Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Kakak vs Adik [1]


Sari keluar dari UKS dan berjalan menuju kelas 11 IPS 3 untuk menemui teman sekelas Leon dan memberitahukan bahwa Leon sakit di UKS.


Ketika Sari baru saja sampai depan pintu kelas tiba tiba saja seorang siswi menabraknya, Siswi itu adalah anak baru bernama Tania. Walau ia baru, ia sudah cukup populer karena dia cantik dan ramah berbeda dengan Sari yang dingin.


”Aduh maaf ya, aku gak sengaja.”


”It's okay, oia saya mau ngasih tahu kalau Leon ada di UKS, jadi dia gak bisa ikut pelajaran pertama.”


Mendengar itu Stella yang sengaja menguping langsung spontan bertanya pada Sari.


”Leon di UKS? dia sakit apa?” Stella bertanya dengan nada panik dan cemas.


”Dia demam, sekarang lagi tidur.”


”Makasih ya udah kasih tahu, gue mau ke UKS liat keadaan dia.” Tidak seperti biasanya Stella langsung pergi begitu saja tanpa nyari masalah dengan Sari.


Barusan dia bilang makasih? baguslah kalo dia udah gak nyari gara gara lagi, akhirnya aku bisa tenang.


Setelah berfikir kehidupan sekolahnya akan tenang, tiba tiba Tania mengajaknya berteman.


”Kita berteman yuk? Aku suka cewe cantik judes kaya kamu.”


Sari tidak mau menanggapinya karena malas, bagaimana mungkin dia yang ingin hidup tenang mau berteman dengan orang yang populer. Bahkan kakak kandungnya sendiri aja dilarang deket deket dia di sekolah.


”Saya ke kelas dulu ya kak, udah mau bel jam pelajaran pertama.” Sari pergi untuk menghindari perhatian banyak orang lagi.


”Kita ketemu lagi nanti ya?” Tania berteriak ketika melihat punggung Sari semakin menjauh darinya.


Tania memang sejak awal sudah tahu bahwa Sari adiknya Teguh, cowok jutek yang bikin dia penasaran. Maka dari itu, dia lebih bersemangat lagi saat melihat Sari di hadapannya.


”Mereka lucu, kakak adik sama sama jutek. Tapi untung aja mereka good looking.” gumam Tania sambil masuk kembali ke dalam kelas.


...----------------...


Sari gusar dan cemas, sudah 2 hari Arya tidak menghubunginya. Sebenarnya ia sangat ingin menghubungi Arya tapi dia tahu Arya pasti ingin sendiri dulu sementara waktu. Rasa khawatir dan juga rindu terus ia rasakan, ia takut Arya tidak menjaga kesehatannya karena masalahnya itu.


Akhirnya malam itu Sari memutuskan untuk mendatangi Arya dan mengecek keadaannya.


Sari pergi diantar oleh supir, di perjalanan ia sempatkan untuk mampir dan membeli Nasi goreng untuk Arya. Entah kenapa, ia yakin Arya belum makan.


Sari menunggu pesanannya sambil duduk diam di samping gerobak nasi goreng yang ia pesan.


Tak disangka Leon melihat Sari yang sedang duduk. Ia hendak memanggil dan menghampiri Sari, namun Sari malah langsung naik ke mobilnya dan pergi.


”Sari mau kemana malam malam gini ya? apa dia mau ketemu kak Steven? Lebih baik gue ikutin dia.” Leon bermonolog sendiri sambil kembali melajukan mobilnya mengikuti mobil yang Sari tumpangi.


Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi Sari berhenti di depan kantor Arya.


”Bener dugaan gue, Sari pasti kesini. Gue akan masuk, gue gak akan ngalah sama kak Steven.”


Leon langsung saja masuk ke kantor Arya, dan melihat Sari yang sedang menyuapi Arya.


Sari dan Arya terkejut dengan kedatangan Leon yang tiba tiba itu, saking terkejutnya Piring yang sedang di pegang Sari sampai jatuh dan pecah.


”Apa apaan lo main masuk aja.” bentak Arya.


”Gue ga ada urusan sama lo ya kak, gue mau bawa cewe yang ada di samping lo pergi dari tempat ini.” Leon langsung menarik tangan Sari dengan kuat hingga Sari merintih kesakitan.


”Aw sakit, Lepasin tangan gue Leon.”


”Kalian saling kenal?” Arya bertanya pada Sari karena ia bingung sebenarnya apa yang terjadi.


Plaakk


”Kenapa lo kasar banget sama kakak lo sendiri?” Sari marah dengan perbuatan yang Leon lakukan pada Arya hingga spontan menampar pipi Leon.


