Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Bantuan Daniel


”Jadi saya ingin anda menjadi kuasa hukum untuk para korban ZA chemical, saya ingin anda menjadikan itu alibi untuk mengawasi jalannya persidangan. Saya ingin Zayn dihukum seberat beratnya hanya saja dia orang berpengaruh maka dari itu saya kurang mempercayai aparat hukum.” jelas Sari.


Daniel diam sejenak sambil memikirkan permintaan Sari, dia hanya mengikuti kasus ini dari media sehingga dia sendiripun kurang tahu mengenai kasus ini.


Hanya saja Daniel heran, apa yang sudah dilakukan Zayn hingga Sari begitu ingin menghancurkannya.


Mengingat Sari bukanlah tipe orang yang terlalu perduli mengenai kebaikan masyarakat luas, jadi dia mengira bahwa alasan Sari ikut campur bisnis orang lain bukan sepenuhnya hanya alasan kemanusiaan.


Tiba tiba Daniel ingat bahwa orangtua Sari mengidap kanker, apakah penyebab kanker orangtuanya adalah karena ZA Chemical? jika memang berkaitan, maka Daniel pun tidak ingin tinggal diam. Biar bagaimanapun mereka adalah calon besannya.


”Apa kamu membawa semua materi tentang kasus itu? saya harus mempelajari semuanya agar bisa tahu berapa presentase kemenangan kita.”


”Maksud anda jika presentase kita kecil maka kita akan mundur begitu?” Arya tampak meninggikan suaranya karena kesal ayahnya tampak seperti orang yang pesimis.


”Bukan mundur, hanya saja kita harus menambah tuduhannya. Sari kan menginginkan dia di penjara seumur hidup. Maka tuduhan yang memungkinkan adalah pembunuhan berencana. Bahkan terdakwa bisa dihukum mati.” jelas Daniel.


Penjelasan Daniel memang benar adanya, dia bahkan ingat betul karena tuduhan pembunuhan berencana terhadap kakaknya sendiri menjadikan dirinya terdakwa hukuman mati. Mengingat itu membuat Sari sedikit gemetar. Jujur hingga saat ini dia masih merasakan jelas rasa sakit kematian.


”Apa anda bicara begitu karena anda ingin tahu alasan saya mengincar Zayn?” tanya Sari.


”Seperti yang sudah kuduga, kamu memang sangat peka dan cerdas. Kurang lebihnya saya tahu hanya saja, saya ingin memastikan apakah tebakan saya benar.”


”Jika tebakan anda adalah penyebab kanker orangtua saya, maka jawabannya benar.”


”Bajingan itu..” Daniel mengerutkan bibirnya dan mengepalkan tangannya, dia merasa marah.


Arya bahkan terkejut mendengar ayahnya mengatakan hal kasar seperti ’bajingan'. Karena sejak kecil meski ayahnya selingkuh tapi ayahnya tidak pernah sekalipun bicara kasar ataupun memaki.


”Anda baru saja memaki Zayn?” tanya Arya.


”Ya, bedebah macam dia memang harus dimusnahkan. Kamu tidak usah mengkhawatirkan kasus ini, saya akan mempertaruhkan segalanya agar bedebah itu di hukum mati. Kamu tahu kan saya tidak pernah kalah setiap mengambil kasus.”


Daniel tampak bertekad dan bersemangat, bahkan dia langsung merebut berkas ditangan Arya yang berisi materi tentang kasus ZA chemical.


Dia langsung mempelajarinya tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, tentu saja hal itu mengejutkan untuk Arya dan Sari.


Bagaimana bisa ada orang yang langsung bekerja tanpa mengatakan apapun pada tamunya, paling tidak mempersilahkan tamunya menunggu atau mempersilahkan pulang kalau memang pekerjaan yang dilakukan memakan waktu lama.


Arya dan Sari hanya saling tatap sambil seakan saling bertanya melalui telepati.


Yang satu bertanya apakah kita harus menunggu atau pulang? sedangkan yang lain menjawabnya dengan tidak tahu.


