
Nathali berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar, dia nyaris saja menunjukan perasaannya di hadapan Sari dan juga Arya.
Jika sampai tadi ketahuan bahwa dirinya masih ada perasaan pada Teguh, pasti semua orang akan membencinya.
Ketika sudah masuk ke kamar dan hendak menutup pintunya lagi lagi Teguh menahannya dan langsung saja masuk ke dalam kamar Nathali.
Nathali terkejut dan berusaha mendorong Teguh keluar dari kamarnya, namun Teguh malah mengunci pintu kamar itu dan kuncinya dia masukkan kedalam kantong celananya.
”Tolong keluar.”
Teguh tidak mengindahkan perkataan Nathali dan dia malah memaksa Nathali untuk duduk di tepi ranjang.
Dia mengeluarkan sesuatu seperti salep dari kantongnya dan membuka tutupnya kemudian mengoleskan di bibir Nathali yang mencoba menghindar namun tangannya ditarik oleh Teguh.
”Aku hanya akan mengoleskan ini, kalau memakai ini bibir mu tidak akan terus membengkak.”
Nathali hanya terdiam, perasaannya saat ini tidak karuan. Dia sangat ingin mendorong Teguh menjauh tapi entah mengapa dia juga ingin Teguh berada di dekatnya.
Ketika Teguh selesai mengoleskan salep nya, Teguh berniat untuk pergi keluar dari kamar Nathali namun Nathali menahannya dan merebut salep yang ada di tangan Teguh.
Dia mengoleskan salep itu di bibir Teguh dengan jari telunjuknya karena bibir Teguh pun sama bengkak nya dengan bibirnya.
Teguh diam saat Nathali mengoleskan salep itu, dia hanya menatap Nathali yang tampak fokus mengobatinya.
”Sudah selesai, kamu bisa keluar sekarang.” ucap Nathali.
Teguh ingin bicara banyak dengan Nathali hanya saja dia menahan dirinya, dia ingin fokus melupakan Nathali karena dia tidak ingin menyakiti wanita sebaik Tania.
Sejujurnya dia sendiri tidak tahu apakah berhasil atau tidak, tapi jika memang begitu sulit, dia akan memutuskan untuk tinggal sendiri dan mencoba agar tidak berpapasan dengan Nathali.
Teguh akhirnya keluar dari kamar Nathali kemudian dia berjalan ke arah kamarnya sendiri, dia ingin merenungi kesalahan yang sudah dia perbuat.
Begitu pula dengan Nathali yang tampak menghela napas beberapa kali karena merasa bersalah, saat ini dia berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya. Dia akan mempercayakan Sari kepada para anak buahnya yang sangat ia percaya sambil mengawasi Sari dari jauh.
Jika ingin menghindar dari Teguh hanya itulah satu satunya cara.
...----------------...
Sari menutup teleponnya kemudian Arya bertanya pada Sari mengenai siapa penelpon itu hingga suasana hatinya menjadi buruk.
”Siapa yang menelpon?”
”Aku lupa harus membereskan satu tikus lagi.”
Sari menjelaskan bahwa barusan yang menelpon adalah Doni, dia minta bertemu empat mata dengannya. Jika dia menolak maka dia akan menyesalinya.
”Kamu tidak perlu repot repot menemui dia, biar aku yang bereskan dia.”
”Tidak, katanya dia ada di tempat kejadian saat Nita dan Bi inah di tembak.”
”Apa? kalau begitu kamu lebih tidak boleh menemuinya, dia pasti ingin mengancammu.”
”Aku akan menemuinya.”
”Tapi.. ”
Sari menyakinkan Arya bahwa dirinya akan baik baik saja, Doni tidak akan mencoba menyakitinya karena ada yang dia inginkan dari Sari.
Sari hanya meminta Arya membantunya mencari bukti bahwa penembakan terhadap Nita dan Bi Inah bukan salah pihak kita, namun ada pihak lain yang menembak.
Beruntung Sari menyetujui usulan itu agar Arya juga tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
Setelah itu Sari menelpon Nathali agar datang sekarang juga ke kamarnya, ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Mendengar hal itu Nathali cukup cemas, kira kira apa yang ingin dibicarakan oleh Sari? apa dia curiga mengenai dirinya dan Teguh? kalau memang begitu, lebih baik dirinya membawa surat pengunduran diri sekarang juga. Lebih baik Nathali mengundurkan diri daripada harus mendengar kekecewaan Sari.
