Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Suasana yang tidak kondusif


Melihat Sari yang hanya diam membuat Arya khawatir, dia langsung memegang tangan Sari begitupula dengan Daniel yang menghampiri Sari dan meminta maaf karena ini hukuman maksimal yang bisa didapatkan Zayn.


Sari tidak menjawab, dia hanya merasa heran bahkan dirinya dulu langsung dihukum mati hanya karena tuduhan pembunuhan berencana kepada satu orang sedangkan bedebah ini bahkan tidak dihukum mati setelah membunuh banyak orang demi keuntungannya sendiri.


Disini Sari mulai menyadari betapa pentingnya kekuasaan, seandainya di kehidupan lalu dirinya memiliki kekuasaan mungkin saja hal mengerikan seperti saat itu tidak terjadi.


Mengingat itu semua membuat tubuh Sari gemetar yang membuat Arya panik dan langsung memeluknya untuk menenangkannya.


”Arya ayo kita bawa ke rumah sakit.” ucap Daniel yang juga panik melihat Sari.


Arya sudah hendak menggendong Sari namun Sari menolaknya dan mengatakan bahwa dirinya baik baik saja.


Meski semua khawatir namun mereka juga tidak bisa memaksa Sari ke rumah sakit, mengingat Sari adalah orang yang keras kepala.


Ketika Sari sedang mencoba menenangkan diri, tiba tiba Zayn yang diborgol dan digandeng dua petugas sipir menghampirinya.


Zayn tersenyum sambil mengatakan hal membuat Sari merinding.


”Tunggu sampai aku bebas, di saat aku bebas. Aku tidak akan melepaskanmu Sari. Karena kamu melakukan ini justru membuatku semakin menginginkanmu. Tunggulah, saat aku bebas maka aku kan menyingkirkan orang di sekitarmu agar kau mendatangiku. Tunggu aku sayangku.”


Arya yang mendengar hal itu hampir saja memberikan bogem mentah ke wajah Zayn namun dicegah oleh petugas sipir.


”Jangan menyebut nama Sari dengan mulut kotormu itu, bajingan. Sebelum kau bisa menyentuh Sari, akan ku lenyapkan dirimu terlebih dahulu.” teriak Arya dengan kemarahan yang sangat memuncak.


Daniel hanya mencoba menahan tubuh Arya d ngan kedua tangannya karena Arya berusaha memukul Zayn di depan banyak orang. Jika terjadi, hal itu hanya akan berdampak buruk untuk dirinya.


”Tenang, bedebah seperti itu tidak perlu kau ladeni. JanJangan kotori tanganmu dengan sampah seperti itu.” ucap Daniel.


”Pak, bawa Terdakwa pergi sekarang juga.” tambah Daniel.


Zayn terus berteriak 'tunggulah aku sayang' sambil diseret keluar oleh petugas sipir. Sedangkan Arya masih tersulit emosi dan mengatakan kata kata kasar untuk Zayn.


Sari cukup terkejut dengan suasana gaduh di pengadilan itu hingga kakinya terasa lemas dan dia nyaris jatuh ke lantai, untunglah Nathali sigap dan menangkap tubuh Sari.


Arya yang tadinya sangat emosi karena Zayn langsung berubah khawatir begitu melihat Sari nyaris pingsan.


Dia segera menggendong Sari keluar ruangan yang penuh orang orang. Diikuti oleh Nathali dan Daniel.


Sari didudukan di bangku yang ada di luar ruang persidangan. Nathali sigap memberikan sebuah botol berisi air mineral yang memang sudah dia bawa untuk Sari.


Setelah meminum air mineral, Sari sudah cukup tenang dan tampak sudah bisa diajak bicara.


”Kita kerumah sakita ya?” seru Arya.


”Tidak usah, aku baik baik saja. Antar aku pulang saja.”


Arya mengangguk lalu mereka pamit pada Daniel untuk pulang lebih dulu, Daniel memang masih ada sedikit keperluan dengan para keluarga korban mengenai kompensasi dari pihak ZA chemical. Daniel harus mengawasi proses pemberian kompensasi itu agar keluarga korban benar benar menerima jumlah yang sudah dijanjikan.


