
Keesokan paginya Mobil yang dinaiki Sari dan Nathali sudah terparkir di pinggir jalan tidak jauh dari rumah Arya.
Sari bertekad hari ini harus sudah mengetahui fakta yang sebenarnya. Untunglah semalam Leon mengirimnya pesan bahwa dia sudah menyadap HP kakaknya.
”Anak itu emang gila, bisa bisanya dia menyadap HP kakaknya. padahal dia hanya perlu diam ternyata dia malah membantuku begini.” gumamnya di dalam mobil.
Meski Nathali mendengar tetapi dia memilih diam dan tak bertanya.
Tak lama kemudian Arya keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil kemudian pergi.
”Ikuti terus mobil itu ya Nat, jangan sampai kita kehilangan jejak.”
”Baik nona.”
Mereka terus mengikuti mobil Arya hingga akhirnya sampai di kantor pusat CH group.
Arya turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam gedung perkantoran iti, sedangkan mereka masih didalam mobil.
”Kita masuk atau bagaimana nona?” tanya Nathali.
”Kita tunggu saja disini ya? lagipula HPnya sudah disadap jadi aku bakalan tahu apa yang dia bicaran selagi HP nya terus ia bawa.” ucap Sari.
Nathali mengangguk kemudian suasana menjadi hening sesaat hingga akhirnya Sari mulai bercerita.
”Kenapa kau tidak tanya apapun?”
”Memang saya harus tanya apa nono?” jawab Nathali.
”Ya nanya siapa dia? kenapa kita mengikuti dia? atau hal semacam itu.” ucap Sari.
”Saya tidak akan menanyakan apapun perintah nona.”
”Kenapa begitu? kamu kan berhak membuat pilihan. Ini hidup kamu loh.”
”Saya tahu, dan pilihan saya adalah mengikuti apapun perintah nona dan melindungi nona. Selain dua hal itu tidak ada yang penting untuk saya.”
”Tapi bagaimana kalau saya menyuruhmu membunuh orang?”
”Saya akan melakukan apapun tanpa bertanya alasannya.”
”Dasar bodoh, kenapa kamu melakukan itu. Ingat satu hal, apabila perintahku sudah melenceng jauh tolong kamu ingatkan aku. Jangan menurut begitu saja.”
”Tidak bisa, walaupun nona berjalan dalam lumpur tugas saya adalah membuat nona tidak ternoda oleh lumpur itu. Maka dari itu nona akan selalu bersih.” tegas Nathali.
”Kau ini benar benar ya. Kau pikir aku akan membiarkan tangan orang orang ku kotor? tidak akan. Aku juga akan melindungi semua orang orangku.” ucap Sari.
”Saya tahu nona, maka dari itu saya mengikuti nona kesini karena saya yakin jika saya ada dibawah tangan anda maka anda tidak akan membiarkan saya kotor.”
Sari berkaca kaca karena terharu.
”Teruslah disisiku Nat, jika bahaya menimpa kita. Yang harus kamu utamakan adalah keselamatan diri sendiri. Mengerti?”
”Maaf saya tidak bisa, prioritas saya adalah keselamatan anda bukan keselamatan saya.”
”Jadi kamu tidak mau menuruti perintahku? padahal baru saja kamu bilang akan menuruti semua perintahku tanpa bertanya alasannya. Ternyata ucapanmu hanya dimulut saja ya.” ucap Sari sambil memanyunkan bibirnya.
”Bukan itu maksud saya, maksud saya..”
Belum selesai Nathali menjawab tiba tiba Sari meletakkan telunjuknya di bibir tanda ia harus diam dulu.
[Pak, ada wanita yang mencari bapak.]
[Siapa?]
[Wanita itu bilang namanya Sari.]
[Saya tidak tahu pak]
[Ah maaf saya lagi bicara sendiri]
[Oh begitu, jadi bagaimana pak? apa dia diperbolehkan masuk atau tidak?]
[Ah, tolong antar dia ke ruangan saya ya?]
[Baik Pak]
Setelah mendengar percakapan itu Sari langsung berkata pada Nathali.
”Kamu dengar barusan Nat? padahal aku disini, bagaimana mungkin bisa disana?”
”Siapa wanita yang berani memakai identitas anda. Apa anda mau saya membereskannya.” ucap Nathali.
”Jangan sekarang, lebih baik sekarang kita turun dan masuk kedalam. Aku harus tahu siapa wanita yang mengaku sebagai diriku ini.”
