Pembalasan Cinta Sari

Pembalasan Cinta Sari
Rindu


Seminggu sudah berlalu semenjak Nita pindah ke panti asuhan dan kehidupan Sari mulai normal kembali, walau sebenarnya hidupnya belum bisa tenang selama Nita dan Doni masih ada. Namun ia ingin menikmati hidupnya untuk sementara dengan tenang setelah menyingkirkan satu musuhnya.


”Ade, hari ini berangkat bareng kakak.” ucap Teguh memberi perintah.


”Gak bosen apa kak bareng ade mulu, males tau diikutin kakak mulu.” keluh Sari.


”Kakak gak bosen, kakak malah seneng. Pokoknya selamanya kamu akan selalu kakak antar.”


Bicara dengan kakaknya memang hanya melelahkan saja, apapun yang dikatakan Sari tetap saja dia akan melakukan semua yang diinginkannya, maka dari. itu Sari memilih malas meladeni, dia hanya akan mencari waktu saja untuk bisa kabur saat kakaknya sedikit lengah mengawasinya.


...----------------...


Hampir 3 bulan Leon tinggal bersama Arya, setiap hari mereka hanya saling bertengkar saja. Meski begitu, setiap pagi Arya selalu menyiapkan sarapan untuk adiknya itu, jadi bisa dibilang mereka bukan bertengkar yang sesungguhnya tapi mereka hanya bingung bagaimana cara mengekspresikan rasa sayangnya.


Pagi itu Arya sudah menyiapkan sarapan yaitu nasi goreng dengan telor mata sapi, ia sendiri sedang memakan sarapan itu sambil menonton TV, Leon yang baru selesai bersiap untuk ke sekolah juga langsung memakan sarapan itu tanpa perlu di suruh lagi.


”Kapan lo pulang? ini udah hampir 3 bulan.” tanya Arya dengan wajah datar.


”Gak bosen apa nanya itu terus, gue kan udah bilang gak akan pulang sebelum lo ceritain masalah apa yang terjadi pada keluarga kita.”


”Keluarga lo bukan keluarga kita, kalo keluarga lo ada masalah tanyain aja langsung sama orangtua lo. Kenapa nanya ama oranglain.”


”Yaudh kalo jawabannya begitu terus, gue akan tinggal disini selamanya.”


”Pulang deh lo, gue gak mau ya sampe orangtua lo dateng kesini.”


”Makanya cerita dulu.”


”Halah terserah lah.”


Arya merasa percuma bicara dengan adiknya itu, dia akan selalu maksa buat cerita masalalu orangtuanya. Sebenernya ia tidak mau bercerita karena tau rasa sakit hati yang akan di rasakan adiknya kalau mengetahuinya. Dia sendiri bahkan trauma dan memilih pergi, tapi kalau Leon sampai pergi juga bagaimana masa depannya, dia harus sekolah tinggi dulu dan mandiri. Dan yang bisa membiayai hidupnya sampai ia sukses ya hanya keluarga Prayoga. Itulah sebabnya ia tidak mau bercerita apapun pada Leon.


”Gue berangkat sekolah dulu, gue mau ketemu pujaan hati gue. Sari yang cantik.” Leon sengaja memanas manasi Arya, karena Arya hanya akan bereaksi jika menyangkut Sari.


”Beraninya lo ya? bakalan gue usir lo kalo aneh aneh. Udah sana pergi!” Arya terlihat kesal terlebih melihat Leon yang malah tertawa senang melihatnya yang sedang marah.


Leon langsung berlari keluar saat Arya mulai melempari nya dengan sendok yang ia pegang.


Didalam mobilnya Leon hanya bisa menggerutu mengenai kakaknya. ”Dasar kak Steven, kalau diajakin ngomong masalah keluarga yang begitu penting gak pernah bereaksi apa apa, sedangkan aku baru nyebut nama Sari sekali aja marahnya minta ampun sampai segala macam dilempar. Orang yang gak pernah terlihat bergairah dalam hidupnya bisa juga ternyata terobsesi pada sesuatu.”


Leon sampai di parkiran sekolah lalu ia keluar dari mobilnya, disana ia melihat Sari yang baru turun setelah membonceng kakaknya. Ia nekat menghampirinya walaupun ada kakaknya yang super galak.


”Hai Sari.” sapa Leon sambil melambaikan tangannya.


Semenjak Sari tahu bahwa Leon adalah adiknya Arya, ia memang bersikap sedikit ramah pada Leon. Maka dari itu pagi ini pun ia membalas sapaan Leon. ”Hai juga.”


Teguh yang melihat Sari tersenyum menanggapi Leon jadi kesal dan mengomel, sebenarnya sampai detik ini memang Teguh belum mengetahui bahwa Leon adiknya Arya. Padahal ia tahu Arya dan Sari berpacaran, tapi dia sendiri tidak mencari tahu asal usul Arya karena belakangan ini sibuk mengatur waktunya untuk ujian masuk universitas dan juga waktu untuk mendekati Tania.


”Hei, bisa bisanya saling sapa di depan gue ya.” omel Teguh.


”Ah, kakak ipar jangan iri ya? ini juga aku mau nyapa kakak ipar juga. Hai kakak ipar.” ucap Leon sambil tersenyum.


”Kakak ipar dengkulmu. Udah ayo kakak anterin ke kelas, di sekolah ini terlalu banyak lalat berkeliaran.” Teguh menarik tangan adiknya sambil melotot tajam ke arah Leon.


