Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Melamar


Seminggu sudah berlalu, Sari merasa lega karena kakaknya terlihat seperti dulu. Kakak yang perhatian dan juga jahil. Dia bahkan sudah kembali ke kantor dan fokus pada pekerjaannya.


Sari benar benar bersyukur, segala masalah telah terlewati. Keluarganya pun tampak bahagia dengan keseharian mereka.


Malam itu mereka sedang bersama sama menonton pertandingan sepak bola di televisi. Sejujurnya Sari dan mamanya tidak tertarik menonton bola namun mereka tetap nimbrung sambil ikut bersorak ketika tim kesayangan Ilyas mencetak gol.


Meski suasana sedang ramai dan heboh, namun Sari hanya terduduk diam, terkadang dia melamun lalu ketika sadarkan diri dia melihat kakaknya menatap dirinya dengan ekspresi cemas.


Sari enggan membuat suasana memburuk akhirnya dia berpamitan untuk istirahat lebih dulu di kamarnya dengan alasan kelelahan.


Kedua orangtua Sari hanya mengiyakan sambil masih fokus melihat pertandingan sepak bola, namun Teguh yang sedari tadi melihat adiknya melamun menjadi khawatir dan menyusul adiknya itu ke kamar.


”Pah, mah.. Aku juga istirahat dulu di kamar ya?” pamit Teguh.


”Duh, gak asyik nih semuanya malah ke kamar bukannya nemenin papah nonton.” rengek Ilyas.


Rita mencubit pinggang suaminya sambil menyuruh suaminya itu untuk diam.


” Diam kamu pah. ” Rita melotot ke arah suaminya sehingga nyali suaminya langsung ciut dan memilih untuk diam dan fokus menonton televisinya lagi.


”Yaudah kamu istirahat aja sana kak, kamu kan juga capek sama kaya adek. Papah mah biar mama yang temenin. Kita berdua kan pengangguran jadi gak ada capeknya.” tambah Rita.


Teguh tersenyum tipis mendengar ucapan mamanya itu, namun dia juga mengingatkan orangtuanya agar tidak tidur terlalu larut.


Setelah berpamitan dengan orangtuanya, Teguh naik ke lantai dua dan menuju kamar adiknya. Dia mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya adiknya itu membukakan pintu untuknya.


”Ada apa kak.”


”Kakak boleh masuk? ”


Sari mengangguk dan membiarkan kakaknya masuk ke kamarnya kemudian mereka berdua duduk di sofa yang ada di kamar itu.


”Kamu ada masalah apa de, cerita ke kakak.” Teguh memulai pembicaraannya, namun Sari mengatakan bahwa tidak ada masalah apapun yang terjadi padanya.


Teguh terus mendesak agar adiknya itu mau bercerita, karena biar bagaimanapun Teguh merasa khawatir ada sesuatu yang terjadi pada adik kesayangannya itu.


” Kakak kapan akan menikah kak. ” tanya Sari.


”Kakak memutuskan untuk melajang seumur hidup.”


”Apa kakak gak mau kembali ke Tania lagi kak?”


Teguh tersenyum lalu mengusap lembut kepala adiknya itu.


”De, kakak tidak mau menyakiti wanita manapun dengan pernikahan. Kamu tau kan? kalau kakak tifak bisa memberikan cinta kepada wanita itu. Kakak sudah memutuskan untuk melajang. ”


Mendengar itu Sari menjadi cemberut, dia menunduk dan wajahnya tampak suram.


”Jangan sedih de, kakak bahagia kalau melajang. Justru kalau kakak menikah sepertinya kakak tidak bisa bahagia. ”


Teguh khawatir lalu memeluk adiknya, dia tahu pasti adiknya sedih karena melihat kakaknya melajang. Mungkin dia berfikir bahwa kakaknya akan kesepian seumur hidupnya. Padahal hal itu sama sekali tidak benar.


”Kamu jangan khawatir, kakak gak akan kesepian.”


Sari melepaskan pelukan kakaknya kemudian dia menghela napas panjang.


”Bukan begitu kak, aku gak perduli tentang kakak. Tapi aku memikirkan nasibku.” Sari menjawab dengan nada sedih.


Teguh bingung dengan apa yang dikatakan adiknya, nasib apa yang dimaksud itu? apa hubungannya dia melajang dengan nasib adiknya itu.


”Maksudmu apa de.”


”Kalau kakak melajang, artinya aku juga tidak bisa menikah dengan Arya seumur hidupku dong. Padahal aku mau punya banyak anak dengan Arya.” ucap Sari.