Mereka langsung turun dari mobil dan menuju kantor, namun saat hendak masuk security melarang mereka karena mereka tampak asing.
Mereka tidak mungkin membuat keributan karena itu hanya akan menarik perhatian orang orang, sehingga Nathali sengaja banyak bertanya pada security itu agar bisa mengalihkan perhatiannya, untunglah Sari menyadari gerakan tangan Nathali yang menyuruhnya untuk masuk kedalam sehingga Sari dengan mudah masuk kedalam.
Sari akhirnya bisa masuk kedalam kantor lalu dia menuju lift dan naik ke lantai paling atas dimana ruangan Arya berada.
Dengan perlahan dia menghampiri ruangan Arya yang untungnya sekretarisnya sedang tidak berada ditempat, mungkin dia sedang ke pantry untuk menyediakan minuman untuk tamu.
Sari menempelkan telinganya di pintu ruangan Arya agar bisaendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.
Didalam ruangan terdengar suara wanita yang terdengar gemetar.
”Kak Arua kenapa kakak tidak mau menatapku? selama empat tahun ini aku selalu perhatian sama kakak, aku selalu membawa sarapan untuk kakak bahkan sekarang aku kesini untuk membawakan kakak makan siang.”
”Sudah berapa kali saya bilang, saya gak butuh semua itu. Saya sudah menyuruh kamu pergi menjauh dari saya tapi kenapa kamu terus berkeliaran di sekelilingku seperti lalat. Dan ini terakhir kalinya saya membiarkan tindakanmu ya, kamu sudah keterlaluan dengan bilang bahwa kamu Sari agar saya mengizinkan kamu masuk. Dasar gila, ini sudah tindakan penipuan identitas. Saya bisa melaporkan anda ke polisi. Selama ini saya tidak bisa melaporkan karena kebebasan manusia berada dimanapun, tapi kali ini kamu bisa aku pidanakan.”
”Aku terpaksa berbohong kalau aku kak Sari karena selama ini yang kakak lihat cuma kak Sari saja, aku memang tidak sekaya kak Sari. Tapi aku jauh lebih cantik daripada dia, aku juga pintar memasak, bahkan aku bisa selalu ada disisimu tidak seperti kak Sari yang meninggalkanmu bertahun tahun hanya untuk kuliah, apa kakak tahu kalau dia kuliah diluar negeri itu untuk menghindari kakak, dia sudah punya pria lain. Kakak liat foto yang kemarin aku berikan kan? itu foto yang aku dapatkan dari sosial media cowo itu.”
”Cukup. Kalau kamu masih bicara sepatah kata lagi maka saya tidak akan tinggal diam lagi.” ucap Arya dengan emosi.
Saat Nita hendak berusaha memeluk Arya tiba tiba Sari membuka pintu, Nita yang terkejut langsung pura pura jatuh dan berakting kesakitan.
”Kak Arya tega sekali, setelah melecehkan aku sekarang saat aku menolak malah dia mendorongku.”
Nita terus menangis, cukup diakui memang akting Nita sangat bagus. Dia bahkan bisa mengeluarkan air matanya dengan alami.
Arya hanya diam karena begitu terkejut melihat Sari yang saat ini ada dihadapannya. Sedangkan Sari mendekati Nita lalu membantunya berdiri, Nita yang merasa bahwa Sari mempercayainya langsung menangis tersedu sedu sambil memeluk Sari.
”Kak Sari, untunglah kakak datang.”
Sari yang sedang dipeluk Nita tidak membalas pelukan itu namun dia hanya menatap Arya yang diam saja.
Kenapa kamu diam saja melihatku Arya? apa kamu tidak merindukanku?
Setelah melihat Arya yang hanya diam sedangkan Nita yang berusaha berakting, akhirnya Sari melepaskan pelukan Nita dan tiba tiba menamoar kencang pipi Nita hingga Nita tersungkur di lantai bahkan pipinya sampai memar saking kerasnya tamparan itu.
”Kak Sari kenapa menampar saya? yang salah itu kak Arya.” ucap Nita sambil terus menangis namun didalam hatinya dia sangat marah karena tamparan itu.
Sari tidak menjawab, dia hanya menatap Arya lalu mendekatinya.
”Kenapa kamu diam saja? kamu tidak merindukanku?” ucap Sari sambil membuka tangannya tanda bahwa dia meminta Arya untuk memeluknya.
...****************...