Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Merasa di atas angin


”Kenapa pergi? kau pikir aku bercanda? aku akan benar benar menyebarkannya. Kau bahkan akan dipenjara.”


Sari berpikir mungkin tidak masalah mendengarkan bualan pria yang dulu membuatnya trauma, sejujurnya dia cukup kecewa jika memang kemampuan Doni hanya sebatas ini. Dia berpikir pria yang menghancurkan hidupnya itu haruslah orang yang benar benar pintar dan licik. Jika kemampuannya hanya seperti ini maka Sari merasa menjadi manusia terbodoh di dunia karena tertipu oleh pria seperti itu.


Karena penasaran apa yang akan dikatakan Doni maka Sari kembali duduk, begitu pula dengan Nathali. Doni tersenyum karena berpikir ancamannya berhasil.


”Oke, saya akan dengar dulu apa yang akan anda ucapkan.” seru Sari.


Doni kembali duduk dan memulai memberikan penawaran, Doni sama sekali tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini dimana Sari takut dengan ancamannya.


”Aku tidak akan menyebarkan ini asalkan kau mau tanda tangani ini.”


Doni memberikan selembar kertas dan meletakkannya diatas meja, kemudian Sari meminta Nathali mengambilnya karena meja itu terlalu luas sehingga dirinya tidak bisa langsung mengambil tanpa bangun dari kursinya.


Setelah mengambil surat itu lantas Nathali hendak memberikan kepada Sari, namun Sari meminta Nathali bacakan itu untuknya sedangkan dia menatap tajam Doni yang terus tersenyum.


Nathali yang baru membaca setengahnya saja langsung menggebrak meja dan nyaris menghajar Doni namun Sari menyuruhnya tenang dan bacakan saja intinya.


”Jadi intinya dia meminta anda memberikan saham CH Group sebanyak dua puluh persen dan anda harus bersedia menjadi istrinya.”


Nathali menjelaskan intinya sambil menahan amarah, dia sangat ingin melenyapkan pria yang sudah berani bertindak tidak sopan pada nona nya.


Mendengar isi surat itu justru membuat Sari tertawa keras cukup lama, hal itu membuat Doni berpikir apa Sari setuju dengan penawarannya sehingga dia terus tertawa.


Setelah beberapa menit akhirnya Sari menghentikan tawanya kemudian memasang wajah serius dengan ekspresi yang tiba tiba berubah itu cukup membuat Doni menelan ludahnya berkali kali karena entah mengapa tiba tiba dia merasa tertekan dengan ekspresi serius Sari.


”Anda fikir saya pemulung? yang mau memungut sampah seperti anda?”


”Aa-pa?”


Doni kesal dianggap sampah oleh Sari, padahal sudah lama Doni mulai menginginkan Sari yang dianggapnga berlian, tapi berani beraninya ada wanita yang mengatakan bahwa dirinya sampah.


”Nat, kita pergi dari sini. Saya merasa mual berada satu ruangan dengan sampah.”


Sari berdiri diikuti oleh Nathali, sedangkan Doni yang merasa di rendahkan langsung memerintahkan kedua anak buahnya menghajar Nathali dan menangkap Sari tanpa terluka.


Tentu saja mereka berdua harus bertarung dengan Nathali dulu sebelum bisa menangkap Sari.


Nathali yang memang menguasai berbagai ilmu bela diri langsung menghajar keduanya tanpa ampun, memang cukup lama mereka bertarung karena ukuran tubuh yang berbeda jauh sehingga keduanya tidak bisa di taklukan dengan sekali pukul.


Beruntung pertarungan itu memakan waktu yang cukup lama sehingga kedua anak buah Doni mulai kelelahan dan akhirnya keduanya kalah di tangan Nathali dengan kondisi babak belur.


Nathali memang tidak pernah kalah dalam pertarungan jangka panjang karena ketahanan fisiknya yang luar biasa, namun meski begitu Nathali juga mengalami beberapa luka akibat pertarungan itu.


”Kau baik baik saja Nat.” tanya Sari dengan datar.