Ketika Arya dan Sari tampak bingung harus bagaimana tiba tiba saja Daniel menggebrak meja. Sontak hal itu membuat Arya dan Sari menggelinjang dari tempat duduknya.


”Kaget.. ”


”Kumpulkan para keluarga korban yang ingin menuntut ZA chemical besok. Saya akan menemui mereka secara langsung.” ucap Daniel tanpa menghiraukan kedua orang yang masih mengelus dadanya karena terkejut.


”Untuk apa? pernyataan mereka kan sudah ada.” ucap Arya.


”Anak buah saya sedang melaksanakannua, memang butuh waktu karena jumlah korban cukup banyak sedangkan prosenyapun cukup banyak.” ucap Sari.


”Bagus.Sekarang kalian pulang saja, kita bertemu besok. Saya akan mendalami kasus ini dulu. Saya tidak ingin ada satu celahpun yang terlewat.”


”Baiklah, kita pamit.”


Ketika Arya dan Sari sudah sampai pintu, Daniel mengucapkan kalimat yang membuat Sari terharu.


”Aku berharap besanku cepat sembuh, ini doa dari mertuamu.”


Mendengar hal itu Sari membalikkan badannya lalu membungkukkan sedikit badannya ke arah Daniel sebagai tanda terimakasih dan juga hormatnya.


”Terimakasih ayah mertua.”


Sari tersenyum lalu berlalu meninggalkan ruangan Daniel diikuti oleh Arya yang sempat tercengang mendengar percakapan singkat itu.


”Kamu memanggil orang tua itu mertua? apa kamu serius?” Arya tampak antusias bertanya meski pertanyaannya tidak dijawab sama sekali oleh Sari. Sari hanya tersenyum mendengar Arya menanyakan hal yang sama terus menerus.


...----------------...


Keesokan harinya Daniel ditemani Arya dan Sari dan juga Nathali dan anak buahnya datang menemui para keluarga korban yang sudah dikumpulkan di aula CH Group.


Awalnya mereka enggan karena merasa tidak akan bisa menang melawan orang seperti Zayn namun setelah tahu bahwa CH group memihak korban maka mereka bersedia untuk di kumpulkan dan terjadilah pertemuan hari ini.


Mereka juga sudah membawa hasil laboratorium kerabat mereka yang di rawat serta dua orang keluarga korban yang meninggal pun sudah menjalani autopsi ulang dan membawa hasilnya saat ini.


Nathali juga sudah memegang hasil rekaman video mengenai kondisi korban yang sedang dirawat.


Suasana tampak hening ketika Daniel menjelaskan pada para korban mengenai proses persidangan, mereka semua bahkan bersedia datang ke pengadilan hanya saja Daniel meminta sekitar dua puluh orang saja yang masuk ruang pengadilan sedangkan yang lainnya lebih baik berdemo di depan pengadilan.


Mereka pun menyetujui usulan tersebut karena mereka juga merasa bersyukur atas bantuan CH group yang membiayai seluruh pengobatan keluarga mereka yang sedang di rawat, tidak hanya itu CH group juga memberikan uang untuk kehidupan keluarga korban sehari hari.


Sari sangat mengerti penderitaan keluarga korban karena dirinya pun merasakan hal yang sama.


Setelah pertemuan itu berakhir, Sari berencana menuju rumah sakit untuk menengok orangtuanya, sejujurnya dia sangat merindukan orangtuanya karena kemarin Sari tidak sempat menengok mereka di rumah sakit.


Arya pun mengantarkan Seri ke rumah sakit, ketika sampai rumah sakit ternyata Teguh dan Tania juga masih berada di rumah sakit.


Sari merasa bersalah karena kemarin tidak sempat menjenguk orangtuanya namun tiba tiba Teguh mengajak Sari berbicara empat mata di luar ruang inap orangtuanya.


Sari sedikit banyak tahu apa yang akan ditanyakan kakaknya, namun dirinya juga sudah berniat untuk jujur sehingga Sari mengiyakan ajakan Teguh untuk mengobrol di luar ruangan.


”Kamu pasti tahu yang ingin kakak tanyakan.”


...****************...