Sesampainya di kediaman Jayadiningrat, Arya langsung membawa Sari ke kamarnya dan merebahkan tubuh Sari ke ranjang, dia berniat memanggil dokter namun Sari meminta Arya menemaninya saja sampai dia tertidur. Dia hanya ingin istirahat karena kelelahan, dia tidak ingin dipanggilkan dokter.


Sari juga meminta Nathali beristirahat saja di kamar karena Nathali pasti juga lelah setelah beberapa hari ini mendapat banyak tugas darinya.


Karena Sari bersikeras sehingga Nathali pun keluar dari kamar Sari, ketika baru saja menutup pintu kamar Sari ternyata Teguh tampak berlari tergesa gesa dan hendak masuk ke kamar adiknya itu namun dihalangi oleh Nathali.


”Nona ingin beristirahat, didalam ada tuan Arya yang menemani. Nona tidak ingin ditemanu siapapun selain tuan Arya, lebih baik anda menemuinya nanti setelah nona lebih tenang. Saat ini nona terlihat lelah dan shock.” jelas Nathali.


”Tapi, dia adikku.”


”Anda ingin adik anda baik baik saja kan? maka biarkan dia menenangkan pikiran dulu, setelah itu anda bisa mencerca nya dengan banyak pertanyaan.”


”Kamu benar, tapi kenapa dia malah minta ditemanu oleh Arya bukannya olehku saja yang merupakan kakaknya sendiri. Kalau begini caranya bisa bisa Arya akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.”


”Pikiran anda sangat sempit, meski saya juga tidak menyukai tuan Arya namun dari yang saya lihat tuan Arya tidak mungkin melakukan hal seburuk itu, begitu pula dengan nona. Nona sangat menjunjung harga dirinya. Anda sebagai kakak seharusnya mempercayai nona.”


Teguh merasa kesal karena diceramahi oleh Nathali namun yang lebih menbuat kesal adalah kenapa sekarang Nathali bicara dengan bahasa formal padanya, padahal kemarin dia baru saja bilang maaf.


”Tunggu, kenapa kamu bicara formal padaku begitu.”


”Anda kan kakaknya nona jadi anda juga bos saya. Kalau begitu, saya permisi ke kamar dulu. Anda sebaiknya menunggu nona lebih tenang baru temui beliau.”


Nathali pergi menuju kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar Sari namun Teguh mengikutinya dengan cepat dia menarik tangan Nathali hingga Nathali memutar badannya kemudian Teguh mendorongnya hingga menyentuh tembok, bahkan tangan Nathali di angkat dan ditempelkan ke tembok dan berada diatas kepalanya.


”Kenapa kamu bersikap seolah tidak mengenaliku lagi, baru kemarin kamu bilang maaf.”


Wajah Nathali memerah karena posisi Teguh saat ini berada tepat di hadapannya dan itu sangatlah dekat hingga suara nafas Teguh pun terdengar olehnya.


”Tolong lepaskan saya.”


”Bukankah kamu prajurit terbaik dan bisa dengan mudah melepaskan diri.”


Nathali hanya bisa diam karena apa yang diucapkan Teguh benar adanya, tapi entah mengapa saat ini dirinya sama sekali tidak menolak intimidasi Teguh.


Teguh yang melihat Nathali hanya diam dan menghembuskan nafas yang terengah entah menjadi bingung.


”Kenapa kau diam saja.”


Nathali tetap diam dan hanya menatap ke arah lain, dirinya pun tidak tahu kenapa tubuhnya tidak ingin melawan.


”Katakan, apa maumu? kenapa kau datang ke kehidupanku lagi setelah kau membuangku seperti sampah. Apa kau sengaja mendekati adikku supaya kau bisa datang ke kehidupanku lagi? apa kau ingin terus mempermainkanku.”


Pertanyaan Teguh kali ini terdengar kasar karena dia terus menekankan setiap kata yang diucapkannya.


Nathali hanya bisa membuka sesekali mulutnya, dia ingin mengatakan sesuatu tapi entah mengapa dia tidak sanggup mengatakannya.


Melihat Nathali yang hanya diam dan gagap tanpa mengatakan apapun membuat Teguh kesal, dia langsung saja me.lu.mat bibir Nathali dengan kasar lalu mendekap tubuhnya dengan erat.


Tidak hanya itu..


...****************...