Nathali pasti akan hancur jika kalimat kecewa keluar dari mulut Sari. Meski dia mengundurkan diri, namun dia sudah bertekad akan mengawasi Sari dari jauh untuk selamanya. Dia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada nona nya itu.
Nathali sudah memantapkan diri, dia berjalan menuju kamar Sari sambil membawa surat pengunduran diri.
Dia terdiam cukup lama sambil beberapa kali menghela napasnya, sejujurnya dia sangat gugup dan takut tentang apa yang akan terjadi setelah dirinya melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar itu.
Beberapa kali dia hendak mengetuk pintu, namun berkali kali juga dia mengurungkan niatnya. Hingga tiba tiba pintu kamar Sari dibuka oleh Arya.
”Masuk, kenapa berdiri diluar terus.”
Nathali terkejut karena ternyata kehadirannya di depan pintu sudah diketahui mereka berdua. Dia masuk kedalam dengan wajah yang pucat.
Sari menyuruh Nathali duduk, Nathali hendak memberikan surat pengunduran diri yang sudah dia kantongi, namun tiba tiba Sari memintanya untuk mengawal dirinya.
Nathali mengurungkan niatnya itu dan mencoba mendengarkan perkataan Sari terlebih dahulu, dan Sari menceritakan bahwa besok dirinya harus bertemu Doni, dia juga meminta Nathali menyuruh anak buahnya mencari bukti pelaku penembakan Nita dan Bi Inah.
Tidak hanya itu, dia juga meminta Nathali menyiapkan surat kuasa dari Sarah yang merupakan keluarga para korban mengenai pemakaman jenazah mereka dan larangan melapor ke polisi.
Sari menjelaskan mengenai Sarah yang dipenjara setelah berusaha membunuh orang tuanya, mungkin Sarah tidak akan mudah menyutujuinya. Tapi Sari menyuruh Nathali untuk memberikan penawaran pada Sarah.
Sarah akan dikurangi hukumannya selama setahun dan uang lima ratus juta jika mau tanda tangan, tapi jika dia menolak maka dia akan membusuk di penjara.
Nathali memang jagonya menekan lawan, maka dia meyakinkan Sari bahwa tugas itu akan dia bereskan. Kalaupun tidak berhasil, Nathali berniat membuat surat kuasa palsu dengan tanda tangan Sarah.
”Baiklah aku serahkan mengenai surat itu padamu, sedangkan mengenai bukti penembakan aku serahkan pada Arya. Mohon bantuan kalian berdua.”
Arya dan Nathali mengangguk dengan penuh percaya diri dan dibalas dengan senyuman tipis oleh Sari.
Tiba tiba saja Sari heran dengan bibir Nathali yang tampak bengkak dan terlihat basah dan mengkilap.
”Ada apa dengan bibirmu?”
Nathali panik dan lupa mengenai bibirnya, seharusnya dia datang sambil menggunakan masker, namun dia malah datang begitu saja karena sibuk membuat surat pengunduran dirinya.
Melihat Nathali panik, Arya langsung membantunya menjelaskan. Untuk saat ini Arya membantu hanya karena Nathali masih dia butuhkan untuk menyelesaikan masalah kali ini. Sejujurnya Arya sangat benci perselingkuhan.
”Tadi dia menabrak pintu kamarmu, makanya bengkak begitu.” jelas Arya.
Nathali hanya mengangguk meski dia bingung kenapa Arya berbohong untuk melindunginya.
”Lain kali hati hati ya Nat, jangan bengong. Diobatin dulu sana.” ucap Sari.
Nathali pamit kemudian keluar dari kamar Sari, kemudian Arya juga pamit pulang karena harus membrifing anak buahnya secara langsung dalam mencari bukti yang Sari minta.
Setelah mencium kening Sari, Arya langsung keluar. Dia melihat Nathali yang hendak masuk kamar, namun di panggil oleh Arya.
”Nathali, saya mau bicara.”
...****************...