
Malam ini Teguh sama sekali tidak bisa tidur, meski dia merebahkan tubuhnya di kasur namun tetap saja matanya tak kunjung terpejam. Hal yang sama juga terjadi pada Tania, dia juga hanya duduk di depan meja rias sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
Tiba tiba Tania ragu untuk menikahi Teguh. Dia tahu Teguh pria yang baik, dia sangat menghargainya dan juga sangat pengertian. Selama menjalin kasih hampir tidak pernah mereka bertengkar.
Awalnya Tania merasa senang karena Teguh tidak egois namun lama kelamaan dia merasa Teguh seperti tidak benar benar mencintainya. Dia tidak pernah menunjukan rasa cemburunya, dia tidak pernah mengungkapkan keinginannya dan dia juga selalu mengiyakan semua pendapat Tania.
Tania merasa Teguh tidak sepenuhnya mencintainya, dia hanya menjalankan saja apa yang sudah terjalin. Terlebih beberapa tahun belakangan ini Teguh terlihat melamun dan seperti tidak bernyawa.
Tania menjadi ragu apakah mereka berdua akan bahagia jika menikah? atau mereka berdua hanya akan saling tersakiti? sejujurnya pertanyaan semacam itu semakin sering terlintas di benaknya.
Dia ingat awal pertemuan mereka, memang dulu Tania yang menyukai Teguh lebih dulu. Namun akhirnya Teguh mulai menyukainya dan menyatakan perasaannya, mereka juga menjalin hubungan yang harmonis selama ini namun lama kelamaan Tania merasa Teguh menjadi orang yang berbeda. Dirinya berusaha membuat Teguh kembali seperti saat awal mereka berpacaran, namun hubungan mereka hanya terasa hambar.
Teguh memang perhatian namun Tania merasa dirinya belum bisa memasuki hati kekasihnya itu sepenuhnya. Entah Teguh yang berubah atau memang pada dasarnya sifat Teguh seperti ini, Tania juga tidak paham. Teguh bilang menyayangi dirinya namun dia merasa Teguh tidak benar benar mencintainya, Teguh juga perhatian padanya namun disaat bersamaan entah mengapa dia merasa kesepian. Apa dari awal sebenarnya Tania tidak pernah masuk ke dalam hati Teguh?
Malam itu terasa amat panjang bagi keduanya, mereka berdua masing masing larut dalam pikiran masing masing.
Hingga akhirnya pagi pun tiba, Sejak pagi Tania sudah dirias oleh MUA meski acaranya dimulai siang hari.
Beberapa jam kemudian Tania sudah siap, dia memakai gaun putih tanpa lengan dengan hiasan bunga di bagian atasnya, rambutnya di sanggul keatas di lengkapi dengan veil putih panjang ke belakang.
Ketika dirinya selesai di rias, Melisa ibunya yang sudah berdandan pun datang ke kamar untuk melihat putrinya yang akan menikah itu.
”Ya ampun sayang, kamu sangat cantik.”
Melisa sangat kagum melihat putrinya yang begitu cantik, dia juga terharu karena putrinya sebentar lagi akan menikah. Tidak menyangka putrinya sudah dewasa, dan sebentar lagi putrinya akan pergi dengan suaminya.
Namun putrinya itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab ucapannya, bahkan putrinya tidak tampak bahagia.
”Kenapa wajah putri mama suram begini?” tanya Melisa sambil duduk disamping putrinya sembari menggenggam tangan putrinya itu.
Namun Tania hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, Melisa mengira mungkin saja putrinya merasa gugup sampai sampai kehilangan senyumnya.
”Kamu gugup? wajar kalau kamu gugup, mama dulu waktu mau menikah dengan papamu juga sangat gugup. Kamu tenangin dirimu ya? tarik napas biar bisa tenang.”
Ucapan Melisa itu lagi lagi hanya dijawab dengan anggukan kepala.
...----------------...
Akhirnya Tania dan kedua orangtuanya tiba di gedung pernikahan, Tania duduk di ruang tunggu pengantin wanita sedangkan orangtua Tania menyambut beberapa tamu yang datang. Keluarga Jayadiningrat tidak lama kemudian tiba, pada akhirnya kedua calon besan itu ikut menyambut tamunya sedangkan Teguh ditemani oleh Sari dan Arya menuju ruang tunggu pengantin pria.
