arya berdiri dan mengambil 3 cup mie dan memasukkan air panas kedalamnya, setelah 3 menit, ia meletakkan mie cup itu diatas meja yang ada di depan sofa dan ia menuju lemari es untuk mengambil 3 botol air mineral.
”Kita makan dulu, ya makan ini dulu. Kalau pesen agak lama”
Mereka bertiga duduk di sofa yang saling berhadapan, dimana posisi Sari ada disamping Arya sedangkan Leon ada di depan mereka.
”Gue mau tinggal di sini sementara, gue bakalan bayar lo.” ucap Leon di tengah tengah makan.
Arya kaget dan tersedak mendengar Leon berkata ingin tinggal dengannya. Arya langsung membuka botol air mineral dan meminumnya.
”Kamu gapapa?” Sari menghentikan makannya dan dengan cepat menepuk nepuk punggung Arya yang sedang tersedak.
Arya mengangguk tanda bahwa ia baik baik saja.
”Lo bikin kaget gue aja ya, ngapain tinggal di sini. Lo pulang aja, dirumah lo jauh lebih nyaman.” omel Arya.
”Pokoknya gue mau tinggal sementara disini sampai acara kabur dari rumah gue kelar.” ucap Leon dengan cuek walaupun ia melihat wajah Arya yang kesal.
”Ah sialan, lo semalem ngomel karena gue bawa kesini, lo pengennya ke hotel. Terus kenapa lo pengin tinggal disini.” Arya terus mengomel dan jadi hilang selera makannya.
”Ya lo harus tanggung jawab lah, siapa suruh lo bawa gue kesini.”
”Aarrgghh,, gue gamau tahu pokoknya abis ini lo pergi.” Omel Arya.
”Arya, udah biarin Leon tinggal disini, cuma sementara inih. Kasian daripada kontang lantung, dia masih SMA loh ya.” Sari berkata dengan nada lembut untuk merayu Arya agar mengizinkan Leon tinggal disitu, Sari berharap dengan mereka tinggal bareng makan hubungan mereka akan mulai membaik.
Melihat mata Sari yang berbinar binar dan sangat berharap Arya mengiyakan permintaannya, membuat Arya mau tidak mau mengizinkan Leon tinggal.
”Baiklah, aku lakuin ini demi kamu. Tapi inget ya cuma beberapa hari aja.”
Hah dasar, giliran Sari yang minta aja langsung di iyain. sialan banget, Sari juga kenapa sikapnya lembut banget ke orang ini, ke gue aja ngomel mulu. Ngeselin banget, liat aja selama gue tinggal disini bakalan gue gangguin lo.
Setelah berpikir sendiri, Leon selesai makan dan mulai bertanya lagi pada Arya.
”Ngomong ngomong, dari kemarin kemarin gue gatau kalo lo bukan pegawai disini, Jadi gue harus manggil apa ke elo ya? kak Steven? atau kak Arya? atau si anak durhaka?”
...****************...