Mendengar itu Teguh tertawa sekaligus kesal, padahal dia sudah berfikir kalau adiknya ini mengkhawatirkan kakaknya yang kesepian namun ternyata yang dia pikirkan adalah membuat anak dengan kekasihnya.


Teguh menjitak kepala adiknya kemudian memiting kepalanya itu.


”Aduuuhh sakit kak.”


Teguh melepaskan pitingan itu kemudian Sari meringis kesakitan sambil memegang kepala dan juga lehernya.


”Lagian kamu aneh aja si de, kalau kamu mau nikah ya nikah aja. Apa hubungannya dengan kakak yang melajang.” seru Teguh.


”Masalahnya Arya dulu udah pernah melamar ku dan aku bilang kalau kita akan menikah setelah kakak menikah. Kalau kakak melajang artinya aku gak jadi nikah dong sama Arya. Padahal aku pengin punya anak yang mirip dengan Arya. ”


Teguh tertawa terbahak bahak, bisa bisanya adiknya ini berpikiran seperti itu.


”Kakak mau istirahat ah, males mendengarkan kamu ngomongin anak.”


Teguh berdiri dan hendak keluar namun Sari menghalanginya dan meminta Teguh untuk menikah dengan siapapun agar dirinya pun bisa menikah. Tentu saja hal itu tidak didengar sama sekali oleh Teguh.


”Kak, nikahin siapa aja deh kak. Lalu cerai deh gapapa. Asal aku bisa nikah.” rengek Sari.


”Adik nakal ya, kamu nikah aja. Ngapain nungguin kakak menikah si.”


”Iya tapi kalau kakak gak menikah, pasti Arya juga gak akan melamar aku lagi. Terus bagaimana kita menikah kalau Arya gak melamarku.”


”Berarti dia gak cinta sama kamu de kalau gak mau melamar lagi.”


”Bukan begitu, tapi dulu aku bilang kalau dia boleh melamarku setelah kakak menikah. Kalau kakak gak menikah berarti dia gak akan melamarku kak.”


Sari merengek menyuruh kakaknya menikah secepatnya dengan siapapun, dia gak perduli kalau akhirnya nanti akan bercerai namun ditolak mentah mentah oleh Teguh.


”Kalau Arya gak melamarmu karena kamu larang ya tinggal kamu yang melamar dia. Apa susahnya sih.”


Teguh asal berbicara karena sudah merasa kesal terus dipaksa menikah oleh adiknya itu, namun siapa yang menyangka bahwa usulannya itu benar benar dilakukan oleh adiknya keesokan harinya.


...----------------...


Sari sudah menunggu Arya di restoran tempat mereka biasa makan. malam itu restoran sengaja di sewa oleh Sari sehingga tidak ada satupun pengunjung yang datang.


Dia sudah mempersiapkan segalanya, dia juga sudah berpakaian spesial hari ini, dia memakai gaun panjang tanpa lengan berwarna merah dengan rambut tergerai ke belakang. Dia sangat anggun.


Tidak lama kemudian Arya datang dengan mengenakan setelan jas berwarna biru dogker.


Arya merasa bingung karena restoran malam ini tampak sepi, namun Sari mengatakan bahwa mungkin mereka semua makan ditempat lain.


Setelah Arya duduk, tidak lama kemudian pesanan makanan datang. Sari memang sudah memesan steak dan juga wine untuk malam ini.


Ketika selesai makan tiba tiba saja terdengar suara biola yang sangat indah. Suasana malam itu sungguh sangat romantis.


Di sela sela menikmati musik yang romantis itu kemudian tiba hidangan penutup.


Pelayan membawakan dua cake strawberry untuk masing masing.


Arya memulai memakannya dan di potongan ketiga dia merasakan sebuah benda tergigit olehnya.


Dia memegang benda itu dan ternyata sebuah cincin. Kemudian tiba tiba saja Sari menghampiri dirinya sambil memberikan sebuah buket bunga yang dibawa salah satu pelayan.


Sari memberikan bunga itu kepada Arya kemudian dia memegang tangan Arya.


”Sayang, will you marry me?”


Arya sangat terkejut dengan tindakan Sari itu, saat ini kekasihnya itu terlihat sangat keren.


Dengan diiringi musik romantis, Arya menjawab ”Yes.”


Kemudian Sari memasangkan cincin yang dipegang Arya tadi, dirinya sendiri sudah memakai cincin pasangan itu sebelumnya.


Setelah itu mereka berdua berpelukan, kelopak bunga mawar berjatuhan dari atas mereka sambil diiringi musik romantis. Sedangkan para pelayan bertepuk tangan bersama sama.


...****************...