Sebenernya Leon bingung bagaimana Sari tahu mereka kakak adik? padahal hari itu dia baru bertanya tentang kak Steven aja, dia langsung pergi dan marah. Apa mungkin Sari sudah diberitahu semua oleh kak Steven. Entah apa yang kak Steven sudah beritahukan padanya hingga ia marah dan menampar pipi Leon.


”Sari, ayo kita pulang. Buat apa lo deket deket sama orang jahat seperti dia. Dia aja bisa membuang keluarganya dengan mudah, sudah pasti lo juga bakal dia buang. Lebih baik lo ikut gue sekarang.” Tegas Leon sambil menarik tangan Sari.


”Leon, tolong lepasin tangan gue selagi gue masih bicara baik baik ya.” bentak Sari.


Arya masih bingung dengan situasi saat ini, tapi yang jelas saat ini ia harus melindungi Sari dulu dari Leon.


”Leon, lepasin tangan Sari dan pergi dari sini.”


Arya bicara dengan tatapan mata yang tajam, namun hal itu tidak di gubris sama sekali oleh Leon, Leon terus saja menarik tangan Sari agar Sari mengikutinya pergi.


”Leon, gue bilang lepasin Sari.” Arya berteriak dengan nada marah dan langsung saja memukul wajah Leon dengan kepalan tangannya.


Leon tersungkur ke lantai dan membalas pukulan Arya, jadilah mereka adu jotos.


Sari terus berteriak dan berusaha melerai kakak beradik yang sedang adu jotos itu, namun ia malah jadi terkena pukulan Leon dan membuat hidungnya berdarah.


Sari terjatuh dan langsung ditangkap oleh Arya, Arya melihat darah keluar dari hidung Sari dan langsung menyumbatnya dengan tangannya.


Meski terjatuh dan hidungnya luka, tapi Sari masih sadarkan diri.


”Sari, kamu gapapa?” Arya bertanya sambil tangannya terus memegang hidung Sari sedangkan Sari menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


”Leon, tolong pergi dari sini ya? Kita bertiga akan obrolin ini besok. Lo bisa kan pergi dari sini.”


”Tapi lo berdarah, kita ke rumah sakit baru nanti gue..” Belum selesai bicara Arya langsung memotong ucapan Leon.


”Gue yang akan urus pacar gue. Lo pulang aja, lo denger kan apa yang disuruh pacar gue.” Arya mengusir Leon lalu ia menggendong Sari ke sofa yang berada di dekat situ.


Akhirnya Leon pergi dengan perasaan bersalah pada Sari.


Arya dengan telalten mengambil kotak P3K, dia mengambil alkohol dan membersihkan hidung Sari yang berdarah agar tidak infeksi. Dia juga mengambil kapas untuk menyumbat hidung Sari agar darah tidak terus keluar.


”Arya,” Belum selesai Sari bicara, Arya langsung meletakkan telunjuknya di depan bibir Sari.


”Kamu gak usah bicara dulu, kamu kan bilang besok baru kita bicarain tentang ini.”


Arya mengucapkan itu dengan nada sedih dan air mata yang terjatuh, ia merasa sedih bukan karena merasa di bohongi tapi karena melihat Sari terluka.


”Kenapa kamu menangis, apa ada yang sakit? sepertinya kamu juga perlu diobati. Biar aku obati lukamu dulu ya.” Sari berkata seperti itu sambil menghaous air mata Arya dan mencoba mengambil obat di kotak P3K yang saat ini berada di meja yang tak jauh dari jangkauannya.


”Aku gak perlu diobati.” Arya menolak sambil menahan tubuh Sari agar tidak bangun dari posisinya saat ini.


”Tapi lihat, wajah kami yang tampan jadi babak belur begini.” ucap Sari sambil memegang pipi Arya yang sedang menunduk.


”Tubuhku sama sekali tidak merasa sakit, tapi aku merasa sakit di hati karena melihatmu terluka. Padahal aku sudah sesumbar bakal ngelindungi kamu, tapi buktinya malah gara gara aku, kamu jadi terluka.” Arya menjawab sambil memegang tangan Sari yang ada di pipinya.


”Kalau begitu yang bisa menyembuhkan luka hatimu hanya ini.” Sari memotong ucapannya sendiri dengan mengecup bibir Arya.


”Gimana? sekarang udah merasa lebih baik?”


Arya hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan yang Sari lontarkan dan ia langsung memeluk Sari dengan erat. Arya merasa begitu tenang dan nyaman, mungkin karena ia membutuhkan sebuah pelukan untuk meringankan bebannya atau karena ia sangat merindukan sosok Sari.


...****************...