Sari sebenarnya sangat khawatir pada Nathali hanya saja dia tidak bisa menunjukannya di depan Doni, kalau Doni tahu bahwa Sari bisa menunjukan perasaan khawatir seperti itu bisa bisa tujuannya agar terlihat tidak berperasaan akan ketahuan.


Nathali menjawab dengan anggukan kepala dan wajah yang serius, dia tahu bahwa kali ini dia juga harus menunjukan sisi tangguh di hadapan pria sialan ini agar dia semakin terintimidasi.


Sari mendekati Doni yang tampak gemetar karena anak buahnya dikalahkan, dia tidak menyangka pengawal Sari sangat hebat meski dia seorang wanita, namun meski begitu dia tidak kabur karena dia tahu posisinya masih bisa menekan Sari dengan hal yang dia punya saat ini.


”Kalau anda tidak mau seperti mereka, sebaiknya anda tutup mulut anda itu.”


...----------------...


Sari menepuk bahu Nathali saat hendak masuk ke dalam rumah, dia sangat berterimakasih karena Nathali sudah melindunginya tad.


Nathali tampak kesakitan saat ditepuk bahunya, tentu saja hal itu membuat Sari khawatir.


Saei melihat Pelipis matanya tampak berdarah meski tidak banyak dan bahunya juga lebam karena pukulan lawannya.


”Kau terluka, aku akan segera panggil dokter. Ayo aku bantu ke kamarmu.” ucap Sari dengan nada penuh kekhawatiran.


Hal itu membuat Nathali berkaca kaca dan nyaris saja menangis, dia benar benar sedih karena moment seperti ini pasti akan dia rindukan kelak setelah dia pergi dari kediaman ini.


”Tidak perlu nona, saya akan mengompresnya dengan air es dan istirahat sebentar maka akan langsung sembuh. Luka seperti ini bukan apa apa untuk saya.”


”Tetap saja itu sakit.”


”Tidak nona, saya akan pergi ke kamar saya saja untuk beristirahat.”


”Ah tunggu, kalau memang tidak mau dipanggil kan dokter kalau gitu bagaimana kalau aku bantu mengompresnya.”


”Nona, tidak perlu ya? masih banyak yang harus nona lakukan. Lagipula saya juga masih ada tugas lagi, maka saya akan istirahat sebentar.”


”Kau ini sangat keras kepala, tapi kalau ada apa apa tolong katakan ya?”


Nathali mengangguk kemudian pamit ke kamarnya, Nathali memang merasa sedikit sakit hanya saja tugasnya masih banyak, dia tidak sempat untuk merasa kesakitan sedikitpun.


Teguh menghampiri Sari yang baru saja ditinggalkan Nathalai, kebetulan Teguh baru turun dari mobil setelah dari rumah sakit.


Dia sempat melihat Nathali yang tampak memegang bahunya, maka dari itu Teguh bertanya pada adiknya itu.


”Kau dari mana dengan Nathali.” tanya Sari.


”Habis bertemu kolega.”


Jawaban Sari sangat singkat dan tidak cukup untuk menjawab rasa penasarannya maka dari itu dia beranikan diri apa yang terjadi dengan Nathali.


”Tapi kenapa Nathali tampak memegang bahunya.” tanya Teguh.


Beruntung Sari tidak mencurigai pertanyaan kakaknya sama sekali.


”Tadi ada preman yang menghadang kami, Nathali terluka saat menghajar mereka.”


”Mereka? memang ada berapa banyak musuhnya.”


”Dua orang tapi besar besar badannya, dia tidak mau diobati dokter katanya akan dia kompres sendiri sekarang, dia masih ada kerjaan katanya juga itu gak terlalu sakit. Sejujurnya aku khawatir.”


Mendengar hal itu tentu saja Teguh juga khawatir, hanya saja dia berusaha santai di depan adiknya agar adiknya tidak mengira yang tidak tidak.


Teguh pun merangkul adiknya sambil mengajak masuk kedalam rumah.


...****************...