Teguh langsung duduk begitu memasuki ruang tunggu kemudian ekspresi wajahnya tampak kosong. Sari semakin khawatir karena kakaknya ini tidak menunjukan ekspresi apapun dari semalam, dia hanya tersenyum seadanya dan menjawab singkat setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya.
”Kak, minum dulu. Kakak pasti gugup kan karena sebentar lagi menikah.” ucap Sari sambil memberikan segelas air putih yang sudah di minta sebelumnya kepada pelayan saat hendak memasuki ruang tunggu.
Teguh meminum air itu hingga habis kemudian kembali diam, ternyata tidak hanya Sari yang khawatir namun Arya juga khawatir. Baru pertama kali dia melihat calon mempelai pengantin memasang ekspresi datar.
”Setelah kamu menikah, maka aku akan segera menikahi Sari. Artinya kamu akan menjadi kakak iparku. Aku tidak sabar memanggilmu kakak ipar deh.”
Biasanya dengan mengatakan hal seperti itu pasti Teguh akan langsung marah karena dia tidak suka dipanggil kakak ipar oleh Arya, biar bagaimanapun usia Arya lebih tua darinya.
Namun hari ini Teguh hanya tersenyum getir sehingga Sari hanya mencubit pelan pinggang Arya sambil menyuruhnya berhenti bertindak konyol.
Lima belas menit kemudian acara pernikahan akan dimulai. Sari dan Arya keluar dan duduk di kursi tamu yang sudah tersusun di sepanjang jalan menuju Altar pernikahan.
Teguh muncul dengan setelan jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja berwarna putih dan dasi kupu kupu kemudian di kiri bawah kerah jasnya terpasang bunga putih. Rambutnya juga disisir rapi dengan belah tengah sehingga sisi maskulin nya sangat terlihat.
Teguh melewati jalan menuju altar pernikahan sambil melambaikan tangan ke para tamu yang sudah berada di sepanjang jalan itu meski ekspresi wajahnya tampak datar.
Setelah sampai di altar pernikahan kemudian MC memanggil mempelai wanita ditemani sang ayah untuk memasuki altar.
Tania tampak cantik dan anggun sambil membawa bunga di tangan kirinya sedanhkan tangan kanannya menggandeng lengan ayahnya melewati jalan menuju altar yang sudah digelar karpet merah.
Sesampainya di altar pernikahan, Ayah Tania memberikan tangan putrinya itu kepada Teguh yang sudah menunggu dan mengulurkan tangannya lebih dulu.
Steleh itu ayahnya turun dan duduk di samping istrinya yang berada tidak jauh dari altar pernikahan.
Kedua mempelai sudah berada menghadap penghulu yang akan menikahkan mereka berdua.
”Sebelum prosesi pernikahannya di mulai, saya ingin bertanya pada kedua mempelai. Apakah kalian sudah siap menjalani prosesi pernikahan ini?”
Teguh selalu mempelai pria menganggukan kepalanya namun tiba tiba saja Tania yang merupakan mempelai wanita mengatakan sesuatu yang mengejutkan semua orang yang berada di tempat itu.
Tania menghadap Teguh kemudian melepaskan cincin yang diberikan oleh Teguh saat melamarnya dari jari manisnya.
”Maaf, sepertinya aku tidak bisa menikahimu. Aku mau pernikahan kita membuat kita bahagia, namun setelah kupikirkan kembali sepertinya kita berdua tidak akan bahagia dengan pernikahan ini. Maafkan aku.”
Tania berlari meninggalkan altar seusai memberikan cincin itu ditangan Teguh dan mengatakan hal yang mengejutkan semua orang.
Tentu saja keadaan menjadi gaduh, Kedua orangtua Tania mengejar Tania yang berlari keluar gedung sambil memakai gaun pengantinnya sedangkan orangtua Teguh beserta Sari langsung menghampiri Teguh yang hanya diam tanpa mencegah kepergian Tania itu.
”Kenapa kamu diam aja kak, cepat kejar Tania.” ucap Rita sambil menggoncangkan kedua bahu putranya itu.
Ilyas meminta istrinya tenang dan berhenti menggoncangkan tubuh Teguh sedangkan Sari memegang tangan kakaknya sambil bertanya apakah kakaknya baik baik saja?
Arya dengan sigap meminta maaf kepada para tamu dan meminta mereka semua untuk pulang karena acara pernikahannya ditunda terlebih dahulu.
Tentu saja para tamu pulang sambil berguncing, mereka tidak menyangka pernikahan mewah yang sudah dibicarakan oleh para pengusaha belakangan ini malah berakhir seperti ini.
...****************...