Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Masalalu Terbongkar


Malam itu Leon merasa bosan karena seharian hanya melihat kakaknya yang tiduran dan juga melamun, ia sudah menegor bahkan mengajaknya berantem namun tetap saja kakaknya tidak merespon.


Udah gak waras nih orang, mendingan gue pulang aja kerumah deh. Ni orang sebelum dapet telpon dari pacarnya pasti bakalan begini terus deh. Dasar Bucin.


Leon mengganti pakaiannya dan berpamitan pada kakaknya, walaupun ia tahu kakaknya tidak akan merespon.


”Gue pergi dulu, jangan mati sebelum gue pulang!” Cara berpamitan Leon memang ekstrem, tapi mereka memang sudah biasa mengatakan hal hal ekstrem namun tidak ada yang merasa tersakiti karena sudah mengetahui sifat masing masing.


Leon menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju rumah orangtuanya. Sebenarnya ia juga malas pulang ke rumah karena selama 2 tahun ini suasana rumah sudah tidak menyenangkan. Sudah tidak ada makan bersama, bahkan orangtuanya sudah pisah ranjang dan tidak pernah saling menyapa. Dia sendiri juga heran, keluarganya sudah hancur tapi sampai detik ini dia masih tidak tahu apa yang terjadi. Semua pelayan dirumah yang sudah bekerja dari sebelum ia lahir pun memilih tutup mulut.


Setelah 20 menit mengendarai mobilnya akhirnya ia sampai di rumahnya. Ia langsung masuk kedalam rumah dan bertanya pada salah satu pelayannya dimana orangtuanya.


”Dimana mami?”


”Nyonya pergi dari pagi, katanya mau ketemu teman teman sosialitanya.”


”Kalau papi belum pulang ngantor?”


”Tuan besar ada di kamarnya, beliau sudah pulang dari sore.”


”Yaudah lanjutin pekerjaanmu.”


”Baik Tuan.”


Pelayan itu langsung pergi untuk melanjutkan pekerjaannya sedangkan Leon pergi menuju kamar papinya.


Took took took


”Pih, ini Leon.”


”Masuk aja, pintunya gak dikunci.” Daniel menjawab dari dalam kamar sambil duduk bersandar di ranjangnya dengan memegang koran.


Leon masuk dan duduk di samping papinya.


”Mami belum pulang pi, kenapa papi malah santai disini.”


”Mami kamu pergi arisan lagipula dia ditemani supir jadi kamu gak usah khawatir.” ucap Daniel cuek lalu kembali membaca koran.


”Paling enggak papi telpon mamih dong supaya pulang.”


”Kamu aja yang nelpon, kalau tahu kamu pulang ke rumah pasti mami kamu langsung pulang.”


”Sampai kapan sih kalian seperti ini? menyebalkan.” Leon kesal dan pergi ke kamarnya, sedangkan Daniel hanya bisa menghela napas setelah putranya pergi.


Maafkan papi ya Leon, tapi mungkin selamanya akan seperti ini. Papi gak bisa menceraikan mamimu karena papi mikirin kamu. Papi gak mau kamu juga terluka seperti kakakmu. Papi memang bukan orangtua yang baik.


Sedangkan Leon masuk ke kamarnya dengan menahan emosi. Ia benci semua orang, padahal dia hanya ingin keluarga yang sempurna dan bahagia. Namun yang terjadi malah sebaliknya, bahkan ia pun tidak mengetahui rahasia yang mereka sembunyikan. Hal itu membuatnya makin frustasi.


Beberapa jam kemudian Leon mendengar suara mobil di teras rumahnya. Kamar Leon memang berada di lantai dua, persis diatas teras.


Ia melihat maminya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Ia berniat menemui maminya, namun karena ia masih sedikit marah sehingga ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya berharap air dingin membuatnya merasa lebih segar dan meredam sedikit amarahnya.


Setelah merasa lebih rileks kemudian Leon berjalan keluar kamar menuju kamar maminya. Ia mengetuk pintu namun tidak ada seorangpun yang menjawab sehingga ia memutuskan untuk langsung membuka pintu kamar maminya namun ia tidak menemukan siapapun di sana.


Leon masuk kedalam kamar maminya dan mengetuk pintu kamar mandi yang ada di kamar, namun tetap tidak ada yang menjawab sehingga ia pun membuka pintu kamar mandi.


Mami gak ada di kamar mandi juga, padahal gue yakin dia udah pulang. Apa mungkin mami masih di ruang tengah atau di ruang makan ya? gue cari mami dulu deh.