Leon hanya tersenyum geli melihat Teguh yang sangat posesif pada adiknya.


Sari kasian banget ya, dikelilingi cowo cowo posesif kayak kak Steven dan juga kakaknya. Kayaknya aku doang yang orang normal yang ada di sekitar Sari.


Leon membatin sambil tersenyum dan kemudian pergi menuju kelasnya.


”Kakak jangan galak galak sama Leon ah, kasian dia.” ucap Sari.


”De, kamu gak salah ngomong kaya gitu? kamu yang selalu ketus sama orang?” jawab Teguh sambil memasang wajah keheranan.


”Udahlah jangan di bahas lagi kalo gitu. Oia ntar kakak pulang sendiri aja deh, aku mau ketemu Arya dulu udah lebih dari sebulan aku gak ketemu dia.”


”Biar kakak anter kamu ketemu Arya.”


”Kak, tolong lah kakak mending fokus ama Tania aja, kenapa sih ngeribetin hubungan aku.”


”Gak bisa, gimana kalau si Arya itu ngelakuin yang aneh aneh, aduh enggak bisa. Kakak gak bisa bayangin ada cowo yang menyentuh kamu.”


”Kakak gila ya? emang apa yang akan aku lakuin, lagipula aku masih SMA kak jadi aku gak mungkin aneh aneh.”


”Kakak percaya sama kamu tapi kakak gak percaya ama cowo itu. Cowo dimana mana gak bisa di percaya.” Tegas Teguh.


”Ciiih, padahal kakak sendiri cowo.”


Sari berjalan dengan cepat agar lebih cepat sampai di kelasnya sehingga kakaknya itu gak menempel terus.


”Lo kenapa sar, dateng dateng koq cemberut.” tanya Nabila yang sudah duduk sedari tadi sambil bercermin memakai lipbalm.


”Gue kesel ama kak Teguh, semenjak tahu gue punya pacar dia jadi nempel terus. Padahal dia sendiri juga ada cewe yang mau dideketin tapi tetep aja yang no 1 adalah ngintilin gue. Bikin emosi jiwa.” Sari menggerutu sambil mengeluarkan beberapa buku pelajaran.


”Ya gue kalau jadi kak Teguh juga bakalan ngintilin lo terus. Bayangin aja, adek gue pacaran sama om om. Jelas lah gue khawatir.” Nabila memang kalau ngomong suka keceplosan, tapi sebenarnya dia tidak punya niatan jahat.


”Gila lo, jangan keras keras ntar gue dikira beneran pacaran sama om om lagi. Lagipula umur kita gak terlalu beda jauh.” Sari tak sepenuhnya berbohong, karena memang usia jiwanya sudah 25tahun hanya saja tubuhnya masih 17tahun.


”8 tahun lo bilang gak beda jauh? Bener kata orang, cinta itu memang buta ya.”


”Udah deh diem.”


”Menurut gue, lebih baik lo sama Leon deh. Cocok, dia juga baik.” ucap Nabila.


”Leon buat lo aja, daripada lo jomblo.”


”Wah parah, masa gue dikasih sisaan elo. Gue jomblo bukan karena gak laku, gue orangnya pemilih.”


”Yaelah, elo mah kalau ada pemulung di pakein jas juga lo bilang ganteng.”


”Gila, gue tahu mulut lo pedes. Tapi gue masih gak terbiasa dengernya deh.” ledek Nabila.


Obrolan mereka harus terhenti sampai disitu karena guru masuk ke dalam kelas menandakan pelajaran pertama dimulai.


...----------------...


Aku harus buru buru sebelum kak Teguh nongol, aku gak mau kak Teguh ngikutin aku ama Arya.


Saat Sari sampai di depan gerbang sekolah, ia terkejut karena Arya sudah ada dihadapannya dengan motornya.


”Kamu koq bisa disini? aku baru mau ke kantormu.” ucap Sari senang.


”Bisa dong, aku tahu semua isi hati kamu. Udah ayo naik, aku akan mengajakmu ke tempat yang indah.” ucap Arya sambil memegang helm yang akan ia pasangkan ke kepala Sari.


Sari langsung memajukan kepalanya agar Arya lebih mudah memasangkan helm dikepalanya, Sari hanya bisa tersenyum karena akhirnya wajah yang begitu ia rindukan sekarang ada begitu dekat dengannya. Mereka saling menatap sambil tersenyum, tak lama kemudian Teguh memanggil Sari dari kejauhan. ”Ade”


Teriakan Teguh membuat Sari dan Arya menoleh, Sari langsung naik ke motor Arya dan menyuruh Arya langsung menjalankan motornya.


”Ayo jalan sekarang, kali ini aku gak mau kak Teguh mengikuti kita.”


”Tapi, nanti kakakmu marah.”


”Udah biarin aja, aku mau berdua aja sama kamu, emang kamu gak mau?” tanya Sari.


Mendengar ucapan Sari, Arya menjadi senang karena ia pun juga sudah merindukan Sari dan ingin menghabiskan waktu berdua saja. Arya langsung menginjak gas motornya dan melaju dengan kencang.


Teguh yang daritadi berlari ingin menghampiri adiknya menjadi berhenti dan ia mulai mengatur napasnya yang terengah engah entah karena berlari.


”Awas lo ya Arya, berani banget langsung injak gas aja tanpa pamitan sama gue.” gumam Teguh.


...****************...