Leon pergi mencari ke semua ruangan namun tidak menemukan maminya, sebagian pelayan juga sudah beristirahat di kamarnya karena memang ini sudah sangat malam. Hanya tinggal satpam yang stand by itupun mereka berjaga di depan rumah. Karena tidak ada yang bisa ia tanyai maka Leon memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Ditengah jalan menuju kamarnya, ia teringat bahwa kemungkinan maminya ke kamar papinya.


Apa mereka sudah satu kamar lagi? gue kesana atau enggak ya?


Setelah beberapa saat menimbang, akhirnya Leon memutuskan ke kamar papinya untuk memastikan saja.


Ia sudah berada di depan pintu kamar papinya namun ia ragu untuk mengetuk pintunya karena takut mengganggu. Namun ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu, tangannya sudah berada di depan daun pintu namun sebelum ia benar benar mengetuk ternyata ia mendengar orangtuanya bertengkar di dalam kamar. Ia memutuskan tidak jadi mengetuk pintu dan menguping pertengkaran mereka.


”Papi mau sampai begini? Aku kan sudah janji gak akan mengusik Steven dan aku juga janji akan membawa Steven kembali ke rumah ini bagaimanapun caranya, kita gak bisa begini terus. Kasian Leon” ucap Heni.


”Kamu pikir Steven mau kembali kesini? aku bahkan sudah berusaha membujuknya, tapi ia tetap memutuskan untuk tidak mengenalku lagi. Selama ini aku tidak menceraikanmu juga semua demi Leon, jadi lebih baik kamu lakukan saja seperti biasanya, jangan ikut campur urusanku dan anakku lagi.”


”Padahal kau sendiri yang mau berhubungan denganku, kamu menjadikan penyakit istrimu sebagai alasan berselingkuh denganku. Tapi kenapa sekarang kamu cuma nyalahin aku?”


”Ya, aku benar benar orangtua dan suami brengsek kan? bahkan aku tidak bisa mendongakkan kepalaku di depan putraku sendiri. Aku menyesalinya maka dari itu aku hidup seperti ini, aku gak berhak bahagia begitupun denganmu. Kita harus menggangi semua waktu yang Steven alami tanpa kebahagiaan.”


Daniel mulai menangis karena begitu menyesal atas perbuatannya di masa lalu.


”Bukan hidup begini pi, untuk menebusnya kita harus membawa Steven kembali.”


”Dia hanya akan menderita tinggal dirumah ini, padahal rumah ini miliknya bahkan sebagian aset adalah atas namanya karena itu merupakan harta yang ditinggalkan mamanya. Namun, ia pergi tanpa mengambil apapun haknya.”


”Apa? sebagian aset kita adalah milik Steven? Gak bisa, semua harus diwariskan pada Leon.”


”Kau gila ya? aset kita kau bilang? setengahnya adalah milih Steven, bukan milik kita. Leon hanya berhak setengah dari yang aku miliki. Bahkan setengah yang kumiliki juga adalah hak Steven. Berani sekali kau menunjukan keserakahanmu.”


”Bagaimanapun Leon anakmu.”


”Maka dari itu dia berhak setengah dari hartaku, artinya dia berhak seperempat dari semua. Harusnya kau bersyukur, kau itu dulu cuma orngasuhnya Steven. Kalau bukan karena Isyana mendiang istriku mungkin kau juga tidak akan diterima menjadi pengasuj, kau tidak ingat betapa baiknya dia? tapi kau malah mengkhianatinya.”


”Jangan bicara soal berkhianat ya? kau pun sama, jadi gak usah sok suci.”


”Itulah kenapa aku bilang hidup kita harusnya tidak bahagia, kita sudah menyakiti orang yang begitu baik pada kita. Tapi kau, malah beraninya ingin mengambil hak Steven? Ya Tuhan, wanita macam apa yang sudah ku nikahi ini.”


”Pokoknya aku akan memperjuangkan hak Leon, Steven sudah tidak tercantum pada KK jadi dia sudah tidak berhak atas harta itu.”


”Kau pikir kau bisa melawanku. Dasar gak tahu diri, seandainya aku tidak memikirkan Leon, sudah sejak lama kau ku ceraikan.”


”Brengsek.”


Mendengar itu semua, Leon merasa sangat hancur. Ia tidak menyangka maminya yang begitu ia sayangi dan hormati adalah wanita sejahat itu, ia pun merasa bersalah karena sudah berfikir kakaknya anak durhaka.


Leon yang sangat marah mengetahui fakta itu, memilih untuk pergi dari rumah.


...****************...